Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (3)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Ketiga)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Ketiga) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

المسألة الثالثة: إرضاؤُهُ العقلَ والعاطِفةَ:

Permasalahan Ketiga: Pemenuhannya Terhadap Kepuasan Akal dan Emosi (Perasaan):

في الوقت الذي تُخاطب بعض الفلسفات في الإنسان عقلَه، وأخرى تخاطب قلبَه، فإنَّ القرآن العظيم في خطابه يُحَقِّق التَّوازن بمخاطبة العقل والقلب معاً، فيجمع بذلك الحقَّ والجَمالَ معاً، ففي كلِّ إنسان قُوَّتان:

Di saat beberapa aliran filsafat hanya menyeru sisi akal pikiran manusia, dan aliran filsafat lainnya hanya menyeru sisi hatinya, maka sesungguhnya Al-Qur’an yang Agung di dalam khithab (seruan kalimat) Nya mampu mewujudkan titik keseimbangan dengan cara menyeru sisi akal dan hati secara bersamaan. Sehingga dengannya ia menghimpun nilai kebenaran (al-haq) dan keindahan (al-jamal) sekaligus. Sebab di dalam diri setiap manusia itu terdapat dua potensi kekuatan:

١- قوة تفكير.

1- Potensi kekuatan berpikir (nalar).

٢- وقوة عاطفة ووجدان.

2- Dan potensi kekuatan emosi serta perasaan (nurani).

فقوة التَّفكير تغوص باحثةً عن الحقائق والمعاني المستترة. وقوة العاطفة تطفو فتبحث عن الجمال الظَّاهرِ، وهذه النفس الإنسانيَّة إمَّا أن تغوص مع تلك أو تطفو مع هذه، فلا تستطيع أنْ تغوصَ أو تطفو في لحظة واحدة، أو وقت واحد.

Maka potensi kekuatan berpikir akan menyelam jauh demi mencari nilai fakta kebenaran serta makna-makna yang tersembunyi. Sedangkan potensi kekuatan emosi akan mengapung ke permukaan untuk mencari keindahan yang lahiriah. Dan jiwa manusia ini adakalanya menyelam bersama potensi kekuatan berpikir atau mengapung bersama potensi kekuatan emosi; sekira ia tidak akan pernah sanggup untuk menyelam sekaligus mengapung dalam satu kejap momen yang sama atau pada satu waktu yang bersamaan.

ولن يوجد إنسان سواء كان عالِماً، أو أديباً، أو شاعراً يُمسِك بالأمر من طرفيه. فيأتي بكلام واحد يفي بحاجة هاتين القوَّتين، ولو وُجِدَتْ عند أحدٍ من البشر فإنهما لا يعملان إلاَّ مناوبةً كُلَّما قويت واحدة، ضعفت الأخرى.

Dan tidak akan pernah dijumpai seorang manusia pun—baik ia seorang ilmuwan, sastrawan, maupun penyair—yang mampu memegang perkara ini dari kedua belah ujungnya sekaligus. Yaitu untuk mendatangkan satu struktur teks pembicaraan yang sama yang dapat memenuhi hajat kebutuhan kedua potensi kekuatan ini secara berimbang. Dan kalaulah kemampuan tersebut dijumpai pada salah seorang dari kalangan manusia, maka sesungguhnya kedua potensi kekuatan tersebut tidak akan bekerja melainkan secara bergantian (bergilir); yang mana setiap kali salah satunya menguat, maka yang lainnya akan melemah.

وهو أمر يجده الواحد من نفسه، فإذا قويت (قُوَّة الوجدان) تناقصت (قوة التَّفكير)، وحين تظهر (قوة التفكير) تضعف (قوة الوجدان). وقد أدرك العلماءُ ذلك فقالوا: لا يقضي القاضي وهو حاقن، أو جائع، أو غضبان؛ لأنَّ حرارة الغضب تستر العقلَ فلا يصلح للقضاء [٨].

Dan perkara ini merupakan hal yang didapati oleh setiap individu pada dirinya sendiri. Maka apabila potensi kekuatan nurani (emosi) menguat, potensi kekuatan berpikir akan menyusut berkurang. Dan di saat potensi kekuatan berpikir itu muncul dominan, potensi kekuatan nurani akan melemah. Dan para ulama sungguh telah menyadari fenomena tersebut sehingga mereka mengatakan: “Seorang hakim tidak boleh menjatuhkan keputusan peradilan di saat ia sedang menahan buang air besar/kecil, atau sedang lapar, atau sedang marah; karena sesungguhnya hawa panas dari kemarahan itu akan menutup akal pikiran sekira menjadikannya tidak layak untuk mengadili perkara.”1

والشَّاهد من هذا: أنَّ (قوة التَّفكير) و(قوة الوجدان) تتنازعان في النفس الإنسانية، وتكون الغلبة لإحداهما، فإِنْ تكلَّم المتكلِّم ووَفَّى بحقِّ العقل بَخَسَ حَقَّ العاطفة، وإنْ وفَّى حقَّ العاطفة بَخَسَ حقَّ العقل، فإمَّا أن يأتي بكلام علمي مجرَّد يُرضِي به فكرَه وعقلَه، وإمَّا أن يأتي بكلام أدبي منمَّق يُرضي به عاطفتَه [٩].

Dan saksi inti (asy-syahid) dari perkara ini adalah: Bahwasanya potensi kekuatan berpikir dan potensi kekuatan nurani saling tarik-menarik berebut pengaruh di dalam jiwa manusia, yang mana kemenangan akan selalu berpihak pada salah satu dari keduanya. Maka jika seorang pembicara berbicara lalu ia memenuhi hak akal pikiran, niscaya ia akan mengurangi hak emosi perasaan. Dan jika ia memenuhi hak emosi perasaan, niscaya ia akan mengurangi hak akal pikiran. Sehingga opsinya adakalanya ia mendatangkan susunan kalimat ilmiah murni yang abstrak yang dengannya ia memuaskan pemikiran dan akalnya, atau ia mendatangkan susunan kalimat sastra yang dihias indah yang dengannya ia memuaskan emosi perasaannya.2

والقرآن العظيم وحده هو القادر على مُخاطبة العقل والقلب معاً، وأن يمزج الحقَّ والجمالَ فلا يبغي بعضُهما على الآخر.

Dan hanya Al-Qur’an yang Agung sematalah yang berkuasa untuk menyeru sisi akal dan hati secara bersamaan, serta mampu meleburkan nilai kebenaran dan keindahan sekira sebagiannya tidak melampaui batas menzalimi sebagian yang lain.

وإنَّ المتأمِّلَ في كتاب الله تعالى يلحظ ذلك جلياً، ففي الوقت الذي تُورَدُ فيه الحجج والبراهين العقلية على البعث والإعادة – في مواجهة مُنكريها – لا يُهْمَلُ نصيب القلب من تشويق وترقيق، فَتُسَاقُ الأدلة سَوْقاً يهز القلوب هزاً، ويُمتعُ العاطفة امتاعاً، قال الله تعالى:

Dan sesungguhnya orang yang mau merenungkan isi Kitabullah Ta’ala pasti akan memperhatikan perkara tersebut secara amat jelas. Maka di saat didatangkannya jajaran argumen dan bukti-bukti rasional akal atas hari kebangkitan serta pengembalian kehidupan—dalam rangka menghadapi para penentangnya—bagian hak hati pun tidak diabaikan begitu saja dari unsur penggugah kerinduan dan pelembut jiwa. Maka dalil-dalil tersebut digiring dengan suatu giringan kalimat yang menggetarkan hati secara dahsyat serta memuaskan emosi perasaan dengan kepuasan yang penuh keindahan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ ﴾ [يس: ٧٨]

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia melupakan asal kejadiannya; ia berkata: ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, padahal ia telah hancur luluh?'” [Surah Yasin: 78].

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Mahasin al-Islam, karya Muhammad bin Abdurrahman al-Bukhari (hal. 114).
  2. Lihat: Khasais ‘Ulum al-Qur’an (hal. 36), Al-Naba’ al-‘Adhim, Dr. Muhammad Abdullah Draz (hal. 114, 115).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.