Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (2)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kedua)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kedua) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

• تنوُّع أسلوب القرآن: مَرَّ المجتمع الأوَّل – الذي نزل عليه القرآن – في تحولِّه من حال إلى حال، بأحوال مختلفة يحتاج كُلٌّ منها إلى أسلوب خاص في مخاطبته.

• Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an: Masyarakat pertama yang menerima turunnya Al-Qur’an mengalami fase transformasi yang dinamis. Perubahan dari satu kondisi ke kondisi lain ini melewati berbagai situasi berbeda, yang masing-masing membutuhkan gaya bahasa khusus dalam penyampaian pesannya.

فحين كان الكفر هو السائد بينهم: مالت الآيات إلى قِصَرِ الفواصل مع قُوَّة الألفاظ، بما يشتد قرعُه على الأسماع، ويصعق القلوب؛ ليوائم جَوَّ الرَّدْع والزَّجر والتَّقريع للمخاطَبين، وهذا هو الغالب في آيات السور المكية.

Ketika kekufuran masih mendominasi mereka, ayat-ayat cenderung memiliki pemutus kalimat (fashilah) yang pendek disertai pilihan kata yang kuat dan tegas. Hentakan nadanya terdengar keras di telinga dan menggetarkan hati agar selaras dengan atmosfer peringatan keras, hardikan, serta kecaman bagi para penentang yang diseru. Karakter inilah yang mendominasi ayat-ayat dalam surah Makkiyah.

وحين ساد الإيمان وأقبلت القلوب على القرآن: طالت المقاطع والآيات في البيان المتأني والوقع الهادئ بما يريح الآذان، ويجذب القلوب؛ ليوائم جَوَّ المحبة والاتِّباع والانقياد، وهذا هو الغالب في آيات السور المدنية.

Sebaliknya, ketika keimanan mulai tersebar luas dan hati manusia menyambut hangat Al-Qur’an, potongan paragraf dan ayat-ayatnya menjadi lebih panjang. Pemaparannya disampaikan secara saksama dengan ketukan nada yang teduh menenteramkan pendengaran serta memikat hati agar sesuai dengan atmosfer penuh cinta, keteladanan, dan kepatuhan. Karakter inilah yang mendominasi ayat-ayat dalam surah Madaniyah.

فتغَيُّر الأسلوبِ من حال إلى حال، دليلٌ واضح على أنَّ القرآن العظيم يشتمل على أساليب صالحةٍ لمخاطبة البشرية على كل حال. خاصةً إذا عَلِمنا أن أسلوب القرآن ليس موجَّهاً إلى شخص بعينه، ولا إلى جيل بعينه، بل خُوطبت به أجيال كثيرة ومتتابعة، إلى أن يرث الله الأرض ومَنْ عليها [٦].

Perubahan gaya bahasa dari satu kondisi ke kondisi lain ini merupakan bukti nyata bahwa Al-Qur’an yang Agung mencakup ragam uslub yang relevan untuk menyeru umat manusia dalam setiap keadaan. Terlebih lagi jika kita menyadari bahwa gaya bahasa Al-Qur’an tidak ditujukan kepada individu tertentu saja atau satu generasi saja, melainkan diserukan kepada lintas generasi yang banyak dan berkesinambungan, hingga Allah mewarisi bumi beserta segala isinya.1

المسألة الثانية: مُناسَبَتُهُ للعامَّةِ والخَاصَّة:

Permasalahan Kedua: Kesesuaiannya bagi Kalangan Awam (Masyarakat Umum) maupun Kalangan Khusus (Para Cendekiawan):

ما دام القرآن العظيم مخاطَباً به الناس جميعاً، على امتداد الحياة كلِّها، فقد كان من حكمته أن يكون مناسِباً للعامَّة والخاصَّة، فمن خصائص أسلوبه: أنه لا يعلو عن أفهام العامَّةِ ولا يقصر عن مطالب الخاصَّة، فإذا قرأَتْهُ العامَّةُ أحسُّوا بجلالِهِ، وذاقوا حلاوته، وفهموا منه على قدر استعدادهم ما يُرضي عقولَهم وعواطفَهم، وكذلك الخاصَّة إذا قرؤوه، لكنهم يفهمون منه أكثر مما يفهمه العامَّة.

Karena Al-Qur’an yang Agung ditujukan kepada seluruh manusia di sepanjang bentangan umur kehidupan, maka termasuk bagian dari hikmah-Nya adalah menjadikannya selaras bagi kalangan awam maupun khusus. Di antara karakteristik gaya bahasanya: Ia tidak membubung terlalu tinggi hingga melampaui pemahaman kaum awam, dan tidak pula kurang dari standar tuntutan kaum khusus. Apabila masyarakat awam membacanya, mereka dapat merasakan keagungannya, mengecap keindahannya, serta memahami kandungannya sesuai kapasitas mereka guna memuaskan akal pikiran dan perasaan. Begitu pula bagi kalangan khusus saat membacanya, mereka mampu menggali pemahaman yang jauh lebih dalam daripada apa yang dipahami oleh masyarakat awam.

وهذان مطلبان لا يدركهما الفُصحاء والبُلَغاء من الناس، ولذلك لجأوا إلى قاعدةٍ يعتذرون بها فقالوا: (لكلِّ مقامٍ مقال)، أمَّا أنْ يأتي كلام واحد يُخاطَب به العلماء والعامَّة، والملوك والسُّوقَة، والأذكياء ومَنْ دونهم، والكبير والصَّغير، والذَّكر والأُنثى، والعرب والعجم، ويرى فيه كلٌّ منهم مطلبه ويدرك من معانيه ما يكفيه، فذلك ما لا يوجد إلاَّ في القرآن العظيم وحده.

Dua capaian ini merupakan target yang tidak akan pernah bisa diraih oleh orator paling fasih maupun sastrawan paling ulung sekalipun. Oleh karena itu, manusia berlindung di balik sebuah kaidah sastra sebagai pembenaran atas keterbatasan mereka dengan mengatakan: “Setiap situasi memiliki gaya bicaranya sendiri (likulli maqaamin maqaalun)”. Adapun untuk menyusun satu teks pembicaraan tunggal yang sama yang bisa menyeru para ilmuwan sekaligus masyarakat awam, para raja sekaligus rakyat jelata, orang-orang genius sekaligus orang biasa, orang tua sekaligus anak-anak, laki-laki sekaligus perempuan, hingga bangsa Arab maupun non-Arab, di mana masing-masing dari mereka menemukan apa yang dicari dan memahami makna yang mencukupi kebutuhannya; maka hal itu tidak akan pernah dijumpai kecuali pada Al-Qur’an yang Agung semata.

فالآياتُ نفسُها لم تتبدل ولم تتغير، لكن فيها من العطاء بحيث يدرك منه كُلُّ قارئ قَدْرَ طاقتِه، وَوُسْعَ عقلِه وفكره، فلا يحمله ما لا يطيقه، ولا يقصر عن حاجته.

Ayat-ayat Al-Qur’an tidak pernah berganti ataupun berubah, namun kandungan di dalamnya memuat pancaran karunia sehingga setiap pembaca dapat memetik pemahaman sesuai kapasitas kemampuan serta ruang akal dan pemikirannya. Al-Qur’an tidak membebani pemahaman di luar kesanggupan pembacanya, namun juga tidak kurang dari batas kebutuhan dasarnya.

وهو لا يُخاطِبُ عامةً وخاصةً في عَصْرٍ من العصور، بل يُخاطِبُ أولئك في كل عصر ومِصْرٍ إلى أنْ يرث الله الأرض ومَن عليها. ولن تجد فيه الخاصَّةُ ـ فَضْلاً عن العامة ـ قصوراً في معانيه، ولا خللاً في تراكيبه، ولا عَيْباً في أساليبه.

Ia tidak sekadar menyeru kaum awam dan kaum khusus pada satu kurun waktu saja, melainkan menyeru mereka seluruhnya di setiap zaman dan wilayah geografi mana pun sampai hari kiamat. Kalangan khusus—terlebih lagi masyarakat awam—tidak akan pernah menemukan kekurangan pada cakupan maknanya, cacat pada susunan kalimatnya, ataupun cela pada gaya bahasanya.

والعامَّةُ كذلك – على الرغم مِنْ تَحَوُّل الأساليب وتغيُّرها من قرن إلى قرن – لا تنبو عن أفهامهم لفظة، ولا يلتوي على ألبابهم معنى، ولا يحتاجون فيه إلى ترجمان أكثر مما يحتاجون إلى فهم لغتهم العربية.

Masyarakat awam pun demikian; kendati terjadi transformasi gaya bahasa dari abad ke abad, tidak ada satu kosakata pun dalam Al-Qur’an yang terasa asing ditolak oleh pemahaman mereka, tidak ada makna yang berbelit-belit membingungkan akal, dan mereka tidak membutuhkan penerjemah penjelas yang rumit melebihi kadar kebutuhan dasar mereka untuk memahami bahasa Arab itu sendiri.

وهذا لا يكونُ ولن يكونَ أبداً في كلام البشر الناقص، الذي إِنْ أرضى العامَّة بمعانيه الواضحة، وحقائقه الظاهرة، هبط عن مستوى الخاصَّةِ ومشربِهم وأذواقِهم، وإِنْ أرضى العلماءَ منهم بدقائقه وإشاراته، عجزت عقولُ العامَّةِ عن فهمه، ومِنْ ثَمَّ تنصرف عنه أذهانُهم، وتَمُجُّه أذواقهُم [٧].

Keajaiban ini tidak akan pernah ada pada susunan pembicaraan produk manusia yang penuh keterbatasan. Sebab, perkataan manusia jika dirancang untuk memuaskan kaum awam dengan makna yang jelas gamblang, nilainya akan turun drastis di mata kaum khusus yang memiliki standar selera sastra yang tinggi. Sebaliknya, jika perkataan manusia dirancang untuk memuaskan ilmuwan dengan detail yang rumit dan isyarat yang halus, akal masyarakat awam akan tidak berdaya memahaminya, sehingga benak mereka berpaling dan selera mereka menolaknya secara mutlak.2

والأعجب من ذلك – وليس عَجَباً في حقِّ الله – أن أسلوب القرآن العظيم تجده يوائم تطوُّر البشريَّة على مرِّ العصور، وتطوُّر عقولها، فلا تجد فيه إخلالاً، ولا تجد فيه تقادماً، بل عطاؤه متجدِّد باستمرار، ومعانيه متكاثرة على الدَّوام؛ فهي كالبحر الزَّخار والسَّيل الجرَّار، والأسلوب هو هو، والنظم نفسُه لم يتغيَّر ولكنَّه يستوعب كلَّ هذه المعاني وهذا من أسرار عظمة القرآن الكريم.

Perkara yang jauh lebih menakjubkan dari hal tersebut—dan sama sekali bukan hal mustahil bagi kekuasaan Allah—adalah gaya bahasa Al-Qur’an yang Agung senantiasa relevan dengan alur perkembangan peradaban manusia beserta tingkat pemikirannya di setiap zaman. Kita tidak akan menemukan kecacatan struktur ataupun sifat kuno yang ketinggalan zaman di dalamnya. Sebaliknya, pancaran karunia maknanya senantiasa baru secara konsisten dan terus bertambah melimpah ruah sepanjang waktu laksana lautan luas yang berombak besar atau aliran sungai deras yang menyapu luas. Gaya bahasanya tetap sama, struktur susunannya pun tidak pernah berubah, namun ia mampu menampung segala cakupan makna yang luas ini. Dan inilah salah satu rahasia keagungan Al-Qur’an al-Karim.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 19-20).
  2. Lihat: Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/287), Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 34-35).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.