Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (6)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Keenam)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Keenam) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

أمَّا القرآن العظيم فإنه على تنوُّع أغراضه، وطول نَفَسِه في سوره وآياته، ينتقل من مقصد إلى مقصد، غير مستعين بوسائل العجز المساعِدة، بل بطريقة بديعة أَخَّاذَة قد نشعر بها أو لا نشعر، ولن نُفَرِّقَ في ذلك بين أطول سورة في القرآن كسورة البقرة، وبين أقصر سور القرآن [١٥].

Adapun Al-Qur’an yang Agung, terlepas dari keberagaman tujuan dan panjangnya rangkaian kalimat dalam surah serta ayat-ayatnya, ia mampu berpindah dari satu maksud ke maksud lain tanpa membutuhkan peranti bantu penutup kelemahan (yang biasa dipakai manusia). Al-Qur’an berpindah melalui metode estetika yang sangat indah dan memikat, baik kita menyadarinya ataupun tidak. Dalam hal ini, kita tidak akan menemukan perbedaan antara surah yang paling panjang seperti Surah Al-Baqarah, dengan surah-surah Al-Qur’an yang paling pendek sekalipun.1

• شبهة وردُّها: و«قد وَهَمَ مَنْ قال: لا يُطلْب للآية الكريمة مناسبة؛ لأنها على حسب الوقائع المفَرَّقة. وفَصْلُ الخطاب، أنَّها على حسب الوقائع تنزيلاً، وعلى حسب الحكمة ترتيلاً وتأصيلاً، فالمصحف على وفق ما في اللَّوح المحفوظ مرتَّبةٌ سورُهُ كلُّها وآياته بالتوقيف، كما أُنزل جملة إلى بيت العِزَّة، ومن المعجز البيِّن أسلوبه ونظمه الباهر، والذي ينبغي في كُلِّ آيةٍ أنْ يُبحثَ أول كل شيءٍ عن كونها مكمِّلة لما قبلها، أو مستقلة، ثم المستقلَّة ما وجه مناسبتها لما قبلها، ففي ذلك عِلمٌ جَمٌّ، وهكذا في السور يطلب وجه اتصالها بما قبلها وما سِيقت له»[١٦][١٧].

• Syubhat dan Bantahannya: Sungguh keliru anggapan orang yang menyatakan: “Tidak perlu mencari hubungan keselarasan (munasabah) antar-ayat, karena Al-Qur’an turun berdasarkan peristiwa kronologis yang terpisah-pisah.” Keputusan hukum yang final (fashl al-khithab) dalam masalah ini adalah bahwa ayat Al-Qur’an memang turun sesuai dengan urutan peristiwa (tanzilan), namun penataan tartil dan peletakan fondasi asalnya disusun berdasarkan hikmah (tartilan wa taashilan). Susunan mushaf saat ini telah bersesuaian tepat dengan apa yang ada di Lauhul Mahfuzh; seluruh surah dan ayatnya tertata rapi atas dasar ketetapan wahyu langsung (bi al-tauqif), sebagaimana ia diturunkan sekaligus secara utuh ke Baitul ‘Izzah. Di antara mukjizat yang sangat nyata adalah gaya bahasa serta susunan nazhamnya yang memukau. Oleh karena itu, langkah pertama yang seyogianya dilakukan pada setiap ayat adalah mencari tahu apakah posisinya bertindak sebagai penyempurna bagi ayat sebelumnya atau berstatus independen. Jika berstatus independen, dicarilah apa aspek korelasinya dengan ayat sebelumnya. Di dalam aktivitas tersebut terkandung khazanah ilmu yang sangat melimpah. Demikian pula pada surah, dicarilah aspek keterikatannya dengan surah sebelum serta tujuan utama digiringnya surah tersebut.23

﴿ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ﴾ [هود: ١]

“Al-Qur’an adalah sebuah Kitab yang disempurnakan ayat-ayatnya, kemudian dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti” [Surah Hud: 1]

ولاحِظْ أنَّ التَّفصيل في دائرة: الإحكام، الذي كان سوراً منيعاً، وكان كذلك؛ لأنَّ مُنَزِّله هو:

Perhatikanlah bahwa rincian yang jelas (al-tafshil) itu berada dalam poros lingkaran kesempurnaan yang kokoh (al-ihkam) yang bertindak sebagai benteng pertahanan yang kuat. Hal itu bisa mewujud demikian karena Zat yang menurunkannya adalah:

﴿ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا ﴾ [الفرقان: ٦]

“Zat yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Surah Al-Furqan: 6]

والقرآن بذلك نعمة تُذْكَر فَتُشْكَر:

Oleh karena itu, Al-Qur’an dengan segala karakteristiknya merupakan sebuah nikmat yang wajib disebut dan disyukuri:

﴿ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا ﴾ [الكهف: ١]

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya” [Surah Al-Kahfi: 1]

المسألة الخامسة: تَعَدُّدُ أسالِيبِه واتِّحادُ مَعْنَاه:

Permasalahan Kelima: Keragaman Variasi Gaya Bahasa Namun Menyatu dalam Satu Esensi Makna:

ومعنى ذلك أنَّ القرآن العظيم يُورد المعنى الواحد بألفاظ وبطرائق مختلفة، بمقدرة معجزة، يلهث دونها – بآماد – أبلغ البلغاء، ويكبو خلفها – بقرون – أفصح الفصحاء، فقد اعتنى القرآن العظيم بتصريف القول، بحيث لا يَمَلُّ قارئه، ولا يسأم سامعه.

Makna dari urusan tersebut adalah bahwa Al-Qur’an yang Agung mampu menyajikan satu esensi makna yang sama melalui jajaran lafal serta metode yang bervariasi, ditopang oleh kemampuan mukjizat yang luar biasa. Sastrawan paling ulung sekalipun akan tertinggal jauh di belakangnya dengan rentang jarak yang sangat panjang, dan ahli orator paling fasih akan tersungkur kalah dengan hitungan abad lamanya. Sungguh Al-Qur’an yang Agung telah memberikan perhatian besar terhadap variasi cara pengungkapan kalimat (tashrif al-qaul), sehingga tidak akan pernah membuat bosan orang yang membacanya dan tidak pula membuat jenuh orang yang mendengarkannya.

Barsambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (hal. 291).
  2. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/108). Lihat pula: Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, karya Al-Zarkasyi, (1/37).
  3. Renungkanlah: Kitab «Al-Naba’ al-‘Adhim», Dr. Muhammad bin Abdullah Draz. Beliau sangat piawai dan menakjubkan dalam memaparkan corak ini, memuaskan hati dan akal pikiran melalui keselarasan serta keterikatan jalinan antarsurah Al-Qur’an yang beliau suguhkan.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.