Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (1)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على رسوله الكريم، وعلى آله وصحبه أجمعين، أمَّا بعد: الحديث عن “أسلوب القرآن الحكيم” يُجمَع في سبع مسائل:

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasul-Nya yang mulia, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya seluruhnya. Amma ba’du: Pembahasan mengenai “Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana” terangkum dalam tujuh permasalahan utama:

المسألة الأُولى: معنى أسلوب القرآن.

Permasalahan Pertama: Makna gaya bahasa (uslub) Al-Qur’an.

المسألة الثانية: مُناسَبَتُهُ للعامَّةِ والخَاصَّة.

Permasalahan Kedua: Kesesuaiannya bagi kalangan awam maupun kalangan khusus.

المسألة الثالثة: إرضاؤُهُ العقلَ والعاطِفةَ.

Permasalahan Ketiga: Pemenuhannya terhadap kepuasan akal dan emosi (perasaan).

المسألة الرابعة: جَوْدَةُ سَبْكِهِ وإِحكامُ سَرْدِهِ.

Permasalahan Keempat: Kualitas kerapian jalinan kata dan kekokohan narasinya.

المسألة الخامسة: تَعَدُّدُ أسالِيبِه واتِّحادُ مَعْنَاه.

Permasalahan Kelima: Keragaman variasi gayanya namun menyatu dalam satu esensi makna.

المسألة السادسة: جَمْعُه بين الإِجمالِ والبَيانِ.

Permasalahan Keenam: Perpaduannya antara bentuk global (garis besar) dan penjelasan gamblang.

المسألة السابعة: إِيجازُ لَفْظِه وَوَفَاءُ مَعْنَاه.

Permasalahan Ketujuh: Keringkasan lafalnya namun mampu memenuhi hak maknanya secara sempurna.

المسألة الأُولى: معنى أسلوب القرآن:

Permasalahan Pertama: Makna Uslub Al-Qur’an:

• معنى «الأسلوب» في اللغة: يُقال للسَّطْرِ من النَّخيل: أُسْلوب، وكُلُّ طريق ممتد فهو أُسْلُوب، والأُسلوب: الطَّريقُ، والوَجْهُ، والمَذْهَبُ، يقال: أنتم في أُسْلُوب سُوءٍ، والأُسْلُوب: الفَنُّ، يقال: أخذ فلان في أساليبَ من القول؛ أي: أفانينَ منه، وإِنَّ أَنْفَهُ لفي أُسْلُوب، إذا كان مُتكَبِّراً [١]. ويقال: سلكتُ أسلوبَ فلان في كذا: طريقَتَه ومذهَبَه. وطريقة الكاتب في كِتابَته. ويُقال: أخذنا في أساليبَ مِنَ القَولِ: فنونٍ متنوعةٍ. والجَمْعُ: أسالِيب [٢]. «والأسالِيبُ الفُنُونُ المُخْتَلِفَةُ» [٣].

• Makna “Uslub” secara Bahasa (Etimologi): Kata uslub digunakan untuk menyebut barisan pohon kurma yang teratur. Setiap jalan lurus yang terbentang memanjang juga disebut uslub. Selain itu, kata ini berarti jalan, arah tujuan, dan haluan (mazhab). Dikatakan dalam sebuah ungkapan: “Kalian berada di jalan (uslub) yang buruk.”

Uslub juga bermakna ragam seni atau variasi gaya. Dikatakan: “Si fulan mulai masuk ke dalam berbagai asalib (variasi gaya) ucapan,” maksudnya ia menggunakan bermacam-macam seni perkataan. Ada pula ungkapan: “Sesungguhnya hidungnya benar-benar berada di atas uslub,” yang bermakna orang tersebut bersikap sombong atau angkuh.1

Dikatakan pula: “Aku mengikuti uslub si fulan dalam urusan ini,” artinya mengikuti metode dan haluannya. Kata ini juga merujuk pada karakteristik seorang penulis dalam menata karyanya. Diucapkan: “Kami mulai masuk ke dalam berbagai uslub pembicaraan,” yaitu ragam seni bahasa yang bervariasi. Bentuk jamaknya adalah asalib.2 Dituliskan pula: “Al-Asalib berarti ragam seni atau corak yang saling berbeda satu sama lain.”3

• معنى «الأسلوب» في الاصطلاح: الأسلوب في اصطلاح الأدباء وعلماء العربية هو: الطَّريقةُ الكلامِيَّةُ التي يسلكها المتكلِّم في تأليف كلامه واختيار ألفاظه ومفرداته. أو هو المذهب الكلامي الذي انفرد به المتكلِّم في تأدية معانيه ومقاصده من كلامه، أو هو طابع الكلام الذي انفرد به المتكلِّم [٤].

• Makna “Uslub” secara Istilah (Terminologi): Di kalangan sastrawan dan pakar bahasa Arab, uslub didefinisikan sebagai: Metode retorika ucapan yang ditempuh oleh seorang pembicara dalam merangkai susunan pembicaraannya serta memilih diksi lafal dan kosakatanya. Uslub juga bermakna karakteristik khas yang unik dari seorang pembicara dalam menyampaikan esensi makna serta tujuan dari perkataannya, atau dengan kata lain, karakter khas suatu pembicaraan yang hanya dimiliki oleh pembicara tersebut.4

• معنى «أسلوب القرآن»: وبناءً على ما تقدم فإن أسلوب القرآن العظيم: هو طريقته التي انفرد بها في تأليف كلامه واختيار ألفاظه. وإذا كان الأمر كذلك فلا غرابة أن يكون للقرآن العظيم أسلوب خاص به، لا يستطيع أحد أن يأتي بمثله؛ ذلك أنه كلام رَبِّ العالمين تبارك وتعالى.

• Makna “Uslub Al-Qur’an”: Berdasarkan penjelasan di atas, maka uslub Al-Qur’an yang Agung adalah metode khas yang tiada banding dalam merangkai jalinan firman serta memilih diksi kosakata-Nya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Al-Qur’an yang Agung memiliki gaya bahasa eksklusif yang unik, yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh siapa pun. Hal itu karena ia merupakan kalam (firman) langsung dari Rabb semesta alam yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

وأساليبُ المتكلمين وطرائقُهم في عرض كلامهم من شعرٍ أو نثرٍ، تتعدَّدُ بتعدد أشخاصهم، وأذواقهم، بل تتعدَّدُ في الشخص الواحد أحياناً بتعدد الموضوعات التي يتناولها، والفنون التي يعالجها. ومن الجدير بالذكر هنا معرفة أنَّ الأسلوب غير المفردات والتراكيب التي يتألَّف منها الكلام، وإِنَّما هو الطَّريقة التي انتهجها المؤلِّفُ في اختيار المفردات والتراكيب لكلامه.

Gaya bahasa dan cara manusia dalam memaparkan pembicaraannya—baik berupa syair maupun prosa (natsr)—sangat bervariasi seiring perbedaan individu dan selera sastra mereka. Bahkan, gaya bahasa satu orang pun bisa berubah-ubah tergantung pada topik yang diangkat atau cabang seni sastra yang sedang ia tangani. Poin penting yang harus diingat di sini adalah gaya bahasa (uslub) itu berbeda dengan zat kosakata atau struktur kalimat (tarakib) yang menyusun suatu pembicaraan. Uslub adalah metode yang ditempuh oleh sang penulis dalam memilih dan menata kosakata serta struktur kalimat tersebut.

وهذا هو السر في أنَّ الأساليب مختلفة باختلاف المتكلمين مِنْ ناثرين وناظمين، مع أنَّ المفردات التي يستخدمها الجميع واحدة، والتَّراكيب في جملتها واحدة، وهذا هو السر أيضاً في أنَّ القرآن العظيم لم يخرج عن معهود العرب في لغتهم العربية، بل جاء كتاباً عربياً جارياً على مألوف العرب، فمن حروفهم تألَّفتْ كلماته، ومن كلماتهم تألَّفَتْ تراكيبه، ولكنَّ المعجِزَ والمدهش أنَّ القرآن قد أعجزهم بأسلوبه الفذِّ، ولو دخل عليهم مِنْ غير هذا الذي يعرفونه، لأمكن أن يُلتمس لهم عذر في ذلك، وأن يسلم لهم طعن، ولذلك قال الله تعالى:

Inilah rahasia mengapa gaya bahasa manusia bisa berbeda-beda antara satu penulis prosa dengan penyair lainnya, padahal kosakata yang mereka gunakan sama dan kaidah tata bahasanya pun serupa. Hal ini pula yang menjadi rahasia mengapa Al-Qur’an yang Agung tidak keluar dari kebiasaan bangsa Arab dalam berbahasa, melainkan hadir sebagai kitab berbahasa Arab yang selaras dengan apa yang familier bagi mereka. Kata-kata Al-Qur’an tersusun dari jajaran huruf mereka, dan struktur kalimatnya pun dirangkai dari kosakata mereka sendiri.

Namun, hal yang menakjubkan dan menjadi mukjizat adalah Al-Qur’an berhasil membuat mereka tidak berdaya justru karena uslubnya yang unik tiada tara. Seandainya Al-Qur’an menantang mereka dengan jalur bahasa yang asing bagi mereka, tentu mereka punya alasan untuk menolaknya dan celaan mereka bisa dibenarkan. Oleh karena itulah Allah Ta’ala berfirman:5

﴿ وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ﴾ [فصلت: ٤٤]

“Dan sekiranya Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang rasul adalah orang Arab?” [Surah Fussilat: 44]

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Lisan al-‘Arab (1/473), materi: «salaba», Mukhtar al-Shihah (1/130), materi: «s l b».
  2. Lihat: Al-Mu’jam al-Wasith (hal. 441), materi: «salaba».
  3. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an (hal. 244), materi: «salaba».
  4. Lihat: Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/277), Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 18).
  5. Lihat: Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/278).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.