Kezaliman dalam Perspektif Al-Qur’an (1)



الظلم في المنظور القرآني

Kezaliman dalam Perspektif Al-Qur’an (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kezaliman dalam Perspektif Al-Qur’an (Bagian 1 dari 2) ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Quran

الحمدُ لله رب العالمين وبه نستعين.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan kepada-Nya kami memohon pertolongan.

إنَّ الدارسَ الفاحصَ للقرآن الكريم يَلْمَسُ المساحةَ الواسعة التي خُصِّصت للظواهر السلوكية الفردية والاجتماعيَّة، وبخاصَّة التي تفرز وتنتج آثارًا مُدمِّرة على مُستوى النفس والمجتمع الإقليمي والدَّولي، وأكثر هذه الظواهر جلاءً ووضوحًا وانبثاثًا في آي الكتاب الكريم: ظاهرةُ الظلم.

Sesungguhnya seorang peneliti yang menelaah Al-Qur’an Al-Karim akan merasakan luasnya ruang yang dialokasikan untuk fenomena perilaku individu maupun sosial, khususnya yang menghasilkan dampak destruktif pada tingkat jiwa, masyarakat regional, hingga internasional. Dan fenomena yang paling jelas, terang, serta paling banyak tersebar di dalam ayat-ayat Kitab Suci yang mulia ini adalah fenomena kezaliman (zhulm).

ولسوف – بإذن الله تعالى – نكشفُ عن التناوُل القرآني لظاهرة الظُّلم من خلال نماذج من آيات الله – تعالى – المقروءة.

Dan kita akan—dengan izin Allah Ta’ala—mengungkap pembahasan Al-Qur’an mengenai fenomena kezaliman ini melalui contoh dari ayat-ayat Allah Ta’ala yang dibaca.

ومما يَجدر ذكره في أوَّل حديثنا: الكمُّ الهائل لمفردات واشتقاقات لفظة الظُّلم المبثوثة في القرآن الكريم؛ إذ يتجاوز العدد ٢٥٦ موضعًا.

Di antara hal yang patut disebutkan di awal pembahasan kita adalah jumlah kosakata dan derivasi kata zhulm yang tersebar sangat masif di dalam Al-Qur’an Al-Karim, di mana jumlahnya melebihi 256 tempat.

النموذج الأول: ﴿ وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴾ [البقرة: ٥٤]

Contoh Pertama: “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sebagai sesembahan), maka bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu.’ Maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” [Surah Al-Baqarah: 54]

المتأمل المتبصر في هذه الآية الكريمة يقف على تقريرات وحقائق:

Seseorang yang merenungkan dan memperhatikan dengan cermat ayat yang mulia ini akan menjumpai beberapa ketetapan dan fakta:

١- إنَّ من ضحايا ظاهرة الظُّلم نفسَ وذات الظَّالم.

1- Sesungguhnya di antara korban dari fenomena kezaliman adalah jiwa dan zat dari pelaku kezaliman itu sendiri.

٢- من تجليات ظُلم النفس اتِّخاذ غير البارئ الخالق إلهًا يُعبد.

2- Di antara manifestasi dari menzalimi diri sendiri adalah menjadikan selain Sang Pencipta (Al-Bari’) sebagai tuhan yang disembah.

فالنفس البشريَّة مَفطورة ومَجبولة على العبودية لخالقها وبارئها الحق، فمِنْه وجودها، وبأمره بقاؤها؛ فهو القيِّم عليها في كل حين وعلى كل حال، فإذا صرفها صاحبُها عن ربِّها، وأخضعها لغير مولاها، فيكون قد صدَّها عن سبيل الرب الحقيقي كَرْهًا، وحرمها مُقتضى فطرتها الأصليَّة، فتصبح النفس في هذا الوضع الشاذ مَظلومة.

Sebab, jiwa manusia itu difitrahkan dan tabiatnya dibentuk untuk beribadah kepada Penciptanya yang merupakan Al-Haq. Dari-Nya jiwa itu ada, dan dengan perintah-Nya jiwa itu tetap eksis. Dialah yang mengurus jiwa tersebut setiap waktu dan dalam segala kondisi. Maka apabila pemilik jiwa memalingkannya dari Tuhannya dan menundukkannya kepada selain Pelindungnya, berarti ia telah menghalanginya dari jalan Tuhan yang sesungguhnya secara paksa, serta mengharamkannya dari tuntutan fitrah aslinya. Akibatnya, jiwa dalam kondisi abnormal ini menjadi pihak yang terzalimi.

٣- التوبة والأوبة بالنفس إلى بارئها المسلكُ الصحيحُ والرَّئيس لرَفع الظُّلم عنها، وتَمكينها من التناغم مع فطرتها السوية.

3- Tobat dan kembalinya jiwa kepada Penciptanya merupakan jalan yang benar dan utama untuk mengangkat kezaliman darinya, serta memungkinkannya untuk selaras kembali dengan fitrahnya yang lurus.

٤- النبي موسى – عليه السلام – يدعو إلى إعطاء هذه التوبة مظهرًا ماديًّا، وسلوكًا مشاهدًا، وهو قتل الأنفس؛ للإشارة إلى أنَّ عبوديةَ واستسلامَ النفس لربِّها هو حياتها وغاية وجودها، فإذا انعدمتْ وغابت هذه الغاية الكُبرى، فما الجدوى من الحياة في دُنيا الناس؟!

4- Nabi Musa ‘alaihis salam menyeru untuk memberikan tobat ini sebuah manifestasi material dan perilaku yang terlihat, yaitu dengan membunuh diri mereka sendiri. Hal ini sebagai isyarat bahwa penghambaan dan kepasrahan jiwa kepada Tuhannya adalah kehidupan dan tujuan eksistensinya. Jika tujuan agung ini sirna dan lenyap, maka apa gunanya kehidupan di dunia manusia ini?!

إذ جعل قتل النفس العابدة للعجل كَفَّارة لهذا الأمر الذي يدل على عظم الجرم والظُّلم في حق الله – تعالى – فكانت الكفارة جسيمة، وعزيزة على النفس؛ قال تعالى: ﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾ [الذاريات: ٥٦]، ولا يعني هذا أنَّ في شريعتنا الإسلامية قتلَ النفس سبيل التوبة والبراءة من الشِّرك، فما كان لبني إسرائيل، فهو شرع لهم، وليس ملزمًا لنا، ولكن نحن نستفيد قيمةَ الحياة مع التوحيد، وهوانَها وخِسَّتها مع الشرك.

Sebab, dijadikan-Nya tindakan membunuh jiwa penyembah anak sapi tersebut sebagai kafarat atas perkara ini menunjukkan besarnya dosa dan kezaliman terhadap hak Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kafaratnya bernilai sangat besar dan terasa berat bagi jiwa. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴾ [الذاريات: ٥٦]

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Surah Adz-Dzariyat: 56]

ولا يعني هذا أنَّ في شريعتنا الإسلامية قتلَ النفس سبيل التوبة والبراءة من الشِّرك، فما كان لبني إسرائيل، فهو شرع لهم، وليس ملزمًا لنا، ولكن نحن نستفيد قيمةَ الحياة مع التوحيد، وهوانَها وخِسَّتها مع الشرك.

Hal ini tidak berarti bahwa dalam syariat Islam kita, membunuh diri adalah jalan tobat dan berlepas diri dari kesyirikan. Apa yang berlaku bagi Bani Israil adalah syariat khusus bagi mereka dan tidak mengikat kita. Namun, kita memetik pelajaran tentang nilai kehidupan yang berarti bersama tauhid, serta betapa rendah dan hinanya kehidupan itu bila disertai syirik.

٥- واستصحابًا لهذا المعنى العزيز يكون ظُلم وأد الحياة أدنى وأخف ضررًا من ظلم النفس بالشرك؛ لذا مِن صُور الجهاد كان السَّيف والرصاص؛ إذ نُلقي بالأنفس في أتُّون الحرب؛ حفاظًا على قدسية التوحيد، وحرية مُمارسته في واقع الحياة، وشرع قتْل أنفُس المشركين الصادِّين عن سبيل الله؛ تأمينًا للتوحيد.

5- Dengan menyertai makna yang agung ini, kezaliman berupa mengubur atau merenggut kehidupan adalah lebih rendah dan lebih ringan mudaratnya daripada menzalimi diri sendiri dengan kesyirikan. Oleh karena itu, di antara bentuk jihad adalah penggunaan pedang dan peluru, di mana kita melemparkan jiwa-jiwa ke dalam kancah peperangan demi menjaga kesucian tauhid dan kebebasan mengamalkannya dalam realitas kehidupan. Serta disyariatkan membunuh jiwa kaum musyrik yang menghalang-halangi jalan Allah demi mengamankan tegaknya tauhid.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.