Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (4)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Keempat)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Keempat) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

لقد أَوْرَدت هذه الآية الكريمة شُبهةً على البعث ثم ردَّت عليها بعبارة وجيزة، بليغة، فصيحة، تَنَاسقت فيها الألفاظ، وسمت فيها المعاني، مع دِقَّةٍ في الدلالة، وإِنَّ أفصح الفصحاء، وأعلم العلماء، لو اجتمعا لم يُقَرِّرا ذلك إِلاَّ في صفحات وصفحات، إنْ هما قَرَّراه.

Ayat yang mulia ini (pada bagian akhir Bagian Ketiga) mengangkat sebuah syubhat atau keraguan dari para penentang hari kebangkitan, lalu langsung membantahnya dengan ungkapan yang sangat ringkas, padat, fasih, dan memiliki nilai sastra yang tinggi (balaghah). Susunan kata di dalamnya begitu selaras, maknanya mendalam, serta memiliki ketepatan indikasi yang presisi. Seandainya para pakar orator yang paling fasih dan ulama yang paling berilmu berkumpul untuk merumuskan penjelasan serupa, niscaya mereka tidak akan mampu menetapkannya kecuali dalam lembaran halaman yang sangat banyak—itu pun jika mereka sanggup merumuskannya.

ولنتأملْ قولَه تعالى: ﴿ لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ﴾ [الأنبياء: ٢٢]. عند ذلك يتبيَّن لنا أنه اجتمع في سبع كلمات عمق المقدِّمات اليقينية، ووضوح المقدِّمات المُسَلَّمة، مع دقة في التصوير لما يؤول إليه التنازع من فساد عظيم، فلو ابتغى مثلَه فلاسفةُ العصور كلِّها ما استطاعوا تقريره إلاَّ بعبارة طويلة جافَّة.

Mari kita renungkan firman Allah Ta’ala:

﴿ لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ﴾ [الأنبياء: ٢٢]

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa” [Surah Al-Anbiya’: 22]

Melalui ayat ini, menjadi jelas bagi kita bahwa hanya dalam tujuh patah kata saja, telah terhimpun kedalaman premis yang meyakinkan (al-muqaddimaat al-yaqiiniyyah) serta kejelasan premis yang telah diakui kebenarannya (al-muqaddimaat al-musallamah). Hal ini berkelindan dengan ketepatan visualisasi mengenai akibat dari persengketaan kekuasaan yang berujung pada kerusakan makro yang dahsyat. Seandainya para filosof dari seluruh lintasan zaman ingin merumuskan argumentasi serupa, mereka pasti tidak akan mampu menyatakannya kecuali melalui rangkaian kalimat yang panjang dan kaku.

• نماذج وصور: لننظرْ إلى القرآن العظيم وهو يسوق قصّة يوسف مثلاً، كيف يأتي من خلالها بالعظات البالغة، ويطَّلِعُ من خلالها بالبراهين السَّاطعة، وآداب الشَّرف، والعفاف، والأمانة، وخشية الله، إذ قال الله تعالى في فَصْلٍ من فصول تلك القصَّة الرائعة. ﴿ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتْ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [يوسف: ٢٣]. فلنتأملْ في هذه الآية الكريمة كيف قُوبِلَتْ دواعي الغواية الثلاثة، بدواعي العفاف الثلاثة:

• Contoh dan Visualisasi Kisah: Mari kita perhatikan bagaimana Al-Qur’an yang Agung menyajikan kisah Nabi Yusuf sebagai permisalan. Melalui kisah tersebut, Al-Qur’an menghadirkan pelajaran hidup yang mendalam, bukti-bukti kebenaran yang nyata, serta tuntunan adab tentang kehormatan, menjaga kesucian diri (‘iffah), amanah, dan rasa takut kepada Allah. Yainya ketika Allah Ta’ala berfirman pada salah satu babak dari kisah yang menakjubkan tersebut:

﴿ وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتْ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [يوسف: ٢٣]

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: ‘Marilah ke sini.’ Yusuf berkata: ‘Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung” [Surah Yusuf: 23]

Mari kita renungkan dalam ayat yang mulia ini, bagaimana tiga faktor pendorong kemaksiatan (dawaa’i al-ghawaayah) dihadapi secara berimbang oleh tiga faktor penjaga kesucian diri (dawaa’i al-faaf):

فدواعي الغواية الثلاثة:

Tiga faktor pendorong kemaksiatan tersebut adalah:

١) مراودتُها له.

1) Aksi godaan dari wanita tersebut secara langsung kepadanya.

٢) إغلاق الأبواب.

2) Penguncian rapat seluruh pintu kamar.

٣) دعوتُها له: ﴿ هَيْتَ لَكَ ﴾.

3) Ajakan verbal yang agresif dari wanita tersebut: “Marilah ke sini.”

ودواعي العفَّة الثلاثة:

Sedangkan tiga faktor penjaga kesucian diri sebagai benteng pertahanan adalah:

١) قوله: ﴿ إِنَّهُ رَبِّي ﴾.

1) Perkataan Nabi Yusuf yang mengingat Rabbnya (atau kedudukannya terhadap tuannya): “Sesungguhnya Dialah Tuhanku (atau dia tuanku).”

٢) ﴿ أَحْسَنَ مَثْوَايَ ﴾.

2) “Yang telah memperlakukanku dengan sangat baik (memberikan tempat tinggal yang terhormat).”

٣) ﴿ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾.

3) Kesadaran prinsip bahwa: “Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”

فصوَّرت هذه الآية الكريمة – وهي تسوق قصَّة من القصص – جدلاً كبيراً بين أولياء الرحمن، وأولياء الشيطان، وبسطت جوانب القضيَّة، وشخَّصت الحدث، وكأنما تنظر إليه من زاوية خفيَّة. ليصل الشَّاب في النِّهاية والفتاة كذلك إلى إمكان الاستعلاء فوق المغريات مهما كانت جاذبيَّتُها، وذلك بعد أن مَلَكَ التَّعبير القرآني هنا أقطار النَّفس كلِّها، فامتلأت اقتناعاً بالعِفَّة.

Ayat yang mulia ini—sembari menyajikan untaian narasi kisah—berhasil memvisualisasikan sebuah pergulatan batin yang besar antara pembela Ar-Rahman melawan dorongan setan. Ia memaparkan seluruh aspek permasalahan secara luas dan mendiagnosis jalannya peristiwa secara detail, seolah-olah Anda sedang menyaksikannya langsung dari sudut pandang yang tersembunyi. Target akhirnya adalah agar setiap pemuda maupun pemudi menyadari adanya peluang dan kemampuan untuk membubung tinggi mengatasi segala bentuk godaan maksiat, bagaimanapun kuatnya daya tarik pesona tersebut. Hal itu bisa terwujud karena kekuatan ekspresi Al-Qur’an di tempat ini berhasil merajai seluruh ruang jiwa manusia, sehingga jiwa pun dipenuhi oleh keyakinan yang mantap untuk menjaga kesucian diri.

وهكذا نجد القرآنَ كُلَّه يوجه العقول والقلوب معاً جنباً إلى جنب بأسلوب سائغ، ويسير على النفوس [١٠]، ينبئ عن عظمته، وعلوِّ شأنه، وتأثيره في النفوس وفاعليته.

Demikianlah kita dapati Al-Qur’an secara keseluruhan senantiasa mengarahkan akal pikiran dan hati secara beriringan, bahu-membahu melalui gaya bahasa yang lezat mengalir serta mudah dicerna oleh jiwa manusia.1 Karakteristik ini menunjukkan keagungan esensinya, keluhuran kedudukannya, serta kedahsyatan daya pengaruh dan efektivitas fungsinya dalam menata jiwa.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/288), Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 35-38).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.