Muntahal Jumu’ (3) : Tujuan Penggunaan Tanwin



[الغرض من التنوين]

Muntahal Jumu’ (3) : Tujuan Penggunaan Tanwin

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel [Tujuan Penggunaan Tanwin] (Bagian 2) ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab

٣ – يبين لنا المقصود بالاسم، أهو معناه الوضعي أم يراد به العلمية، وذلك نحو صفوان وسلطان، فإنه إذا نون أريد به معناه الوضعي، فصفوان هو الحجر الأملس والسلطان معروف، وإذا لم ينون أريد به العلمية، فإذا قلت (هذا صفوان) ولم تنون، كان المعنى هذا رجل اسمه صفوان، وإذا نونت كان المعنى هذا حجر.

3. Ia menjelaskan kepada kita tentang apa yang dimaksud dari suatu isim, apakah yang dimaksud adalah makna leksikal aslinya (al-ma’na al-wadghi’i) ataukah yang dimaksud adalah statusnya sebagai nama diri (al-‘alamiyyah). Hal itu adalah seperti permisalan kata Safwaan dan Sulthaan. Sesungguhnya apabila kata tersebut ditanwinkan, maka yang dimaksud dengannya adalah makna leksikal aslinya; yang mana kata Safwaanun bermakna batu besar yang licin sedangkan kata Sulthaanun bermakna kekuasaan/penguasa yang sudah maklum diketahui. Dan apabila tidak ditanwinkan, maka yang dimaksud dengannya adalah status nama diri. Maka jika Anda mengatakan: (Hadaa Safwaanu) tanpa tanwin, maknanya adalah: “Ini adalah seorang lelaki yang namanya Safwan”. Sedangkan jika Anda menanwinkannya (Hadaa Safwaanun), maknanya adalah: “Ini adalah sebuah batu”.

ونحو ذلك المنتهى بتاء التأنيث، نحو ساهرة، وخالدة، وناجحة، وزهرة، فإذا نونت لم تكن أعلاما، نحو هذه زهرة وناجحة، وإن لم تنونها كانت اعلاما، نحو (هذه زهرة)، ومثله (هذه ناجحة)، فإنك إذا نونتها كان المعنى أنها نجحت، وإن لم تنونها كان المعنى أن اسمها ناجحة.

Dan permisalan hal itu adalah kata-kata yang diakhiri dengan Ta Ta’nits, seperti kata saahirah, Chaalidah, naajihah, dan zahrah. Apabila Anda menanwinkannya, kata-kata tersebut statusnya bukan nama diri, seperti contoh kalimat: Haadzihi zahratun wa naajihatun (Ini adalah sekuntum bunga dan seorang wanita yang sukses). Dan jika Anda tidak menanwinkannya, kata-kata tersebut statusnya adalah nama diri, seperti contoh: (Haadzihi Zahratu), dan permisalannya: (Haadzihi Naajihatu). Karena sesungguhnya jika Anda menanwinkan kata tersebut (naajihatun) maknanya adalah bahwasanya dia adalah wanita yang telah meraih kesuksesan, sedangkan jika Anda tidak menanwinkannya (Naajihatu) maknanya adalah bahwasanya namanya adalah Najihah.

٤ – يميز لنا بين الوصف وغيره، نحو (أول) فإن نونتها لم تكن وصفا، نحو (أفعل هذا أولاً) وإذا لم تنون كانت وصفا، نحو جئت عام أول، ونحو أولق.

4. Ia membedakan bagi kita antara kata yang berfungsi sebagai kata sifat (al-washf) dan yang bukan kata sifat. Contohnya kata (Awwal), sesungguhnya jika Anda menanwinkannya ia posisinya bukan sebagai kata sifat, seperti contoh: (Af’alu haadzaa awwalan [Aku melakukan ini pertama kali]). Dan apabila tidak ditanwinkan, maka ia berkedudukan sebagai kata sifat, seperti contoh: Ji’tu ‘aama awwalu (Aku datang pada tahun yang lalu), dan seperti kata aulaq.

٥ – يدلنا على هوية الكلة فقد تكون الكلمة ذات مادة إشتقاقية ذات معنى معين في العربية، وهي موافقة لكلمة أعجمية في لفظها، والذي يقطع بأصلها ومعناها في الاستعمال التنوين، وذلك نحو (إبليس) فإن له مادة لغوية في العربية، وهي إبليس أي يئس قال تعالى: {فإذا هم مبلسون} [الأنعام: ٤٤]، وبوروده غير منون في القرآن الكريم، عرفنا أنه ليس عربيا وأنه ليس من هذه المادة اللغوية، قال تعالى: {ولقد صدق عليهم إبليس ظنه} [سبأ: ٢٠]، وقال: {إلا إبليس} [البقرة: ٢٤]،

5. Ia menunjukkan kepada kita tentang identitas jati diri suatu kata. Terkadang suatu kata memiliki materi derivasi etimologi (maaddah isytisyaaqiyyah) yang mengandung makna tertentu di dalam Bahasa Arab, yang mana lafalnya bersesuaian dengan kosakata asing (non-Arab/A’jamiy). Dan perkara yang memutus kepastian atas asal-usul struktur asli serta maknanya di dalam penggunaan kalimat adalah tanwin. Hal itu seperti permisalan kata (Ibliis), sesungguhnya ia memiliki materi linguistik di dalam Bahasa Arab, yaitu dari kata ablasa yang bermakna berputus asa (ya’isa). Allah Ta’ala berfirman: {maka seketika itu mereka terdiam berputus asa} [Surah Al-An’am: 44]. Namun dengan kedatangan kata tersebut dalam keadaan tidak bertanwin di dalam Al-Qur’an Al-Karim, kita menjadi tahu bahwasanya ia bukanlah kosakata asli bahasa Arab dan ia bukan berasal dari materi linguistik derivasi tersebut. Allah Ta’ala berfirman: {Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka} [Surah Saba’: 20], dan Dia berfirman: {kecuali Iblis} [Surah Al-Baqarah: 24].

ومثله (يعقوب) فإن معنى (يعقوب) في العربية ذكر الحجل، وهو منصرف علما، وغير علم، مثل يعفور ويحمور وينبوع، وقد ورد علما غير منصرف في القرآن الكريم وغيره، فدل ذلك أنه ليس منقولا عن هذا المعنى، وإنما هو اعجمي. ومثله (قارون) فإنه إذا كان منصرفا، فهو على وزن (فاعول)، من قرن وإذا كان غير منصرف فهو أعجمي.

Dan permisalannya adalah kata (Ya’quub), sesungguhnya makna dari (Ya’quub) di dalam Bahasa Arab adalah burung puyuh jantan (dzakar al-hajal), yang mana lafal ini berstatus munsharif baik ketika bertindak sebagai nama diri maupun selain nama diri, seperti halnya kata ya’fuur, yahmuur, dan yanbuu’. Namun ia telah datang sebagai nama diri yang tidak bertanwin (ghair munsharif) di dalam Al-Qur’an Al-Karim dan kitab selainnya, maka hal itu menjadi dalil bukti bahwasanya kata tersebut bukan dinukil/diambil dari makna Arab ini, melainkan ia murni kosakata asing (A’jamiy). Dan permisalannya adalah kata (Qaaruun), sesungguhnya apabila ia dalam keadaan munsharif (bertanwin) berarti ia berada di atas pola wazan (Faa’uul) yang berasal dari akar kata qarana, dan apabila ia dalam keadaan tidak bertanwin (mamnu’ minash sharfi) maka ia adalah kosakata asing (A’jamiy).

٦ – يبين لنا الكلمة أمؤنثة هي أم مذكرة، فإذا قلت – مثلا – (أقبل اليوم صباح) بلا تنوين، كان علما لأنثى وإذا نونتها كان مذكرا.

6. Ia menjelaskan kepada kita apakah suatu kata tersebut berjenis feminin (muannats) ataukah maskulin (mudzakkar). Maka apabila Anda mengatakan—sebagai permisalan—: (Aqbala al-yauma Shabaahu) tanpa tanwin, maka kata tersebut bertindak sebagai nama diri bagi seorang perempuan. Dan apabila Anda menanwinkannya (Shabaahun), maka ia berjenis maskulin.

٧ – النص على معنى معين، وذلك نحو (ندمان) فهي بالتنوين من المنادمة، ومؤنثها ندمانة، وبالمنع من الصرف هي من الندم ومؤنثها ندمى، ونحو (خبلان) فهي بالتنوين الممتليء غضبا، ومؤنثها حبلانة، وبعدمه الممتليء من الشراب، ومؤنثها (حبلى) بفتح الحاء.

7. Penegasan tekstual (al-nashshu) atas makna tertentu. Hal itu adalah seperti permisalan kata (Nadmaan); sesungguhnya ia dengan adanya harakat tanwin (Nadmaanun) berasal dari makna aktivitas menemani minum/berbincang akrab (al-munaadamah) yang mana bentuk femininnya adalah nadmaanatun. Sedangkan dengan adanya pelarangan menerima tanwin (Nadmaanu), ia berasal dari makna penyesalan (al-nadam) yang mana bentuk femininnya adalah nadma. Dan seperti permisalan kata (Chablaan); maka ia dengan adanya harakat tanwin bermakna seseorang yang dipenuhi oleh kemarahan yang mana bentuk femininnya adalah chablaanatun, sedangkan dengan ketiadaan tanwin (Chablaanu) ia bermakna seseorang yang dipenuhi oleh minuman yang mana bentuk femininnya adalah chabla dengan memfathah-kan huruf Ha.

٨ – يميز لنا بين المعاني المختلفة في المادة اللغوية الواحدة وذلك نحو (ذكرا) وذكرى وريا وريا وقربا وقربي وحرا وحرى، مؤنث حران وموتا وموتى وأسرا وأسرى. فإنها لو كانت جميعها منونة لالتبس بعضها ببعض، وكذلك لو لم تكن منونة، غير أنه بتنوين بعضها، وترك تنوين بعضها الآخر اتضح معنى كل منها. إلى غير ذلك من المعاني التي يبينها لنا التنوين.

8. Ia membedakan bagi kita di antara makna-makna yang saling berbeda di dalam satu materi dasar linguistik yang sama. Hal itu seperti permisalan kata dzikran dan dzikra, kata rayyan dan rayya, kata qurban dan qurba, kata harran dan harra (bentuk feminin dari kata harran [sangat haus/panas]), kata mautan dan mauta, serta kata asran dan asra. Karena sesungguhnya sekiranya seluruh kosakata tersebut berada dalam keadaan bertanwin, niscaya akan saling rancu bercampur (lal-tabasa) antara sebagian kata dengan sebagian yang lainnya; demikian pulalah sekiranya mereka seluruhnya berada dalam keadaan tidak bertanwin. Akan tetapi, dengan ditanwinkannya sebagian kata dan ditinggalkannya tanwin pada sebagian kata yang lain, maka menjadi jelas terurai makna dari masing-masing kata tersebut. Di samping perkara-perkara tersebut, masih terdapat banyak makna lainnya yang dijelaskan kepada kita oleh keberadaan tanwin.

والله اعلام

Wallahu A’lam

Sumber : Kitab Ma’aniy al-Nahwu – Al-Maktabah Al-Syamilah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.