فرية اللحن (الغلط) في القرآن
Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kelima)
Penulis: Yusuf al-Shaidawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kelima) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
• [إنَّ]: حرفٌ لَه في اللغة معانٍ؛ منها أنها تأتي بمعنى “نَعَمْ”. قال رجلٌ لعبد الله ابن الزبير، وقد جاء طالبًا رِفده فلم يَحْلَ بطائل: ((لعنَ اللهُ ناقةً حملتْني إليك))!! فقال لـه ابن الزبير: ((إنَّ وراكبَها)). أي: ((نعمْ لَعَنَها الله، ولعن راكبَها)).
• Kata inna (إِنَّ) adalah huruf yang memiliki bermacam-macam makna di dalam bahasa Arab; di antaranya bahwasanya ia dapat bermakna “ya” (na‘am). Sebagai contoh, seorang laki-laki pernah berkata kepada ‘Abdullah bin az-Zubair ketika ia datang untuk meminta pemberiannya namun tidak berhasil mendapatkan hasil apa pun: "Semoga Allah melaknat unta betina yang telah membawaku kepadamu!!" Maka Ibnu az-Zubair menjawabnya: "Inna wa rakibaha." Yaitu: “Ya, semoga Allah melaknatnya, dan melaknat pula penunggangnya.”
وقال عبيد الله ابن قيس الرقيات:
Dan ‘Ubaidullah bin Qais ar-Ruqayyat telah berkata dalam bait syairnya:
بكر العواذلُ في الصبوح يَلُمْنَنِي وألومُهُنَّهْ
ويقلنَ: شيبٌ قد علا كَ وقد كبِرتَ فقلتُ: إنّهْ
“Para wanita pencela datang di pagi hari untuk mencelaku dan aku pun mencela mereka; mereka berkata: Uban sungguh telah memenuhi kepalamu dan engkau benar-benar telah tua, maka aku menjawab: Innah (Ya).”
أي: نعم، قد كبِرتُ وعلاني شيبٌ. وعلى هذا يكون معنى الآية: (نعم، هذان ساحران)، واللام للتوكيد.
Artinya: Ya, aku benar-benar telah tua dan uban telah memenuhiku. Berdasarkan landasan kaidah ini, maka makna ayat tersebut adalah: “Ya, dua orang ini benar-benar penyihir,” sedangkan huruf lam di sana berfungsi sebagai penegas (li al-taukid).
• قرأ أبو عمرو وهو أحد القرّاء السبعة: (إنّ هذين لساحران).
• Abu ‘Amr—yang merupakan salah satu dari Imam Qira’at yang tujuh—membaca ayat tersebut dengan lafal: Inna hadzaini la-sahirani.
ثانيًا: ﴿ لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴾ [البقرة : ١٧٧].
Kedua: Firman Allah di dalam Surah Al-Baqarah ayat 177.
الواو، مِن (والموفون)، حرف عطف، وقد عطفت (الموفون) على (مَن آمنَ). وليس هاهنا شيء يقال، وإنما هو تمهيد لما سيأتي وهو أنَّ: (والصابرين)، كلمة منصوبة بفعل محذوف وجوبًا تقديره: (أمدح)، تشريفًا لفضيلة الصبر إعلاءً لشأنها.
Huruf wawu pada kata wa al-mufuna (وَالْمُوفُونَ) adalah huruf athaf (konjungsi), yang meng-athaf-kan kata al-mufuna kepada frasa man amana (مَنْ آمَنَ). Tidak ada celah yang perlu dipermasalahkan pada bagian ini, melainkan ini hanyalah pengantar bagi penjelasan berikutnya, yaitu bahwasanya: kata wa al-shabirina (وَالصَّابِرِينَ) merupakan kata yang dibaca manshub oleh kata kerja yang wajib dihapus (bi fi‘lin mahdzufin wujuban) yang takdir (perkiraan) kalimatnya adalah: amdah (aku memuji), sebagai bentuk pemuliaan terhadap keutamaan sifat sabar serta untuk meninggikan kedudukannya.
وأما الذين يغمزون ويلمزون فيقولون: [السياق أن يقال: (والصابرون) عطفًا على ما سبقه]. يقولون ذلك كأنّ النصب – مدحًا للصابرين – يُعاب على لغة القرآن!! فيعدُّونه مما يؤخَذ على لغته!!
Adapun orang-orang yang mencela dan menyindir, mereka menggugat dengan berkata: "Kesesuaian alur kalimat (al-siyaq) semestinya diucapkan: wa al-shabiruna, sebagai bentuk athaf kepada kata-kata sebelumnya." Mereka melontarkan hal tersebut seolah-olah pembacaan secara manshub—sebagai bentuk pujian bagi orang-orang yang sabar—merupakan aib bagi tata bahasa Al-Qur’an! Mereka pun mengategorikannya sebagai titik kelemahan yang dijatuhkan atas bahasanya.
فتراهم في ﴿ إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ ﴾ يحتكمون إلى أقوال النحاة، وتراهم هنا يحتكمون إلى أمزجتهم وأهوائهم، يريدون أن يُنطقوا القرآن بما يهوَوْن فيقولون: [السياق أن يقال: (والصابرون) عطفًا على ما سبقه].
Maka Anda dapat melihat mereka; pada kasus in hadzani la-sahirani mereka merujuk kepada pendapat para pakar tata bahasa (al-nuhah) demi mencari pembenaran tuduhan, namun di sini mereka justru merujuk kepada suasana hati dan hawa nafsu mereka sendiri. Mereka berkeinginan agar Al-Qur’an diucapkan selaras dengan apa yang mereka gandrungi sehingga berkata: "Kesesuaian alur kalimat semestinya diucapkan: wa al-shabiruna sebagai bentuk athaf kepada kata sebelumnya."
فإذا قلت لهم: إنَّ هذا من صميم لغة العرب، والشواهد كثيرة، ودُّوا لو يقدرون على طمسها. وقد كان عليهم قبل غمزهم ولمزهم أن يطعنوا إن استطاعوا في تلك الشواهد، لا أن يسكتوا على وجودها وصحَّتها على مضض، ثم يقولوا: إنَّ في القرآن لحنًا!!
Apabila Anda menegaskan kepada mereka bahwasanya pola ini merupakan bagian dari inti bahasa bangsa Arab dan memiliki saksi bukti (syawahid) yang teramat banyak, niscaya mereka sangat berhasrat sekiranya mampu melenyapkan bukti-bukti tersebut. Padahal, kewajiban mereka sebelum melontarkan celaan dan sindiran adalah menggugat keabsahan saksi bukti tersebut jika memang sanggup, dan bukannya diam menerima keberadaan serta keabsahannya dengan rasa dongkol, kemudian tetap menuduh bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat lahn!
ولقد وقف الفرَّاء عند هذا التركيب العربي في كتابه “معاني القرآن” 1/105 فنصَّ على أنَّ العرب إذا تطاولَت الصفات ((يعني: إذا تتابعت)) نصبَت على المدح، قال: ((كأنهم ينوُون إخراجَ المنصوب بمدحٍ مجدَّد غير متبعٍ لأول الكلام؛ من ذلك قول الشاعر:
Sungguh, al-Farra’ telah mencermati struktur bahasa Arab ini di dalam kitabnya Ma‘ani al-Qur’an (1/105), lalu beliau menegaskan sebuah kaidah bahwasanya bangsa Arab apabila deretan kata sifatnya telah memanjang ((artinya: jika telah berurutan secara beruntun)), maka mereka akan mem-baca manshub atas dasar pujian (al-madh). Beliau memaparkan: ((Seolah-olah mereka berniat memunculkan kata yang dibaca manshub tersebut melalui jalur pujian yang diperbarui, bukan dengan cara mengekor pada bagian awal perkataan; di antara contoh pola tersebut adalah perkataan seorang penyair:
لا يَبْعَدَنْ قومي الذين همُ سُمُّ العُداةِ وآفةُ الجُزْرِ
النازلين بكلِّ معترَكٍ والطيِّبين معاقدَ الأُزْرِ
“Semoga kaumku tidak menjauh, mereka yang menjadi racun bagi musuh dan penyembelih unta besar; mereka yang mendatangi (al-nazilina) setiap kancah pertempuran dan orang-orang yang baik (al-thayyibina) ikatan sarungnya.”
وربَّما رفعوا:((النازلون)) و ((الطيبون))، وربما نصبوهما على المدح. والرفع على أن يتبع آخر الكلام أوَّله. وقال بعض الشعراء:
Terkadang mereka membaca secara rafa‘: (al-naziluna) dan (al-thayyibuna), dan terkadang mereka membaca secara manshub pada keduanya atas dasar pujian. Pembacaan secara rafa‘ adalah berdasarkan tindakan menyelaraskan bagian akhir perkataan kepada bagian awalnya. Sebagian penyair lain juga berkata:
إلى الملك القَرْمِ وابنِ الهُمام وليثَ الكتيبةِ في المزدحَمْ
وذا الرأي حين تغمُّ الأمور بذاتِ الصليلِ وذاتِ اللُّجُمْ
“Menuju sang raja pemimpin dan putra tokoh pemberani, dan sang singa pasukan (laitsa al-katibati) di tengah kerumunan perang; dan pemilik pemikiran yang matang (dza al-ra’yi) di saat jajaran urusan menjadi gelap gulita, yang disertai dentingan pedang dan tali kekang kuda.”
فنصب (ليثَ الكتيبة) و(ذا الرأي) على المدح، والاسم قبلهما مخفوض.
Maka ia mem-baca manshub frasa (laitsa al-katibati) dan (dza al-ra’yi) atas dasar pujian, padahal isim sebelum keduanya berada dalam kondisi dibaca khafadh (makhfudh).
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply