[سورة الماعون]
Tafsir Fathul Qadir: Surah Al-Ma‘un (Bagian Kedua)
Penulis: Imam Asy-Syaukani
Alih Bahasa: Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tafsir Fathul Qadir: Surah Al-Ma‘un (Bagian Kedua) ini masuk dalam Kategori Tafsir al Quran
قَالَ أَكْثَرُ المفسرين: الماعون: اسم لما يتعاوره النَّاسُ بَيْنَهُمْ: مِنَ الدَّلْوِ وَالْفَأْسِ وَالْقِدْرِ، وَمَا لَا يُمْنَعُ كَالْمَاءِ وَالْمِلْحِ. وَقِيلَ: هُوَ الزَّكَاةُ، أَيْ: يَمْنَعُونَ زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ.
Mayoritas ulama ahli tafsir memaparkan: Kata al-ma‘un adalah nama bagi segala sesuatu yang biasa saling dipinjamkan oleh manusia di antara sesama mereka; seperti timba, kapak, dan periuk, serta hal-hal yang tidak boleh dihalangi untuk diminta seperti air dan garam. Ada pula pendapat yang menyatakan: Yang dimaksud adalah zakat; artinya, mereka enggan menunaikan zakat harta benda mereka.
وَقَالَ الزَّجَّاجُ وَأَبُو عُبَيْدٍ وَالْمُبَرِّدُ: الْمَاعُونُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ: كُلُ… مَا فِيهِ مَنْفَعَةٌ حَتَّى الْفَأْسُ وَالدَّلْوُ وَالْقِدْرُ وَالْقَدَّاحَةُ، وَكُلُّ مَا فِيهِ مَنْفَعَةٌ مِنْ قَلِيلٍ وَكَثِيرٍ، وَأَنْشَدُوا قَوْلَ الْأَعْشَى:
Az-Zajjaj, Abu ‘Ubaid, dan al-Mubarrad menjelaskan: Istilah al-ma‘un pada masa Jahiliah berlaku untuk segala sesuatu yang memuat asas kemanfaatan, bahkan mencakup kapak, timba, periuk, pemantik api, dan setiap benda yang memiliki manfaat baik bernilai sedikit maupun banyak. Mereka melantunkan bait syair al-A‘sya sebagai saksi bukti historis:
بِأَجْوَدَ مِنْهُ بِمَاعُونِهِ … إِذَا مَا سَمَاؤُهمْ لَمْ تَغُمِ
“Tidak ada yang lebih dermawan darinya dalam memberikan bantuan barang berguna (bi-ma‘unihi)… di saat langit mereka sedang tidak menurunkan hujan.”
قَالَ الزَّجَّاجُ وَأَبُو عُبَيْدٍ وَالْمُبَرِّدُ أَيْضًا: وَالْمَاعُونُ فِي الْإِسْلَامِ: الطَّاعَةُ وَالزَّكَاةُ، وَأَنْشَدُوا قَوْلَ الرَّاعِي:
Az-Zajjaj, Abu ‘Ubaid, dan al-Mubarrad menambahkan pula: Sedangkan makna al-ma‘un dalam syariat Islam adalah ketaatan dan zakat. Mereka melantunkan bait syair ar-Ra‘i sebagai saksi bukti:
أَخَلِيفَةَ الرَّحْمَنِ إِنَّا معشر … حنفاء نَسْجُدُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
عُرْبٌ نَرَى لِلَّهِ مِنْ أَمْوَالِنَا … حَقَّ الزَّكَاةِ مُنَزَّلًا تَنْزِيلًا
قَوْمٌ عَلَى الْإِسْلَامِ لَمَّا يَمْنَعُوا … مَاعُونَهُمْ وَيُضَيِّعُوا التَّهْلِيلَا
“Wahai khalifah Ar-Rahman, sesungguhnya kami adalah golongan orang yang lurus, kami bersujud di waktu pagi dan petang.
Kami bangsa Arab yang memandang wujudnya kewajiban zakat bagi Allah atas harta kami, sebagai ketetapan hukum yang diturunkan secara mutlak.
Kami adalah kaum yang kokoh di atas Islam, kami tidak pernah menahan zakat kami (ma‘unahum) dan tidak pernah menyia-nyiakan kalimat tauhid (tahlil).”
وَقِيلَ: الْمَاعُونُ: الْمَاءُ. قَالَ الْفَرَّاءُ: سَمِعْتُ بَعْضَ الْعَرَبِ يقول: الماعون: الماء، وأنشدني:
Ada pula pendapat yang menyatakan: Al-ma‘un adalah air. Al-Farra’ memaparkan: Aku pernah mendengar sebagian orang Arab badui berkata bahwa al-ma‘un maknanya adalah air, dan ia melantunkan syair kepadaku:
يمجّ صبيره الماعون صبّا
“Awan putih memancarkan air (al-ma‘un) dengan curahan yang lebat.”
والصبير: السَّحَابُ، وَقِيلَ: الْمَاعُونُ: هُوَ الْحَقُّ عَلَى الْعَبْدِ عَلَى الْعُمُومِ، وَقِيلَ: هو الْمُسْتَغَلُّ مِنْ مَنَافِعِ الْأَمْوَالِ، مَأْخُوذٌ مِنَ الْمَعْنِ، وَهُوَ الْقَلِيلُ. قَالَ قُطْرُبٌ: أَصْلُ الْمَاعُونِ مِنَ الْقِلَّةِ، وَالْمَعْنُ: الشَّيْءُ الْقَلِيلُ، فَسَمَّى اللَّهَ الصَّدَقَةَ وَالزَّكَاةَ وَنَحْوَ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ مَاعُونًا لِأَنَّهُ قَلِيلٌ مِنْ كَثِيرٍ، وَقِيلَ: هُوَ مَا لَا يُبْخَلُ بِهِ كَالْمَاءِ وَالْمِلْحِ وَالنَّارِ.
Lafal ash-shabir maknanya adalah awan. Ada yang berpendapat: Al-ma‘un adalah hak kewajiban atas seorang hamba secara umum. Pendapat lain menyatakan: Ia adalah hasil kemanfaatan yang diambil dari pengelolaan harta benda, yang rumpun katanya diambil dari lafal al-ma‘n yang maknanya adalah sedikit. Qutrub menjelaskan: Asal usul kata al-ma‘un bersumber dari makna sedikit (al-qillah), dan kata al-ma‘n berarti sesuatu yang bernilai sedikit. Allah menamakan sedekah, zakat, dan ragam amal kebajikan serupa dengan istilah ma‘un karena jumlah kewajibannya hanya sedikit jika dibandingkan dengan total harta yang banyak. Ada pula pendapat yang menyatakan: Ia adalah benda-benda yang secara adat tidak boleh dikikir untuk dipinjamkan, seperti air, garam, dan api.
وَقَدْ أَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ قَالَ: يُكَذِّبُ بِحُكْمِ اللَّهِ فَذلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ قَالَ: يَدْفَعُهُ عَنْ حَقِّهِ.
Sungguh, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim telah mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat "Ara'aytal-ladzi yukadzibu bid-din", beliau berkata: “Ia mendustakan ketetapan hukum Allah.” Mengenai ayat "Fa dzalikal-ladzi yadu‘‘ul-yatim", beliau berkata: “Ia mengusir anak yatim dari pemenuhan haknya.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الشُّعَبِ عَنْهُ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ- الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ قَالَ: هُمُ الْمُنَافِقُونَ يُرَاءُونَ النَّاسَ بِصَلَاتِهِمْ إِذَا حَضَرُوا وَيَتْرُكُونَهَا إِذَا غَابُوا، وَيَمْنَعُونَهُمُ الْعَارِيَةَ بُغْضًا لَهُمْ، وَهِيَ الْمَاعُونُ.
Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, serta al-Baihaki di dalam kitab Syu‘ab al-Iman mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat "Fa wailul-lil mushallin - al-ladzina hum ‘an shalatihim sahun", beliau berkata: “Mereka adalah kaum munafik yang memamerkan shalatnya di hadapan manusia jika mereka hadir berada di tengah orang banyak, namun mereka meninggalkannya jika mereka sedang tidak terlihat. Mereka juga enggan meminjamkan barang-barang keperluan (al-‘ariyah) kepada sesama karena rasa benci kepada mereka, dan barang pinjaman itulah yang dimaksud dengan al-ma‘un.”
…وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ عَنْهُ أَيْضًا الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ قَالَ: هُمُ الْمُنَافِقُونَ يَتْرُكُونَ الصَّلَاةَ فِي السِّرِّ، وَيُصَلُّونَ فِي الْعَلَانِيَةِ.
Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih juga mengeluarkan riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas mengenai ayat "al-ladzina hum ‘an shalatihim sahun", beliau berkata: “Mereka adalah kaum munafik yang meninggalkan shalat saat berada dalam kesunyian sendirian (fi al-sirr), namun mereka mendirikan shalat ketika berada di tengah keramaian terang-terangan (fi al-‘alaniyah).”
…وَأَخْرَجَ الْفِرْيَابِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو يَعْلَى وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرٍ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي سُنَنِهِ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: قُلْتُ لِأَبِي: أَرَأَيْتَ قَوْلَ اللَّهِ: الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ أَيُّنَا لَا يَسْهُو؟ أَيُّنَا لَا يُحَدِّثُ نَفْسَهُ؟ قَالَ: إِنَّهُ لَيْسَ ذَلِكَ، إِنَّهُ إِضَاعَةُ الْوَقْتِ.
Al-Firyabi, Sa‘id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya‘la, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Mardawaih, serta al-Baihaki di dalam kitab Sunan-nya mengeluarkan riwayat dari Mush‘ab bin Sa‘d yang memaparkan: Aku pernah bertanya kepada ayahku (Sa‘d bin Abi Waqqas): “Bagaimana pendapatmu mengenai firman Allah: al-ladzina hum ‘an shalatihim sahun? Siapakah di antara kita yang tidak pernah lupa di dalam shalatnya? Siapakah di antara kita yang jiwanya tidak pernah berbisik saat shalat?” Maka Sa‘d menjawab: “Bukan itu maksudnya. Maksud dari ayat tersebut adalah tindakan menyia-nian waktu shalat (hingga keluar dari waktu utamanya).”
وَأَخْرَجَ أَبُو يَعْلَى وَابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ الْمُنْذِرٍ وَابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْأَوْسَطِ، وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ، وَالْبَيْهَقِيُّ فِي سُنَنِهِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَوْلِهِ: الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ قَالَ: هُمُ الَّذِينَ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وقتها. وقال الْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُw: الْمَوْقُوفُ أَصَحُّ. قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ: وَهَذَا يَعْنِي الْمَوْقُوفُ أَصَحُّ إِسْنَادًا. قَالَ: وَقَدْ ضَعَّفَ الْبَيْهَقِيُّ رَفْعَهُ وَصَحَّحَ وَقْفَهُ، وَكَذَلِكَ الْحَاكِمُ.
Abu Ya‘la, Ibnu Jarir, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, ath-Thabarani di dalam kitab al-Mu‘jam al-Ausath, Ibnu Mardawaih, serta al-Baihaki di dalam kitab Sunan-nya mengeluarkan riwayat dari Sa‘d bin Abi Waqqas yang berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna firman-Nya: al-ladzina hum ‘an shalatihim sahun, maka beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan pelaksanaan shalat dari waktu utamanya.” Namun al-Hakim dan al-Baihaki menegaskan: Status riwayat yang bersandar sampai sahabat saja (al-mauquf) adalah yang lebih sahih. Ibnu Katsir memberikan ulasan: “Dan ini bermakna bahwa riwayat mauquf memiliki jalur sanad yang lebih sahih.” Beliau menambahkan: “Al-Baihaki sungguh telah mendhaifkan jalur riwayat yang disandarkan langsung kepada Nabi (al-marfu‘) dan mensahihkan jalur riwayat yang mauquf, dan demikian pula tindakan yang diambil oleh al-Hakim.”
وَأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ وَابْنُ مَرْدَوَيْهِ- قَالَ السُّيُوطِيُّ: بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ- عَنِ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ: «لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ ساهُونَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، هَذِهِ الْآيَةُ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ يُعْطَى كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ جَمِيعَ الدُّنْيَا، هُوَ الَّذِي إِنْ صَلَّى لَمْ يَرْجُ خَيْرَ صَلَاتِهِ، وَإِنْ تَرَكَهَا لَمْ يَخَفْ رَبَّهُ» . وَفِي إِسْنَادِهِ جَابِرٌ الْجُعْفِيُّ، وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَشَيْخُهُ مُبْهَمٌ لَمْ يُسَمَّ.
Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih—As-Suyuthi memberikan catatan: melalui jalur sanad yang lemah—mengeluarkan riwayat dari Abu Barzah al-Aslami yang berkata: “Ketika ayat al-ladzina hum ‘an shalatihim sahun ini diturunkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allahu Akbar! Ayat ini lebih baik bagi kalian daripada sekira setiap orang di antara kalian diberikan seluruh isi dunia. Yaitu orang yang apabila ia shalat, ia tidak mengharapkan kebaikan (pahala) dari shalatnya, dan jika ia meninggalkannya, ia tidak menaruh rasa takut kepada Rabbnya.’” Namun di dalam jajaran jalur sanad riwayat ini terdapat perawi bernama Jabir al-Ju‘fi, dan status dia adalah dhaif (lemah), serta guru dari perawi tersebut berstatus samar (mubham) karena tidak disebutkan namanya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber Kitab : Tafsir Fathul Qadir – Maktabah Syamilah
Leave a Reply