Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (5)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kelima)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kelima) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

المسألة الرابعة: جَوْدَةُ سَبْكِهِ وإِحكامُ سَرْدِهِ:

Permasalahan Keempat: Kualitas Kerapian Jalinan Kata dan Kekokohan Narasinya:

جودة السَّبك، وإحكام السَّرد، أمر في غاية الأهمية، ذلك أَنَّ الكلام هو مرآة المعاني، فإذا اتَّسق الكلام، وترابطت أجزاؤه، وتلاحمت أفراده وأُحْكِمَ سرده، صَفَتْ معانيه وانجلت، فجودة السَّبك وإحكام السَّرد ضرورة لصفاء المعاني، تحقيقُ ذلك أمر صعب المرتقى، فهو يحتاج إلى مَلَكة راسخة، وَحِذْق مكين في علم الكلام [١١].

Kualitas kerapian jalinan kata (jaudat al-sabk) dan kekokohan narasi (ihkam al-sard) adalah perkara yang sangat penting. Hal ini karena untaian kata merupakan cerminan dari makna. Apabila rangkaian kata itu selaras, bagian-bagiannya saling bertautan, satuan katanya menyatu erat, serta narasinya tersusun kokoh, niscaya maknanya akan menjadi jernih dan tersingkap terang. Oleh karena itu, kerapian jalinan kata dan kekokohan narasi mutlak diperlukan demi kejernihan makna. Namun, mewujudkan hal tersebut merupakan capaian yang sangat sulit diraih. Ia membutuhkan bakat potensi (malakah) yang mengakar kuat serta keahlian mendalam yang mapan dalam ilmu retorika (‘ilm al-kalam).1

و«القرآن الكريم تقرؤه من أوَّلِه إلى آخره فإذا هو محكم السَّرد، دقيق السَّبك، متين الأسلوب، قويُّ الاتصال، آخذ بعضه برقاب بعض في سوره وآياته وجُمَلِه، يجري دم الإعجاز فيه كله من أَلِفِه إلى يائه كأنه سبيكة واحدة، ولا يكاد يوجد بين أجزائه تفكك ولا تخاذل؛ كأنه حلقة مفرغة، أو كأنه سِمْط[١٢] وحيد، وعِقد فريد، يأخذ بالأبصار: نظمت حروفه وكلماته، ونسقت جمله وآياته، وجاء آخِرُه مساوقاً لأوَّله، وبدا أوَّلُه مواتياً لآخِره» [١٣].

Sebagaimana dinyatakan: “Saat Anda membaca Al-Qur’an Al-Karim dari awal hingga akhir, Anda akan mendapatinya sebagai untaian narasi yang sangat kokoh, jalinan kata yang presisi, gaya bahasa yang solid, serta ikatan yang kuat. Setiap bagian saling bertautan erat, baik dalam surah, ayat, maupun kalimatnya. Aliran mukjizat meresap di seluruh bagiannya dari huruf Alif hingga Ya, seolah-olah ia adalah satu leburan emas batangan yang utuh menyatu. Hampir tidak ditemukan kerenggangan ataupun kerapuan di antara komponen-komponennya; ia laksana lingkaran rantai yang menyatu tanpa ujung pangkal, atau seumpama seuntai kalung2 mutiara yang tunggal dan untaian perhiasan unik yang memikat pandangan mata. Huruf dan kata-katanya teratur rapi, kalimat dan ayat-ayatnya selaras, sehingga bagian akhirnya selaras seirama dengan bagian awal, dan bagian awalnya tampak menyambut dengan serasi bagian akhirnya.”3

ومَنْ أراد جودةً قويةً في سبك كلامه، وإحكاماً متناسقاً في سرده: فليختر موقعاً مناسباً لكل عبارة من كلامه، من حيث بداية الكلام، أو نهايته، أو مضمونه، أو خلاصه، وليحسن ربط الكلام بعضه ببعض، ومزج بعضه ببعض، وليختر أحسن الأساليب في ذلك، فقد يكون الإسناد مرة أفضل، وقد يكون التَّعليق أُخرى، وقد يكون العطف ثالثة، وقد تكون الإضافة رابعة وهكذا، ثم بعد ذلك عليه أن يُنَقِّي عباراته من الحشو، فإنْ أَتْقَنَ ذلك انتقل إلى المعنى الثاني وفَعَلَ به كما فعل بالمعنى الأول، وزاد على ذلك إتقان ربطه بالمعنى السَّابق وبالمعنى اللاَّحق.

Siapa pun yang menginginkan jalinan kata yang rapi dan susunan narasi yang kokoh pada perkataannya, maka ia harus memilih penempatan yang tepat bagi setiap ungkapannya—baik pada pembuka kata, penutup, konten utama, maupun kesimpulan. Ia juga harus mahir menautkan dan memadukan kalimat yang satu dengan yang lain, serta memilih gaya bahasa terbaik untuk itu. Sebab, adakalanya metode penyandaran kata (al-isnad) menjadi lebih utama, metode penggantungan kalimat (al-ta’liq) di saat lain lebih baik, metode kata hubung (al-‘athf) pada kali ketiga lebih tepat, atau metode penyandaran kepemilikan (al-idhafah) menjadi pilihan terbaik, dan begitu seterusnya. Setelah itu, ia wajib membersihkan ungkapan-ungkapannya dari sisipan kata yang sia-sia (al-hasyw). Jika ia telah menyempurnakan langkah ini, barulah ia beralih ke makna kedua dan memperlakukannya sama seperti makna pertama, sembari menyempurnakan jalinan pengikatnya dengan makna sebelum dan sesudahnya.

وأرصَفُ المعاني كرصف المباني: يَضَعها البَنَّاءُ لَبِنَةً لبنة، ويضع بين اللَّبِنات ما يربط بعضها ببعض، ثم يعود عليها كُلِّها بما يُغطِّي آحادها ويُظهرها كالسَّبيكة الواحدة، ثم يكرُّ أُخرى يُزيل ما خرج عن سمتها أو نبا عن حَدِّها، وعلى قدر إتقانه للبناء تكون مهارته. والمتأمِّلُ في كلام البشر يجد أكثرَهم لا يتقنون تنظيم أجزاء كلامهم، بل يسوقونه أشْتاتاً مفكَّكة، وكثيراً ما عاب النُّقَّاد فحولَ الشُعراء بسوء التَّخلص حين ينتقلون من معنى إلى معنى في القصيدة الواحدة.

Menyusun jajaran makna itu laksana membangun sebuah gedung. Sang tukang meletakkan bata demi bata, lalu memberi semen perekat di antara sela-selanya agar saling mengikat kuat. Kemudian, ia memeriksa kembali seluruh permukaan bangunan untuk melapisi setiap batanya sehingga tampak sebagai satu kesatuan dinding yang utuh. Setelah itu, ia melakukan pengecekan ulang demi menyingkirkan bagian yang melenceng dari jalurnya atau menyimpang dari garis batasnya. Tingkat keahlian sang tukang diukur dari seberapa sempurna ia menyelesaikan bangunan tersebut. Orang yang merenungkan perkataan manusia pasti mendapati bahwa mayoritas dari mereka tidak mahir mengorganisasikan bagian-bagian perkataannya, melainkan menyampaikannya secara bercerai-berai dan terpisah-pisah. Karena itulah, para kritikus sastra (al-nuqqad) sangat sering mencela para penyair besar yang tangguh akibat buruknya metode transisi (su’ al-takhalush) saat berpindah dari satu makna ke makna lain dalam satu qasidah yang sama.

وقد يضطر أصحاب البلاغة – للربط بين غرض وغرض – إلى استخدام أسماء الإشارة، أو أدوات التنبيه، أو كثرة التَّقسيم، والتَّرقيم، والتَّبويب، والعناوين، وعبارات: (أَمَّا بعد)، (ونقول كذا)، (قلت)، أو الإشارة في مقدمة الأبحاث إلى تقسيمه إلى أبواب، وفصول، ومباحث، كاعتذار مسبق للانتقال من معنى إلى معنى [١٤].

Bahkan, para pakar balaghah terkadang terpaksa menggunakan kata tunjuk (asma’ al-isyarah), peranti penggugah perhatian (adawat al-tanbih), atau memperbanyak pembagian klasifikasi, penomoran urutan, pembagian bab, pembuatan judul, serta ungkapan transisi khusus seperti: (Amma ba’du), (Dan kami katakan begini), atau (Aku katakan). Mereka juga sering memberikan penanda di bagian kata pengantar karya ilmiah mengenai pembagian bahasannya ke dalam bab, fasal, dan sub-pembahasan, sebagai bentuk permohonan uzur sejak awal karena harus berpindah dari satu cakupan makna ke makna berikutnya.4

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 39).
  2. Al-Simthu: Maknanya adalah kalung, dan bentuk jamaknya adalah sumuthun. Lihat: Lisan al-‘Arab (7/322), materi: «samatha».
  3. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (1/53).
  4. Lihat: Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 40), Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/291).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.