تنوع الأساليب القرآنية
Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an (Bagian Kedua)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an (Bagian Kedua) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
ومن أمثلة التقديم والتأخير كذلك، قوله تعالى: ﴿ وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى ﴾ [القصص: ٢٠]، وقوله سبحانه: ﴿ وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى ﴾ [يس: ٢٠]، ففي آية القصص قُدِّم الفاعل ﴿ رَجُلٌ ﴾ على الجار والمجرور ﴿ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ ﴾، في حين أن الفاعل في آية (يس) جاء متأخراً على الجار والمجرور.
Di antara contoh pendahulu dan pengakhiran kata (taqdim wa ta’khir) berikutnya adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى ﴾ [القصص: ٢٠]
“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas” [Surah Al-Qashash: 20]
serta firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى ﴾ [يس: ٢٠]
“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas” [Surah Yasin: 20]
Pada ayat di Surah Al-Qashash, kata kerja pelaku (fa’il) berupa kata rajulun didahulukan sebelum keterangan tempat (jar wa majrur) yaitu min aqshal-madinah. Sebaliknya, kata kerja pelaku pada ayat di Surah Yasin diletakkan di akhir setelah keterangan tempat.
وقد قيل في توجيه ذلك: إن الفاعل في آية القصص جاء مقدماً على الجار والمجرور – وهو الأصل -؛ لكونه نكرة تصف صاحبها بأنه قادم من أقصى المدينة، وموسى عليه السلام لا يعرف عنه شيئاً إلا أنه قادم من مكان بعيد، ليُعْلِمَه ما كان يدبره له الكفار من مؤامرة.
Mengenai alasan perbedaan posisi ini, para ulama menjelaskan: Sesungguhnya pelaku pada ayat di Surah Al-Qashash didahulukan sebelum keterangan tempat—dan ini merupakan hukum asal dalam tata bahasa Arab. Hal ini karena kedudukannya sebagai kata umum (nakirah) yang menerangkan bahwa laki-laki tersebut datang dari ujung kota. Sementara itu, Nabi Musa ‘alaihis salam sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang orang tersebut selain fakta bahwa ia datang dari tempat yang jauh untuk memberitahukan konspirasi buruk yang sedang direncanakan oleh kaum kafir terhadap dirinya.
أما الآية في سورة (يس) فقد جاءت تقريعاً لأصحاب القرية الذين كفروا بالمرسلين، وكذبوهم، وتبكيتهم على استمرارهم في الكفر مع ما شاهدوه من الآيات معجزات. ومن مظاهر توبيخهم وتقريعهم أن يأتي من أقصى المدينة، من ذلك المكان البعيد الذي لم يشهد المعجزات، ولم تتل فيه الآيات، أن يأتي هذا الرجل الذي لم يحضر جميع ما حضره الكفار، ولم يسمع مثل ما استمعوه، ولم ير من المعجزات ما رأوه، ومع ذلك يؤمن هو، وهم يكفرون، ويدعو هو إلى الإيمان، ويتنادون هم بالكفر؛ فنظراً إلى أهمية بُعده عن موطن دعوته، قُدِّم بيان مكانه على ذكره هو.
Adapun ayat dalam Surah Yasin turun sebagai bentuk kecaman dan teguran keras bagi penduduk negeri yang ingkar serta mendustakan para utusan. Ayat ini juga menjadi tamparan bagi mereka karena terus-menerus bertahan dalam kekufuran, padahal mereka telah menyaksikan berbagai bukti mukjizat secara langsung.
Di antara bentuk celaan dan kecaman bagi mereka adalah fakta bahwa ada seseorang yang datang dari ujung kota—sebuah tempat terpencil yang tidak menyaksikan mukjizat dan tidak pula dibacakan ayat-ayat di sana. Laki-laki ini tidak menghadiri apa yang dihadiri oleh kaum kafir, tidak mendengar apa yang mereka dengar, dan tidak melihat mukjizat seperti yang mereka lihat. Namun uniknya, ia justru beriman sementara mereka kufur, dan ia menyeru kepada iman saat mereka saling mengajak pada kekufuran. Karena letak geografisnya yang jauh dari pusat dakwah merupakan poin yang sangat penting, maka penjelasan mengenai tempat didahulukan sebelum menyebutkan sosoknya.
ومن أمثلة التعريف والتنكير، قوله تعالى: ﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا ﴾ [البقرة: ١٢٦]، وقوله سبحانه: ﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا ﴾ [إبراهيم: ٣٥]، فقد ورد لفظ ﴿ بَلَدًا ﴾ في آية البقرة نكرة مفعولاً به، بينما جاء في آية إبراهيم معرفة مشاراً إليه؛ وذلك لأن الدعوة الأولى وقعت قبل أن يكون البلد، فكأنه أشار إلى الوادي، ودعا أن يُجْعَل بلداً آمناً؛ أما الدعوة الثانية فقد وقعت بعد أن جُعِل المكان بلداً، فعُرَّف ما هو معروف موجود، ونُكَّر ما كان من الأمكنة غير معروف.
Di antara contoh penggunaan kata makrifat dan nakirah (ta’rif wa tankir) adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا ﴾ [البقرة: ١٢٦]
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman'” [Surah Al-Baqarah: 126]
serta firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا ﴾ [إبراهيم: ٣٥]
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makah), aman'” [Surah Ibrahim: 35]
Kata baladan pada ayat di Surah Al-Baqarah berbentuk kata umum (nakirah) yang berkedudukan sebagai objek (maf’ul bih). Sementara pada Surah Ibrahim, kata tersebut berbentuk spesifik/makrifat (al-balad) sebagai kata benda yang ditunjuk. Perbedaan ini terjadi karena doa pertama dipanjatkan sebelum kota tersebut terbentuk, sehingga Nabi Ibrahim seolah-olah menunjuk ke arah lembah kosong dan berdoa agar tempat itu dijadikan sebuah kota yang aman. Adapun doa kedua dipanjatkan setelah tempat tersebut resmi menjadi sebuah kota. Oleh sebab itu, objek yang sudah dikenal dan eksis diberi tanda makrifat, sedangkan tempat yang dulunya belum dikenal diberi tanda nakirah.
ومن أمثلة الحذف والإثبات، قوله تعالى: ﴿ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾ [البقرة: ١٩٣]، وقوله سبحانه: ﴿ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ﴾ [الأنفال: ٣٩]، فآية البقرة جاءت خالية من لفظ التوكيد (كل)، بينما أثبتت في آية الأنفال.
Di antara contoh penghapusan dan penyebutan kata (hadzf wa itsbat) adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾ [البقرة: ١٩٣]
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya bagi Allah” [Surah Al-Baqarah: 193]
serta firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ﴾ [الأنفال: ٣٩]
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah” [Surah Al-Anfal: 39]
Ayat dalam Surah Al-Baqarah tidak memuat kata penegas (taukid) yaitu kulluhu, sedangkan pada Surah Al-Anfal kata penegas tersebut dicantumkan secara jelas.
وقد قيل في توجيه ذلك: إن آية البقرة لم يأتِ فيها لفظ ﴿ كُلُّهُ ﴾؛ لأن الآية واردة في مشركي مكة، فناسب حذف لفظ التوكيد؛ لعدم التعميم؛ بينما لما كانت آية الأنفال واردة في الكفار عموماً، جاء فيها لفظ التوكيد؛ ليناسب العموم الذي وردت عليه الآية. هذا، ولا يتوجه القول المذكور بخصوص آية البقرة إلا على قول من جعل الضمير في قوله سبحانه: ﴿ وَقَاتِلُوهُمْ ﴾، عائدًا على أهل مكة، وهو أحد القولين الواردين في الآية.
Alasan di balik perbedaan redaksi ini adalah: Sesungguhnya ayat dalam Surah Al-Baqarah tidak memuat kata kulluhu karena konteks ayat tersebut khusus berbicara mengenai kaum musyrik Makkah. Dengan demikian, penghapusan kata penegas di sana sangat serasi karena cakupannya tidak bersifat menyeluruh (umum). Sementara itu, karena ayat dalam Surah Al-Anfal berbicara tentang orang-orang kafir secara menyeluruh, maka kata penegas dicantumkan agar selaras dengan sifat umum yang dikandung oleh ayat tersebut. Perlu dicatat bahwa pendapat khusus mengenai Surah Al-Baqarah ini hanya sejalan dengan pandangan ulama yang menyatakan bahwa kata ganti pada kalimat “perangilah mereka” merujuk khusus kepada penduduk Makkah, yang merupakan salah satu dari dua pendapat yang ada mengenai ayat tersebut.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply