Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (8)



أسلوب القرآن الحكيم

Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kedelapan)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kedelapan) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

المسألة السادية: جَمْعُه بين الإِجمالِ والبَيانِ:

Permasalahan Keenam: Perpaduannya antara Bentuk Global (Uraian Garis Besar) dan Penjelasan yang Gamblang:

جَمَعَ القرآنُ العظيم بين الإجمال والبيان، مع أنهما غايتان متقابلتان لا تجتمعان في كلامٍ واحدٍ للناس! بل كلامهم إِمَّا مجمل وإمَّا مُبَيَّن. فالكلمة الواحدة من كلام البشر: إمَّا واضحة المعنى لا تحتاج إلى بيان، وإمَّا خفيَّة المعنى فتحتاج إلى بيان، وذلك كلام «المخلوق».

Al-Qur’an yang Agung mampu memadukan antara sifat global (al-ijmal) dan penjelasan yang gamblang (al-bayan). Padahal, keduanya merupakan dua kutub tujuan yang saling bertolak belakang dan tidak mungkin bersatu dalam satu susunan perkataan manusia. Perkataan manusia itu biasanya jika tidak bersifat global, maka bersifat rinci jelas. Satu kata dalam bahasa manusia: adakalanya sudah sangat jelas maknanya sehingga tidak butuh penjelasan lagi, atau samar maknanya sehingga sangat butuh rincian. Itulah karakter perkataan makhluk.

أمَّا القرآن العظيم – وحده – لأنَّه كلام «الخالق» فالأمر فيه مختلف، فهو خارق للعادة، ولا عجب أن يجتمع في آية واحدة منه، الإجمال والبيان جميعاً.

Namun, hal itu berbeda sepenuhnya dengan Al-Qur’an yang Agung. Karena ia merupakan kalam Sang Pencipta (Al-Khaliq), maka karakternya sangat istimewa dan di luar kebiasaan manusia (khariq lil-‘adah). Sungguh tidak mengherankan jika dalam satu ayat Al-Qur’an yang sama, sifat global dan penjelasan gamblang dapat terhimpun secara bersamaan.

إذا قرأ الواحدُ مِنَّا آيةً من القرآن وَجَدَ فيها من الوضوح والظهور، حتَّى يظن أنه أحاط بكل معانيها، فإذا أعاد النَّظر مرَّةً أُخرى ظهر له منها معanٍ جديدة، كلها صحيح أو يحتمل الصِّحة، فإن زاد التَّمعُّن وأطال النَّظر في الآية، انفتح له من المعاني والمعارف والأسرار ما لم يظهر له مِنْ قبل، 

Ketika salah seorang dari kita membaca suatu ayat Al-Qur’an, kita akan mendapati kejelasan yang sangat terang pada permukaannya, hingga kita mengira telah menguasai seluruh maknanya. Namun, saat kita membaca ulang dan menelaahnya kembali, akan tampak makna-makna baru lainnya yang semuanya benar atau mengandung probabilitas kebenaran. Jika kita memperdalam tadabur dan memperpanjang pengamatan terhadap ayat tersebut, akan tersingkaplah pintu-pintu makna, khazanah pengetahuan, serta rahasia-rahasia mendalam yang belum pernah terlihat sebelumnya.

حتَّى يَكِلَّ وينتهي، ومعانيها لا تزال تفيض بالخيرات والبركات، ومن هنا ندرك السِرَّ في اختلاف العلماء في استنباط الفوائد والحِكم من الآيات قِلَّةً وكثرة، ويستدلون بها من نواحٍ شتَّى ومختلفة، والآيةُ نفسُها لم تتغير [٢٠].

Proses ini akan terus berlanjut hingga manusia merasa letih dan menyudahi telaahnya, sementara kandungan makna ayat tersebut tetap melimpah ruah memancarkan kebaikan dan keberkahan. Dari sinilah kita bisa memahami rahasia di balik perbedaan para ulama dalam menggali hukum (istinbath) serta mengambil hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an, baik secara sedikit maupun banyak. Mereka menjadikannya sebagai dalil dari berbagai sudut pandang yang bermacam-macam, padahal teks ayat itu sendiri sama sekali tidak pernah berubah.1

• نماذج: ومن أمثلة الآيات التي جَمَعَتْ بين الإجمال والبيان قولُ الله تعالى:

• Contoh-Contoh Ayat: Di antara permisalan ayat yang menghimpun sifat global sekaligus penjelasan gamblang adalah firman Allah Ta’ala:

﴿ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴾ [البقرة: ٢١٢]

“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas” [Surah Al-Baqarah: 212]

«هل ترى كلاماً أبْيَنَ من هذا في عقول الناس، ثم انظر كم في هذه الكلمة من مرونة، فإنك لو قلتَ في معناها: أنه سبحانه يرزق مَنْ يشاءُ بغير محاسب يحاسبه ولا سائل يسأله: لماذا يبسط الرزق لهؤلاء، ويقدره على هؤلاء؟ أصبتَ. 

Terkait ayat ini, disebutkan: “Apakah Anda melihat ada perkataan yang lebih jelas dari ini dalam logika manusia? Namun perhatikanlah betapa besarnya fleksibilitas (keluwesan makna) yang terkandung dalam rangkaian kata tersebut. Seandainya Anda menafsirkan maknanya bahwa: Allah Yang Maha Suci memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa ada pihak yang mengaudit-Nya dan tidak ada yang mempertanyakan kepada-Nya: ‘Mengapa Dia melapangkan rezeki bagi golongan ini dan menyempitkannya bagi golongan itu?’, niscaya Anda benar.”

ولو قلتَ: إنه يرزق بغير تقتير ولا محاسبة لنفسه عند الإِنفاق خوف النَّفاد أصبتَ، ولو قلتَ: إنه يرزق مَنْ يشاء من حيث لا ينتظر ولا يحتسب أصبتَ، ولو قلتَ: إنه يرزقه بغير معاتبة ومناقشة له على عمله أصبتَ، ولو قلتَ: يرزقه رزقاً كثيراً لا يدخل تحت حصر وحساب أصبتَ [٢١].

“Dan seandainya Anda mengartikan bahwa: Allah memberi rezeki tanpa sifat kikir dan tanpa perhitungan bagi diri-Nya saat memberi karena takut kehabisan, niscaya Anda benar. Dan seandainya Anda mengartikan bahwa: Dia memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak diperhitungkan, niscaya Anda benar. Dan seandainya Anda mengartikan bahwa: Dia memberinya rezeki tanpa disertai kecaman ataupun interogasi atas amalnya, niscaya Anda benar. Bahkan jika Anda mengartikan bahwa: Dia memberinya rezeki dalam jumlah yang sangat banyak hingga tidak masuk dalam hitungan matematika, niscaya Anda pun benar.”2

فعلى الأوَّل يكون الكلام: تقريراً لقاعدة الأرزاق في الدُّنيا، وأنَّ نظامها لا يجري على حسب ما عند المرزوق من استحقاقٍ بِعِلمه أو عَمَله، بل تجري وفقاً لمشيئته وحِكَمِهِ سبحانه في الابتلاء، وفي ذلك ما فيه من التَّسلية لفقراء المؤمنين، ومن الهضم لنفوس المغرورين من المترفين.

Berdasarkan alternatif makna yang pertama, kalimat tersebut berfungsi sebagai penetapan aturan pembagian rezeki di dunia. Bahwasanya sistem pembagian rezeki tidak berjalan atas dasar kelayakan sang penerima dari segi ilmu ataupun amalnya, melainkan berjalan mutlak sesuai kehendak (masyiah) dan hikmah Allah Yang Maha Suci dalam memberikan ujian hidup (al-ibtila’). Di dalam konsep ini terkandung unsur penghibur hati yang mendalam bagi orang-orang fakir dari kalangan mukminin, sekaligus penghancur kesombongan bagi jiwa orang-orang kaya yang teperdaya oleh kemewahan dunia.

وعلى الثاني يكون تنبيهاً على سعة خزائنه وبسطة يَدِهِ جلَّ شأنه. وعلى الثالث يكون تلويحاً للمؤمنين بما سيفتح الله لهم من أبواب النَّصْر والظَّفَر، حتى يبدل عسرهم يسراً، وفقرهم غنًى من حيث لا يظنون.

Berdasarkan alternatif makna yang kedua, ayat ini berfungsi sebagai pengingat akan luasnya gudang perbendaharaan Allah serta kedermawanan tangan-Nya Jalla Sya’nuhu. Sedangkan berdasarkan alternatif makna yang ketiga, ia merupakan isyarat kabar gembira bagi kaum mukminin mengenai pintu-pintu pertolongan serta kemenangan yang akan Allah bukakan bagi mereka, sehingga Allah mengubah kesulitan mereka menjadi kemudahan dan kefakiran menjadi kekayaan dari arah yang tidak pernah terdeteksi oleh benak pikiran mereka.

وعلى الرابع والخامس يكون وَعْداً للصالحين، إمَّا بدخولهم الجنة بغير حساب، وإمَّا بمضاعفة أجورهم أضعافاً كثيرة لا يحصره العدُّ، ومَنْ وقَفَ على علم التَّأْويل واطَّلَعَ على معترك أفهام العلماء في آية، رأى من ذلك العَجَب العاجِب» [٢١].

Berdasarkan alternatif makna yang keempat dan kelima, ayat tersebut bertindak sebagai janji pasti (wa’dan) bagi orang-orang saleh; baik berupa jaminan masuk surga tanpa melalui proses hisab, maupun berupa pelipatgandaan pahala dalam jumlah melimpah yang tidak bisa dibatasi oleh angka hitungan. Siapa saja yang menekuni ilmu takwil dan menelaah langsung bagaimana dinamika pemikiran para ulama dalam membedah satu ayat saja, niscaya ia akan menyaksikan suatu keajaiban yang sangat menakjubkan.”

وهو أمر لا نجد مِثْلَه فيما سوى القرآن العظيم، فدلَّ ذلك على عظمته وعلوِّ شأنه، وفخامته، ورفعته التي بها نعتزُw، فلا يجمل بنا أن نجد العلوَّ والفخامة والرِّفعة في سواه، وإلاَّ فقد حقَّرنا عظيماً أو حاولنا ذلك!

Perkara luar biasa seperti ini tidak akan pernah kita temukan pada apa pun selain Al-Qur’an yang Agung. Hal ini menjadi bukti nyata atas keagungan, keluhuran kedudukan, kemuliaan wibawa, serta tingginya derajat Al-Qur’an yang menjadi sumber kebanggaan kita. Maka sangat tidak pantas bagi kita jika mencari keluhuran dan kemuliaan pada perkara selainnya, karena tindakan tersebut sama saja dengan meremehkan sesuatu yang teramat agung.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Khasais al-Qur’an al-Karim (hal. 45), Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (2/296).
  2. Al-Naba’ al-‘Adhim (hal. 117, 118).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.