تنوع الأساليب القرآنية
Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
وردت في القرآن الكريم العديد من الآيات المتشابهة في اللفظ مع اختلاف فيها بتقديم وتأخير، أو تعريف وتنكير، أو إثبات لكلمة في آية وحذف لها في أخرى، أو تبديل لكلمة بأخرى، أو إثبات حرف في آية وحذفه من أخرى. وفيما يلي أمثلة على ذلك.
Di dalam Al-Qur’an Al-Karim, terdapat banyak ayat yang secara lafal terlihat serupa (mutasyabih fil-lafzhi). Namun, jika dicermati, terdapat perbedaan yang halus, seperti pendahulu dan pengakhiran kata (taqdim wa ta’khir), penggunaan kata makrifat (spesifik) dan nakirah (umum), penyebutan suatu kata di satu ayat namun dihapus di ayat lain, pergantian suatu kata dengan kata lainnya, hingga penyebutan suatu huruf di satu ayat namun dihilangkan di ayat yang lain. Berikut ini adalah beberapa permisalan mengenai hal tersebut.
فمن أمثلة التتقديم والتأخير، قوله تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ ﴾ [النساء: ١٣٥]، وقوله سبحانه: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ﴾ [المائدة: ٨]، ففي الآية قُدِّم الأمر بالقيام بالقسط على الشهادة، وفي الآية الثانية قُدِّم الأمر بالقيام لله على الشهادة بالقسط.
Di antara contoh pendahulu dan pengakhiran kata (taqdim wa ta’khir) adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ ﴾ [النساء: ١٣٥]
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah” [Surah An-Nisa’: 135]
serta firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ﴾ [المائدة: ٨]
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil” [Surah Al-Ma’idah: 8]
Pada ayat pertama (Surah An-Nisa’), perintah untuk menegakkan keadilan (al-qisth) didahulukan daripada urusan persaksian. Sementara pada ayat kedua (Surah Al-Ma’idah), perintah untuk mengabdi menegakkan kebenaran karena Allah didahulukan daripada urusan persaksian yang adil.
ومما قيل في توجيه هذا التقديم والتأخير: إن الآية التي في سورة النساء وردت عقب آيات القضاء في الحقوق المبتدأة بقوله تعالى: ﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ﴾ [النساء: ١٠٥]، ثم تعرضت لقضية بني أبيرق في قوله: ﴿ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا ﴾ [النساء: ١٠٥]، ثم أردفت بأحكام المعاملة بين الرجال والنساء، فكان الأهم فيها أمر العدل فالشهادة. فلذلك قُدِّم فيها ﴿ كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ ﴾ [النساء: ١٣٥]؛ فالقسط فيها هو العدل في القضاء، ولذلك عُدّي إليه بالباء، إذ قال: ﴿ كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ ﴾ [النساء: ١٣٥].
Di antara penjelasan ulama mengenai alasan di balik pendahulu dan pengakhiran kata ini adalah: Sesungguhnya ayat yang berada di Surah An-Nisa’ diturunkan tepat setelah rangkaian ayat-ayat tentang peradilan hak yang dimulai dengan firman Allah Ta’ala:
﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ﴾ [النساء: ١٠٥]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu” [Surah An-Nisa’: 105]
Kemudian, rangkaian tersebut menyinggung kasus hukum Bani Ubairiq dalam firman-Nya:
﴿ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا ﴾ [النساء: ١٠٥]
“dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat” [Surah An-Nisa’: 105]
Lalu disusul pula dengan hukum-hukum muamalah antara laki-laki dan perempuan. Karena konteks utamanya adalah perkara keadilan hukum, maka penegasan keadilan menjadi jauh lebih penting sebelum membahas persaksian. Oleh sebab itu, redaksi yang didahulukan di sana berbunyi: “Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah”. Kata al-qisth di ayat ini bermakna keadilan dalam putusan hukum peradilan, dan karena itulah ia dihubungkan dengan huruf Ba’ (yakni: bil-qisth).
وأما الآية في سورة المائدة فهي واردة بعد التذكير بميثاق الله، قال تعالى: ﴿ وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ ﴾ [المائدة: ٧]، فكان المقام الأول للحض على القيام له سبحانه، أي: الوفاء له بما عاهدوا الله عليه، ولذلك عدي قوله: ﴿ قَوَّامِينَ ﴾ باللام. ولأن العهد شهادة أتبع قولُه: ﴿ قَوَّامِينَ لِلَّهِ ﴾ بقوله: ﴿ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ﴾، أي: شهداء بالعدل شهادة لا حيف فيها، وأولى شهادة بذلك شهادتهم لله تعالى. وقد حصل من مجموع الآيتين: وجوب القيام بالعدل، والشهادة به، ووجوب القيام لله، والشهادة له.
Sementara itu, ayat yang ada di Surah Al-Ma’idah turun setelah adanya peringatan tentang perjanjian (matsaq) dengan Allah. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ ﴾ [المائدة: ٧]
“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu” [Surah Al-Ma’idah: 7]
Maka situasi utamanya adalah dorongan kuat untuk mengabdi tegak demi Allah Yang Maha Suci, artinya menunaikan dengan setia apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Oleh karena itu, kata qawwamina dihubungkan menggunakan huruf Lam (menjadi: lillah). Dan karena janji tersebut bernilai persaksian, maka kalimat “penegak karena Allah” disusul dengan ungkapan “menjadi saksi dengan adil”, yaitu saksi yang lurus tanpa ada kecenderungan batil, dan persaksian yang paling utama untuk itu adalah persaksian mereka demi Allah Ta’ala. Kesimpulan dari perpaduan kedua ayat ini menetapkan: wajibnya menegakkan keadilan serta bersaksi dengannya, sekaligus wajibnya mengabdi tegak demi Allah dan bersaksi untuk-Nya.
ومما قيل أيضًا: إنه يلزم مَن كان قائماً لله أن يكون شاهداً بالقسط، ومن كان قائماً بالقسط أن يكون قائماً لله، إلا أن آية النساء جاءت في معرض الاعتراف على نفسه وعلى الوالدين والأقربين، فبُدىء فيها بالقسط الذي هو العدل والسواء من غير محاباة نفس ولا والد ولا قرابة؛
Di samping itu, dijelaskan pula: Sesungguhnya siapa saja yang mengabdi tegak demi Allah, konsekuensinya ia harus bersaksi secara adil. Dan barang siapa yang tegak demi keadilan, maka ia telah tegak karena Allah. Namun, karena ayat di Surah An-Nisa’ turun dalam konteks tuntutan pengakuan kebenaran atas diri sendiri, orang tua, maupun kerabat dekat, maka ia dimulai dengan penegasan kata al-qisth yang berarti keadilan dan kesetaraan murni tanpa ada unsur pilih kasih terhadap diri sendiri, orang tua, maupun kerabat.
وآية المائدة جاءت في معرض ترك العداوات والأحقاد، فبُدىء فيها بالقيام لله تعالى أولاً؛ لأنه أردع للمؤمنين، ثم أتبع بالشهادة بالعدل. فالتي في معرض المحبة والمحاباة بُدىء فيه بما هو آكد وهو القسط، والتي في معرض العداوة والبغضاء بُدىء فيها بالقيام لله، فناسب كل موضع بما جيء به.
Sementara itu, ayat di Surah Al-Ma’idah turun dalam konteks perintah untuk menyingkirkan permusuhan serta rasa dendam. Maka ia dimulai dengan perintah mengabdi tegak demi Allah Ta’ala terlebih dahulu, karena hal itu bertindak selaku pencegah yang paling ampuh bagi orang-orang mukmin, lalu setelah itu disusul dengan perintah bersaksi secara adil. Kesimpulannya, ayat yang berada pada konteks cinta dan pilih kasih dimulai dengan perkara yang paling ditekankan yaitu keadilan (al-qisth), sedangkan ayat yang berada pada konteks permusuhan serta kebencian dimulai dengan perintah mengabdi tegak demi Allah. Dengan demikian, setiap posisi kalimat sangat serasi dengan konteks tujuan diturunkannya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply