طريقة التعامل مع الزوجة التاركة للصلاة
Cara Memperlakukan Istri yang Meninggalkan Shalat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Cara Memperlakukan Istri yang Meninggalkan Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
بسم الله الرحمن الرحيم إذا كانت امرأتي لا تصلي وأقول لها لا يجوز ترك الصلاة وأقول لها عن الأحاديث التي تحض على الصلاة ولكن تقول لي سوف أصلي وعندما أسألها هل صليت؟ تقول لي نسيت ، وظللت على هذا الحال سنة ونصفا هل يجوز أن تظل زوجتي؟ وما الحكم في هذا الموضوع؟ وجزاكم الله كل خير عني.
Bismillahirrahmanirrahim. Jika istri saya tidak melakukan sholat, dan saya telah katakan kepadanya bahwasanya tidak boleh meninggalkan sholat serta saya sampaikan kepadanya tentang hadits-hadits yang mendorong untuk sholat. Akan tetapi ia berkata kepada saya: “Saya akan sholat.” Dan ketika saya bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah sholat?” Ia berkata kepada saya: “Saya lupa.” Dan saya terus berada dalam kondisi seperti ini selama satu setengah tahun. Apakah boleh ia tetap menjadi istri saya? Dan apakah hukum dalam masalah ini? Semoga Allah membalas kalian dengan segala kebaikan dari saya.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فهذه المرأة على خطر عظيم بسبب تركها للصلاة، ولا يفيدها قولها بأنها سوف تصلي، والواجب إلزامها بالصلاة، فإن استقامت وصّلت، فذلك خير، وإن أبت، فلا يجوز إبقاؤها زوجة لك، لعموم قوله تعالى:
Maka wanita ini berada dalam bahaya yang besar disebabkan perbuatannya meninggalkan sholat, dan tidaklah bermanfaat baginya perkataannya bahwa ia akan sholat. Dan yang wajib adalah mengharuskannya untuk sholat. Jika ia istiqomah dan mau melakukan sholat, maka hal itu baik. Namun jika ia menolak, maka tidak boleh mempertahankannya sebagai istri bagimu, berdasarkan keumuman firman Allah Ta‘ala:
وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ [الممتحنة: ١٠]
“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir.” [Al-Mumtahanah: 10]
والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: “بين الرجل وبين الكفر أو الشرك ترك الصلاة” رواه مسلم. ولاتفاق الصحابة على أن تارك الصلاة عمداً من غير عذر حتى يذهب وقتها كافر.
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Batas antara seseorang dengan kekufuran atau kesyirikan adalah meninggalkan sholat.” Diriwayatkan oleh Muslim. Serta berdasarkan kesepakatan (ijma‘) para shahabat bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja tanpa adanya ‘udzur hingga habis waktunya adalah kafir.
ومن هنا، فالواجب رفع أمرها إلى المحاكم الشرعية – إن وجدت – لإيقاع العقاب الرادع عليها، حيث لا يجوز التهاون معها بخصوص الصلاة، فمن ضيع الصلاة، فهو لما سواها أضيع،
Dan dari sinilah, maka yang wajib adalah mengangkat urusannya ke pengadilan syariah —jika ada— untuk menjatuhkan hukuman yang membuat jera atasnya, sekira tidak boleh meremehkan bersamanya khusus dalam perkara sholat. Karena barangsiapa yang menyia-nyikan sholat, maka untuk perkara lainnya ia akan lebih menyia-nyiakannya lagi.
وعلى القول بأن ترك الصلاة كسلاً ليس مخرجاً من الملة، فلا أقل من أن يحكم عليها بأنها ناشز، ومخالفة لزوجها الذي يأمرها بالصلاة فتستحق التأديب على ذلك حتى تصلي، قال تعالى:
Dan berdasarkan pendapat bahwa meninggalkan sholat karena malas bukanlah perkara yang mengeluarkan dari agama (tidak kafir), maka tidak kurang dari dihukumi atasnya bahwasanya ia telah berbuat pembangkangan (nasyiz), serta menyelisihi suaminya yang memerintahkannya untuk sholat, sehingga ia berhak mendapatkan pengajaran (edukasi/disiplin) atas hal tersebut sampai ia mau sholat. Allah Ta‘ala berfirman:
وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا [النساء: ٣٤]
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [An-Nisa: 34]
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply