أسلوب القرآن الحكيم
Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Ketujuh)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Ketujuh) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
ويُكتفى هنا ببعض ما أورده الزُّرقانيُّ رحمه الله من أمثلةٍ على تصريف القول في القرآن، فقد أورد أمثلةً لتعبير القرآن عن طلب الفعل من المخاطَبين بِعدَّة أوجه، وكذلك تعبيره عن النهي بوسائل عِدَّة، وكذلك تعبيره عن إباحة الفعل بِطُرق مختلفة [١٨]. وما لا يُدرك جُلُّه فلا يترك أَقَلُّه، فَيُقْتَصرُ هنا على التعبير الأوَّل منها فقط – تعبير القرآن العظيم عن طلب الفعل من المخاطَبين – بالوجوه الآتية:
Di sini kita cukupkan dengan mengutip sebagian contoh yang dipaparkan oleh Az-Zarqani rahimahullah mengenai variasi redaksi kalimat (tashrif al-qaul) dalam Al-Qur’an. Beliau menyajikan contoh bagaimana Al-Qur’an menuntut suatu perbuatan dari objek yang diseru melalui berbagai sudut pandang redaksi. Demikian pula redaksi mengenai larangan (al-nahyu) melalui jajaran perantara yang banyak, serta redaksi tentang pembolehan perbuatan (al-ibahah) dengan metode yang berbeda-beda.1 Sesuai kaidah bahwa apa yang tidak bisa diraih seluruhnya tidak boleh ditinggalkan bagian terkecilnya, maka pembahasan di sini dibatasi pada model pertama saja—yaitu redaksi Al-Qur’an yang Agung dalam menuntut suatu perbuatan dari objek yang diseru—melalui aspek-aspek berikut:
١) الإتيانُ بصريح مادَّةِ الأمر، نحو قوله سبحانه:
1) Menggunakan kata perintah yang tegas dan eksplisit (maddah al-amr), seperti firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا ﴾ [النساء: ٥٨]
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” [Surah An-Nisa’: 58]
٢) والإِخبارُ بأنَّ الفِعل مكتوبٌ على المكلفين، نحو:
2) Memberitakan bahwa perbuatan tersebut telah diwajibkan atau tertulis atas para mukalaf, seperti:
﴿ كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ ﴾ [البقرة: ١٨٣]
“Diwajibkan atas kamu berpuasa” [Surah Al-Baqarah: 183]
٣) والإِخبارُ بكونه على النَّاسِ، نحو:
3) Memberitakan status hukum perbuatan tersebut sebagai beban kewajiban yang mengikat manusia, seperti:
﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ [آل عمران: ٩٧]
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” [Surah Ali ‘Imran: 97]
٤) والإِخبارُ عن المُكلف بالفِعل المطلوب منه، نحو:
4) Memberitakan tentang kondisi diri mukalaf berupa perbuatan yang dituntut darinya, seperti:
﴿ وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ﴾ [البقرة: ٢٢٨]
“Wanita-wanita yang dithalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'” [Surah Al-Baqarah: 228]
Maksudnya: Dituntut dari para wanita tersebut untuk menahan diri dan menunggu.
٥) والإخبار عن المبتدأ، بمعنى يطلب تحقيقه من غيره، نحو:
5) Menyebutkan subjek predikat (al-mubtada’) yang mengandung arti bahwa realisasinya dituntut dari pihak lain, seperti:
﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ [آل عمران: ٩٧]
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” [Surah Ali ‘Imran: 97]
Maksudnya: Pihak berwenang atau kaum muslimin yang diseru dituntut untuk memberikan jaminan keamanan bagi siapa saja yang memasuki wilayah tanah haram.
٦) وطَلَبُ الفعل بصيغة فعل الأمر، نحو:
6) Menuntut suatu perbuatan menggunakan bentuk kata kerja perintah langsung (shighah fi’l al-amr), seperti:
﴿ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى ﴾ [البقرة: ٢٣٨]
“Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha” [Surah Al-Baqarah: 238]
Atau menggunakan huruf Lam perintah (lam al-amr), seperti:
﴿ ثُمَّ لِيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ ﴾ [الحج: ٢٩]
“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)” [Surah Al-Hajj: 29]
٧) والإخبارُ عن الفعل بأنه خير:
7) Memberitakan suatu perbuatan dengan menegaskan bahwa hal tersebut merupakan sebuah kebaikan:
﴿ وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ﴾ [البقرة: ٢٢٠]
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak-anak yatim, katakanlah: ‘Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik'” [Surah Al-Baqarah: 220]
٨) وَوَصْفُ الفعل وصفاً عنوانياً بأنه بِرٌّ، نحو:
8) Menyifati suatu perbuatan secara tematik sebagai bentuk kebajikan (birrun), seperti:
﴿ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اتَّقَى ﴾ [البقرة: ١٨٩]
“Akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa” [Surah Al-Baqarah: 189]
٩) وَوَصْفُ الفعل بالفَرْضِيَّة، نحو:
9) Menyifati suatu perbuatan dengan karakteristik fardhu atau kewajiban mutlak, seperti:
﴿ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ ﴾ [الأحزاب: ٥٠]
“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan atas mereka tentang istri-istri mereka” [Surah Al-Ahzab: 50]
Maksudnya: Berupa kewajiban menyerahkan mahar mas kawin serta pemberian nafkah.
١٠) وترتيب الوعد والثواب على الفعل، نحو:
10) Menata sistematika janji baik (al-wa’du) serta ganjaran pahala atas pelaksanaan perbuatan tersebut, seperti:
﴿ مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ ﴾ [البقرة: ٢٤٥]
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki)” [Surah Al-Baqarah: 245]
١١) وترتيب الفعل على شَرْطٍ قَبْلَه، نحو:
11) Menggantungkan akibat hukum suatu perbuatan di atas pemenuhan syarat yang mendahuluinya, seperti:
﴿ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنْ الْهَدْيِ ﴾ [البقرة: ١٩٦]
“Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat” [Surah Al-Baqarah: 196]
١٢) وَإيقاعُ الفعل مَنْفياً مَعْطُوفاً عَقِبَ اسْتِفهامٍ، نحو:
12) Menempatkan posisi perbuatan dalam bentuk negasi (nafi) yang disambung kata hubung tepat setelah kalimat tanya interogatif, seperti:
﴿ أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴾ [النحل: ١٧]
“Maka apakah Zat yang menciptakan sama dengan makhluk yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [Surah An-Nahl: 17]
١٣) وإيقاعُ الفعل عَقِبَ تَرَجٍّ، نحو:
13) Menempatkan posisi perbuatan tepat setelah ungkapan kata harap (tarajji), seperti:
﴿ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴾ [النحل: ١٤]
“Dan mudah-mudahan kamu bersyukur” [Surah An-Nahl: 14]
١٤) وترتيبُ وَصْف شنيع على تَرْكِ الفعل، نحو:
14) Meletakkan vonis penyifatan yang sangat buruk atas tindakan meninggalkan perbuatan tersebut, seperti:
﴿ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْكَافِرُونَ ﴾ [المائدة: ٤٤]
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [Surah Al-Ma’idah: 44]
Ini hanyalah satu contoh dari sekian banyak permisalan ragam variasi cara pengungkapan kalimat dalam Al-Qur’an yang Agung, di mana urusan perintah (al-amr) hadir melalui jajaran gaya bahasa yang bermacam-macam ini.
وهكذا نجد التعبيرَ القرآني يُعدِّد الأساليب – في أداء المعنى الواحد – بألفاظ متعددة بين إنشاء وإخبارٍ، وإظهارٍ وإضمار، وتكلُّمٍ وغَيبةٍ وخطابٍ، ومُضِيٍّ وحضور واستقبال، واسمية وفعلية، واستفهام، وامتنان، ووصف، وَوَعْد ووعيد، إلى غير ذلك.
Demikianlah kita dapati ungkapan Al-Qur’an senantiasa memvariasikan jajaran gaya bahasanya—dalam menyampaikan satu makna yang sama—melalui pilihan kata yang beraneka ragam. Variasi tersebut bergerak di antara bentuk kalimat tuntutan/harapan (insya’) dan kalimat berita (ikhbar), bentuk penampakan jelas (izhar) dan penyembunyian kata ganti (idhmar), sudut pandang orang pertama pembicara (takallum), orang ketiga (ghaibah), serta orang kedua mitra tutur (khithab), bentuk penunjukan masa lalu (mudhi), masa kini (hudhur), serta masa depan (istiqbal), bentuk klausa nomina (ismiyyah) dan klausa verba (fi’liyyah), kalimat tanya interogatif, pemaparan limpahan nikmat, penyifatan, hingga janji baik (wa’d) dan ancaman buruk (wa’id), di samping aspek selain itu.
وتصريفُ القول في القرآن العظيم على هذا النحو مِنَّةٌ يمنُّها الله عزّ وجل على الناس ليستفيدوا عن طريقها كثرةَ النَّظرِ في القرآن، والإقبال عليه قراءةً وسماعاً، وتدبراً وعملاً، ولذلك قال الله تعالى:
Variasi pengungkapan kalimat dalam Al-Qur’an yang Agung dengan metode ini merupakan anugerah besar yang dilimpahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada umat manusia. Tujuannya agar mereka dapat memetik manfaat berupa tingginya aktivitas menelaah isi Al-Qur’an, serta bersungguh-sungguh dalam membaca, mendengarkan secara khusyuk, mentadaburi kandungan maknanya, hingga mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Oleh karena itulah Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا ﴾ [الإسراء: ٨٩]
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur’an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari(nya)” [Surah Ke-17/Al-Isra’: 89]
وقال تعالى:
Dan Dia berfirman Ta’ala:
﴿ وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا ﴾ [الكهف: ٥٤]
“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah” [Surah Ke-18/Al-Kahfi: 54]
وقال تعالى:
Dan Dia berfirman Ta’ala:
﴿ وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا ﴾ [الإسراء: ٤١]
“Dan sesungguhnya dalam Al-Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka ingat” [Surah Ke-17/Al-Isra’: 41]
فلا عُذْرَ – بعد ذلك – لمن أهمل هذه النِّعمةَ وسَفِه نفسَه [١٩].
Maka setelah pemaparan fakta tersebut, tidak ada alasan pembenaran sama sekali bagi siapa saja yang menelantarkan nikmat yang agung ini serta membodohi dirinya sendiri.2
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply