فرية اللحن (الغلط) في القرآن
Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kedua)
Penulis: Yusuf al-Shaidawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kedua) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
إنَّ استعمال عبارةِ “اشتُهر عن علماء القرآن” إنما جيء بها للتهويل، وإرعاب مَن يقرؤها أو يسمعها، وسلبِه ((معنوياته)) مِن قَبل أن تبدأ الأسئلة، شأنها شأن قنابل الصوت في المعارك الحربية.
Sesungguhnya penggunaan ungkapan “Telah masyhur dari kalangan ulama Al-Qur’an” sengaja didatangkan untuk menakut-nakuti, mengintimidasi siapa saja yang membaca atau mendengarnya, serta meruntuhkan mentalitasnya sebelum pertanyaan dimulai—tak ubahnya bom suara dalam kancah pertempuran militer.
ومِن المعْجَنِ نفسِه قولُ صاحب السؤال: ((حرَّرها الإمام السيوطي في الإتقان)). فهاهنا إمام مشهور هو السيوطي، وكتاب تراثي اسمه الإتقان، وقبل هذا وذاك عبارةٌ “دِعائية” لا تجدي على المسألة شيئًا هي “حرَّرها الإمام السيوطيُّ”.
Dari pola adonan yang sama pula ucapan pembuat pertanyaan: "Imam as-Suyuthi telah memverifikasinya di dalam kitab al-Itqan." Maka di sini ia membawa nama seorang imam terkemuka (as-Suyuthi) dan kitab warisan klasik (al-Itqan). Namun sebelum dan sesudah itu semua, ungkapan “Imam as-Suyuthi telah memverifikasinya” hanyalah propaganda iklan yang sama sekali tidak memberi faedah pada substansi masalah.
ويكفي لبيان جدواها وقيمتها قولُ السيوطيِّ نفسه بعد أن ذكر صنوفًا مختلفة من الناسخ والمنسوخ: [وبقي مما يصلح لذلك عددٌ يسير، وقد أفردته بأدلَّته في تأليف لطيف، وها أنا أورده هنا محرّرًا إلخ…]. فماذا يجدي على المسألة هاهنا أن يقول السيوطي: (أنا أورده هنا محرّرًا)؟ لا يجدي شيئًا كما ترى!!
Cukuplah untuk membuktikan ketiadaan faedah serta nilainya perkataan as-Suyuthi sendiri setelah beliau menyebutkan berbagai kategori ayat nasikh wa al-mansukh:
“Dan tersisa dari hal-hal yang layak untuk kategori tersebut sejumlah kecil saja. Sungguh aku telah mengkhususkan pembahasan beserta dalil-dalilnya dalam sebuah karya tulis tersendiri yang ringkas (ta’lif lathif), dan inilah aku menyodorkannya di sini dalam kondisi terverifikasi (muharraran)…”
Lantas, faedah apa yang dihasilkan pada permasalahan di sini dari ucapan as-Suyuthi: “aku menyodorkannya di sini dalam kondisi terverifikasi”? Jelas tidak memberikan dampak apa pun sebagaimana yang Anda lihat!
وإنما أوردَ ذلك صاحبُ السؤال للاستقواء باسم السيوطي وكتابه ((الإتقان))!!
Sesungguhnya pembuat pertanyaan sengaja mencantumkan hal tersebut semata-mata untuk mencari legitimasi kekuatan dengan meminjam nama besar as-Suyuthi dan kitabnya, al-Itqan!
هذا، على أنَّ المرء يستنتج مما تقدَّم: أنَّ صاحب السؤال ليس لَه صلة علمية بما سأل، وأنه من منكري وجودِ ناسخٍ ومنسوخ في القرآن!! وأنه أدنى إلى تصيُّد ما يظنه عيبًا فيه.
Di samping itu, seseorang dapat menyimpulkan dari apa yang telah lalu: bahwa pembuat pertanyaan tidak memiliki ikatan ilmiah dengan apa yang ia tanyakan, dan bahwasanya dia termasuk golongan orang yang mengingkari adanya nasikh dan mansukh di dalam Al-Qur’an! Ia sekadar condong pada aktivitas mencari-cari celah yang ia persangkakan sebagai aib di dalam Al-Qur’an.
وصحيحٌ أنَّ هذه الملاحظات ليس لها علاقة مباشرة بما طُرِح من الأسئلة، ولكنَّ للحجَّة نصيبها من البيان!!
Memang benar bahwa catatan-catatan pengantar ini tidak berkaitan langsung dengan substansi pertanyaan yang dilemparkan, akan tetapi sebuah argumentasi (al-hujjah) memiliki hak untuk dipaparkan penjelasannya!
وبعد: فإنَّ الأئمة وقفوا عند مسألة (الناسخ والمنسوخ)، وألَّفوا فيها كتبًا، حتى لقد قال السيوطيُّ: [أفرده بالتصنيف خلائق لا يُحْصَون…]. ومِن منطق الأشياء أن يقال: إنهم لم يفعلوا ذلك لينكروا اشتمall القرآن على ناسخ ومنسوخ. وإنما فعلوه، لما يرتبط به من أحكام الشريعة وتنظيم المجتمع وإقرار الحقوق والواجبات إلخ…
Dan selanjutnya: Sesungguhnya para imam menaruh perhatian besar pada persoalan an-nasikh wa al-mansukh dan menyusun banyak kitab dalam tema tersebut, hingga as-Suyuthi berkata:
“Telah menulis karya tersendiri mengenai pembahasan ini ulama yang tak terhitung jumlahnya…”
Berdasarkan logika berpikir yang lurus, tentu mereka tidak melakukan hal itu demi mengingkari kandungan Al-Qur’an atas ayat nasikh dan mansukh. Melainkan mereka melakukannya karena keterikatan tema tersebut dengan hukum-hukum syariat, pengorganisasian masyarakat, serta penetapan hak dan kewajiban, dan seterusnya.
ومِن منطق الأشياء أيضًا، أنَّ السؤال الذي نحن بصدد الإجابة عنه، ينبغي أن يُصنَّف في إضبارة (معاداة القرآن).
Berdasarkan logika berpikir yang lurus pula, pertanyaan yang sedang kita bedah saat ini sudah sepatutnya diklasifikasikan ke dalam berkas “permusuhan terhadap Al-Qur’an”.
وليس عند عدوِّ القرآن وهو يَعرض على الناس مواضع من القرآن فيها ناسخ ومنسوخ إلَّا دعوى واحدة، كان القرآن الكريم نصَّ عليها وأعلنها يومَ نزل، فقال:
Tidak ada di tangan musuh Al-Qur’an ketika ia menyodorkan ayat-ayat nasikh dan mansukh kepada manusia melainkan satu klaim saja—yang mana Al-Qur’an Al-Karim sendiri telah menetapkan teksnya dan mengumumkannya pada hari ia diturunkan melalui firman Allah:
﴿ مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ﴾ [البقرة: ١٠٦]
“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan (hapus) atau Kami jadikan kamu lupa kepadanya, niscaya Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya.” [Surah Al-Baqarah: 106]
يدلُّ على ذلك ويُثبته أنَّ صاحب الأسئلة أتى بنماذج من الناسخ والمنسوخ ولم يسأل عن تفسير شيء منها ولا عن تعليله إلخ…!! وقد تأمّلُتُ ما جاء في السؤال فلم أر استفتاءً في مسألة ولا استفهامًا عن مسألة. ومن الطرائف حقًّا، أن يورد امرؤٌ إحدى وعشرين قضية، يعرضها ولا يسأل عن شيء فيها!!
Hal yang menunjukkan sekaligus membuktikannya adalah pembuat pertanyaan menyodorkan contoh-contoh ayat nasikh dan mansukh tanpa bertanya tentang tafsirnya ataupun argumentasi rasional (ta‘lil) di baliknya! Ketika aku mencermati isi pertanyaan tersebut, aku tidak menemukan adanya permohonan fatwa (istifta’) maupun pencarian pemahaman (istifham) atas suatu masalah. Sungguh merupakan hal unik yang menggelikan saat seseorang membawa dua puluh satu persoalan, memamerkannya, namun tidak menanyakan satu hal pun di dalamnya!
ولو قال قائل: إنَّ عرْضها على النظَّارة، صنفٌ من صنوف التعبير عن العداوة، والتشنيع على الخصم، لما كان متزيّدًا.
Sekiranya ada yang mengatakan bahwa aktivitas memamerkan hal itu di hadapan khalayak penonton hanyalah salah satu ragam pengekspresian permusuhan serta upaya menjatuhkan rival, niscaya orang yang berkata demikian tidaklah berlebih-lebihan.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply