Tuduhan Palsu Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (3)



فرية اللحن (الغلط) في القرآن

Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Ketiga)

Penulis: Yusuf al-Shaidawi

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Ketiga) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

وأما الصنف الثاني، وهو المسائل اللغوية أو النحوية الإعرابية، فنتناوله فيما يلي:

Adapun Kategori Kedua, yaitu masalah-masalah kebahasaan (lughawiyyah) serta tata bahasa (nahwiyyah) dan struktur sintaksis (i‘rabiyyah), akan kami bedah sebagai berikut:

أولًا: مسألة ((اللحن)). من المفروغ منه أنَّ العربية لغة قديمة. وما كان مِن لغةٍ قديمةٍ فإنَّ التطوُّر يلابسه بالضرورة، عن طريق الحقيقة أو المجاز أو اللفظ أو المعنى، ولقد يبلغ ذلك بالكلمة أن تلبس ضدَّ معناها، أو لباسًا شديد البعد عن أصل معناها!! أو تَغْمُض الصِّلةُ بينها وبين جذرها، فتبقى كالجزيرة في المحيط إلخ… وليس هذا مقصورًا على العربية، بل يشمل كلَّ لغة. ومَن شاء أن يستحضر الأمثلة مِن اللغات الأخرى استحضرها، وما أمْر (صيغة je suis) في الفرنسية وغموض أصلها وتطورها على الزمان ببعيد.

Pertama: Persoalan lahn. Merupakan sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang kuno. Dan pada setiap bahasa yang kuno, perkembangan zaman pasti akan menyertainya, baik melalui jalur makna hakiki, majas, lafal, maupun pergeseran makna esensial. Perkembangan tersebut bahkan bisa membuat suatu kata mengenakan pakaian yang berlawanan dengan makna aslinya, atau pakaian yang teramat jauh dari akar maknanya! Atau, jalinan hubungan antara kata tersebut dengan akar katanya menjadi begitu samar, hingga ia tersisa laksana sebuah pulau terpencil di tengah samudra luas. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada bahasa Arab, melainkan terjadi pada setiap bahasa. Barang siapa yang ingin menghadirkan contoh-contoh dari bahasa lain tentu akan menemukannya; dan perkara formulasi kata je suis dalam bahasa Prancis beserta kesamaran asal-usulnya serta evolusinya seiring waktu tidaklah jauh dari permisalan ini.

المسألة هاهنا، أنَّ كلمة ((اللحن)) من الوجهة اللغوية، ذات معانٍ شتَّى، حفظتْها كتب اللغة ومعاجمُها. منها المعنى الذي يعرفه الناس جميعًا، وهو ((الغلط النحوي أو الصرفي))؛ والقضية هاهنا أنَّ معانيها الأخرى لا يعرفها أو يستعملها أو يلتفت إليها إلَّا الخاصَّة، قال تعالى:

Permasalahan di sini adalah bahwa kata lahn secara filologis memiliki beragam makna yang terjaga rapi dalam kitab-kitab bahasa dan kamus klasik. Di antaranya adalah makna yang diketahui oleh khalayak umum, yaitu kekeliruan tata bahasa (al-ghalath al-nahwi) atau kesalahan perubahan bentuk kata (al-sharfi). Namun persoalannya, makna-makna lain dari kata tersebut tidak diketahui, digunakan, atau diperhatikan kecuali oleh kalangan pakar bahasa saja. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ ﴾ [محمد: ٣٠]

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan perkataan mereka (lahnil qaul).” [Surah Muhammad: 30]

أي: في فحواه ومعناه. ومنه قول الشاعر:

Yaitu: pada kandungan isi dan esensi maknanya. Di antara makna tersebut tercermin pula dalam bait syiir berikut:

منطق رائعٌ، وتلحن أحيانًا         وخيرُ الحديث ما كان لحْنا

“Tutur katanya memikat, dan ia terkadang memberikan isyarat makna; dan sebaik-baik perkataan adalah apa yang disampaikan lewat isyarat tersirat (lahna).”

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((لعلَّ بعضَكم أنْ يكُون ألْحَنَ بحجَّته مِن بعض))

“Bisa jadi sebagian dari kalian lebih pandai dalam menyusun argumentasinya (alhana bi hujjatihi) daripada sebagian yang lain.”

أي أقوى على تصريف الكلام وصوغ الحجَّة. ومن معانيها “اللغة” يقال: لَحَنَ فلانٌ بلحْن بني فلان، أي: بلُغتهم. ومنها “لَحَنَ له” إذا قال لـه قولًا يفهمه عنه ويخفَى على غيره. ومنها “لحن عنه” إذا فهم قولَه. ومنها “لحن إليه” أي: قصَدَه ومال إليه. ومنها “لحن قولَه” إذا فهِمَه. إلى آخر ذلك مِن المعاني.

Maksudnya adalah: lebih ulung dalam mengolah perkataan dan merancang argumentasi. Di antara ragam maknanya yang lain adalah “bahasa” (al-lughah), seperti dalam ungkapan: "Si fulan berbicara dengan lahn Bani fulan", artinya: dengan dialek bahasa mereka. Di antaranya pula bermakna lahana lahu, apabila seseorang mengucapkan perkataan yang dipahami oleh lawan bicaranya namun samar bagi orang lain. Ada juga lahana ‘anhu jika ia memahami perkataannya. Lalu lahana ilaihi yang berarti: ia bermaksud dan condong kepadanya. Serta lahana qaulahu apabila ia memahaminya, hingga akhir dari deretan makna-makna tersebut.

وصحيح أنَّ معنى المادة في الأصل هو ((الذهاب))، فهذا ذهابٌ عن الصواب في الإعراب، وذاك ذهابٌ عن الوضوح في أداء معاني الكلام، وذلك ذهاب من لهجة قبيلة، إلى لهجة قبيلة أخرى إلخ… لكنَّ الذي يتبادر إلى الذهن من جميع هذه المعاني في عصرنا هذا، هو الذهاب عن الصواب إلى الخطأ. أي: الخطأ الإعرابي أو الصرفي. فحيثما وردت كلمةُ “لحن” ذهب ظنُّ القارئ والمستمع إلى معنى “خطأ الإعراب” دون المعاني الأخرى.

Memang benar bahwa makna dasar dari rumpun kata ini pada asalnya adalah “menyimpang atau pergi” (al-dzahab). Maka, jenis yang satu merupakan penyimpangan dari kebenaran dalam hal i‘rab, jenis yang lain merupakan penyimpangan dari kejelasan dalam menyampaikan esensi makna perkataan, dan jenis lainnya merupakan perpindahan dari dialek suatu kabilah menuju dialek kabilah yang lain. Akan tetapi, apa yang langsung terbersit di dalam benak pikiran dari keseluruhan makna ini di zaman kita sekarang adalah penyimpangan dari kebenaran menuju kesalahan; yaitu kesalahan i‘rab atau perubahan bentuk kata. Akibatnya, di mana saja kata lahn disebutkan, dugaan pembaca maupun pendengar akan langsung tertuju pada arti “kesalahan tata bahasa”, dengan mengabaikan rumpun makna lainnya.

قال عثمان لَمَّا فُرِغ من كتابة المصحف: أرى شيئًا مِن لحنٍ ستقيمه العربُ بألسِنتِها، وقد علَّق الأئمة على ذلك فقالوا: (لو كان فيه لحن لا يجوز في كلام العرب جميعًا لما استجاز أن يُبعث إلى قوم يقرؤونه) الدر المنثور 2/246.

‘Utsman pernah berkata saat penulisan mushaf telah rampung diselesaikan: "Aku melihat sesuatu dari lahn yang akan diluruskan oleh orang Arab dengan lisan mereka." Terhadap riwayat ini, para imam memberikan ulasan: “Sekiranya di dalam mushaf terdapat lahn (kesalahan) yang tidak diperbolehkan dalam struktur perkataan bangsa Arab secara keseluruhan, niscaya beliau tidak akan mengizinkan mushaf tersebut dikirimkan kepada suatu kaum yang akan membacanya.”1

وإنَّ هذا لقولٌ قاطعٌ كلَّ قول، يصحُّ فيه المثَل: ((قطعَت جَهيزةُ قولَ كلِّ خطيبِ))، إذ ليس معقولًا ولا منطقيًّا أن يَرى عثمانُ في القرآن خطأً نحويًّا أو صرفيًّا، فلا يُصلحه ولا يقوِّمه، بل يُرسله على ما فيه من الخطأ إلى أقطار الدولة الإسلامية من شرقها إلى غربها، ومن شمالها إلى جنوبها، قائلًا: إنَّ العرب ستقيمه بألسِنتِها؟!

Sungguh, penjelasan ini merupakan perkataan telak yang memutus setiap perdebatan, yang di dalamnya absah berlaku pepatah Arab: “Qatha‘at Jahaizatu qaula kulli khathib” (Jahaizah telah memutus pidato setiap orator). Sebab, sama sekali tidak masuk akal dan tidak logis apabila ‘Utsman melihat adanya kesalahan tata bahasa atau perubahan kata di dalam Al-Qur’an, lalu beliau membiarkannya begitu saja tanpa memperbaiki dan meluruskannya, melainkan justru mengirimkan naskah yang mengandung kesalahan itu ke segenap wilayah Daulah Islamiyah dari ujung timur hingga baratnya, dan dari utara hingga selatannya, seraya berkata bahwa bangsa Arab akan meluruskannya sendiri dengan lisan mereka?!

وكيف يجوز ذلك؟ وهل من إقامة العرب اللحنَ بألسنتها أن تجعل المرفوع مجرورًا أو منصوبًا؟؟ وتجعلَ المجرور منصوبًا أو مرفوعًا؟؟ وتجعلَ الألف والنون من المثنى، ياءً ونونًا؟؟ وهل من ذلك أن تغير العرب إعرابَ مفردات؟؟

Bagaimana mungkin perkara seperti itu diperbolehkan? Apakah yang dimaksud dengan aktivitas bangsa Arab meluruskan lahn dengan lisan mereka adalah dengan cara mengubah kata yang berstatus marfu‘ menjadi majrur atau manshub?! Mengubah kata yang majrur menjadi manshub atau marfu‘?! Serta mengubah huruf alif dan nun pada bentuk ganda (mutsanna) menjadi ya dan nun?! Apakah termasuk dalam hal itu tindakan bangsa Arab merombak total struktur i‘rab dari kosakata asli?!

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Tafsir Ad-Durr al-Mantsur (2/246).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.