Tafsir Fathul Qadir : Surah al Maa’un (1)



[سورة الماعون]

Tafsir Fathul Qadir: Surah Al-Ma‘un (Bagian Pertama)

Penulis: Imam Asy-Syaukani

Alih Bahasa: Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tafsir Fathul Qadir: Surah Al-Ma‘un (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Tafsir al Quran

ويقال: سورة الدين، ويقال: سورة الماعون، ويقال: سورة اليتيم، وهي سبع آيات وَهِيَ مَكِّيَّةٌ فِي قَوْلِ عَطَاءٍ وَجَابِرٍ، وَأَحَدِ قَوْلَيِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَمَدَنِيَّةٌ فِي قَوْلِ قَتَادَةَ وَآخَرِينَ. وَأَخْرَجَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: نَزَلَتْ أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ بِمَكَّةَ. وَأَخْرَجَ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ مِثْلَهُ.

Surah ini dinamakan pula: Surah Ad-Din, Surah Al-Ma‘un, dan Surah Al-Yatim. Ia terdiri atas tujuh ayat. Menurut pendapat ‘Atha’ dan Jabir, serta salah satu dari dua pendapat Ibnu ‘Abbas, surah ini termasuk kategori Makkiyyah (turun di Makkah). Sedangkan menurut pendapat Qatadah dan ulama lainnya, surah ini termasuk kategori Madaniyyah (turun di Madinah). Ibnu Mardawaih mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang berkata: Ayat "Ara'aytal-ladzi yukadzibu bid-din" turun di Makkah. Ibnu Mardawaih juga mengeluarkan riwayat serupa dari Ibnu az-Zubair.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ عَلى طَعامِ الْمِسْكِينِ (٣) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ (٥) الَّذِينَ هُمْ يُراؤُنَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْماعُونَ (٧)

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan?
2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin.
4. Maka celakalah orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,
6. yang berbuat riya,
7. dan enggan memberikan bantuan (barang yang berguna).

الْخِطَابُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ لِكُلِّ مَنْ يَصْلُحُ لَهُ، وَالِاسْتِفْهَامُ لِقَصْدِ التَّعْجِيبِ مِنْ حَالِ مَنْ يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. وَالرُّؤْيَةُ: بِمَعْنَى الْمَعْرِفَةِ وَالدِّينُ: الْجَزَاءُ وَالْحِسَابُ فِي الْآخِرَةِ. قِيلَ: وَفِي الْكَلَامِ حَذْفٌ، وَالْمَعْنَى: أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ أَمُصِيبٌ هُوَ أَمْ مُخْطِئٌ.

Redaksi pembicaraan (al-khithab) ini ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada setiap orang yang layak menerimanya. Adapun bentuk kata tanya (al-istifham) di awal ayat berfungsi untuk memunculkan rasa takjub (al-ta‘ajjub) terhadap kondisi buruk orang yang mendustakan agama. Kata ru’yah (pada lafal ara’ayta) di sini bermakna mengetahui (al-ma‘rifah), sedangkan kata ad-din bermakna balasan amal (al-jaza’) dan perhitungan di akhirat (al-hisab). Ada yang berpendapat bahwa di dalam susunan kalimat ini terdapat unsur yang dihapus (al-hadzf), sehingga takdir (perkiraan) maknanya adalah: “Tahukah kamu tentang orang yang mendustakan hari pembalasan itu, apakah dia berada di atas kebenaran ataukah berada di atas kekeliruan?”

قَالَ مُقَاتِلٌ وَالْكَلْبِيُّ: نَزَلَتْ فِي الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ السَّهْمِيِّ. وَقَالَ السُّدِّيُّ: فِي الْوَلِيدِ بن المغيرة. وقال الضحّاك: في عمرة بن عائذ. وقال ابن جرير فِي أَبِي سُفْيَانَ، وَقِيلَ: فِي رَجُلٍ مِنَ الْمُنَافِقِينَ.

Muqatil dan al-Kalbi memaparkan: Ayat ini turun mengenai al-‘Ash bin Wa’il as-Sahmi. Suddi berpendapat: Mengenai al-Walid bin al-Mughirah. Dhahhak berpendapat: Mengenai ‘Amrah bin ‘A’idz. Sementara Ibnu Jarir berpendapat: Mengenai Abu Sufyan. Dan ada pula yang menyatakan: Mengenai seorang laki-laki dari kalangan kaum munafik.

قَرَأَ الْجُمْهُورُ أَرَأَيْتَ بِإِثْبَاتِ الْهَمْزَةِ الثَّانِيَةِ. وَقَرَأَ الْكِسَائِيُّ بِإِسْقَاطِهَا. قَالَ الزَّجَّاجُ: لَا يُقَالُ فِي رَأَيْتَ رَيْتَ، وَلَكِنْ أَلِفُ الِاسْتِفْهَامِ سَهَّلَتِ الْهَمْزَةَ أَلِفًا. وَقِيلَ: الرُّؤْيَةُ: هِيَ الْبَصَرِيَّةُ، فَيَتَعَدَّى إلى مفعول واحد، وهو الموصول، أي: أأبصرت الْمُكَذِّبَ. وَقِيلَ: إِنَّها بِمَعْنَى أَخْبِرْنِي فَيَتَعَدَّى إِلَى اثْنَيْنِ. الثَّانِي مَحْذُوفٌ، أَيْ: مَنْ هُوَ

Mayoritas ulama ahli qira’at (al-jumhur) membaca lafal a-ra’ayta dengan menetapkan bunyi hamzah yang kedua. Sedangkan al-Kisa’i membacanya dengan menggugurkan hamzah tersebut. Az-Zajjaj menjelaskan: Tidak boleh diucapkan kata rayta sebagai pengganti kata ra’ayta, akan tetapi alif istifham (kata tanya) di awal itulah yang meringankan pelafalan hamzah menjadi alif. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kata ru’yah di sini bersifat penglihatan mata (al-bashariyyah), sehingga ia hanya membutuhkan satu objek (maf‘ulun bihi) saja, yaitu kata sambung (al-maushul); yang maknanya: “Apakah kamu melihat orang yang mendustakan itu?” Pendapat lain menyatakan bahwa kata tersebut bermakna “kabarkanlah kepadaku” (akhbirni) sehingga membutuhkan dua objek, yang mana objek keduanya dihapus, dengan takdir kalimat: “Kabarkanlah kepadaku siapakah dia?”

فذلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ الْفَاءُ جَوَابُ شَرْطٍ مُقَدَّرٍ، أَيْ إِنْ تَأَمَّلْتَهُ أَوْ طَلَبْتَهُ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ، وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ عَاطِفَةً عَلَى الَّذِي يُكَذِّبُ، إِمَّا عَطْفُ ذَاتٍ عَلَى ذَاتٍ، أَوْ صِفَةٍ عَلَى صِفَةٍ.

Pada ayat "Fa dzalikal-ladzi yadu‘‘ul-yatim", huruf fa berkedudukan sebagai jawaban bagi syarat yang ditakdirkan (jawabu syarthin muqaddarin), yang takdir kalimatnya: “Jika kamu memperhatikannya atau mencarinya, maka itulah orang yang menghardik anak yatim.” Diperbolehkan pula secara kaidah menetapkan huruf fa tersebut sebagai huruf athaf (konjungsi) yang bersambung kepada lafal al-ladzi yukadzibu, baik berupa penyambungan zat kepada zat, maupun penyambungan sifat kepada sifat.

فَعَلَى الْأَوَّلِ يَكُونُ اسْمُ الْإِشَارَةِ مُبْتَدَأً وَخَبَرُهُ الْمَوْصُولَ بَعْدَهُ، أَوْ خَبَرٌ لِمُبْتَدَأٍ مَحْذُوفٍ، أَيْ: فَهُوَ ذَلِكَ، وَالْمَوْصُولُ صِفَتُهُ. وَعَلَى الثَّانِي يَكُونُ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ لِعَطْفِهِ عَلَى الْمَوْصُولِ الَّذِي هُوَ فِي مَحَلِّ نَصْبٍ.

Berdasarkan kemungkinan kaidah yang pertama, kata tunjuk (ism al-isyarah) berkedudukan sebagai subjek (mubtada’) dan khabarnya adalah kata sambung setelahnya. Atau, ia menjadi khabar bagi mubtada’ yang dihapus, dengan takdir kalimat: fa huwa dzalika (maka dia adalah itu), sedangkan kata sambungnya berkedudukan sebagai sifat. Sementara berdasarkan kemungkinan kaidah yang kedua, ia berada dalam posisi kedudukan status nashab karena di-athaf-kan kepada kata sambung yang juga sedang berstatus nashab.

وَمَعْنَى يَدُعُّ: يَدْفَعُ دَفْعًا بِعُنْفٍ وَجَفْوَةٍ، أَيْ: يَدْفَعُ الْيَتِيمَ عَنْ حَقِّهِ دَفْعًا شَدِيدًا، وَمِنْهُ قَوْلُهُ سُبْحَانَهُ: يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلى نارِ جَهَنَّمَ دَعًّا وَقَدْ قَدَّمْنَا أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يُوَرِّثُونَ النِّسَاءَ وَالصِّبْيَانَ

Makna kata yadu‘‘u adalah: mendorong dengan keras disertai kekerasan dan kekasaran sikap. Artinya, ia mengusir anak yatim dari haknya dengan tolakan yang sangat kasar. Di antara pola makna ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala: "Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekeras-kerasnya." Dan telah kami kemukakan sebelumnya di bab terdahulu bahwasanya orang-orang Jahiliah di masa silam tidak memberikan hak waris kepada kaum wanita dan anak-anak kecil.

وَلا يَحُضُّ عَلى طَعامِ الْمِسْكِينِ أَيْ: لَا يَحُضُّ نَفْسَهُ وَلَا أَهْلَهُ وَلَا غَيْرَهُمْ عَلَى ذَلِكَ بُخْلًا بِالْمَالِ، أَوْ تَكْذِيبًا بِالْجَزَاءِ، وَهُوَ مِثْلُ قَوْلِهِ فِي سُورَةِ الْحَاقَّةِ وَلا يَحُضُّ عَلى طَعامِ الْمِسْكِينِ

Pada ayat "Wa la yahudh-dhu ‘ala tha‘amil-miskin", maknanya adalah: ia tidak mendorong dirinya sendiri, tidak mendorong keluarganya, dan tidak pula menggerakkan orang lain untuk memberi makan orang miskin, dikarenakan sifat kikir terhadap harta atau karena mendustakan adanya hari pembalasan. Pola kalimat ini serupa dengan firman Allah di dalam Surah Al-Haqqah: “Dan tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin.”

فَوَيْلٌ يومئذ لِلْمُصَلِّينَ الفاء جواب لِشَرْطٍ مَحْذُوفٍ، كَأَنَّهُ قِيلَ: إِذَا كَانَ مَا ذُكِرَ مِنْ عَدَمِ الْمُبَالَاةِ بِالْيَتِيمِ وَالْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ أَيْ: عَذَابٌ لَهُمْ، أَوْ هَلَاكٌ، أَوْ وَادٍ فِي جَهَنَّمَ لَهُمْ كَمَا سَبَقَ الْخِلَافُ فِي مَعْنَى الْوَيْلِ، وَمَعْنَى سَاهُونَ: غَافِلُونَ غَيْرُ مُبَالِينَ بِهَا،

Pada ayat "Fa wailul-lil mushallin", huruf fa berkedudukan sebagai jawaban bagi syarat yang dihapus. Seolah-olah dikatakan: “Jika telah wujud perkara yang disebutkan sebelumnya berupa sikap tidak memedulikan anak yatim dan orang miskin, maka celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.” Makna kata wail adalah: azab bagi mereka, kehancuran, atau sebuah lembah mengerikan di dalam neraka Jahannam bagi mereka, sebagaimana perbedaan pendapat yang telah berlalu mengenai makna lafal wail. Sedangkan makna kata sahun adalah: orang-orang yang lalai serta sama sekali tidak memedulikan urusan shalatnya.

وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْفَاءُ لِتَرْتِيبِ الدُّعَاءِ عَلَيْهِمْ بِالْوَيْلِ عَلَى مَا ذُكِرَ مِنْ قَبَائِحِهِمْ، وَوَضَعَ المصلّين موضع ضمير هم لِلتَّوَصُّلِ بِذَلِكَ إِلَى بَيَانِ أَنَّ لَهُمْ قَبَائِحَ أخرى غَيْرَ مَا ذُكِرَ.

Diperbolehkan pula secara kaidah menetapkan huruf fa tersebut berfungsi untuk menyusun urutan datangnya ancaman keburukan (al-du‘a’ ‘alaihim bi al-wail) atas jajaran perilaku keji mereka yang telah dipaparkan sebelumnya. Dan diletakkannya lafal al-mushallin untuk menempati posisi kata ganti mereka (dhamir hum) adalah sebagai sarana balaghah demi menghantarkan penjelasan bahwasanya mereka masih memiliki jajaran perilaku keji lainnya di luar apa yang telah disebutkan barusan.

قَالَ الْوَاحِدِيُّ: نَزَلَتْ فِي الْمُنَافِقِينَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ بِصَلَاتِهِمْ ثَوَابًا إِنْ صَلَّوْا، وَلَا يَخَافُونَ عَلَيْهَا عِقَابًا إِنْ تَرَكُوا، فَهُمْ عَنْهَا غَافِلُونَ حَتَّى يَذْهَبَ وَقْتُهَا، وَإِذَا كَانُوا مَعَ الْمُؤْمِنِينَ صَلَّوْا رِيَاءً، وَإِذَا لَمْ يَكُونُوا مَعَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا، وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ: الَّذِينَ هُمْ يُراؤُنَ أَيْ: يُرَاءُونَ النَّاسَ بِصَلَاتِهِمْ إِنْ صَلَّوْا، أَوْ يراءون الناس بكل ما علموه مِنْ أَعْمَالِ الْبِرِّ لِيُثْنُوا عَلَيْهِمْ.

Al-Wahidi memaparkan: Ayat ini turun mengenai kaum munafik yang tidak mengharapkan pahala dari shalat mereka jika mereka melaksanakannya, dan tidak pula takut akan siksaan jika mereka meninggalkannya. Akibatnya, mereka lalai dari shalat hingga berlalu waktu utamanya. Apabila mereka berada di tengah-tengah orang mukmin mereka akan shalat demi pamer (riya), namun jika mereka sedang tidak bersama orang mukmin mereka tidak shalat. Dan inilah esensi makna dari firman Allah: al-ladzina hum yura’un; artinya: mereka memamerkan shalatnya di hadapan manusia jika mereka melaksanakannya, atau mereka berbuat riya di hadapan manusia pada segenap amal kebajikan yang mereka perlihatkan agar manusia memuji mereka.

قَالَ النَّخَعِيُّ: الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ هُهو الَّذِي إِذَا سَجَدَ قَالَ بِرَأْسِهِ هَكَذَا وَهَكَذَا مُلْتَفِتًا. وَقَالَ قُطْرُبٌ: هُوَ الَّذِي لَا يَقْرَأُ وَلَا يَذْكُرُ اللَّهَ. وَقَرَأَ ابْنُ مَسْعُودٍ: الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ لَاهُونَ وَيَمْنَعُونَ الْماعُونَ.

An-Nakha‘i berpendapat: Yang dimaksud dengan orang-orang yang lalai terhadap shalatnya adalah orang yang apabila ia bersujud, ia menggerakkan kepalanya ke sana kemari seraya menoleh. Qutrub berpendapat: Yaitu orang yang tidak membaca dan tidak berzikir mengingat Allah di dalam shalatnya. Sementara Ibnu Mas‘ud membaca ayat tersebut dengan lafal: al-ladzina hum ‘an shalatihim lahun (orang-orang yang bermain-main dari shalatnya), wa yamna‘una al-ma‘un.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber Kitab : Tafsir Fathul Qadir – Maktabah Syamilah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.