تنوع الأساليب القرآنية
Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an (Bagian Ketiga – Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Keragaman Gaya Bahasa (Uslub) Al-Qur’an (Bagian Ketiga) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
ومن أمثلة إبدال كلمة بأخرى، قوله تعالى: ﴿ قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ﴾ [آل عمران: ٤٠]، وقوله سبحانه: ﴿ قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فِيكونُ ﴾ [آل عمران: ٤٧]، فصيغة الفعل في الآية الأولى ﴿ يَفْعَلُ ﴾ بينما هو في الآية الأخرى ﴿ يَخْلُقُ ﴾.
Di antara contoh pergantian suatu kata dengan kata lainnya (ibdal kalimah bi-ukhra) adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ﴾ [آل عمران: ٤٠]
“Dia (Zakaria) berkata: ‘Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak laki-laki, sedangkan aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki'” [Surah Ali ‘Imran: 40]
serta firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فِيكونُ ﴾ [آل عمران: ٤٧]
“Dia (Maryam) berkata: ‘Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?’ Allah berfirman: ‘Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia'” [Surah Ali ‘Imran: 47]
Bentuk kata kerja (shighah al-fi’l) pada ayat yang pertama menggunakan kata yaf’alu (berbuat), sedangkan pada ayat yang lain menggunakan kata yakhluqu (menciptakan).
وقد وجهوا ذلك فقالوا: جاء بأعم الفعلين ﴿ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ﴾ مع الإيجاد من أبوين؛ لأن يحيى عليه السلام جاء من أبوين، فناسبه أعم الفعلين ﴿ يَفْعَلُ ﴾،
Para ulama memaparkan argumentasi kebahasaan mengenai hal ini dengan menyatakan: Redaksi menggunakan kata kerja yang maknanya lebih umum, yaitu “berbuat apa yang Dia kehendaki”, ketika menjelaskan proses perwujudan kelahiran melalui jalur perantara kedua orang tua. Hal ini karena Nabi Yahya ‘alaihis salam lahir dari hubungan sepasang orang tua, sehingga sangat serasi dipadukan dengan kata kerja yang bermakna lebih luas, yaitu yaf’alu.
وجاء بأخص الفعلين ﴿ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ﴾ مع الإيجاد الأخص؛ لأن عيسى عليه السلام جاء من أم بلا أب، فناسبه أخص الفعلين ﴿ يَخْلُقُ ﴾؛ إذ (الخلق) أخص (الفعل).
Sebaliknya, redaksi menggunakan kata kerja yang maknanya lebih spesifik/khusus, yaitu “menciptakan apa yang Dia kehendaki”, ketika menjelaskan proses perwujudan yang luar biasa istimewa. Hal ini karena Nabi Isa ‘alaihis salam lahir dari rahim seorang ibu tanpa perantara seorang ayah, sehingga sangat serasi dipadukan dengan kata kerja yang bermakna lebih spesifik, yaitu yakhluqu. Di dalam kaidah semantik bahasa Arab, aktivitas al-khalq (menciptakan) memiliki cakupan makna yang jauh lebih spesifik dibandingkan aktivitas al-fi’l (berbuat secara umum).
ومن أمثلة إثبات حرف في آية وحذفه من أخرى، قوله تعالى: ﴿ وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا ﴾ [الزمر: ٧١]، وقوله سبحانه: ﴿ وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا ﴾ [الزمر: ٧٣]، ففي الآية الأولى لم يقترن الفعل بالواو ﴿ فُتِحَتْ ﴾، في حين أن الفعل نفسه اقترن بالواو في الآية الثانية ﴿ وَفُتِحَتْ ﴾.
Di antara contoh penyebutan suatu huruf di satu ayat namun dihilangkan di ayat yang lain (itsbat harf wa hadzfuhu) adalah firman Allah Ta’ala:
﴿ وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا ﴾ [الزمر: ٧١]
“Orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam dalam berkelompok-kelompok. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya” [Surah Az-Zumar: 71]
serta firman-Nya Yang Maha Suci:
﴿ وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا ﴾ [الزمر: ٧٣]
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya digiring ke dalam surga berkelompok-kelompok. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu dan pintu-pintunya telah dibukakan” [Surah Az-Zumar: 73]
Pada ayat yang pertama (Surah Az-Zumar: 71), kata kerja futihat (dibukakan) tidak dirangkaikan dengan huruf Wawu. Sementara pada ayat yang kedua (Surah Az-Zumar: 73), kata kerja yang sama dirangkaikan secara eksplisit dengan huruf Wawu sehingga menjadi wa futihat.
وقد قيل في توجيه ذلك: إن أبواب جهنم كانت مغلقة ثم فُتحت لما جاءها الذين كفروا، ويفيد أسلوب الشرط هذا المعنى؛ إذ الفعل المجرد من الواو ﴿ فُتِحَتْ ﴾ جاء جواباً للشرط (إذا)؛
Terkait alasan perbedaan huruf ini, para ulama menjelaskan: Sesungguhnya pintu-pintu neraka Jahanam pada awalnya berada dalam kondisi tertutup rapat, baru kemudian dibuka dengan serta-merta tepat di saat orang-orang kafir tiba di depannya. Gaya bahasa bersyarat (uslub asy-syarth) memberikan indikasi makna ini, karena kata kerja yang steril dari huruf Wawu yaitu futihat bertindak sebagai kalimat jawaban dari instrumen syarat (jawabasy-syarth) dari kata idza.
أما أبواب الجنة فقد كانت مفتوحة قبل مجيء الذي اتقوا ربهم إليها ﴿ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ ﴾ [ص: ٥٠]، ولم يرد أسلوب الشرط هنا، وكأن المخاطب متوقع تمام الكلام.
Sebaliknya, pintu-pintu surga sejatinya telah dibuka lebar-lebar terlebih dahulu sebelum kedatangan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka. Karakteristik ini sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Shad ayat 50: “pintu-pintunya terbuka bagi mereka”. Gaya bahasa bersyarat tidak dipakai sebagai jawaban langsung di ayat surga ini, melainkan huruf Wawu di sana bertindak sebagai penanda situasi (wawu al-hal), seolah-olah pihak yang diajak bicara sudah bisa mengantisipasi kesempurnaan akhir kalimatnya.
ومن هذا القبيل أيضاً، قوله سبحانه: ﴿ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا ﴾ [طه: ١٥]، وقوله تعالى: ﴿ إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا ﴾ [غافر: ٥٩]، فقد دخلت لام التوكيد على الفعل ﴿ آتِيَةٌ ﴾ في الآية الثانية دون الأولى.
Termasuk dalam rumpun kategori ini adalah firman Allah Yang Maha Suci:
﴿ إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا ﴾ [طه: ١٥]
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan waktunya” [Surah Taha: 15]
serta firman Allah Ta’ala:
﴿ إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا ﴾ [غافر: ٥٩]
“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya” [Surah Ghafir: 59]
Huruf Lam penegas (lam at-taukid) disisipkan secara langsung pada kata aatiyatun di ayat kedua, namun tidak dicantumkan pada ayat yang pertama.
وقد وجهوا ذلك بأنه: لما كان الخطاب في آية طه موجهاً لموسى عليه السلام لم يحتج الفعل للام التوكيد؛ لأن المخاطب لم يكن منكراً لمجيء الساعة، وبالتالي لم يحتج الأمر في حقه إلى توكيد ولا تأكيد؛
Alasan logis di balik fenomena kebahasaan ini adalah: Ketika seruan komunikasi (khithab) pada ayat di Surah Taha ditujukan khusus kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, redaksi kata tidak memerlukan sisipan huruf Lam penegas. Hal ini dikarenakan pihak objek yang diseru sama sekali tidak mengingkari eksistensi datangnya hari kiamat, sehingga perkara tersebut dalam konteks beliau tidak membutuhkan penegasan yang berlebihan.
ولما كان الخطاب في آية غافر موجهاً لقوم ينكرون قيام الساعة، فاحتاج الأمر لهذه اللام؛ توكيداً وتأكيداً لمجيء الساعة.
Sebaliknya, ketika seruan komunikasi pada ayat di Surah Ghafir ditujukan kepada kaum pembangkang yang terang-terangan mengingkari terjadinya hari kiamat, maka urusan tersebut mutlak membutuhkan sisipan huruf Lam ini, bertindak selaku instrumen taukid demi mengukuhkan serta memastikan kepastian tibanya hari kiamat di hadapan para penentangnya.
والأمثلة من هذا الباب كثيرة في القرآن، وما أتينا عليه من توجيهات لهذه الأمثلة ليس هو القول الفصل فيها، إذ ليس ببعيد أن يكون ورائها أمور أُخر غير ما تقدم،
Contoh-contoh dalam rumpun pembahasan ini sangat melimpah ruah di dalam Al-Qur’an. Berbagai argumen penjelasan yang telah kita paparkan di atas bukanlah keputusan mutlak yang final. Tidak menutup kemungkinan bahwa di balik perbedaan redaksi tersebut tersimpan rahasia ilmu lain yang belum terjangkau oleh penjelasan di atas.
كأن يكون الأمر من باب التوسع في الكلام والتفنن في الفصاحة على عادة العرب الذين نزل القرآن على سَنَنهم في الكلام. ولا يخفى أن القطع والجزم في توجيه مثل هذه الآيات لا سبيل إليه، وإنما مرده في النهاية لما يملكه المفسر من ثقافة تفسيرية.
Bisa jadi variasi ini termasuk ke dalam ranah keleluasaan berbahasa (at-tawassu’ fil-kalam) serta seni menunjukkan kefasihan sastra (at-tafannun fil-fashahah), selaras dengan adat kebiasaan bangsa Arab purba yang mana Al-Qur’an diturunkan mengikuti tradisi jalur komunikasi mereka. Tidak diragukan lagi bahwa memastikan secara mutlak alasan di balik rahasia ayat-ayat mutasyabih seperti ini adalah hal yang mustahil. Pada akhirnya, semua ini kembali kepada kedalaman wawasan penafsiran (tsaqafah tafsiriyyah) yang dimiliki oleh seorang pakar ahli tafsir.
والحمد لله رب العالمين
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply