[منتهى الجموع]
Muntahal Jumu’ (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Muntahal Jumu’ ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab
وذهب إلى أن عدم صرف منتهى الجموع سببه تعريف هذا الجمع، فسنابل وطواحين معرفة على رأيه، قال: ” وإنما حذف التنوين منه – يعني منتهى الجموع – عندنا لما فيه من معنى التعريف،
Dan dia berpendapat bahwasanya penyebab terlarangnya pola wazan Muntahal Jumu’ menerima tanwin (‘adam al-sharf) adalah dikarenakan status makrifat-nya bentuk jamak ini. Maka kata seperti sanaabilu dan thawaahiinu berstatus makrifat menurut opininya. Ia mengatakan: “Dan hanyalah dihapusnya tanwin darinya—yakni dari pola muntahal jumu’—menurut pandangan kami adalah karena di dalamnya mengandung makna makrifat (al-ta’riif).
وقد بينا من قبل أن العرب تريد بالمنكر الفرد الشائع، والواحد من المتعدد، فإذا قصدت إلى الإحاطة والشمول جعلته من مواضع التعريف، وهذا واضح في الجمع، إذا أريد به الاستغراق، وشمول جميع الأفراد، والنحاة يقولون أن هذه صيغة منتهى الجموع، ففيها معنى الاستغراق وتمام الإحاطة.
Dan sungguh telah kami jelaskan sebelumnya bahwasanya bangsa Arab menghendaki kata nakirah untuk menunjuk pada satuan individu yang bersifat umum (al-fard al-syaa’i’), yaitu satu satuan dari jumlah yang banyak. Maka apabila dimaksudkan untuk pencakupan yang menyeluruh dan universal (al-ihaathah wa al-syumuul), mereka menjadikannya termasuk ke dalam ranah makrifat. Dan hal ini tampak jelas di dalam bentuk jamak, apabila yang dikehendaki dengannya adalah generalisasi total (al-istighraaq) serta pencakupan bagi seluruh individu anggota jenisnya. Dan para pakar nahwu mengatakan bahwasanya ini adalah formula pola wazan muntahal jumu’, yang mana di dalamnya memuat makna generalisasi total (al-istighraaq) serta kesempurnaan cakupan yang menyeluruh.”
والذي نرى هنا انه إذا قصد بالجمع الاستغراق، والدلالة على الإحاطة منع التنوين لما فيه من معنى التعريف على طبيعة العربية ومجراها في التعريف والتنكير فإذا لم يقصد إلى الاستغراق والإحاطة فالاسم منون” (١).
“Dan yang kami lihat di sini adalah bahwasanya apabila dimaksudkan dengan bentuk jamak tersebut sebuah generalisasi total (al-istighraaq) serta penunjukan atas cakupan menyeluruh, maka dicegahlah tanwin darinya karena adanya kandungan makna makrifat di dalamnya, berdasarkan atas tabi’at asli Bahasa Arab serta jalurnya di dalam ranah makrifat dan nakirah. Maka apabila tidak dimaksudkan ke arah generalisasi total dan cakupan menyeluruh tersebut, maka isim-nya wajib bertanwin.”1
وهذا باطل من وجوه منها:
Dan opini ini adalah bathil (salah/gugur) ditinjau dari beberapa aspek (wujuuh), di antaranya:
١ – أن ينبغي على حد قوله أن يكون كل ما يدل على الإحاطة والشمول مفردًا، أو غيره معرفة، وعليه يجب منعه من الصرف، وليس أعم من كلمة (شيء) فهي أعم كلمة ومع ذلك هي منصرفة قال تعالى:
1. Bahwasanya konsekuensi dari batasan perkataannya tersebut mengharuskan setiap kata yang menunjukkan atas cakupan menyeluruh dan universal—baik berupa kata tunggal (mufrad) maupun selainnya—harus berstatus makrifat, dan berdasarkan hal itu wajib pula hukumnya dicegah dari menerima tanwin (mamnu’ minash sharfi). Padahal tidak ada kata yang lebih umum daripada kata Syai’un (شَيْء), yang mana ia merupakan kosakata yang paling universal, namun bersamaan dengan itu ia tetap berstatus munsharif (menerima tanwin). Allah Ta’ala berfirman:
{ليس كمثله شيء} [الشوري: ١١]
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” [Surah Asy-Syura: 11]
وقال:
dan Dia berfirman:
{ندمر كل شيء بأمر ربها} [الأحقاف: ٢٥].
“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya.” [Surah Al-Ahqaf: 25]
ومثل ذلك ألفاظ العموم، نحو أحد، وعريب، وديار، نحو (ما فيها أحد)، وكل ما يفيد العموم نحو (قوة خير من ضعف)، و (جِد خير من عبث) فهذا كله يدل على الإحاطة فينبغي أن يمنع من الصرف
Dan permisalan hal tersebut adalah lafal-lafal yang bermakna umum (alfazh al-‘umuumi), seperti kata ahadun, ‘ariibun, dan diyyaarun, di dalam permisalan kalimat (Maa fiihaa ahadun [Tidak ada seorang pun di dalamnya]). Serta segala hal yang memberikan faedah keumuman universal seperti permisalan kalimat (Quwwatun khairun min dha’fin [Kekuatan itu lebih baik daripada kelemahan]) dan (Jiddun khairun min ‘abatsin [Keseriusan itu lebih baik daripada kesia-siaan]). Maka ini seluruhnya menunjukkan atas cakupan menyeluruh (al-ihaathah), sehingga konsekuensinya ia harus dicegah dari menerima tanwin.
٢ – ثم من قال أن صيغة منتهى الجموع تدل على الإحاطة والشمول والإستغراق؟
أن النحاة ذكروا أن القصد بمصطلح (منتهى الجموع) أنه نهاية جمع التكسير، فلا يكسر هذا الجمع مرة أخرى، وأنه جمع لا نظير له في الواحد، كما ذكرنا، ولم يقل أحد إن المقصود به الإحاطة، يدل على ذلك جعله تمييزا لأدني العدد، قال تعالى:
2. Kemudian, siapakah yang mengatakan bahwasanya pola wazan muntahal jumu’ itu menunjukkan atas cakupan menyeluruh, universalitas, serta generalisasi total (al-istighraaq)? Bahwasanya para pakar nahwu menyebutkan bahwa maksud dari istilah Muntahal Jumu’ adalah batas akhir dari Jamak Taksir, sekira bentuk jamak ini tidak boleh di-taksir-kan (dijamakkan taksir) sekali lagi, dan ia merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki permisalan sepadan pada bentuk tunggalnya (mufrad) sebagaimana telah kami sebutkan. Dan tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa maksud darinya adalah cakupan menyeluruh (al-ihaathah). Hal itu ditunjukkan oleh dijadikannya pola ini sebagai kata penjelas (tamyiiizan) untuk bilangan jumlah terkecil (tiga sampai sepuluh). Allah Ta’ala berfirman:
{كمثل حبة أنبتت سبع سنابل} [البقرة: ٢٦١]
“serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir.” [Surah Al-Baqarah: 261]
وقال:
dan Dia berfirman:
{سبع طرائق} [المؤمنون: ١٧]
“tujuh buah jalan (langit).” [Surah Al-Mu’minun: 17]
وتقول (ثلاثة مساجد) فكيف يكون دالا على الإحاطة والشمول؟
Dan Anda mengatakan (tsalaatsatu masaa-jida [tiga buah masjid]), maka bagaimanakah ia bisa dikatakan menunjukkan atas cakupan menyeluruh dan universalitas?
٣ – ويرد ذلك استعمال العرب والتنزيل العزيز، قال تعالى:
3. Dan opini tersebut terbantahkan oleh cara penggunaan bangsa Arab asli serta Al-Qur’an (al-tanziil al-‘aziiz). Allah Ta’ala berfirman:
{سيروا فيها ليالي وأياما آمنين} [سبأ: ١٨]
“Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.” [Surah Saba’: 18]
فمنع صَرف الليالي وصرف الأيام، فهل أراد استغراق الليالي دون الأيام؟
Maka di sini Allah mencegah kata al-layaalii menerima tanwin (karena pola muntahal jumu’) namun men-tashrif-kan (memberi tanwin) pada kata ayyaaman. Maka apakah Dia bermaksud menggeneralisasikan seluruh malam secara total namun tidak pada siang hari?
وقال:
Dan Dia berfirman:
{لهدمت صوامع وبيع وصلوات ومساجد} [الحج: ٤٠]
“tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Yahudi dan masjid-masjid.” [Surah Al-Hajj: 40]
فمنع صَرف الصوامع والمساجد وصرف البيع، فهل أراد استغراق الصوامع والمساجد دون الصلوات والبيع؟ ثم من يقول أنه أراد هدم جميع المساجد والصوامع، على سبيل الاستغراق؟
Maka Allah mencegah kata shawaami’u dan masaa-jidu menerima tanwin namun men-tashrif-kan kata biya’un. Maka apakah Dia bermaksud menggeneralisasikan peruntuhan biara dan masjid secara total tanpa mencakup rumah ibadah Yahudi dan gereja? Kemudian siapakah yang mengatakan bahwasanya Dia menghendaki hancurnya seluruh masjid dan biara yang ada di dunia atas jalan generalisasi total?
وقال:
Dan Dia berfirman:
{وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا} [الحجرات: ١٣]
“dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” [Surah Al-Hujurat: 13]
فصرف الشعوب دون القبائل، فهل أراد استغراق القبائل دون الشعوب؟
Maka di sini Allah men-tashrif-kan kata syu’uuban namun mencegah kata qabaa’ila menerima tanwin. Maka apakah Dia menghendaki generalisasi total pada rumpun suku (qabaa’il) namun tidak pada rumpun bangsa (syu’uub)?
٤ – ثم هي توصف بالنكرة، تقول (رأيت مساجد عامرة بالمسلمين) وتقول (قاسيت ليالي مرة) قال تعالى:
4. Kemudian, pola tersebut dapat disifati dengan kata nakirah (tuushafu bi al-nakirah). Anda mengatakan (Ra’aitu masaa-jida ‘aamiratan bi al-muslimiina [Aku melihat masjid-masjid yang makmur dengan kaum muslimin]) dan Anda mengatakan (Qaasiytu layaaliya murratan [Aku menderita melewati malam-malam yang pahit]). Allah Ta’ala berfirman:
{ومساكن طيبة في جنات عدن} [التوبة: ٧٢]
“dan tempat-tempat kediaman yang baik di dalam surga ‘Adn.” [Surah At-Taubah: 72]
فلو كانت معرفة لم يصح وصفها بالنكرة.
Maka kalaulah pola wazan tersebut berstatus makrifat sejak awal, niscaya tidak akan sah/boleh ia disifati dengan kata penjelas yang bersifat nakirah.
٥ – ثم لو كانت صيغة منتهى الجموع معرفة، لم يصح تعريفها في حين أنه يصح تعريفها بإجماع، فتقول المساجد والسنابل والليالي، قال تعالى:
5. Kemudian, kalaulah formula wazan muntahal jumu’ itu berstatus makrifat, niscaya tidak sah pula ia dimakrifatkan lagi (lam yashihha ta’riifuhaa), padahal pada kenyataannya ia dapat dimakrifatkan berdasarkan konsensus kesepakatan ulama nahwu (ijma’). Maka Anda mengatakan: Al-Masaa-jidu, Al-Sanaabilu, dan Al-Layaalii. Allah Ta’ala berfirman:
{وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحدا} [الجن: ١٨]
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” [Surah Al-Jinn: 18]
وقال:
dan Dia berfirman:
{ولا الهدي ولا القلائد} [المائدة ٢].
“dan jangan melanggar kehormatan binatang-binatang hadyu, dan binatang-binatang qala’id.” [Surah Al-Ma’idah: 2]
فدل ذلك على بطلان ما ذهب إليه.
Maka hal-hal tersebut di atas menjadi dalil bukti atas gugur/bathil-nya apa-apa yang ia opinikan.
والله أعلم.
Bersambung ke bagian berikutnya
Sumber : Kitab Ma’aniy al-Nahwu – Al-Maktabah Al-Syamilah
Leave a Reply