[الغرض من التنوين]
Muntahal Jumu’ (2) : Tujuan Penggunaan Tanwin
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel [Tujuan Penggunaan Tanwin] (Bagian 2) ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab
في العربية أسماء منونة، وأسماء لا تنون، ذكر النحاة ضوابطها، وقد عرفنا أن النحاة ذهبوا إلى أن التنوين علامة الخفة، وذهب بعض الباحثين الحدثين إلى أن التنوين علامة على التنكير وأن الأسماء التي لا تنون معارف.
Di dalam Bahasa Arab terdapat isim-isim yang bertanwin (munsharif) and isim-isim yang tidak bertanwin (mamnu’ minash sharfi), yang mana para pakar nahwu telah menyebutkan batasan-batasan regulasinya. Dan sungguh kita telah mengetahui bahwasanya para pakar nahwu berpendapat bahwa tanwin merupakan tanda bagi ringannya suatu pelafalan (‘alamat al-khiffah), sedangkan sebagian peneliti kontemporer berpendapat bahwasanya tanwin merupakan tanda bagi status nakirah (indefinit) suatu kata, dan bahwasanya isim-isim yang tidak menerima tanwin itu berstatus makrifat (definit).
ومن الواضح أننا إذا قلنا أن التنوين علامة على التنكير بإطراد، اصطدمنا بالإعلام المنونة مثل محمد وخالد، وإذا قلنا أن عدم التنوين علامة على التعريف اصطدمنا بنكرات كثيرة لا تقبل التنوين، نحو أحمر، وعطشان ومساجد.
Dan merupakan suatu hal yang jelas nyata, bahwasanya jika kita mengatakan bahwa tanwin adalah tanda bagi status nakirah secara mutlak konstan, kita akan membentur fakta adanya nama-nama diri (‘alam) yang menerima tanwin seperti kata Muhammadun dan Chaalidun. Dan jika kita mengatakan bahwa tidak adanya tanwin merupakan tanda bagi status makrifat, kita akan membentur fakta adanya banyak kata nakirah yang tidak menerima tanwin, seperti kata ahmaru (merah), ‘atsyaanu (haus), dan masaa-jidu (masjid-masjid).
ولكن الحق الذي لا مرية فيه، أن التنوين في طائفة من الأسماء وعدمه في طائفة أخرى يهدينا إلى أمور لغوية قد تغيب عنا، لولا هذه العلامة، فهو قد يدلنا مثلا على هوية الكلمة واشتقاقها، ومعرفة هي أم نكرة، فهو علامة يحملها الإسم، تدل على أصله وهويته سواء قلنا أنه علامة على الخفة، أم لا.
Akan tetapi, kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya adalah bahwasanya keberadaan tanwin pada sekelompok isim dan ketiadaannya pada sekelompok isim yang lain justru menuntun kita menuju perkara-perkara linguistik yang bisa jadi luput dari kita kalaulah bukan karena adanya tanda ini. Sebagai permisalan, tanda tersebut terkadang menunjukkan kepada kita perihal identitas jati diri kata serta rumpun derivasi asalnya (etimologi/isytisyaq), sekaligus menunjukkan apakah ia berstatus makrifat atau nakirah. Maka ia merupakan tanda yang dipikul oleh suatu isim, yang menunjukkan atas asal-usul struktur asli serta identitasnya, baik kita mengatakan bahwasanya ia merupakan penanda bagi ringannya pelafalan ataupun tidak.
فالتنوين يبين لنا أمورًا عديدة في طبيعة الكلمة، منها على سبيل المثال:
Maka tanwin itu menjelaskan kepada kita banyak perkara di dalam tabi’at karakteristik suatu kata, yang di antaranya sebagai permisalan adalah:
١ – أنه يميز بين المعرفة والنكرة، فإنه إذا لحق علما حقه إلا ينون أفاد أنه نكرة، نحو (رأيت إسماعيلا) والمعنى رأيت شخصا ما اسمه إسماعيل، بخلاف قولك (رأيت إسماعيل) فإنه يعني شخصا معلومًا، ومثله (مررت بخالدة وخالدة أخرى)
1. Bahwasanya ia membedakan antara makrifat dan nakirah. Sesungguhnya apabila tanwin tersebut melekat pada suatu nama diri (‘alam) yang mana hak aslinya adalah tidak bertanwin, maka ia memberikan faedah makna bahwasanya nama tersebut telah berubah berstatus nakirah (umum). Contohnya: (Ra’aitu Ismaa’iilan), yang mana maknanya adalah: “Aku melihat seseorang tertentu yang namanya adalah Ismail (namun orang tersebut bukan Ismail yang kita kenal bersama)”. Berbeda dengan perkataan Anda: (Ra’aitu Ismaa’iila) tanpa tanwin, karena sesungguhnya kalimat itu bermakna menunjuk kepada seseorang tertentu yang sudah maklum diketahui jati dirinya. Dan permisalan hal tersebut adalah kalimat: (Marartu bi Chaalidata wa Chaalidin ukhraa).
وتقول (رأيت أحمدًا طويلا) قال تعالى:
Dan Anda mengatakan: (Ra’aitu Ahmadan thawiilan [Aku melihat seorang bernama Ahmad yang bertubuh tinggi]). Allah Ta’ala berfirman:
{اهبطوا مصرًا فإن لكم ما سألتم} [البقرة: ٦١]
“Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.” [Surah Al-Baqarah: 61]
أي بلدة من البلدان ولو قال (مصر) بلا تنوين، لكان يعني البلد المعروف، قال تعالى:
Yaitu bermakna kota apa saja dari jajaran kota-kota yang ada di dunia (secara nakirah umum). Dan sekiranya Allah berfirman (Mishra) tanpa adanya tanwin, niscaya ia bermakna menunjuk langsung kepada Negeri Mesir yang sudah dikenal luas secara khusus. Allah Ta’ala berfirman:
{ادخلوا مصر إن شاء الله آمنين} [يوسف: ٩٩]
“Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.” [Surah Yusuf: 99]
جاء في (المقتضب): ” ويحتجون بأن مصر غير مصروفة في القرآن لأن اسمها مذكر عنيت به البلدة، وذلك قوله عز وجل {أليس لي ملك مصر} [الزخرف: ٥١]، فأما قوله عز وجل {اهبطوا مصرا} فليس بحجة عليه، لأنه مصر من الأمصار وليس مصر بعينها (١).
Telah termaktub di dalam kitab Al-Muqtadhab: “Dan mereka berhujjah bahwasanya kata Mishra tidak ditashrif (tidak menerima tanwin) di dalam Al-Qur’an adalah karena namanya bersifat mudzakkar yang mana dimaksudkan dengannya sebuah wilayah kota tertentu, dan hal itu adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla: {Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaan saya?} [Surah Az-Zukhruf: 51]. Adapun mengenai firman-Nya ‘Azza wa Jalla: {Pergilah kamu ke suatu kota [Mishran]} maka ia bukanlah hujjah yang menentang hal tersebut, karena maksudnya adalah sebuah kota dari jajaran kota-kota besar yang ada dan bukan merujuk pada Negeri Mesir itu sendiri secara spesifik zatnya.”1
ومثل ذلك: سحر، وغدوة، وبكرة، وعشية. فهي إذا نونت كانت نكرات، قال تعالى:
Dan permisalan hal itu adalah kosakata: sahar (waktu sahur/sebelum fajar), ghadwah (pagi hari), bukrah (pagi-pagi sekali), dan ‘asyiyyah (sore hari). Maka kata-kata tersebut apabila diberi harakat tanwin, statusnya berubah menjadi nakirah umum. Allah Ta’ala berfirman:
{نجيناهم بسحر} [القمر: ٣٤]
“Kami selamatkan mereka di waktu sebelum fajar.” [Surah Al-Qamar: 34]
وقال:
dan Dia berfirman:
{ولهم رزقهم فيها بكرة وعشيا} [مريم: ٦٢]
“Bagi mereka rezekinya di dalam surga itu di waktu pagi dan petang.” [Surah Maryam: 62]
وإذا لم تنون فهي معارف، أي سحر يوم معين، وغدوة يوم بعينه، وبكرة يوم بعينه.
Dan apabila kata-kata tersebut tidak bertanwin, maka statusnya berubah menjadi makrifat (tertentu), yaitu merujuk pada waktu sebelum fajar di hari yang tertentu, pagi hari di hari yang tertentu, atau pagi-pagi sekali di hari tertentu yang sudah spesifik diketahui.
٢ – يبين لنا أصل الكلمة، وذلك نحو حسان، وريان، وسمان، وغيان، فإنه إذا نون العلم أفاد أن النون من أصل الكلمة وإن لم ينون أفاد أنها زائدة، فحسان إذا نون كان من الحسن وإن لم ينون فهو من الحس، وريان منونا من الرين، وغير منون من الري، وهكذا الباقي.
2. Ia menjelaskan kepada kita tentang asal-usul akar kata asli bagi suatu kata, dan hal itu adalah seperti permisalan kata Hassaan, Rayyaan, Sammaan, dan Ghayyaan. Sesungguhnya apabila nama diri tersebut ditanwinkan, ia memberikan faedah ilmu bahwasanya huruf Nun di bagian akhir tersebut termasuk ke dalam huruf asli pembentuk kata. Dan jika ia tidak ditanwinkan, ia memberikan faedah bahwasanya huruf Nun tersebut merupakan huruf tambahan (zaidah). Maka kata Hassaanun jika bertanwin berasal dari akar kata Al-Husnu (kebaikan/keindahan), dan jika tidak bertanwin (Hassaanu) maka ia berasal dari akar kata Al-Hassu (merasakan). Dan kata Rayyaanun yang bertanwin berasal dari akar kata Al-Rainu (penutup/noda), sedangkan jika tidak bertanwin (Rayyaanu) ia berasal dari akar kata Al-Rayyu (kesegaran air/puas minum), demikian pulalah berlaku bagi sisa kata yang lainnya.
ومثل نهشل، علما فهو إذا نون علينا أن النون أصلية وأنه على وزن فعلل، كجعفر وليس من الهشل، وإذا لم ينون فهو من الهشل، والنون زائدة، وسبب منعه من الصرف أنه على وزن الفعل، مثل نعمل والمعنيان مختلفان.
Dan permisalan kata Nahsyal sebagai nama diri, maka ia apabila bertanwin (Nahsyalun) mengabarkan kepada kita bahwasanya huruf Nun di dalamnya adalah huruf asli dan bahwasanya ia berada di atas pola wazan Fa’lalun seperti kata Ja’farun, serta bukan berasal dari derivasi kata Al-Hasyal. Dan jika ia tidak bertanwin (Nahsyalu) maka ia berasal dari kata Al-Hasyal yang mana huruf Nun-nya bertindak selaku huruf tambahan, dan penyebab terlarangnya ia menerima tanwin (mamnu’ minash sharfi) adalah karena ia mengikuti pola wazan kata kerja (wazan al-fi’li) seperti lafal kata kerja Na’malu, yang mana kedua makna dari kondisi tersebut saling berbeda sama sekali.
ومثله (تولب) علما فإنه بوروده منونا علمنا أن التاء أصلية، وليست زائدة، ومعناه الجحش وليس من (ولب) بمعنى (دخل)، إذ لو كان كذلك لكان ممنوعا من الصرف.
Dan permisalannya adalah kata (Taulab) sebagai nama diri, sesungguhnya dengan kedatangannya dalam keadaan bertanwin (Taulabun) kita menjadi tahu bahwasanya huruf Ta di bagian depannya merupakan huruf asli dan bukan huruf tambahan, yang mana maknanya adalah anak keledai (al-jahsyi) and bukan berasal dari akar kata (walaba) yang bermakna (masuk). Karena sekiranya ia berasal dari kata itu, niscaya ia wajib tergolong ke dalam kata yang terlarang menerima tanwin (mamnu’ minash sharfi).
ومثله (أولق) فإه بوروده منونا، علمنا أن همزته أصلية، وليس من (ولق)، ولو كان كذلك لكان ممنوعًا من الصرف، والمعنيان مختلفان وهكذا.
Dan permisalannya adalah kata (Aulaq), sesungguhnya dengan kedatangannya dalam keadaan bertanwin (Aulaqun) kita menjadi tahu bahwasanya huruf Hamzah di bagian depannya merupakan huruf asli dan bukan berasal dari akar kata (walaqa). Dan sekiranya ia berasal dari kata itu, niscaya ia wajib tergolong ke dalam kata yang terlarang menerima tanwin (mamnu’ minash sharfi), yang mana kedua makna tersebut saling berbeda satu sama lain, demikianlah seterusnya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Kitab Ma’aniy al-Nahwu – Al-Maktabah Al-Syamilah
Leave a Reply