Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (10)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kesepuluh – Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kesepuluh – Terakhir) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

ومهما أوتي هذا البليغ من البلاغة، فإنه يستطيع أن يجمع بين هذين الأمرين (الإيجاز اللَّفظي، والوفاء بالمعنى) أحياناً في جمل قليلة، لكن سيبدو عليه القصور بعد ذلك، وينفلت من يده زمام الكلام، وتستعصي عليه الجمل والعبارات.

Bagaimanapun tingginya tingkat kefasihan sastra yang dikuasai oleh seorang pakar balaghah, ia mungkin hanya sanggup memadukan kedua hal ini—yaitu keringkasan lafal (al-iijaz al-lafdzhi) dan kesempurnaan makna (al-wafa’ bi al-ma’na)—pada beberapa gelintir kalimat pendek di momen-momen tertentu saja. Setelah itu, keterbatasan manusiawinya akan mulai tampak; kendali bahasanya akan terlepas, serta kalimat dan ungkapan kata akan menjadi sangat sulit untuk ia kuasai dengan konsisten.

ومَنْ كان في شكٍّ من ذلك فليسألْ علماءَ البيان وصيارفته: «هل ظفرتم بقطعةٍ من النَّثر، أو بقصيدة من الشِّعر، كانت كلها أو أكثرها جامعاً بين وفاء المعنى وقَصْدِ اللفظ؟

Siapa saja yang meragukan fakta ini, silakan bertanya kepada para ulama ilmu bayan dan para pakar penilai mutu sastra: “Pernahkah kalian menemukan sebait prosa (natsr) atau seuntai qasidah syiir, yang secara keseluruhan atau sebagian besarnya mampu memadukan antara kesempurnaan makna dan keringkasan lafal secara seimbang?”

ها هم أُولاءِ يُعلنون حُكْمَهم صريحاً بأنَّ أبرع الشُّعراء لم يُكتب له التَّبريزُ والإجادة، والجَمْعُ بين المعنى النَّاصع واللَّفظ الجامع إلاَّ في أبيات معدودة من قصائد محدودة، 

Mereka pasti akan menyatakan keputusan ilmiahnya secara tegas bahwa penyair paling ulung sekalipun tidak pernah ditakdirkan untuk meraih keunggulan mutlak (al-tabriiz), kesempurnaan kualitas, sekaligus perpaduan antara makna yang jernih berkilau (al-ma’na al-nashi’) dan lafal yang padat merangkum (al-lafdzh al-jami’), kecuali hanya pada beberapa bait yang bisa dihitung jari dari jajaran qasidah yang sangat terbatas.

أمَّا سائر شِعرهم بعد، فبين متوسط ورديء، وها هم أُولاءِ يعلنون حكمهم هذا نفسه أو أقلَّ منه، على النَّاثِرين من الخطباء والكُتَّاب»[٢٤].

Adapun sisa gubahan syair mereka selebihnya, kualitasnya hanya berkisar antara kelas menengah atau bahkan buruk. Penilaian yang sama—atau bahkan lebih rendah dari itu—juga mereka tetapkan bagi para penulis prosa dari kalangan orator ahli khutbah maupun para sastrawan.1

فمن أراد أن يقرأ كلاماً جَمَعَ هاتين الغايتين، فليقرأ القرآن العظيم من أوَّله إلى آخره، حيث البيان الكامل الذي لا يحسُّ فيه عوجاً ولا أمتاً. فألفاظه الوجيزة المُحْكَمة تؤدي المعاني بلا قصور، وبأحسن عبارة، وبدون زيادة كلمة، فضلاً عن حرف، 

Oleh karena itu, siapa yang ingin membaca untaian kata yang mampu mempertemukan dua tujuan tertinggi ini, bacalah Al-Qur’an yang Agung dari awal hingga akhir. Di sanalah terdapat penjelasan yang sempurna (al-bayan al-kamil), yang tidak akan ditemukan kebengkokan maupun kerancuan di dalamnya. Lafalnya yang ringkas, padat, lagi kokoh (al-wajizah al-muhkamah) mampu menyampaikan pesan secara paripurna tanpa ada kekurangan, melalui ungkapan terbaik, dan tanpa kelebihan satu kata pun, apalagi satu huruf.

ونجد في كل كلمة أو حَرْفٍ من حروفه دلالة عظيمة، بحيث لو حُذِفَ منه، ربما تغيَّر المعنى، أو حُرِّفَ، أو شُوِّه، وكذلك الزيادة، ذلك أنَّه كلام العليم الخبير، الذي تنزَّه عمَّا يعتري البشر من الكَلِّ والقصور والإِعياء، فلا تأخذه سِنة ولا نوم، وهو العزيز الحكيم [٢٥].

Kita mendapati pada setiap kata atau huruf dari rangkaian hurufnya mengandung petunjuk indikasi makna yang sangat besar. Jika satu huruf saja dihapus darinya, hal itu berpotensi mengubah esensi makna, menyelewengkannya, atau merusak keindahannya; begitu pula dampaknya jika dilakukan penambahan teks. Hal ini bisa mewujud karena Al-Qur’an merupakan kalam dari Zat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti, yang Maha Suci dari sifat abai (al-kall), kekurangan, dan kelelahan seperti yang menimpa manusia. Dia tidak ditimpa kantuk maupun tidur, dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.2

قال ابن عطية رحمه الله وهو يتحدث عن عظمة القرآن: «لو نُزِعَتْ منه لفظة ثم أُدِيرَ لسان العرب في أن يُوجد أحسنَ منها لم يُوجد» [٢٦].

Ibnu ‘Athiyyah rahimahullah menegaskan saat menjelaskan keagungan Al-Qur’an: “Sekiranya ada satu kata saja yang dicabut dari Al-Qur’an, kemudian seluruh kamus bahasa bangsa Arab diputarbalikkan demi mencari satu kata lain yang lebih baik sebagai penggantinya, niscaya kata itu tidak akan pernah ditemukan.”3

فالقرآن العظيم يختلف عن كلام البشر – مهما علا وارتقى «حتَّى كلام رسول الله صلّى الله عليه وسلّم الذي أُوتي جوامع الكلم، وأشرقت نفسه بنور النُّبوة والوحي، وَصِيغ على أكمل ما خلق الله،

Maka Al-Qur’an yang Agung jelas berbeda mutlak dari ucapan manusia, bagaimanapun tinggi tingkat keluhuran estetika sastranya. Perbedaan ini bahkan tetap ada jika dibandingkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dianugerahi keistimewaan berupa untaian kata ringkas namun padat makna (jawami’ al-kalim), sosok yang jiwanya disinari oleh cahaya kenabian dan wahyu, serta struktur bahasanya dibentuk di atas rupa paling sempurna dari apa yang telah Allah ciptakan.

فإِنَّه مع تحليقه في سماء البيان، وسُموِّه على كلام كُلِّ إنسان، لا يزال هناك بون بعيد بينه وبين القرآن»[٢٧].

Sesungguhnya sabda beliau, kendati terbang membubung tinggi di atas langit ilmu bayan serta berada di puncak keluhuran mengatasi perkataan manusia lainnya, tetap saja menunjukkan jarak rentang pemisah yang sangat jauh jika dihadapkan dengan keagungan mukjizat Al-Qur’an.4

والحمد لله رب العالمين.

Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Sumber yang sama (2/297, 298).
  2. Lihat: Sumber yang telah lalu (hal. 48).
  3. Tafsir Ibn ‘Athiyyah (1/52).
  4. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/298).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.