فرية اللحن (الغلط) في القرآن
Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Keenam)
Penulis: Yusuf al-Shaidawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Keenam) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
قال: وأنشدني بعضُهم:
Beliau (al-Farra’) memaparkan: Dan sebagian dari mereka telah melantunkan bait syair kepadaku:
فليْتَ التي فيها النجوم تواضعتْ على كلِّ غثٍّ منهمُ وسمينِ
غُيوثَ الحيا في كلِّ مَحْلٍ ولَزْبَةٍ أسودَ الشرى يَحْمِينَ كلَّ عرينِ
“Maka sekiranya langit yang padanya jajaran bintang berada merendah menimpa atas setiap orang yang buruk dari mereka maupun yang baik; mereka yang menjadi hujan-hujan kehidupan (ghuyutha) di setiap masa paceklik dan kesusahan, laksana singa-singa hutan belantara (usuda) yang melindungi setiap sarangnya.”
فنصب ((أي: نصب غيوثَ وأُسودَ))] اهـ.
Maka ia mem-baca manshub ((yaitu: mem-baca manshub kata ghuyutha dan usuda))] Selesai perkataan al-Farra’.
ويلاحَظ هاهنا أنَّ الفرَّاء لا يفرِّق بين النعت والعطف، عند كلامه عنهما. وذلك أنَّ الغاية منهما كليهما واحدة هي المدح، والوسيلة كذلك واحدة، هي المخالفة عن الإعراب المعهود إلى إعرابٍ جَلَبَه المعنى المبتغى، هو الرفع بعد النصب مثلًا، أو النصب بعد الرفع إلخ…).
Dicermati di sini bahwasanya al-Farra’ tidak membedakan antara sifat (al-na‘t) dan konjungsi (al-‘athf) di saat pembicaraan beliau mengenai keduanya. Perkara tersebut dikarenakan bahwasanya tujuan utama dari keduanya sama-sama satu, yaitu pujian (al-madh), dan metode sarana yang digunakan demikian pula satu, yaitu menyelisihi aturan i‘rab yang biasa dikenal menuju aturan i‘rab yang dihadirkan oleh esensi makna yang dikehendaki, berupa pembecaan rafa‘ setelah kondisi manshub sebagai permisalan, atau pembacaan manshub setelah kondisi rafa‘, dan seterusnya.
ومنه قول حاتم الطائيِّ:
Di antara kaidah tersebut tercermin pula dalam perkataan Hatim al-Tha’i:
إنْ كنتِ كارهةً معيشتَنا هاتا فحُلِّي في بني بَدْرِ
الضاربون لدى أعنَّتهمْ والطاعنون وخيلُهمْ تجري
“Jika engkau membenci kehidupan kita yang begini, maka tinggallah di kalangan Bani Badr; mereka adalah orang-orang yang memukul (al-dharibuna) di sisi tali kendali mereka, dan orang-orang yang menikam di saat kuda-kuda mereka berlari kencang.”
ولكن الفراء رأى كما يبدو؛ أنَّ ما أورده تعليلًا للنصب أو الرفع على المدح، ينطبق أيضًا على الآية/162 من سورة النساء، فقال: [ونرى أنَّ قوله: ﴿ لَكِنِ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ مِنْهُمْ وَالْمُؤْمِنُونَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَالْمُقِيمِينَ الصَّلَاةَ وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ ﴾ [النساء: ١٦٢]، أنّ نصب “المقيمين” على أنه نعتٌ للراسخين، فطال نعتُه ونُصِب على ما فسّرتُ لك].
Akan tetapi al-Farra’ memandang sebagaimana yang tampak, bahwasanya apa yang beliau kemukakan sebagai argumentasi rasional (ta‘lilan) bagi pembacaan manshub atau rafa‘ atas dasar pujian, berlaku bersesuaian pula atas ayat 162 dari Surah An-Nisa’, lalu beliau menjelaskan:
“Dan kami memandang bahwasanya firman Allah: Lakini al-rasikhuna fi al-‘ilmi minhum wa al-mu’minuna yu’minuna bima unzila ilaika wa ma unzila min qablika wa al-muqimina al-shalata wa al-mu’tuna al-zakata, bahwasanya pembacaan manshub pada kata al-muqimina adalah atas dasar kedudukannya sebagai sifat (na‘t) bagi frasa al-rasikhina. Jalinan sifatnya telah memanjang dan dibaca manshub berdasarkan atas apa yang telah aku jelaskan kepadamu.”
ثمَّ لَمَّا دنا من أن يختم كلامه قال – موجّهًا النظر إلى أنَّ هذا يكون في الذمِّ كما يكون في المدح، فأورد قول أميَّة ابن أبي عائذٍ الهذلي:
Kemudian di saat beliau telah dekat untuk mengakhiri pemaparannya, beliau berkata—seraya mengarahkan pandangan perhatian kepada bahwasanya perkara ini wujud pada ranah celaan (al-dzamm) sebagaimana ia wujud pada ranah pujian (al-madh)—lalu beliau mendatangkan perkataan Umayyah bin Abi ‘A’idz al-Hudzali:
ويأوي إلى نسوةٍ بائساتٍ وشعثًا مراضيعَ مثلَ السعالي
“Dan ia berlindung kepada para wanita yang malang, dan wanita-wanita yang rambutnya kusut (syu‘atsan) lagi menyusui yang permisalan mereka laksana hantu.”
((شعث: جمع شعثاء – السعالي: جمع سِعلاة وهي الغول)). وبسط القول فقال: [((وشعثٍ)) فيجعلونها خفضًا بإتباعها أوَّل الكلام، ونصبًا على نية ذمٍّ في هذا الموضع].
((Kata syu‘ats: bentuk jamak dari sya‘tsa’ – Kata al-sa‘ali: bentuk jamak dari si‘lah yaitu hantu (al-ghul))). Beliau memperluas penjelasan lalu memaparkan: [((Kata wa syu‘atsin)), maka mereka menjadikannya dibaca khafadh dengan cara mengikutkannya kepada bagian awal perkataan, dan dibaca manshub atas dasar niatan celaan (dzamm) pada tempat ini].
ثالثًا: ويبقى من هذا المِعجَن غمزهم ولمزهم في الآية /69 من سورة المائدة وفيها ﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴾ [المائدة : ٦٩].
Ketiga: Dan tersisa dari pola adonan tuduhan ini, celaan dan sindiran mereka pada ayat 69 dari Surah Al-Ma’idah, yang mana di dalamnya terdapat firman Allah: Inna alladzina amanu wa alladzina hadu wa al-shabi’una wa al-nashara man amana billahi wa al-yaumi al-akhiri wa ‘amila shalihan fala khaufun ‘alaihim wa la hum yahzanuna.
فإنهم يقولون: السياق أن يقال:((الصابئين)) عطفًا على ما تقدَّم. وليس لهذا القول إلَّا معنًى واحد، هو أنهم يقدِّمون اللفظ ويُعْلونه على المعنى!!
Maka sesungguhnya mereka berkata: "Kesesuaian alur kalimat (al-siyaq) semestinya diucapkan: al-shabi'ina sebagai bentuk athaf kepada kata sebelumnya." Perkataan mereka ini tidak memiliki arti lain kecuali satu hal, yaitu bahwasanya mereka mendahulukan lafal serta meninggikannya di atas esensi makna!
ولو أنَّ القرآن أراد العطفَ على السياق كما أرادوا، وكما قدَّروا أنه الصواب، لما منع من ذلك مانع، وصغار الصبية في ساحة الحيِّ أيام الجاهلية، يعرفون ذلك ويؤدُّونه عفو الخاطر!!! أوَيعرفه صبيان الجاهلية ويجهله القرآن؟؟!! إنَّ هذا التغافل أو التجاهل لعجيب غريب.
Sekiranya Al-Qur’an menghendaki aktivitas athaf atas kesesuaian alur kalimat sebagaimana yang mereka mau, dan sebagaimana yang mereka persangkakan bahwa hal tersebut adalah kebenaran, niscaya tidak ada satu pun penghalang yang menghalangi hal itu. Anak-anak kecil di halaman perkampungan pada masa Jahiliah saja sudah mengetahui perkara itu dan menunaikannya secara spontan (‘afwa al-khatir)!!! Apakah anak-anak kecil Jahiliah mengetahuinya sedangkan Al-Qur’an tidak mengetahuinya?! Sesungguhnya kelalaian atau kesengajaan pura-pura tidak tahu ini benar-benar merupakan hal yang teramat aneh lagi ganjil.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply