فرية اللحن (الغلط) في القرآن
Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Keempat)
Penulis: Yusuf al-Shaidawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Keempat) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
إنَّ هذا ونحوه، لا يكون، ولا يُظَنُّ ولو في الخيال أن يكُون. ومع ذلك يظل المرء بين يوم وآخر، يسمع قائلًا يقول: إنَّ في القرآن لحنًا، أي: خطأً، كما يَظُن!! ويستدلُّ على ذلك بقول عثمان: أرى في المصحف شيئًا مِن لحن؟!
Sesungguhnya perkara semacam ini tidak akan pernah terjadi, dan tidak boleh terbersit dalam benak pikiran—bahkan dalam alam khayalan sekalipun—bahwa hal itu wujud. Namun demikian, dari hari ke hari seseorang senantiasa mendengar ada pihak yang melontarkan klaim: “Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an terdapat lahn (yaitu kesalahan),” sebagaimana yang dia persangkakan! Mereka berdalil atas tuduhan tersebut menggunakan riwayat perkataan ‘Utsman: "Aku melihat di dalam mushaf sesuatu dari lahn?!"
وبعد، فلْننظر في المواضع الأربعة التي يجعلها الجاعلون مواضع غمز ولمز في القرآن، أهي ذات تراكيب عربية؟ وأعاريبها؟ أهي أعاريبُ توافق قواعد لغة العرب؟ ولْننظرْ حجج المنتصرين لها، أهي حججٌ يصحُّ معها الكلام ويستقيم؟
Dan selanjutnya, mari kita cermati empat tempat yang dijadikan oleh para pembuat syubhat sebagai objek celaan (ghamz) dan sindiran (lamz) di dalam Al-Qur’an. Apakah tempat-tempat tersebut memiliki struktur (tarakib) bahasa Arab yang sah? Bagaimana pula dengan jajaran status sintaksis (i‘rab)-nya? Apakah susunan i‘rab tersebut selaras dengan kaidah-kaidah bahasa bangsa Arab? Serta mari kita uji hujah-hujah para ulama yang membelanya, apakah argumen tersebut dapat meluruskan kalimat dan menjadikannya kokoh secara kaidah?
أولًا: ﴿ إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ ﴾ [طه: ٦٣].
Pertama: Firman Allah di dalam Surah Thaha ayat 63.
من المقرر في العربية، أنَّ (إنَّ) حرفٌ مشبه بالفعل ينصب الاسم ويرفع الخبر. وأنها قد تُخفَّف فيقال: (إنْ). فيجوز عند تخفيفها إهمالُها، فيكون الاسمان بعدها مرفوعين ((مبتدأً وخبرًا))، وتسمى اللامُ الداخلةُ عند ذلك على الخبر: (اللامَ الفارقة).
Telah digariskan secara baku di dalam bahasa Arab bahwa kata inna (إِنَّ) merupakan huruf yang menyerupai kata kerja (harfun musyabbahun bi al-fi‘li) yang berfungsi menashabkan isim dan merafa‘kan khabar. Namun, huruf ini terkadang diringankan (tukhaffafu) sehingga diucapkan: in (إِنْ). Ketika diringankan, diperbolehkan secara kaidah untuk tidak mengamalkannya (ihmaluha), sehingga dua isim setelahnya tetap berada dalam kondisi rafa‘ sebagai subjek dan predikat (mubtada’ wa khabar). Sedangkan huruf lam yang masuk menempel pada khabar pada kondisi tersebut dinamakan: Lam Pembeda (al-lam al-fariqah).
وقد جاء ذلك في القرآن وفي كلام العرب. قال تعالى:
Pola tersebut sungguh telah wujud di dalam Al-Qur’an maupun dalam khazanah tutur kata bangsa Arab. Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ﴾ [البقرة: ١٤٣]
“Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.” [Surah Al-Baqarah: 143]
وقال الشاعر:
Seorang penyair Arab berkata:
وإنْ مالكٌ لَلْمُرتجى إنْ تقعقعتْ رحى الحربِ أو دارت عليَّ خُطوبُ
“Dan sungguh Malik benar-benar menjadi tumpuan harapan, apabila genderang perang bergemuruh hebat atau berbagai urusan berat berputar menimpaku.”
وقالت عاتكةُ بنت زيد زوجةُ الزبير، لقاتل زوجها:
Dan ‘Atikah binti Zaid, istri dari az-Zubair, bersyair menujukan perkataan kepada pembunuh suaminya:
شُلَّتْ يمينُكَ إنْ قتلتَ لَمُسْلِمًا حَلَّتْ عليك عقوبةُ المتعمِّدِ
“Semoga tangan kananmu dilumpuhkan, sesungguhnya engkau benar-benar telah membunuh seorang muslim; maka telah layak menimpamu hukuman bagi pelaku pembunuhan berencana.”
وتنظر في جميع ذلك فترى (إنَّ) قد خُفِّفتْ وسكنت نونها: (إنْ). وترى لامًا داخلةً على الخبر، هي اللام الفارقة: (لَكبيرة – لَلْمرتجى – لَمسلمًا). وينطبق ما قدَّمناه آنفًا على الجملة القرآنية: ﴿ إنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ ﴾ فإنها جملة مصوغة في قالب عربيٍّ لا شكَّ في عربيته، وهذه قراءة حفص عن عاصم، وبها يقرأ أهل الشام.
Jika Anda mencermati keseluruhan contoh di atas, Anda akan melihat bahwa kata inna telah diringankan struktur lafalnya dan huruf nun-nya disukunkan menjadi: in (إِنْ). Anda juga melihat huruf lam masuk melekat pada khabar, yang mana ia merupakan Lam Pembeda: (la-kabiratan, la-l-murtaja, la-musliman). Maka, kaidah yang kami kemukakan barusan berlaku selaras sepenuhnya atas kalimat Qur’aniyah: In hadzani la-sahirani. Kalimat tersebut merupakan kalimat yang dirancang dalam cetakan bahasa Arab yang murni tanpa ada keraguan sedikit pun, dan ini merupakan jalur bacaan (qira’ah) Hafsh dari ‘Ashim, yang juga menjadi jalur bacaan penduduk Syam.
ولو نظرت في مصاحفهم لما رأيتَ (إنّ هذان لساحران)، كما يظنُّ الكثير من الناس، بل ترى ﴿ إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ ﴾. ولكنَّ الغمَّازين اللمَّازين يتغاضون عن هذه القراءة كأنها لم تُقرأ، وينصرفون إلى قراءةٍ أخرى فيقولون: [القرآن يقول: ﴿ إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ ﴾، وهذا لحن!! والقياس: (إنّ هذين لساحران)].
Apabila Anda membuka mushaf-mushaf mereka, Anda tidak akan mendapati tulisan inna hadzani la-sahirani (dengan tasydid pada nun) sebagaimana yang disangka keliru oleh banyak orang, melainkan Anda akan melihat tulisan in hadzani la-sahirani (dengan nun mati/sukun). Akan tetapi, para pencela dan penyindir itu sengaja menutup mata dari jalur bacaan ini seolah-olah ia tidak pernah eksis, lalu berpaling menyoroti jalur bacaan yang lain seraya menggugat: "Al-Qur'an berbunyi: Inna hadzani la-sahirani, dan ini adalah lahn (kesalahan)! Padahal secara analogi kaidah baku (al-qiyas) semestinya: Inna hadzaini la-sahirani."
يقولون هذا ويتمسَّكون به، ويأبون الانصراف عنه، ويحكمون بأنه “لحن” دون تحديد صنف هذا اللحن. تاركين لأنصاف المتعلمين أن يفهموا من الكلمة ، أنَّ في القرآن غلطًا!! متغافلين عن وجوهٍ من التخريج، ينفي كلٌّ منها عن القرآن ما أراد الغمازون اللمازون أن يلصقوه به، وينتقلون بالمسألة من اللغة، إلى صحة العقيدة نفسها، فإذا صحَّت القراءة عندهم صحَّ الدِّين كلُّه, وإذا لم صحَّ لم يصحَّ!!
Mereka terus mengulang-ulang tuduhan ini, berpegang teguh dengannya, enggan beranjak darinya, serta langsung menghukumi secara sepihak bahwa perkara tersebut adalah lahn tanpa merinci jenis lahn apa yang dimaksud. Tindakan ini sengaja meninggalkan ruang bagi orang-orang yang setengah berilmu (anshaf al-muta‘allimin) untuk menyimpulkan secara mentah dari istilah tersebut bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat kekeliruan nyata! Mereka sengaja melalaikan jajaran argumentasi penjelasan kaidah (wujuh min al-takhrij), yang mana setiap argumen tersebut menafikan dari Al-Qur’an segala tuduhan buruk yang ingin dilekatkan oleh para pencela. Bahkan mereka menyeret persoalan ini keluar dari ranah bahasa menuju ranah keabsahan akidah; jika bacaan tersebut sah menurut mereka maka sah pula agama seluruhnya, dan jika tidak sah maka goyahlah agama!
وفيما يلي شيء من تلك الوجوه، لا سبيل إلى ردِّه، ولا عيب فيه عربيةً:
Berikut ini adalah sebagian dari jajaran argumen ilmiah yang tidak memiliki celah untuk dibantah, serta tidak mengandung cacat sedikit pun secara kaidah bahasa Arab:
• إنَّ قراءة ﴿ إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ ﴾، وعليها مصاحف أهل الشام جميعًا، عربيةٌ فصيحة سليمة ، ما فيها لِعَيَّاب معابٌ!! وقد بيَّنَّا وجهها من العربية، وأوردنا لها آنفًا ثلاثة شواهد من كلام الله وكلام العرب.
• Bahwasanya jalur bacaan in hadzani la-sahirani—yang menjadi sandaran seluruh mushaf penduduk Syam—merupakan bahasa Arab yang fasih lagi selamat, sama sekali tidak memiliki titik cacat bagi orang yang suka mencari-cari celah! Kami telah memaparkan kedudukannya secara tata bahasa Arab, serta telah menghadirkan di atas tiga saksi bukti (syawahid) otentik dari firman Allah maupun syair bangsa Arab.
• إنَّ بني كنانة، وبني الحارث ابن كعب وغيرَهم أيضًا، يلفظون المثنى بالألِف في جميع أحواله، سواء أكان المثنى مرفوعًا أم منصوبًا أم مجرورًا. يقولون مثلًا: (جاء الرجلان – رأيت الرجلان – مررت بالرجلان) وعلى ذلك قول الشاعر:
• Bahwasanya kabilah Bani Kinanah, Bani al-Harits bin Ka‘b, dan beberapa kabilah lainnya, memiliki kaidah melafalkan bentuk ganda (mutsanna) selalu menggunakan huruf alif pada segenap kondisi sintaksisnya, baik ketika bentuk ganda tersebut berkedudukan marfu‘, manshub, maupun majrur. Mereka mengucapkan sebagai permisalan: "Ja'a al-rajulani (Telah datang dua pria) - Ra'aitu al-rajulani (Aku melihat dua pria) - Marartu bi al-rajulani (Aku berpapasan dengan dua pria)." Di atas dialek baku itulah mengalir untaian bait penyair Arab:
تزوَّدَ منّا بين أُذناه ضربةً دَعَتْهُ إلى هابِي الترابِ عقيمِ
“Ia membawa bekal dari kami sebuah sabetan di antara kedua telinganya (udznahu), yang mengantarkan dirinya menuju debu kuburan yang beterbangan lagi mematikan.”
وقولُ الآخر:
Serta perkataan penyair lainnya:
إنَّ أباها وأبا أباها قد بلغا في المجد غايتاها
“Sesungguhnya ayahnya dan ayah dari ayahnya, benar-benar keduanya telah mencapai puncak tertinggi dalam kemuliaan (ghayataha).”
فمن قال: إنَّ في جملةِ (إنّ هذان لساحران) لحنًا، قلنا لَه: نعم فيها لحنٌ، لكنه لحنُ ((أيْ: لغةُ)) بني كنانة والحارث ابن كعب…، لا أنَّ فيها ((لحنًا)) أي: خطأً إعرابيًّا.
Maka barang siapa yang menggugat: “Sesungguhnya di dalam kalimat Inna hadzani la-sahirani terdapat lahn,” kami jawab kepada mereka: Benar, di dalamnya terdapat lahn, akan tetapi ia adalah lahn dalam arti: dialek bahasa (lughah) resmi milik Bani Kinanah dan al-Harits bin Ka‘b, dan bukannya di dalam kalimat tersebut terdapat lahn dalam arti: kesalahan struktur sintaksis (i‘rab).
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply