Tuduhan Palsu Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (10)



فرية اللحن (الغلط) في القرآن

Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kesepuluh – Terakhir)

Penulis: Yusuf al-Shaidawi

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kesepuluh – Terakhir) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

ولقد كان على هؤلاء قبل أن يزعموا وقوعَ لحْن ((غلط)) في القرآن، أن يعلموا أنَّ هذا الأسلوب الذي نحن بصدده، قد تكرَّر في كتاب الله، ومنه قوله تعالى in سورة الأعراف 7/186 ﴿ مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ ﴾ [الأعراف: 186].

Sungguh, wajib bagi orang-orang tersebut sebelum mengklaim adanya kemunculan lahn ((kesalahan [ghalath])) di dalam Al-Qur’an, untuk mengetahui bahwasanya gaya bahasa (al-uslub) yang sedang kita bedah saat ini benar-benar telah berulang kali wujud di dalam Kitab Allah. Di antara contoh perulangan tersebut adalah firman Allah Ta‘ala di dalam Surah Al-A‘raf ayat 186: Man yudhlili Allahu fa la hadiya lahu wa yadzaruhum fi thughyanihim ya‘mahuna.

فقد قُرئ فعلُ (يذرهم) مرفوعًا: (يذرُهم) ومجزومًا: (يذرْهم)، على اعتبار وجود شرط محذوف هو والأداة، والتقدير: إنْ يُضْلِلْهم يذرْهم في طغيانهم يعمهون. وتكرار التركيب نفسه في القرآن، دليل على عربيته وصحَّته، لا على أنه لحنٌ ((غلط)) كما يتخيل الذين لا يعلمون!!

Pada ayat tersebut, kata kerja (yadzaruhum) sungguh telah dibaca dalam dua jalur riwayat qira’at; dibaca secara marfu‘: (yadzaru-hum) serta dibaca secara majzum: (yadzhar-hum). Pembacaan secara majzum ini berlandaskan atas pertimbangan eksistensi dari unsur syarat beserta perangkatnya (adat syarth) yang sengaja dihapus, yang mana takdir (perkiraan) kalimat tersembunyinya berbunyi: in yudhlil-hum yadzhar-hum fi thughyanihim ya‘mahuna (jika Dia menyesatkan mereka, niscaya Dia membiarkan mereka terombang-ambing di dalam kesesatannya). Fenomena berulangnya struktur sintaksis yang serupa di beberapa tempat di dalam Al-Qur’an ini menjadi bukti kuat atas kemurnian kearabannya serta keabsahannya yang mutlak, dan bukannya menjadi bukti otentik bahwa perkara tersebut adalah lahn (kesalahan) sebagaimana yang dikhayalkan oleh orang-orang yang tidak memiliki ilmu!

وتتبقى في آخر المطاف مسألة، هي أن يقال: إنَّ أبا عمرو أحد القرَّاء السبعة، وقد قرأ (وأكونَ)، وكلامك هاهنا يعني إنكارك قراءته. وفي الجواب نقول: كلَّا، ليس في الذي قلناه إنكارٌ لقراءة أبي عمرو، فقراءة هذا الإمام مبنية على اللفظ، والذي ذهبنا إليه مبني على المعنى. فهذا هذا.

Dan pada akhir perjalanan ini, tersisa satu persoalan jika ada pihak yang menggugat: "Sesungguhnya Abu ‘Amr yang merupakan salah satu dari Imam Qira'at yang tujuh benar-benar membaca lafal wa akuna secara manshub, maka ulasanmu di sini secara otomatis bermakna sebuah pengingkaran terhadap jalur bacaan beliau." Di dalam jajaran jawaban kami tegaskan: Sekali-kali tidak! Tidak ada di dalam untaian penjelasan yang kami paparkan sebuah unsur pengingkaran terhadap jalur qira’at Abu ‘Amr. Sebab, pilihan riwayat bacaan imam ini dibangun bersandarkan di atas landasan keserasian lafal (al-lafzh), sedangkan argumen yang kami pilih di sini dibangun bersandarkan di atas landasan kedalaman esensi makna (al-ma‘na). Maka, perkara yang satu ini berdiri sendiri pada jalurnya dan perkara yang itu pun berdiri sendiri pada jalurnya.

والحمد لله رب العالمين.

Dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

والله أعلم.

Dan Allah Maha Mengetahui.

المراجع والمصادر:

Daftar Referensi dan Sumber Kutipan:

1. Tafsir al-Qurthubi (16/223 & 2/237).
2. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karya as-Suyuthi (1/238).
3. Syadzurat al-Dzahab (hal. 48).
4. Al-Kasyf ‘an Wujuh al-Qira’at (2/99).
5. Hujjah al-Qira’at (hal. 454, 455).
6. Diwan ‘Ubaidullah bin Qais al-Ruqayyat (hal. 66).
7. Kitab Sibawaih (2/139 & 4/233).
8. Khizanah al-Adab (4/62 & 7/452, 453).
9. Al-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr karya Ibn al-Jazari (2/308).
10. Syarh al-Mufashshal karya Ibn Ya‘isy (3/128 & 7/25).
11. Al-Khasha’ish karya Ibn Jinni (2/415 & 3/65).
12. Mughni al-Labib ‘an Kutub al-A’arib karya Ibn Hisyam (hal. 38).
13. Musykil I’rab al-Qur’an karya al-‘Ukbari (2/69).
14. Imlau Ma Manna bihi al-Rahman (2/123).
15. Al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan (6/255).
16. Majaz al-Qur’an karya Abu ‘Ubaidah (2/21).
17. Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an (2/261 & 7/14).
18. Ad-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur karya as-Suyuthi (2/246).
19. Al-Mufashshal fi Tarikh al-Nahwi (hal. 190).
20. Al-Nahwu al-Wafi karya Abbas Hasan (3/485, 486 & 4/369, 514).
21. Madrasah al-Kufah (hal. 139).

Sumber asli artikel: Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.