Tuduhan Palsu Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (7)



فرية اللحن (الغلط) في القرآن

Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Ketujuh)

Penulis: Yusuf al-Shaidawi

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Ketujuh) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran

إنما أراد القرآن معنًى لا يؤدِّيه العطف على السياق، فحوَّل العبارة إلى ما يعبِّر عن المعنى المراد. وبيان ذلك أنَّ (الذين هادوا) كان لهم كتابٌ سماويٌّ فيه شريعتهم هو التوراة، وأما الصابئون فليس لهم مثل ذلك، فلا شريعة لهم ولا عقيدة سماوية. فلو عُطِفوا على (الذين هادوا) – كما يريد الغمازون اللمَّازون – لساوَوْهم وكانوا مثلَهم.

Sesungguhnya Al-Qur’an menghendaki sebuah esensi makna mendalam yang tidak akan bisa tersampaikan jika sekadar meng-athaf-kan (menyerasikan) lafal berdasarkan alur kalimat. Oleh karena itu, Al-Qur’an memalingkan struktur ungkapan tersebut demi mengekspresikan makna yang dituju. Penjelasan perinciannya: orang-orang Yahudi (alladzina hadu) memiliki kitab samawi pembawa syariat mereka, yaitu Taurat. Sementara orang-orang Shabi’in tidak memiliki hal serupa; mereka tidak mempunyai syariat khusus maupun akidah samawi. Maka sekiranya kata Shabi’in itu di-athaf-kan langsung kepada orang-orang Yahudi—sebagaimana yang diinginkan para pencela dan penyindir—niscaya tindakan itu akan menyamakan kedudukan dan menjadikan mereka serupa.

على حين لا يتساوى الصابئون والذين هادوا، ولا هم أصلًا مثلهم. فلما أراد القرآن أن يبيِّن ذلك، أفرَد الصابئين ومازهم من الذين هادوا، فقطع واستأنف فقال: ﴿ وَالصَّابِئُونَ ﴾، أي: والصابئون كذلك.

Padahal di saat yang sama, orang-orang Shabi’in tidaklah setara dengan orang-orang Yahudi, dan pada asalnya mereka memang tidak serupa. Ketika Al-Qur’an ingin menerangkan hakikat tersebut, ia menyendirikan kelompok Shabi’in dan memisahkannya secara tegas dari orang-orang Yahudi; ia memutus jalinan sintaksis sebelumnya dan memulai struktur kalimat baru (al-istifnaf) seraya berfirman: wa al-shabi’u-na (وَالصَّابِئُونَ), yang maknanya: “dan demikian pula halnya dengan orang-orang Shabi’in.”

فانظر إلى ما يريد الله وما يعبِّر به عن المراد، وإلى الغمَّازين اللمَّازين وما يريدون من عيبهم للقرآن، وإلى ما يعبِّرون به عن مرادهم، وهو قولهم: (والسياق أن تكون “والصابئين” على العطف)!! فأيُّ عطف هذا والعطفُ غير مراد؟ أستغفر الله!! بل العطفُ هو غيرُ المراد!! بل العطف يشوِّه المراد!!

Maka perhatikanlah apa yang Allah kehendaki dan bagaimana Dia mengekspresikan kehendak-Nya itu. Bandingkan dengan para pencela dan penyindir beserta syahwat mereka untuk mencari-cari cacat Al-Qur’an, serta cermati cara mereka mengungkapkan maksudnya saat menggugat: "Alur kalimatnya semestinya dibaca wa al-shabi'ina atas dasar athaf!" Sungguh, athaf macam apa yang dipaksakan ini padahal hubungan athaf justru bukan hal yang dikehendaki? Aku memohon ampun kepada Allah (Astaghfirullah)! Bahkan hubungan athaf itulah yang sama sekali tidak diinginkan! Bahkan hubungan athaf itu justru akan merusak keindahan makna yang dituju!

العطف يجمع الصابئين واليهود في قَرَن، والقرآن هنا يريد أن ينبِّه على ما بينهما من البعد والانفصام، وأنَّ هؤلاء ليسوا كأولئك!! ولذلك قطع واستأنف ليفرق بينهما. فهل يُعَبَّر عن الافتراق بين الشيئين بعطف أحدهما على الآخر؟؟!! ما لكم؟ كيف تحكمون؟!

Sebab, hubungan athaf akan mengikat orang-orang Shabi’in dan orang-orang Yahudi dalam satu tali nasib yang sama. Padahal Al-Qur’an di sini justru ingin memperingatkan tentang adanya jarak rentang yang jauh serta keterputusan jalinan di antara keduanya, dan menegaskan bahwa mereka itu tidaklah sama seperti kelompok sana! Dikarenakan alasan itulah Al-Qur’an memutus alur kalimat dan memulainya kembali dari awal demi memisahkan kedudukan keduanya. Lantas, apakah wajar sebuah pemisahan antara dua perkara diekspresikan dengan cara meng-athaf-kan salah satunya kepada yang lain?! Ada apa dengan kalian? Bagaimana cara kalian menetapkan keputusan?!

لقد تفرَّد الصابئون بأنهم لا كتاب لهم، فتفرَّد التعبير عنهم كذلك، وجاء مرفوعًا بعد منصوبَيْن. فتجلَّت الغاية أحسن التجلِّي. وكان في هذا الاختلاف اللفظي – ما بين نصبٍ ورفع – ما ينبِّه كلَّ غافل على أنَّ هاهنا شيئًا أراده القرآن وقد يغفل عنه القارئ!! إنها التماعة سماوية تستسرُّ في علامة الرفع الضئيلة هذه!!

Orang-orang Shabi’in memiliki keunikan tersendiri karena mereka tidak mempunyai kitab suci, maka ungkapan kalimat mengenai mereka pun ikut dirancang secara unik; lafalnya datang dalam kondisi dibaca marfu‘ tepat setelah keberadaan dua isim yang dibaca manshub. Melalui cara ini, tujuan balaghah Al-Qur’an menjelma dengan tingkat keindahan yang paling menawan. Pada perbedaan lafal yang kontras ini—antara harakat nashab dan rafa‘—terdapat sebuah alarm yang memperingatkan setiap pembaca yang lalai bahwa di sini ada rahasia besar yang dikehendaki oleh Al-Qur’an! Perkara ini merupakan kilatan cahaya samawi yang menyembunyikan rahasianya di dalam tanda rafa‘ (dhammah) yang kecil ini!

تنبِّهُ غيرَ المنتبه: أيها الغافل انتبهْ، فإنَّ الصابئة وإن لم يكن لهم كتاب سماويٌّ فإن شأنهم في الآخرة كشأن مَن لهم كتاب، إذا تساوَوا في الإيمان بالله والبعث، وصلاح العمل!! فالذين آمنوا والذين هادوا – وكذلك الصابئون وإن لم يكن لهم كتاب سماويٌّ – والنصارى، مَن آمن منهم بالله واليوم الآخِر وعمل عملًا صالحًا، فقد وجب لَه عندنا في الآخرة ألَّا يخاف ولا يحزن. فأصحاب الكتب السماوية على النصب، ومن ليس لهم كتاب سماويٌّ على الرفع.

Tanda rafa‘ kecil itu seolah memperingatkan siapa saja yang kurang fokus: “Wahai orang yang lalai perhatikanlah! Karena sesungguhnya orang-orang Shabi’ah, meskipun mereka tidak memiliki kitab samawi, urusan mereka di akhirat kelak tetaplah laksana urusan orang-orang yang memiliki kitab suci, asalkan mereka setara dalam hal keimanan kepada Allah, hari kebangkitan (al-ba‘th), serta kesalehan amal!” Maka orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi—dan begitu pula orang-orang Shabi’in meskipun tanpa kitab samawi—serta orang-orang Nasrani; barang siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal saleh, maka telah mutlak menjadi ketetapan di sisi Kami di akhirat kelak bahwa mereka tidak akan dirundung rasa takut dan tidak pula bersedih hati. Oleh sebab itu, para pemilik kitab samawi ditempatkan pada jalur pembacaan nashab, sedangkan golongan yang tidak memiliki kitab samawi ditempatkan pada jalur pembacaan rafa‘.

فأين السياق الأعمى، مِن هذا التعبير المبصر؟! وأين الماء الفرات من الملح الأُجاج? أتعلِّمون اللهَ بلغتكم؟!!

Maka di manakah posisi kesesuaian alur kalimat yang buta jika dihadapkan dengan ungkapan kalimat yang melihat dengan jelas ini?! Dan manakah bisa disamakan antara air tawar yang segar dengan air asin yang pahit mencongkak? Apakah kalian berniat mengajari Allah dengan standar dialek bahasa kalian?!

ولقد يَظنُّ ظانٌّ أنَّ العرب لا تعرف ذلك!! فنقول لـه: بل تعرفه وتستعمله في كلامها. وهل جاءهم القرآن إلَّا بما يفهمون ويستعملون ويعبِّرون؟؟!! ﴿ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ ﴾ [النحل: ١٠٣].

Sungguh, ada orang yang menyangka keliru bahwa bangsa Arab tidak mengenal pola bahasa seperti itu! Kami tegaskan kepadanya: Bahkan mereka sangat mengenalnya dan biasa menggunakannya dalam susunan perkataan mereka sendiri. Bukankah Al-Qur’an turun kepada mereka melainkan dengan membawa apa saja yang mereka pahami, mereka gunakan, dan mereka ekspresikan sehari-hari? Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ ﴾ [النحل: ١٠٣]

“Padahal ini adalah bahasa Arab yang jelas.” [Surah An-Nahl: 103]

فلقد لاحظ الخليل وسيبويه هذه الظاهرة، فقالا هما وجميع البصريين: “الصابئون” مرفوع بالابتداء. ودونك شيئًا مما قالت العرب من ذلك. قال بِشر ابن أبي خازم:

Sebab itulah, al-Khalil dan Sibawaih telah mencermati fenomena kebahasaan ini, lalu mereka berdua beserta seluruh pakar tata bahasa Bashrah (al-Bashriyyun) menetapkan kaidah: kata al-shabi’u-na dibaca marfu‘ atas dasar kedudukannya sebagai permulaan kalimat baru (al-ibtida’). Di hadapan Anda ada contoh otentik dari apa yang diucapkan oleh bangsa Arab mengenai pola tersebut. Bisyr bin Abi Khazim berkata dalam bait syairnya:

وإلَّا فاعلموا أنَّا وأنتمْ         بُغاةٌ ما بقينا في شقاقِ

“Dan jika tidak demikian, maka ketahuilah bahwasanya kami dan kalian (wa antum) adalah para pembangkang (bughat) selama kita tetap bertahan di dalam perselisihan.”

والمعنى: فاعلموا أنا بغاةٌ ما بقينا في شقاق، وأنتم كذلك أيضًا. وذلك أنَّ ضمير الرفع” أنتم” لا يُعطَف على ضميرٍ هو في محلِّ نصب (لدخول “أنَّ” عليه). فدلَّ ذلك على وجود جملة من مبتدأ وخبر بعد الواو فصلت بين ” أنَّا ” والخبر “بغاة”.

Makna bait tersebut adalah: “Maka ketahuilah bahwasanya kami adalah para pembangkang selama kita berada di dalam perselisihan, dan kalian pun demikian pula adanya.” Pola ini terjadi karena kata ganti rafa‘ (dhamir al-raf‘) yaitu antum secara kaidah tidak boleh di-athaf-kan langsung kepada kata ganti yang berada dalam posisi kedudukan nashab (akibat masuknya amil anna di awalnya). Hal tersebut menjadi bukti nyata atas eksistensi sebuah kalimat baru yang terbentuk dari mubtada’ dan khabar setelah huruf wawu, yang memisahkan kedudukan antara frasa anna-na dengan kata khabarnya, yaitu bughat.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.