Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab (1)



الجمع في اللغة العربية
الأنواع، والصياغة، والإعراب

Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab:
Jenis-Jenis, Formasi Penulisan, dan I’rab

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab: Jenis-Jenis, Formasi Penulisan, dan I’rab ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab

مقدمة
بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، سيد الأولين والآخرين، وخاتم الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته أجمعين، وسلم تسليماً كثيراً.

Pendahuluan:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian, penutup para nabi dan rasul, serta kepada keluarganya dan para shahabatnya seluruhnya, dengan keselamatan yang teramat banyak.

وبعد، فاللغة العربية من أجل اللغات وأشرفها، نالت شرف الأفضلية لخصائصها المتنوعة على مستوى الصوت والصرف والنحو والمعجم والدلالة. أما الشرف فيكفيها فخرا أنها لغة القرآن التي اختارها الله تعالى وأكد على فصاحتها وبيانها بقوله

Wa ba’du, maka Bahasa Arab termasuk ke dalam deretan bahasa yang paling agung lagi paling mulia. Ia meraih kehormatan keutamaan karena karakteristiknya yang bervariasi pada level fonetik (suara), sharaf (morfologi), nahwu (sintaksis), leksikon (kamus), serta semantik (makna). Adapun mengenai kemuliaannya, maka cukuplah baginya kebanggaan bahwasanya ia merupakan bahasa Al-Qur’an yang dipilih oleh Allah Ta’ala dan ditegaskan atas kefasihan serta penjelasannya melalui firman-Nya:

﴿ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ ﴾ [1]

“Padahal ini adalah bahasa Arab yang terang.” 1

فهذه اللغة هي لغة الفصاحة والبلاغة والمجاز ودقة التعبير وحسن التصوير وجمال المفردة والعبارة، وقد اهتم بها العرب فدرسوها من وجوه عديدة شكلت ما يسمى بعلوم اللغة العربية “وهي ثلاثة عشر علما: الصرف والإعراب (النحو) والرسم (الإملاء) والمعاني والبيان والبديع (البلاغة) والعروض والقوافي وقرض الشعر والإنشاء والخطابة وتاريخ الأدب ومتن اللغة”[2].

Maka bahasa ini merupakan bahasa kefasihan, balaghah (retorika), majas (metafora), keakuratan ungkapan, keindahan visualisasi, serta keelokan kosakata dan kalimat. Kaum Arab telah menaruh perhatian yang besar terhadapnya, lalu mereka mempelajarinya dari berbagai macam aspek yang membentuk apa yang dinamakan dengan disiplin ilmu-ilmu Bahasa Arab, yang mana ilmu-ilmu tersebut terdiri dari tiga belas disiplin ilmu, yaitu: sharaf (morfologi), i’rab (nahwu/sintaksis), rasam (imla’/ortografi), al-ma’ani, al-bayan, al-badi’ (balaghah/retorika), al-‘arudh, al-qawafi, qardhu asy-syi’r (seni puisi), al-insya’ (komposisi/menulis), al-khithabah (orasi), tarikh al-adab (sejarah sastra), dan matnu al-lughah (kosakata utama bahasa).2

ويجمع السلف والخلف من علماء العربية على أن النحو والصرف أهم علوم اللغة فهما مفتاح بقية العلوم اللغوية والشرعية وغيرهما من العلوم. وعلم النحو هو” علم بأصول تعرف بها أحوال الكلمات العربية من حيث الإعراب والبناء” [3]، وذلك يكون في الجملة أو التركيب وما يقتضيه من رفع أو نصب أو جر أو جزم أو بقاء على حالة واحدة.

Dan para ulama terdahulu (salaf) maupun yang datang kemudian (khalf) dari kalangan ahli Bahasa Arab bersepakat bahwasanya ilmu nahwu dan sharaf merupakan ilmu bahasa yang paling penting, karena keduanya merupakan kunci bagi sisa ilmu-ilmu kebahasaan, ilmu syariat, dan disiplin ilmu selain keduanya. Dan ilmu nahwu adalah suatu ilmu tentang dasar-dasar yang dengannya dapat diketahui kondisi akhir kata-kata berbahasa Arab dari sisi i’rab (perubahan harakat akhir) dan bina’ (harakat akhir yang tetap/mabni),3 yang mana hal tersebut terjadi di dalam struktur kalimat (al-jumlah) atau susunan kata (at-tarkiib) beserta apa yang dituntutnya berupa hukum rafa’, nashab, jar, jazam, or bertahannya kata pada satu kondisi saja.

أما علم الصرف فهو “علم بأصول تعرف بها صيغ الكلمات العربية وأحوالها”[4] فهو علم يبحث في مفردات اللغة لتكون على وزن خاص وهيئة خاصة. ويرى بعض العلماء أن الصرف جزء من النحو وليس علما مستقلا بذاته، فيعرفون العلمين معا تحت مسمى النحو بقولهم” النحو قواعد تعرف بها صيغ الكلمات العربية وأحوالها حين إفرادها وحين تركيبها”[5].

Adapun ilmu sharaf, maka ia adalah suatu ilmu tentang dasar-dasar yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk formasi (shiyagh) kata-kata berbahasa Arab beserta kondisi-kondisinya,3 yang mana ia merupakan ilmu yang membahas kata tunggal di dalam bahasa agar berada pada wazan (timbangan) yang khusus serta postur pola yang khusus. Dan sebagian ulama berpendapat bahwasanya ilmu sharaf merupakan bagian dari ilmu nahwu dan bukan merupakan ilmu yang mandiri secara zatnya sendiri, sehingga mereka mendefinisikan kedua ilmu tersebut secara bersamaan di bawah satu nama besar yaitu Nahwu melalui perkataan mereka: “Nahwu adalah kaidah-kaidah yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk formasi kata-kata berbahasa Arab beserta kondisi-kondisinya pada saat ia berdiri sendiri (tunggal) maupun pada saat ia tersusun di dalam kalimat.”4

ويضم هذان العلمان مباحث كثيرة منها مبحث الجمع الذي ينتمي من جهة إعرابه إلى علم النحو ومن جهة صياغته إلى علم الصرف، وإذا كان الجمع هو ما دل على أكثر من اثنين أو اثنتين فما هي أنواعه وطرق صياغته وكيفية إعرابه؟ أسئلة كهذه وأسئلة أخرى هي ما سأحاول الإجابة عنها من خلال محاور هذا المقال مكتفيا بالإشارة إلى مباحث الجمع في العربية دون الغوص في دقائقها أو اختلاف العلماء حولها، وقد رمت التمثيل بما سَهُل من الأمثلة، معتمدا على مراجع قليلة لانتشار الموضوع في كتب النحو التي قد يقوم بعضها مقام بعض، وأرجو في الختام أن يوفقنا الله جميعا لما فيه الخير هو ولي ذلك والقادر عليه.

Dan kedua ilmu ini mencakup pembahasan yang teramat banyak, di antaranya adalah pembahasan mengenai plural (al-jam’u), yang mana dari segi i’rabnya ia bersandar pada ilmu nahwu sedangkan dari segi formasi penulisannya ia bersandar pada ilmu sharaf. Dan apabila plural (al-jam’u) itu adalah apa-apa yang menunjukkan atas jumlah yang lebih banyak dari dua lelaki atau dua wanita, maka apakah jenis-jenisnya, bagaimana metode formasi penulisannya, serta bagaimanakah tata cara i’rabnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini beserta pertanyaan lainnya adalah apa yang akan saya coba jawab melalui poros-poros artikel ini, dengan mencukupkan diri pada isyarat penanda ke arah pembahasan plural dalam Bahasa Arab tanpa menyelam terlalu dalam pada detail-detail rumitnya atau perbedaan pendapat para ulama di sekitarnya. Dan saya sengaja bermaksud memberikan permisalan dengan contoh-contoh yang mudah saja, dengan bersandar pada referensi yang sedikit dikarenakan telah tersebarnya topik ini di dalam kitab-kitab nahwu yang mana sebagian kitab tersebut dapat menempati posisi menggantikan sebagian yang lain. Dan saya berharap pada bagian penutup agar Allah memberikan taufik kepada kita semua menuju apa yang di dalamnya terdapat kebaikan, Dia-lah pelindung atas hal tersebut dan Zat Yang Maha Kuasa atasnya.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Surah An-Nahl, Ayat 103.
  2. Al-Ghalayini, Jami’ ad-Durus al-Arabiyyah, Dar Ibn al-Haitham, Cetakan ke-1, 2005, hal. 5.
  3. Sama dengan kitab sebelumnya, hal. 6.
  4. Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi, Al-Qawa’id al-Asasiyyah li al-Lughah al-Arabiyyah, Dar al-Fikr, hal. 6.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.