أسلوب القرآن الحكيم
Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kesembilan)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an yang Bijaksana (Bagian Kesembilan) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
المسألة السابعة: إِيجازُ لَفْظِه وَوَفَاءُ مَعْنَاه:
Permasalahan Ketujuh: Keringkasan Lafal namun Mampu Memenuhi Hak Makna secara Sempurna:
المعنى واللَّفظ طرفان متقابلان إِنْ أدنيتَ هذا أبعدتَ الآخر، هذا في كلام البشر، أمَّا في القرآن العظيم فالأمر مختلف تمام الاختلاف، ففي كل آية من آياته، نجد بياناً قاصداً مُقَدَّراً على حاجة النفوس البشرية، دون أن يزيد اللَّفظ على المعنى،
Makna dan lafal adalah dua kutub yang saling berhadapan; jika Anda mendekatkan yang satu, niscaya Anda menjauhkan yang lain. Hal ini berlaku umum dalam perkataan manusia. Namun, dalam Al-Qur’an yang Agung, perkaranya berbeda sepenuhnya. Pada setiap ayatnya, kita mendapati penjelasan yang ringkas dan padat (qashidan), yang diukur secara presisi sesuai kebutuhan jiwa manusia tanpa ada luapan lafal yang melebihi batas maknanya.
ومع هذا القصد اللَّفظي، نجد أنَّ القرآن العظيم قد جَلَّى لنا المعنى في صورة كاملة، لا تُنقِصُ شيئاً من المعنى، ولا تزيد فيه شيئاً دخيلاً وغريباً، وهو كما قال الله تعالى عنه: ﴿ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ﴾ [هود: ١].
Di samping efisiensi lafal tersebut, kita mendapati bahwa Al-Qur’an yang Agung telah menyajikan makna kepada kita dalam bentuk visualisasi yang sempurna, tanpa mengurangi esensi makna sedikit pun dan tanpa menambahkan sesuatu yang asing ke dalamnya. Karakteristik ini sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentang Al-Qur’an:
﴿ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ﴾ [هود: ١]
“Al-Qur’an adalah sebuah Kitab yang disempurnakan ayat-ayatnya, kemudian dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti” [Surah Hud: 1]
هؤلاء البشر إِنْ أتقنوا اللَّفظ، حتى لا يكونَ طويلاً، قَصَّروا في المعنى فعادوا يشرحون ويوضِّحون فيقعون في أسوأ مِمَّا هربوا منه، وإن اتَّجهت أذهانهم إلى المعنى لإِظهاره جليّاً، فلا مَفَرَّ لهم من الإسهاب والإطناب.
Manusia jika berusaha merapikan lafal agar tidak bertele-tele, mereka biasanya justru mengorbankan kelengkapan maknanya. Akibatnya, mereka terpaksa mengulang-ulang penjelasan serta memberikan klarifikasi perincian, hingga akhirnya terjerumus ke dalam kondisi yang lebih buruk dari apa yang ingin mereka hindari sejak awal. Sebaliknya, jika pikiran mereka fokus untuk menampakkan esensi makna secara gamblang, mereka tidak akan bisa luput dari jeratan uraian panjang yang bertele-tele (al-ishab) dan memperpanjang perkataan secara berlebihan (al-ithnab).
وهو أمر يدركِه المرء من نفسه، فإِنْ كَتبَ شيئاً اليوم، كَرَّ عليه غداً وقال: لو أضفتُ كذا، لكان أوفى، ولو قلتُ كذا، لكان أفضل، ولو حذفتُ كذا لكان أنسب وأجمل،
Keterbatasan ini merupakan sesuatu yang disadari oleh setiap orang pada dirinya sendiri. Jika seseorang menulis sesuatu hari ini, ia akan memeriksa ulangnya keesokan hari seraya bergumam: “Sekiranya aku menambahkan poin ini, tentu maknanya lebih lengkap; jika aku mengubah kalimatnya seperti ini, tentu lebih baik; dan jika bagian ini aku hapus, pasti akan lebih serasi dan indah.”
ولو عاد ذلك مرات ومرات لوجد نفسَه في كُلِّ مرة يحتاج فيها إلى المحو، أو الإثبات، أو التَّهذيب، أو الاختصار، فيدفعه لذلك أمران لا ثالث لهما، إمّا أن يكون في المعنى قصور، أو يكون في اللَّفظ إسهاب [٢٢].
Seandainya proses evaluasi itu dilakukan berulang kali, ia akan mendapati dirinya selalu membutuhkan aktivitas penghapusan, penambahan teks baru, penyuntingan bahasa (al-tahdzib), ataupun peringkasan kata. Hal yang mendorongnya melakukan hal itu hanya ada dua kemungkinan: adakalanya terjadi kekurangan pada aspek pemenuhan makna, atau terjadi sifat bertele-tele pada aspek lafal.1
• تميُّز القرآن: «لا يمكن أنْ تظفَر في غير القرآن، بمثل هذا الذي تظفر به في القرآن، بل كُلُّ مِنطيق بليغ مهما تفوق في البلاغة والبيان، تجده بين هاتين الغايتين، كالزَّوج بين ضَرَّتين: بمقدار ما يُرضي إحداهما يُغضِب الأُخرى؛
• Keistimewaan Al-Qur’an: Mengenai hal ini, dijelaskan: “Anda tidak akan mungkin menemukan pencapaian luar biasa di dalam teks selain Al-Qur’an, sebagaimana yang Anda temukan di dalam Al-Qur’an. Setiap orator ulung bagaimanapun tingginya tingkat keahlian sastra yang ia raih, posisinya di antara dua tujuan ini (lafal dan makna) laksana seorang suami yang berada di antara dua orang istri madu: sejalan dengan usahanya memuaskan salah satunya, ia pasti akan memicu kemarahan istri madu yang lain.”
فإن ألقى البليغُ بالَه إلى القصد في اللَّفظ وتخليصه مما عسى أن يكون من الفضول فيه، حمله ذلك في الغالب على أن يَغُضَّ من شأن المعنى، فتجيء صورته ناقصة خفيَّة، ربما يصل اللَّفظ معها إلى حَدِّ الألغاز والتَّعميَة؛
“Jika sang pakar balaghah memusatkan perhatiannya demi meringkas lafal serta membersihkannya dari sisipan kata yang sia-sia, hal itu dalam banyak kasus akan membuatnya menurunkan kualitas esensi maknanya. Akibatnya, visualisasi makna datang dalam kondisi kurang lengkap dan samar, bahkan adakalanya struktur lafal tersebut jatuh menjadi teka-teki (al-alghaz) dan pengaburan makna (al-ta’miyah).”
وإذا ألقى البليغُ بالَه إلى الوفاء بالمعنى وتجلية صورته كاملة، حَمَله ذلك على أن يخرج على حد القصد في اللفظ، راكباً متن الإسهاب والإكثار، حرصاً على ألاَّ يفوته شيء من المعنى الذي يقصده»[٢٣].
“Sebaliknya, jika sang pakar balaghah memusatkan fokusnya demi memenuhi hak makna serta menyingkap visualisasinya secara sempurna, hal itu akan menyeretnya keluar dari batas peringkasan lafal, lalu terjebak menggunakan uraian yang bertele-tele (al-ishab) dan memperbanyak kata karena khawatir ada esensi makna yang luput dari maksud utamanya.”2
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply