Kata-Kata Penghubung Syarat (Adawat Asy-Syarth) dan Jenis-Jenisnya di Dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Bahasa Arab (1)



أدوات الشرط وأنواعها في القرآن الكريم واللغة العربية

Kata-Kata Penghubung Syarat (Adawat Asy-Syarth) dan Jenis-Jenisnya di Dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Bahasa Arab (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kata-Kata Penghubung Syarat (Adawat Asy-Syarth) dan Jenis-Jenisnya di Dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Bahasa Arab ini masuk dalam Kategori Serial Bahasa Al-Qur’an

دراسات وأبحاث :

 

Studi dan Penelitian:

أدوات الشرط وأنواعها في القرآن الكريم واللغة العربية

Kata-Kata Penghubung Syarat (Adawat Asy-Syarth) dan Jenis-Jenisnya di Dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Bahasa Arab

الباحثة وسيمة نور *
الدكتور عبد القادر §

Peneliti: Wasimah Nur *1
Dr. Abdul Qadir §2

المقدمة : النحو هو جزء مهم باللغة العربية وفي جميع اللّغات . النحو يُسَاعِدنَا على تشكيل الجملة بطريق حسن . وفي هذه المقالة أوجزت أدوات الشرط العربية وأنواعها باللغة العربية بذكر أمثلة من القرآن الكريم .

Pendahuluan: Nahwu adalah bagian penting di dalam Bahasa Arab dan di dalam semua bahasa. Nahwu membantu kita untuk menyusun kalimat dengan cara yang baik. Dan di dalam artikel ini, saya merangkum kata-kata penghubung syarat (adawat asy-syarth) Arab dan jenis-jenisnya dalam Bahasa Arab dengan menyebutkan contoh-contoh dari Al-Qur’an Al-Karim.

أسلوب الشرط : هُو الرَّبطُ بين حَدَثَين يَتوَقَّف ثّانيهِما على الأوَّل . الجُملة الشرط هِي تتكّوَّن مِن جُملَتَين : تُسَمَّى الأوّل جُملَةَ فِعل الشَّرط وتُسّمَّى الثَّانية جملة جَواب الشَّرط . تتكوِّن الجملة الشَّرطِية في اللّغة العربيّة مِن ثَلاثَة أجزاء : أداة الشَّرط وفعل الشّرط وجواب الشّرط .

Gaya Bahasa Syarat (Uslub Asy-Syarth): Yaitu mengikat antara dua peristiwa yang mana peristiwa kedua bergantung kepada peristiwa pertama. Kalimat syarat (jumlatu asy-syarth) terbentuk dari dua kalimat: kalimat pertama dinamakan kalimat kata kerja syarat (jumlatu fi’li asy-syarth) dan kalimat kedua dinamakan kalimat jawaban syarat (jumlatu jawabi asy-syarth). Kalimat syarat dalam Bahasa Arab terbentuk dari tiga bagian: adaat asy-syarth (kata depan/penghubung syarat), fi’il asy-syarth (kata kerja syarat), dan jawab asy-syarth (jawaban syarat).

أدوات الشَّرط : هي وَسِيلة لِربْطِ فعل الشّرط بِجّوابهِ وتَكُونُ حَرفاً أو اسماً مَبْنِيّاً دَائِماً . وَتَقْسِمُ أدوات الشّرط إلى قِسمَيْن : أدوات الشّرط الجَازِمة وأدوات الشّرط غَير الجَازِمَة .

Kata-Kata Penghubung Syarat (Adawat Asy-Syarth): Yaitu sarana untuk mengikat kata kerja syarat dengan jawabannya, berupa huruf atau isim (kata benda) yang selalu bersifat mabni. Dan kata penghubung syarat dibagi menjadi dua bagian: kata penghubung syarat jadzim (yang menjazmkan) dan kata penghubung syarat ghairu jadzim (yang tidak menjazmkan).

أدوات الشّرط الجَازمة : هي الأدوات الّتي تَجزم فعلَين مُضارِعَين ، وهُما فعل الشّرط وجَواب الشّرط .

Kata Penghubung Syarat Jadzim: Yaitu kata-kata penghubung yang menjazmkan dua kata kerja mudhari’, keduanya adalah kata kerja syarat (fi’il asy-syarth) dan jawaban syarat (jawab asy-syarth).

أدوات الشّرط غير الجازمة : هي الأدوات التي لا تُحدث تغيِيراً على الحركة الإعرابيّة لِفعل الشّرط وجَوابِه .

Kata Penghubung Syarat Ghairu Jadzim: Yaitu kata-kata penghubung yang tidak menimbulkan perubahan pada harakat i’rab bagi kata kerja syarat maupun jawabannya.

فعل الشّرط : يَأتِي الفعل في الشّرطِ والجوابِ ، فعلا الشّرط والجواب يأتيان على حالاتٍ مُختلِفةٍ .
يَأتيان مُضارِعَين مَجزُومِين ، ويَأتيان مَاضِيَين .
ويَأتِي الشّرط مَاضِياً والجَواب مُضَارعاً مَجزُوماً .
ويَأتِي الشرط مُضارِعاً والجَوَاب مَاضِياً .
وجَاء فعل الشّرط مُضارِعاً مَرفُوعاً والجَوابُ مُضارِعاً مَجزُوماً ، هكَذَا .

Kata Kerja Syarat (Fi’il Asy-Syarth): Kata kerja hadir pada posisi syarat dan jawab, yang mana kata kerja syarat dan jawab hadir dalam keadaan-keadaan yang berbeda.
Keduanya hadir dalam bentuk dua mudhari’ yang majzum, dan keduanya hadir dalam bentuk dua madhi.
Dan syarat hadir dalam bentuk madhi sedangkan jawab dalam bentuk mudhari’ yang majzum.
Dan syarat hadir dalam bentuk mudhari’ sedangkan jawab dalam bentuk madhi.
Dan hadir pula kata kerja syarat dalam bentuk mudhari’ yang marfu’ sedangkan jawabnya mudhari’ yang majzum, demikian seterusnya.

جَوابُ الشّرط : الشّرطُ يَحتَاجُ كُلّ مِنه إلى جَوابٍ . وجَوابُ الشّرط يَكُونُ مَجزُوماً إذَا كَانَتْ الأدَاةُ جَازِمَةً ، ويَكُونُ مُقتَرِناً بِالفَاء في أحوَالِ خَاصّة .

Jawaban Syarat (Jawab Asy-Syarth): Syarat itu masing-masing membutuhkan jawaban. Dan jawaban syarat berada dalam keadaan majzum apabila kata penghubungnya berupa jadzim, serta berada dalam keadaan terikat dengan huruf Fa (fa al-jaza’) pada kondisi-kondisi khusus.

حُرُوفُ وأسمَاءُ الشَّرط : الكَلمَات الَّتي تستعمل في الشّرط إمّا حُروفٌ وإمّا أسماءٌ .

Huruf dan Isim Syarat: Kata-kata yang digunakan dalam syarat adakalanya berupa huruf-huruf dan adakalanya berupa isim-isim.

الحُروفُ هِي :

Huruf-huruf tersebut adalah:

إنْ إذْمَا لَوْ لَوْلا لَوْمَا

In (إِنْ), Idzmaa (إِذْمَا), Lau (لَوْ), Laulaa (لَوْلَا), Laumaa (لَوْمَا).

إنْ : حَرفُ شرط مَبنِيٌّ على السُّكُون لا مَحَلّ لَهُ مِن الإعْرَاب .

In (إِنْ): Huruf syarat yang mabni di atas sukun, tidak memiliki kedudukan (mahall) dalam i’rab.

إذْمَا : حَرفُ شرط مَبنِيٌّ على السُّكُون لا مَحَلّ لَهُ مِن الإعْرَاب .

Idzmaa (إِذْمَا): Huruf syarat yang mabni di atas sukun, tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.

لَو : حَرفُ شرط مَبنِيٌّ يدُلُّ على امْتِنَاع الجَوَابِ لامْتِنَاعِ الشّرط ، حَرفُ شرط مَبنِيٌّ على السُّكُون لا مَحَلّ لَهُ مِن الإعْرَاب .

Lau (لَوْ): Huruf syarat mabni yang menunjukkan atas tidak terjadinya jawaban karena tidak terjadinya syarat (imtina’ al-jawab li imtina’ asy-syarth), huruf syarat yang mabni di atas sukun, tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.

لَوْلا ولَوْمَا : تَدلان على امتِنَاع الجَوابِ لِوُجُود الشّرط .

Laulaa (لَوْلَا) dan Laumaa (لَوْمَا): Keduanya menunjukkan atas tidak terjadinya jawaban karena adanya/wujudnya syarat (imtina’ al-jawab li wujud asy-syarth).

إلاّ أنَّ لِلْحَرفِ ( إن ) اسْتِعمَالات مَعِينة نوردهَا فِيما يلي :

Hanya saja bagi huruf In (إِنْ) terdapat penggunaan-penggunaan tertentu yang kami sebutkan di bawah ini:

المَفرُوض أن يأتي فعلان مَجزُومان لَفظاً أو مَحلاً، أحدهُما فعل الشرط والآخر جوابه ، ولكنّ قط يأتي بعدها اسم ، وفي الحالة تقدر بعدها فعلاً يفسره الفعل المذكور .

Semestinya hadir dua kata kerja yang majzum secara lafal maupun kedudukan tempat (mahallan), salah satunya sebagai kata kerja syarat dan yang lain sebagai jawabannya, akan tetapi terkadang hadir setelahnya sebuah isim (kata benda), dan dalam kondisi ini ditakdirkan (disembunyikan) setelahnya sebuah kata kerja yang ditafsirkan oleh kata kerja yang disebutkan tertulis.

يكثر وُقوع ( ما ) الزّائدة بعد ( إن ) فتدغم فيها النّون .

Sering terjadi jatuhnya kata Maa (مَا) zaidah (tambahan) setelah huruf In (إِنْ) sehingga huruf Nun diidghamkan ke dalamnya.

إمّا : أصلُها إنْ ما ، إن حرف شرط مبني على السّكون لا محلّ له من الإعراب ، ما حرف زائد مبنيّ على السّكون لا محلّ له من الإعراب .

Immaa (إِمَّا): Asalnya adalah In-Maa (إِنْ مَا), yang mana In adalah huruf syarat mabni di atas sukun tidak memiliki kedudukan dalam i’rab, dan Maa adalah huruf zaidah (tambahan) mabni di atas sukun tidak memiliki kedudukan dalam i’rab.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Catatan Kaki

  1. Peneliti Doktoral dalam bidang Bahasa Arab, Jamal Mohamed College (Otonom) (Afiliasi dari Bharathidasan University), Tiruchirappalli, Negara Bagian Tamil Nadu, India.
  2. Associate Professor dan Kepala Departemen Bahasa Arab, Jamal Mohamed College (Otonom) (Afiliasi dari Bharathidasan University), Tiruchirappalli, Negara Bagian Tamil Nadu, India.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.