Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab (4)



الجمع في اللغة العربية
الأنواع، والصياغة، والإعراب

Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab:
Jenis-Jenis, Formasi Penulisan, dan I’rab (Bagian 4)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Plural (Al-Jam’u) dalam Bahasa Arab: Jenis-Jenis, Formasi Penulisan, dan I’rab (Bagian 4) ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab

5- ملحقاته: الملحق ما لا واحد له من لفظه، أو له واحد لكنه غير مستكمل للشروط. والملحقات هي:

5. Kata-kata yang Dinilai Serumpun dengannya (Mulhaqaatuhu): Kata serumpun (al-mulhaq) adalah apa-apa yang tidak memiliki bentuk tunggal (mufrad) dari lafalnya sendiri, atau ia memiliki bentuk tunggal namun tidak melengkapi syarat-syarat yang telah ditentukan. Dan kata-kata serumpun tersebut adalah:

• ألفاظ العقود: عشرون، ثلاثون…إلى تسعين، ملحق بجمع المذكر السالم، لأنه لا واحد لها من لفظها. نقول جاء عشرون رجلا، ورأيت عشرين امرأة، ومررت بعشرين منزلا، عشرون الأولى فاعل مرفوع وعلامة رفعه الواو لأنه ملحق بجمع المذكر السالم، والثانية مفعول به منصوب وعلامة نصبه الياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم، والثالثة اسم مجرور وعلامة جره الياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم.

• Lafal-lafal bilangan puluhan (Alfazh al-‘Uquud): Yaitu kata ‘isyruuna (dua puluh), tsalaatsuuna (tiga puluh)… sampai dengan tis’uuna (sembilan puluh), dinilai serumpun (mulhaq) dengan Jamak Mudzakkar Salim karena tidak ada bentuk tunggal dari lafalnya sendiri. Kita mengatakan: Jaa’a ‘isyruuna rajulan (Telah datang dua puluh orang lelaki), ra’aitu ‘isyriina imra’atan (Aku telah melihat dua puluh orang wanita), dan marartu bi ‘isyriina manzilan (Aku telah melewati dua puluh rumah). Kata ‘isyruuna yang pertama adalah faa’il yang marfu’ dan tanda rafa’-nya adalah huruf Wawu karena ia merupakan mulhaq dengan jamak mudzakkar salim; kata yang kedua adalah maf’uul bihi yang manshub dan tanda nashab-nya adalah huruf Ya karena ia merupakan mulhaq dengan jamak mudzakkar salim; dan kata yang ketiga adalah isim majrur dan tanda jar-nya adalah huruf Ya karena ia merupakan mulhaq dengan jamak mudzakkar salim.

• أهلون: ملحق لأن مفرده أهلا ليس صفة ولا علما. نقول جاء الأهلون ورأيت الأهلين ومررت بالأهلين.

Ahluuna (keluarga-keluarga): Dinilai serumpun (mulhaq) karena bentuk tunggalnya yaitu kata ahlan bukan merupakan kata sifat (shifah) dan bukan pula nama diri (‘alam). Kita mengatakan: Jaa’a al-ahluuna, ra’aitu al-ahliina, dan marartu bi al-ahliina.

• أولو: ليس لها مفرد من نوعها فمفردها “ذو” نقول جاء أولو العقل، و رأيت أولي العقل، ومررت بأولي العقل.

Uluu (pemilik): Tidak memiliki bentuk tunggal yang sejenis dari lafalnya sendiri, yang mana bentuk tunggalnya adalah kata dzuu. Kita mengatakan: Jaa’a uluu al-‘aqli (Telah datang para pemilik akal), ra’aitu ulii al-‘aqli (Aku telah melihat para pemilik akal), dan marartu bi ulii al-‘aqli (Aku telah berpapasan dengan para pemilik akal).

• عالمون: تدل على غير العاقل. قال تعالى

‘Aalamuuna (semesta alam): Karena ia menunjukkan penunjukan atas makhluk yang tidak berakal. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴾ [14]

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” 1

العالمين مضاف إليه مجرور بالياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم.

Kata al-‘alamiina di sini bertindak sebagai mudhaf ilaihi yang majrur dengan huruf Ya karena ia merupakan mulhaq dengan jamak mudzakkar salim.

• عليّون: اسم لأعلى الجنة، وليس فيه الشروط المذكورة لأنه ليس بعاقل. قال الله تعالى

‘Illiyyuuna: Merupakan nama bagi tempat tertinggi di surga, dan di dalamnya tidak memuat syarat-syarat yang telah disebutkan karena ia bukan makhluk berakal. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ ﴾ [15]

“Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti itu benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.” 2

عليين اسم مجرور بالياء لأنه ملحق بجمع المذكر السالم.

Kata ‘illiyyiina adalah isim majrur dengan huruf Ya karena ia merupakan mulhaq dengan jamak mudzakkar salim.

• أرضون: جمع أرض، وهي اسم مؤنث غير عاقل.

Aradhuuna: Merupakan bentuk jamak dari kata ardhun (bumi), yang mana ia adalah isim feminin (muannats) yang tidak berakal.

• السنون: جمع سنة. اسم مؤنث غير عاقل.

Al-Sunuuna: Merupakan bentuk jamak dari kata sanatun (tahun). Isim feminin yang tidak berakal.

المحور الثاني: جمع المؤنث السالم:

Poros Kedua: Jamak Muannats Salim:


1- تعريف جمع المؤنث السالم:
ما جُمع بألفٍ وتاءٍ زائدتين، مثل: ” هندات، مرضعات، فاضلات “[16].

1. Definisi Jamak Muannats Salim:
Yaitu apa-apa yang dijamakkan dengan adanya tambahan huruf Alif dan Ta zaidah (tambahan) di bagian akhirnya, seperti kata: Hindaat, murdhi’aat, dan faadhilaat.3

2- طريقة جمعه: تجمع الكلمة هذا الجمع بزيادة ألف وتاء مبسوطة دائما، فإذا جمعت المختوم بالتاء حذفتها وجوبا كفاطمة فاطمات، أما جمع المقصور والمنقوص والممدود ففيه بعض التفصيل:

2. Tata Cara Pembentukan Jamaknya: Suatu kata dijamakkan dengan jamak ini dengan cara menambahkan huruf Alif dan huruf Ta mabshuthah (Ta terbuka/ت) di bagian akhirnya secara konstan. Maka apabila Anda menjamakkan kata yang berakhiran huruf Ta ta’nits, wajib hukumnya bagi Anda untuk menghapusnya terlebih dahulu seperti kata Fathimah menjadi Fathimaat. Adapun mengenai jamak dari isim Maqshur, Manqush, dan Mamdud, maka di dalamnya memuat beberapa rincian detail:

جمع المقصور: إذا كانت الألف ثالثة ردت إلى أصلها (الواو أو الياء) مثل رضوى رضوات، وإذا كانت رابعة فصاعدا قلبت ياء كذكرى ذكريات ومستشفى مستشفيات.

Jamak dari Isim Maqshur: Apabila huruf Alif-nya berada pada urutan huruf ketiga, maka ia dikembalikan kepada huruf asalnya (apakah berupa huruf Wawu atau huruf Ya) seperti kata Radhwa menjadi Radhawaat. Dan apabila huruf Alif-nya berada pada urutan huruf keempat atau lebih tinggi di atasnya, maka ia diubah menjadi huruf Ya seperti kata dzikra menjadi dzikrayaat dan kata mustasjfa menjadi mustasyfayaat.

جمع المنقوص: تبقى ياؤه وترد له إن حذفت، قاضية قاضيات.

Jamak dari Isim Manqush: Huruf Ya-nya tetap dipertahankan keberadaannya dan dikembalikan lagi kepadanya apabila ia sempat terhapus, contoh kata qaadhiyah menjadi qaadhiyaat.

جمع الممدود: حسب حالة همزته فإن كانت أصلية تبقى على حالها (إنشاء إنشاءات)، وإن كانت زائدة للتأنيث قلبت واوا (صحراء صحراوات)، وإن كانت منقلبة عن واو أو ياء جاز فيها الأمران( سماء سماءات أو سماوات).

Jamak dari Isim Mamdud: Dibentuk berdasarkan atas kondisi karakteristik huruf Hamzah-nya; yang mana jika ia bersifat asli maka ia dipertahankan atas kondisinya semula (seperti kata insyaa’ menjadi insyaa’aat); dan jika ia berupa tambahan untuk feminin (zaidah li al-ta’niits) maka ia diubah menjadi huruf Wawu (seperti kata shahraa’ menjadi shahrawaat); dan jika ia merupakan perubahan bentuk dari huruf Wawu atau huruf Ya maka diperbolehkan padanya memilih dua perkara tersebut (seperti kata samaa’ boleh ditulis samaa’aat atau samawaat).

3- الأسماء التي تجمع هذا الجمع: هناك عشرة أنواع من الكلمات التي تجمع هذا الجمع[17]:

3. Isim-isim yang Dijamakkan dengan Jamak Ini: Terdapat sepuluh jenis dari rumpun kata-kata yang dijamakkan dengan menggunakan jamak ini:4

الأول: علم المؤنث: كـ ( مريم، فاطمة ).

Pertama: Nama Diri bagi Perempuan (‘Alam al-Muannats): Seperti kata (Maryam, Fathimah).

الثاني: ما خُتم بتاء التأنيث: كـ ( شجرة، ثمرة، عائشة ) . ويُستثنى من ذلك: ” امرأة، شاة، أمة، شفة، ملة “، فلا تُجمع بالألف والتاء وإنما تجمع على ” نساء، شياه، أمم، شفاه، ملل”.

Kedua: Apa-apa yang Diakhiri dengan Huruf Ta Ta’nits: Seperti kata (syajaratun [pohon], tsamaratun [buah], ‘Aisyah). Dan dikecualikan dari hukum tersebut adalah kata: “imra’atun [wanita], syaatun [kambing], amatun [budak wanita], syafatun [bibir], millatun [agama/sekte]”, yang mana mereka tidak dijamakkan menggunakan huruf Alif dan Ta melainkan dijamakkan menjadi “nisaa’, syihaah, umam, syifaah, milal“.

الثالث: صفة المؤنث، مقرونة بالتاء ( مرضعة مرضعات، أو دالة على التفضيل كـ فضلى ” مؤنث أفضل ” فضليات ). ( لا يُجمع نحو: ” حائض وحامل وطالق وصبور وجريح ” من صفات المؤنث، بالألف والتاء؛ لأن الشّرط في جمع الصفة المؤنث بهما أن تكون مختومة بالتاء، أو دالة على التفضيل. وهذه الصفات ليست كذلك. بل تجمع على حوائض وحوامل وطوالق وصُبُر وجرحى).

Ketiga: Kata Sifat bagi Perempuan (Shifah al-Muannats) yang digandengkan dengan huruf Ta (seperti kata murdhi’ah menjadi murdhi’aat, atau kata yang menunjukkan makna superlatif/tafdhiil seperti kata fudhla—bentuk feminin dari kata afdhal—menjadi fudhliyaat). (Tidak dijamakkan kosakata permisalan: “haa’idh [yang haid], haamil [yang hamil], thaaliq [yang ditalak], shabuur [yang penyabar], jariih [yang terluka]” dari deretan kata sifat perempuan menggunakan huruf Alif dan Ta; karena syarat di dalam menjamakkan kata sifat perempuan dengan keduanya adalah kata tersebut wajib diakhiri dengan huruf Ta atau menunjukkan makna superlatif/tafdhiil. Sedangkan kata-kata sifat ini tidaklah demikian kondisinya, melainkan mereka dijamakkan menjadi hawaa’idh, hawaamil, thawaaliq, shubur, dan jarha).

الرابع: صفة المذكر غير العاقل: كـ ( جبل شاهق، وجبال شاهقات).

Keempat: Kata Sifat bagi Maskulin yang Tidak Berakal (Shifah al-Mudzakkar ghair al-‘Aaqil): Seperti kata (jabalun syaahiqun [gunung yang tinggi], menjadi jibaalun syaahiqaat).

الخامس: المصدر المجاوز ثلاثة أحرف، غير المؤكِّد لفعله. كإكرامات، وإنعامات وتعريفات.

Kelima: Kata Benda Abstrak/Infinitif (Al-Mashdar) yang melebihi batas tiga huruf, yang mana ia bukan bertindak sebagai penegas bagi kata kerjanya (ghair al-mu’akkid li fi’lihi). Seperti kata ikramaat, in’amaat, dan ta’riifaat.

السادس: مُصغّر مذكر ما لا يعقل. كـ ( دُريهم، ودُريهمات، كُتيّب، كُتيّبات ).

Keenam: Bentuk Pengecilan Makna (Mushagghar) bagi maskulin benda yang tidak berakal. Seperti kata (duraihamun menjadi duraihamaat, kutaiyibun menjadi kutaiyibaat).

السابع: ما ختم بألف التأنيث الممدودة. كصحراء صحراوات. وعذراء عذراوات، إلا ما كان على وزن ( فعلاء ) مؤنث ( أفعل )، فلا يُجمع هذا الجمع كـ حمراء، وكحلاء، وصحراء ( مؤنث أصحر )، وإنما يُجمع هو ومذكره على وزن ( فُعْل ): كـ ( حمر، كحل، صحر ).

Ketujuh: Apa-apa yang Diakhiri dengan Huruf Alif Ta’nits Mamdudah: Seperti kata shahraa’ menjadi shahrawaat, dan kata ‘adzraa’ menjadi ‘adzrawaat. Dikecualikan dari hukum tersebut adalah apa yang berada pada pola wazan Fa’laa’ yang merupakan bentuk feminin dari pola Af’alu, maka ia tidak dijamakkan menggunakan jamak ini seperti kata hamraa’ (merah), kahlaa’ (hitam matanya), dan shahraa’ (bentuk feminin dari kata ashhar [luas]), melainkan kata tersebut beserta bentuk maskulinnya dijamakkan mengikuti pola wazan Fu’lun: seperti menjadi (humr, kuhl, shuhr).

الثامن: ما خُتم بألف التأنيث المقصورة ( ذكرى، ذكريات، فضلى، فضليات، حُبلى، حُبليات ) إلا ما كان على وزن ( فَعلى ) مؤنث ( فعلان)، فلا يُجمع هذا الجمع:(سكران ) مؤنث سكران. وإنما يُقال في جمع ( سكرى ) ومذكرها ( سُكارى، سَكارى، سَكْرى ).

Kedelapan: Apa-apa yang Diakhiri dengan Huruf Alif Ta’nits Maqshurah: Seperti kata (dzikra menjadi dzikrayaat, fudhla menjadi fudhliyaat, hubla menjadi hubliyaat). Dikecualikan dari hukum tersebut adalah apa yang berada pada pola wazan Fa’la yang merupakan bentuk feminin dari pola Fa’laan, maka ia tidak dijamakkan dengan jamak ini; contohnya kata sakraa yang merupakan bentuk feminin dari kata sakraan (mabuk). Melainkan dikatakan di dalam pembentukan jamak kata sakraa beserta bentuk maskulinnya berupa lafal sukaara, sakaara, atau sakra.

التاسع: الاسم لغير العاقل، المصدّر بابن أو ذي: كـ (ابن آوى، بنات آوى، ذي القعدة، ذوات القعدة).

Kesembilan: Isim untuk Kata Benda yang Tidak Berakal yang Diawali dengan Kata Ibnu atau Kata Dzuu: Seperti kata (ibnu aawa menjadi banaatu aawa [srigala], dan kata dzu al-qa’dah menjadi dzawaatu al-qa’dah).

العاشر: كل اسم أعجمي لم يُعهد له جمع آخر: كـ ( تلغراف، التلفون، كاميرا، تلفزة ).

Kesepuluh: Setiap Isim Serapan Asing (A’jamiy) yang tidak dijumpai baginya bentuk jamak yang lain: Seperti kata (tilighraaf [telegraf], al-tilifuun [telepon], kaamira [kamera], tilfazah [televisi]).

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Surah Al-Fatihah, 1.
  2. Surah Al-Muthaffifin, 18.
  3. Al-Ghalayini, Jami’ ad-Durus al-Arabiyyah, hal. 175.
  4. Al-Ghalayini, Jami’ ad-Durus al-Arabiyyah, hal. 176-177.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.