واجب الأبناء تجاه والدهم التارك للصلاة
Kewajiban Anak terhadap Ayah Mereka yang Meninggalkan Shalat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kewajiban Anak terhadap Ayah Mereka yang Meninggalkan Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
هناك أب لا يعرف الصلاة ونصحته زوجته ولكن دون جدوى، وسألت أهل العلم وأفتوها بأن من لا يصلي حكمه كافر، لكن سؤالي الآن وأنا أعرف أن من لا يصلي مرتد ويقتل مرتدا ولكن كيف يقام هذا الحكم؟ هل يذهب أبناؤه إلى المحكمة مثلاً ويخبرون بكفره أم ماذا يفعلون؟ الرجاء التوضيح المفصل في هذه المسألة.
Ada seorang ayah yang tidak mengenal sholat dan istrinya telah menasihatinya namun tanpa hasil. Istrinya telah bertanya kepada ahli ilmu dan mereka memberikan fatwa kepadanya bahwasanya orang yang tidak melakukan sholat hukumnya adalah kafir. Akan tetapi pertanyaan saya sekarang, sedangkan saya mengetahui bahwasanya orang yang tidak melakukan sholat adalah مرتد (murtad) dan dihukum mati sebagai orang murtad, namun bagaimana hukum ini ditegakkan? Apakah anak-anaknya pergi ke pengadilan misalnya, lalu mengabarkan tentang kekafirannya, ataukah apa yang harus mereka lakukan? Mohon penjelasan terperinci dalam masalah ini.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن كان هذا الأب تاركاً للصلاة منكراً لوجوبها، فهو كافر قطعاً بإجماع المسلمين، لأنه في الحقيقة مكذب لله ورسوله صلى الله عليه وسلم، ومنكر لما علم من الدين بالضرورة.
Maka apabila ayah ini meninggalkan sholat karena mengingkari kewajibannya, ia adalah kafir secara pasti berdasarkan kesepakatan (ijma‘) kaum muslimin; karena pada hakikatnya ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengingkari apa yang telah diketahui dari urusan agama secara pasti (dharuri).
أما إن كان مقرا بوجوب الصلاة، ولكنه تارك لها كسلاً وتهاوناً، فقد اختلف فيه هل هو كافر، أو فاسق فسقاً عظيماً؟ والراجح الذي تؤيده الأدلة الكثيرة أنه كافر، وتفصيل ذلك في الجواب الأخرى هنا
Adapun jika ia mengakui kewajiban sholat akan tetapi ia meninggalkannya karena malas dan meremehkan, maka para ulama berselisih pendapat mengenainya: Apakah ia dihukumi kafir ataukah fasiq dengan kefasikan yang besar? Dan pendapat yang kuat (rajih) yang didukung oleh banyak dalil adalah bahwasanya ia telah kafir, dan perincian hal tersebut terdapat pada fatwa lainnya di sini,
وعلى كل حالٍ، فالواجب على أبنائه أن ينصحوه ويخوفوه الله تعالى، ويبنوا له عظم قدر الصلاة في الدين وأهميتها في حياة المسلم، وخطر تركها أو التكاسل عن أدائها.
Dan bagaimanapun juga, maka kewajiban atas anak-anaknya adalah menasihatinya dan membuatnya takut kepada Allah Ta‘ala, serta menjelaskan kepadanya tentang keagungan kedudukan sholat di dalam agama dan pentingnya hal itu dalam kehidupan seorang muslim, serta bahaya meninggalkannya atau bermalas-malasan dari menunaikannya.
فإن تاب ورجع فالحمد لله رب العالمين، وإن لم ينفعه النصح، فعليهم أن يرفعوا الأمر إلى المحكمة الشرعية لتتخذ قرارها في شأن زوجته، لأنه في حالة الحكم بكفره، فإن الزوجة تبين منه مباشرة، وعلى ذلك، فعليها الآن أن لا تمكنه من نفسها حتى يتضح الأمر.
Maka jika ia bertaubat dan kembali (ke jalan yang benar), maka segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Namun jika nasihat tidak bermanfaat baginya, maka wajib atas mereka untuk mengangkat urusan ini ke pengadilan syariah agar pengadilan dapat mengambil keputusan mengenai urusan istrinya. Karena dalam kondisi diputuskannya status kekafirannya, sesungguhnya sang istri terpisah darinya secara langsung. Dan berdasarkan hal tersebut, maka wajib atas sang istri sekarang untuk tidak memberikan hak pelayanan dirinya kepada suaminya sampai perkara ini menjadi jelas.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply