من كفر منكر الصلاة فقد أصاب
Barangsiapa yang Mengkafirkan Orang yang Mengingkari Shalat Maka Sungguh Ia Telah Benar
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Barangsiapa yang Mengkafirkan Orang yang Mengingkari Shalat Maka Sungguh Ia Telah Benar ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم المسلم الذي يكفر أخاه بترك الصلاة جاحدا لوجوبها؟
Apakah hukum seorang muslim yang mengkafirkan saudaranya karena meninggalkan sholat lantaran mengingkari kewajibannya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فمن ترك الصلاة جاحداً لوجوبها فهو كافر خارج عن ملة الإسلام باتفاق علماء المسلمين، لأنه مكذب لكتاب الله تعالى، وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، ومنكر لما علم من الدين بالضرورة.
Maka barangsiapa yang meninggalkan sholat karena mengingkari kewajibannya, maka ia adalah kafir yang keluar dari agama Islam berdasarkan kesepakatan (ijma‘) ulama kaum muslimin; karena ia telah mendustakan Kitab Allah Ta‘ala, Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengingkari apa yang telah diketahui dari urusan agama secara pasti (dharuri).
وعلى هذا فمن كفَّر شخصاً بتركه للصلاة جحوداً لوجوبها فقد أصاب، وعليه أن يبين له خطر ما وقع فيه من الارتداد عن الإسلام، وما يعرض نفسه له من العقاب العاجل والآجل. نسأل الله السلامة.
Dan berdasarkan hal ini, maka barangsiapa yang mengkafirkan seseorang karena perbuatannya meninggalkan sholat lantaran mengingkari kewajibannya, maka sungguh ia telah benar. Dan wajib atasnya untuk menjelaskan kepada orang tersebut tentang bahaya dari apa yang telah ia terjerumus ke dalamnya berupa kemurtadan (irtidad) dari Islam, serta apa yang dihadapinya bagi dirinya sendiri berupa hukuman yang segera (di dunia) maupun yang tertunda (di akhirat). Kami memohon keselamatan kepada Allah.
وليدعوه إلى الرجوع إلى الله تعالى، والتوبة النصوح، وكثرة الاستغفار، والأعمال الصالحات، ومصاحبة الأخيار من عباد الله المؤمنين.
Dan hendaklah ia mengajaknya untuk kembali kepada Allah Ta‘ala, bertaubat dengan taubat yang nasuha, memperbanyak istighfar, melakukan amal-amal shalih, serta menemani orang-orang pilihan dari hamba-hamba Allah yang beriman.
وليكن خطابه له بحكمة وموعظة حسنة يوحي بالشفقة عليه، والنصح الصادق له، ولا يكن مطبوعاً بطابع الشماتة والتعنيف. لعل الله سبحانه وتعالى يرزق هذا الشخص الإنابة والهداية على يد هذا الأخ المسلم، ففي ذلك خير كثير.
Dan hendaklah penyampaian kalimat kepadanya dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik (mau‘izhah hasanah) yang mengisyaratkan rasa kasih sayang kepadanya serta ketulusan nasihat untuknya, dan jangan sampai penyampaian tersebut dicap dengan cara mencela ataupun bersikap keras. Harapannya semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala memberikan rezeki kepada orang tersebut berupa kembali ke jalan yang benar (inabah) dan hidayah melalui perantara tangan saudara muslim ini, karena dalam perkara tersebut terdapat kebaikan yang banyak.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply