Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab (2)



الجمع في اللغة العربية
الأنواع، والصياغة، والإعراب

Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab:
Jenis-Jenis, Formasi Penulisan, dan I’rab (Bagian Kedua)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab: Jenis-Jenis, Formasi Penulisan, dan I’rab (Bagian 2) ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab

المحور الأول: جمع المذكر السالم:

Poros Pertama: Jamak Mudzakkar Salim:

الجمع: اسم ناب عن ثلاثة فأكثر، بزيادة في آخره، مثل ( مدرس، مدرسات ) أو تغيير في بنائه مثل (أطفال، وكُتُب، ورؤساء) فالأول يسمى الجمع السالم، والثاني يسمى الجمع المكسر (جمع التكسير). وينقسم السالم إلى مذكر ومؤنث، وينقسم جمع التكسير إلى جمع قلة وجمع كثرة كما سيأتي الحديث عنه.

Plural (Al-Jam’u) adalah isim (kata benda) yang mewakili jumlah tiga atau lebih, dengan adanya tambahan di bagian akhirnya seperti (mudarris, mudarrisaat) atau dengan adanya perubahan pada struktur bentuk asalnya seperti (athfaal, kutub, ru’asaa’). Maka jenis yang pertama dinamakan Jamak Salim, dan jenis yang kedua dinamakan Jamak Mukassar (Jamak Taksir). Dan Jamak Salim terbagi lagi menjadi mudzakkar (maskulin) dan muannats (feminin), sedangkan Jamak Taksir terbagi menjadi jamak qillah (menunjukkan jumlah sedikit) dan jamak katsrah (menunjukkan jumlah banyak) sebagaimana akan datang pembahasan mengenainya.

1- تعريف جمع المذكر السالم: هو ما دل على الجمع المذكر من غير تغيير في بناء مفرده مثل معلمون، ومهندسون، وكاتبون (مفرده سلم من التغيير).

1. Definisi Jamak Mudzakkar Salim: Yaitu apa-apa yang menunjukkan atas plural maskulin (jamak mudzakkar) tanpa adanya perubahan pada struktur bentuk tunggalnya (mufrad), seperti kata mu’allimuuna (para pengajar), muhandisuuna (para insinyur), dan kaatibuuna (para penulis), yang mana bentuk tunggalnya selamat dari perubahan.

2- شروط ما يجمع جمع المذكر السالم: يجمع الاسم جمع مذكر سالما إذا كان[6]:

2. Syarat-syarat isim yang dijamakkan dengan Jamak Mudzakkar Salim: Suatu isim dijamakkan dengan jamak mudzakkar salim apabila ia merupakan:1

• علماً (لا نجمع طفلاً هذا الجمع لأنه ليس علماً) مذكراً: (لا نجمع سعاد هذا الجمع لأنه ليس مذكراً) عاقلاً: (لا نجمع أسداً هذا الجمع لأنه ليس عاقلا) خال من التاء في آخره: (لا نجمع حمزة هذا الجمع لأن في آخره تاء). خال من التركيب: (لا نجمع عبد الله أو سيبويه لأنهما علمان مركبان).

• Nama diri/Nama khusus (‘Alam): (kita tidak menjamakkan kata thiflan [anak kecil] dengan jamak ini karena ia bukan nama diri), berjenis maskulin (mudzakkar): (kita tidak menjamakkan nama Su’ad dengan jamak ini karena ia bukan maskulin), berakal (‘aaqil): (kita tidak menjamakkan kata asadan [singa] dengan jamak ini karena ia bukan makhluk berakal), bersih dari huruf Ta di bagian akhirnya: (kita tidak menjamakkan nama Hamzah dengan jamak ini karena di bagian akhirnya terdapat huruf Ta), serta bersih dari susunan kata (tarkiib): (kita tidak menjamakkan nama Abdullah atau Sibawaih karena keduanya merupakan nama diri yang tersusun/berupa frase komposit).

• صفة لمذكر عاقل بشرط خلوها من التاء، فإذا تحقق هذا الشرط وجب أن تصلح التاء لدخولها على الكلمة، أو أن تكون دالة على التفضيل، فكلمة كاتب صفة لمذكر عاقل خالية من التاء ولكنها تقبلها (كاتبة) إذن تجمع على “كاتبين” (كاتبون)، وكلمة أفضل صفة لمذكر عاقل خالية من التاء ولا تقبلها ولكنها من باب التفضيل، فنجمعها على أفضلين (أفضلون)، ويشترط كذلك في الصفة ألا تكون من” أفعل فعلاء كأحمر حمراء، ولا من فعلان فعلى كسكران سكرى، ولا مستويا فيها المذكر والمؤنث مثل جريح وصبور”[7].

• Kata Sifat (Shifah) bagi maskulin yang berakal dengan syarat sifat tersebut bersih dari huruf Ta. Apabila syarat ini terpenuhi, maka wajib hukumnya bagi huruf Ta tersebut untuk layak masuk melekat pada kata tersebut, atau kata sifat tersebut menunjukkan atas makna komparatif/superlatif (tafdhiil). Maka kata kaatib (penulis) adalah kata sifat bagi maskulin berakal yang bersih dari huruf Ta namun ia menerima pelekatan huruf Ta (menjadi kaatibah), oleh karena itu ia dijamakkan menjadi kaatibiina (kaatibuuna). Dan kata afdhal (lebih utama) adalah kata sifat bagi maskulin berakal yang bersih dari huruf Ta dan tidak menerima pelekatan huruf Ta, akan tetapi ia termasuk ke dalam bab kata superlatif (tafdhiil), maka kita menjamakkannya menjadi afdhhaliina (afdhaluuna). Dan disyaratkan pula pada kata sifat tersebut agar tidak termasuk ke dalam pola Af’ala – Fa’laa’ seperti kata ahmar – hamraa’ (merah), tidak termasuk pola Fa’laan – Fa’laa seperti kata sakraan – sakraa (mabuk), dan tidak pula termasuk kata sifat yang sama persis bentuknya antara maskulin dan feminin seperti kata jariih (terluka) dan shabuur (penyabar).2

وخلاصة الشروط أن يكون الاسم علماً لمذكر عاقل خالياً من تاء التأنيث وغير مركب. وأن تكون الصفة لمذكر عاقل ليس من باب ( أفعل الذي مؤنثه فعلاء )، ولا من باب ( فعلان الذي مؤنثه فعلى ) ولا مما يستوي فيه المذكر والمؤنث، وأن تكون خالية من تاء التأنيث مع قبولها، فإن لم تقبلها وجب أن تدل على التفضيل.

Dan kesimpulan dari syarat-syarat tersebut adalah: isim tersebut harus berupa nama diri (‘alam) bagi maskulin yang berakal, bersih dari huruf Ta ta’nits (penanda feminin), dan tidak tersusun (bukan frase komposit). Dan kata sifat tersebut harus ditujukan bagi maskulin yang berakal, bukan termasuk bab (Af’ala yang bentuk femininnya adalah Fa’laa’), bukan dari bab (Fa’laan yang bentuk femininnya adalah Fa’laa), bukan termasuk kata yang sama bentuknya antara maskulin dan feminin, serta harus bersih dari huruf Ta ta’nits disertai kelayakannya untuk menerima huruf tersebut, yang mana jika ia tidak menerimanya maka ia wajib menunjukkan makna komparatif/superlatif (tafdhiil).

3- إعرابه: حالات إعراب الاسم ثلاثة: الرفع والنصب والجر وجمع المذكر السالم يرفع بالواو وينصب ويجر وبالياء.

3. I’rabnya: Keadaan-keadaan i’rab bagi isim ada tiga, yaitu: rafa’, nashab, dan jar. Dan Jamak Mudzakkar Salim di-rafa’-kan dengan huruf Wawu serta di-nashab-kan dan di-jar-kan dengan huruf Ya.

• حالة الرفع: المرفوعات كثيرة منها

• Keadaan Rafa’: Kedudukan kata-kata yang di-rafa’-kan (al-marfuu’aat) terhitung banyak, di antaranya adalah:

• الفاعل: جاء المعلمون، المعلمون فاعل مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه جمع مذكر سالم.

• Pelaku (Al-Faa’il): Contoh: Jaa’a al-mu’allimuuna (Telah datang para pengajar). Kata al-mu’allimuuna adalah faa’il yang marfu’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf Wawu karena ia merupakan jamak mudzakkar salim.

• نائب الفاعل: حيث يكون الفعل مبنيا للمجهول: عُرف المجرمون، المجرمون نائب الفاعل مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه جمع مذكر سالم.

• Pengganti Pelaku (Naa’ib al-Faa’il): Yaitu ketika kata kerjanya berupa kata kerja pasif (mabni li al-majhuul). Contoh: ‘Urifa al-mujrimuuna (Telah diketahui para pelaku kriminal itu). Kata al-mujrimuuna adalah naa’ib al-faa’il yang marfu’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf Wawu karena ia merupakan jamak mudzakkar salim.

• اسم كان وأخواتها: كان المسلمون موحدين، المسلمون اسم كان مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه جمع مذكر سالم.

• Isim bagi Kana dan saudara-saudaranya: Contoh: Kaana al-muslimuuna muwahhidiina (Adalah kaum muslimin itu orang-orang yang mentauhidkan Allah). Kata al-muslimuuna adalah isim Kaana yang marfu’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf Wawu karena ia merupakan jamak mudzakkar salim.

• التابع لمرفوع كالنعت والبدل والعطف والتوكيد، نقول دخل الأستاذ والمتعلمون، المتعلمون اسم معطوف مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه جمع مذكر سالم.

• Kata yang mengikuti kedudukan kata sebelumnya yang marfu’ (At-Taabi’ li marfuu’) seperti kata sifat (na’at), pengganti (badal), kata sambung (athaf), dan penegas (tawkid). Kita mengatakan: Dakhala al-ustadzu wa al-muta’allimuuna (Telah masuk profesor dan para pelajar itu). Kata al-muta’allimuuna adalah isim ma’thuf yang marfu’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf Wawu karena ia merupakan jamak mudzakkar salim.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Al-Ghalayini, Jami’ ad-Durus al-Arabiyyah, hal. 173.
  2. Badruddin bin Jama’ah, Syarh Kafiyyah Ibn al-Hajib, Dar al-Manar 2000, hal. 248.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.