فرية اللحن (الغلط) في القرآن
Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kedelapan)
Penulis: Yusuf al-Shaidawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tuduhan Keliru Adanya Lahn (Kesalahan Tata Bahasa) di Dalam Al-Qur’an (Bagian Kedelapan) ini masuk dalam Kategori Bahasa al Quran
وقال ضابئ البرجميُّ:
Dan Dhabu’ al-Burjami telah berkata dalam bait syairnya:
فمنْ يكُ أمسى بالمدينة رَحْلُه فإنِي وقَيّارٌ بِها لَغريبُ
“Maka barang siapa yang tempat tinggalnya di sore hari berada di Madinah; sesungguhnya aku dan Qayyar (wa qayyarun) di kota tersebut benar-benar orang asing.”
(قيَّار: اسم فرسه) والمعنى: إني لغريب بالمدينة. وقيارٌ كذلك.
(Kata Qayyar: nama kuda miliknya). Dan maknanya: Sesungguhnya aku benar-benar orang asing di Madinah, dan begitu pula halnya dengan Qayyar.
رابعًا: بعد هذا تبقى الآيةُ/10 من سورة (المنافقون): ﴿ وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ ﴾. وفيها ثلاث كلمات يحسُن الوقوفُ عندها واحدةً واحدة، لنضْمن وضوحَ ما في الآية من مسائل:
Keempat: Setelah persoalan ini, tersisa ayat 10 dari Surah Al-Munafiqun: Wa anfiqu min ma razaqnakum min qabli an ya’tiya ahadakumu al-mautu fa yaqula rabbi lau la akh-khartani ila ajalin qaribin fa ash-shaddaqa wa akun mina al-shalihina. Di dalam ayat tersebut wujud tiga kosakata yang patut dicermati satu demi satu, guna menjamin kejelasan jajaran permasalahan yang termuat di dalamnya:
أولًا وثانيًا: إنَّ (لولا) للتحضيض ((وهي هنا للعرض))، والتحضيض “طلب”، ومنه فإنَّ الفاء مِن “فأصَّدّقَ” هي فاء السببية، وفعل “أصَّدّقَ” مضارع منصوب بعد فاء السببية. وليس هذا الذي قدَّمناه محتاجًا إلى مزيد بيان. فالتركيب وإعرابه على المنهاج.
Pertama dan Kedua: Bahwasanya kata laula (لَوْلَا) berfungsi sebagai dorongan kuat (li al-tahdhidh) ((namun di sini bermakna penawaran halus [li al-‘ardh])), sedangkan tahdhidh termasuk dalam kategori permohonan (thalab). Dari jalur itulah, huruf fa pada kata fa ash-shaddaqa merupakan Fa Kausalitas (fa al-sababiyyah), dan kata kerja ash-shaddaqa merupakan kata kerja mudhari‘ yang dibaca manshub karena keberadaan Fa Kausalitas tersebut. Apa yang kami kemukakan ini tidak memerlukan tambahan penjelasan panjang lebar; struktur kalimat beserta jalinan i‘rab-nya mengalir selaras di atas manhaj kaidah baku.
ثالثًا: (وَأَكُنْ): قال الغمَّازون اللمَّازون: القياس أن يكون الكلام: (فأصّدّقَ وأكونَ)، لأن الذي هنا هو فعلٌ مضارع “أكون”، معطوف على فعل مضارع قبله “أصَّدّقَ” والمعطوف على المنصوب يكون منصوبًا، والذي في الآية فعل مجزوم: (أَكُنْ)، مع أنه معطوف على منصوب، وهذا مخالفٌ “للقياس”، وعدُّوا ذلك في القرآن لحنًا.
Ketiga: Kata wa akun (وَأَكُنْ). Para pencela dan penyindir menggugat: "Analogi kaidah baku (al-qiyas) semestinya redaksi kalimat berbunyi: fa ash-shaddaqa wa akuna. Sebab unsur di sini merupakan kata kerja mudhari‘ yaitu akuna yang di-athaf-kan kepada kata kerja mudhari‘ sebelumnya yaitu ash-shaddaqa, sedangkan unsur yang di-athaf-kan kepada kata yang dibaca manshub seharusnya ikut dibaca manshub pula." Namun yang wujud di dalam ayat justru kata kerja yang dibaca majzum: akun (أَكُنْ), padahal ia berada setelah huruf athaf yang terhubung ke unsur yang dibaca manshub. Menurut mereka, ini menyelisihi al-qiyas, lalu mereka mengategorikannya sebagai lahn (kesalahan) di dalam Al-Qur’an.
وفي الجواب نقول: إنَّ أبا عمرو وهو من القرَّاء السبعة، قد قرأ: (فأصّدّقَ وأكونَ)، فإن كان هذا ما تبتغونه فقد وقعتم عليه!!
Dalam jajaran jawaban kami tegaskan: Sesungguhnya Abu ‘Amr—yang merupakan salah satu dari Imam Qira’at yang tujuh—benar-benar membaca ayat tersebut dengan lafal: fa ash-shaddaqa wa akuna. Jika jalur bacaan ini yang kalian cari-cari untuk dijadikan dalil, maka sungguh kalian telah menjumpainya!
وأما إذا كنتم تريدون ما وراء ذلك – وأنتم تريدون ماوراء ذلك!! – فعليكم أن تقبلوا حجةَ القراءةِ الأخرى، وما يتعلق بها من تخريج وإعراب، بيانُ ذلك أنَّ: (أَكُنْ)، مضارعٌ مجزوم باعتباره جوابًا لشرطٍ محذوف. والكلام إذًا يتضمَّن شرطًا مقدَّرًا، أي: (إنْ تؤخِّرني أكنْ).
Akan tetapi, apabila kalian menghendaki maksud lain di balik perkara tersebut—dan kalian memang selalu menghendaki hal di baliknya!—maka wajib bagi kalian menerima argumen ilmiah dari jalur bacaan yang satunya beserta seluruh penjelasan kaidah (takhrij) dan jalinan i‘rab-nya. Penjelasan rincinya: kata akun (أَكُنْ) merupakan kata kerja mudhari‘ yang dibaca majzum karena kedudukannya sebagai jawaban bagi unsur syarat yang dihapus (jawaban li syarthin mahdzufin). Dengan demikian, susunan perkataan tersebut mengandung unsur syarat yang ditakdirkan keberadaannya, yaitu: (in tu’akh-khirni akun [jika Engkau menangguhkanku, niscaya aku akan menjadi]).
ولقد صحبتُ الآية فأطلتُ صُحبتَها، وتأمَّلتُها وأنعمتُ النظر فيها، فوقعتُ على نكتةٍ، لعل في إدراكها وضعًا للأمور في نصابها إن شاء الله.
Sungguh aku telah membersamai (mengkaji mendalam) ayat ini dalam waktu yang lama, mencermatinya, serta memperdalam pandangan renungan di dalamnya; hingga aku menjumpai sebuah poin keindahan bahasa (nuktah), yang barangkali dengan memahaminya akan menempatkan jajaran urusan pada porsi tempatnya yang tepat, insya Allah.
وذلك أنَّ في الآية صيغتَين معنويَّتين مختلفتين. وقد أدَّى اختلافُهما، إلى اختلاف صيغة التعبير عنهما، ومن طبائع الأمور إذا اختلف المعنى، أن تختلف صيغة التعبير عنه. وهكذا، كان للصيغة المعنوية الأولى، صيغةُ نَصْب، وللصيغة المعنوية الثانية، صيغةُ جزم. وفيما يلي بيان ذلك:
Perkara tersebut dikarenakan di dalam ayat ini terdapat dua formulasi esensi makna yang saling berbeda. Perbedaan keduanya telah mengantarkan pada perbedaan formulasi pengekspresian lafal masing-masing; dan sudah menjadi tabiat segala urusan apabila esensi maknanya berbeda niscaya akan berbeda pula bentuk formulasinya. Oleh sebab itu, wujud bagi formulasi esensi makna yang pertama sebuah bentuk pembacaan nashab, sedangkan wujud bagi formulasi esensi makna yang kedua sebuah bentuk pembacaan jazam. Berikut ini perincian penjelasannya:
في الصيغة الأولى: ﴿ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ ﴾ [المنافقون: ١٠]. نعم، (إلى أجلٍ قريب)!! قد لا يقتضي المتصدِّق أكثر مِن أن يقول للمسكين الذي يستحقُّ الصدقة: (خذ يافلان، ودونك ياعلَّان).
Pada formulasi yang pertama: Rabbi lau la akh-khartani ila ajalin qaribin fa ash-shaddaqa. Ya, (menuju tenggat waktu yang dekat [ila ajalin qaribin])! Terkadang, aktivitas orang yang bersedekah tidak menuntut kondisi yang rumit selain sekadar ia mengucapkan kepada orang miskin yang berhak menerima sedekah: “Ambillah wahai fulan, dan terimalah ini wahai ‘allan.”
وحتى لو أنَّ أموال المتصدِّق تزيد على مال قارون، لأنفَدَتْها كليماتٌ، ولما احتاج تفريقُها في المحتاجين المتصَدَّقِ عليهم إلى أكثر مِن أجَلٍ قريبٍ: ساعاتٍ أو أيامٍ، فإنْ بَعُd الأمدُ فأسابيع. ومن هاهنا أنْ حدَّد الطالب طلبه فلم يزد على أن يكون ما يطلبه أجلًا قريبًا.
Bahkan sekiranya harta kekayaan orang yang hendak bersedekah tersebut melimpah ruah melebihi kekayaan Qarun, niscaya beberapa patah kata saja sudah mampu menghabiskannya. Aktivitas membagikannya di tengah orang-orang yang membutuhkan pun tidak akan memerlukan waktu lebih lama dari tenggat waktu yang dekat: berupa hitungan jam, hitungan hari, atau jika rentang masanya menjauh, dalam hitungan minggu. Dari titik itulah sang pemohon membatasi permohonannya; ia tidak meminta lebih selain tenggat waktu yang dekat.
وذلك أنَّ مَن يريد التصدّقَ، يكفيه الأجلُ القريبُ، لتحقيق ما يريد. ولهذا لم يُجاوِز بطلبه الأجلَ القريب فيطلب أنْ يؤخَّر إلى أجَلٍ بعيد، لأنه مستيقنٌ أنَّ الله يَعلم ما يحتاج إليه التصدّقُ مِن زمنٍ. ولو طلب أكثرَ مِن الأَجَل القريبِ لافتضحَ!! فتكشَّفَ عن شحيحٍ في الدنيا، ومراوغٍ بعد الموت وهو بين يدي الله في الآخرة!!
Hal itu dikarenakan barang siapa yang benar-benar berkeinginan untuk bersedekah, maka cukuplah baginya tenggat waktu yang dekat demi mewujudkan apa yang ia inginkan. Oleh karena itu, ia tidak melampaui batas tenggat waktu yang dekat dalam permohonannya lalu meminta ditangguhkan menuju tenggat waktu yang jauh; sebab ia sangat meyakini bahwasanya Allah Maha Mengetahui alokasi waktu yang dibutuhkan untuk bersedekah. Sekiranya ia meminta lebih lama dari tenggat waktu yang dekat, niscaya akan terbongkar kedoknya! Maka akan tersingkaplah tabir karakter orang yang kikir selama di dunia, sekaligus orang yang lihai mengelak setelah kematian padahal ia sedang berada di hadapan Allah di akhirat kelak!
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply