ترك الصلاة في شهر العسل أو في غيره كبيرة من الكبائر
Meninggalkan Shalat Saat Bulan Madu Maupun di Waktu Lainnya Merupakan Dosa Besar dari Dosa-Dosa Besar
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Meninggalkan Shalat Saat Bulan Madu Maupun di Waktu Lainnya Merupakan Dosa Besar dari Dosa-Dosa Besar ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليك ورحمة الله وبركاتة هل يمكن ترك الصلاة خلال شهر العسل، لأن الجماع يحدث أكثر من مرة في اليوم؟ وهل يعتبر تركها في هذه الأيام حراماً أم يمكن أن يسامحنا الله؟ أرجو الإجابة بسرعة. وشكرا والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah memungkinkan untuk meninggalkan sholat selama bulan madu, dikarenakan jima‘ (hubungan suami istri) terjadi lebih dari satu kali dalam sehari? Dan apakah meninggalkan sholat pada hari-hari ini dianggap haram, ataukah mungkin Allah mengampuni kami? Saya berharap jawaban dengan segera. Terima kasih dan wasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فترك الصلاة كبيرة من الكبائر سواء كان ذلك خلال شهر العسل أم في غيره من الأوقات، لأن ذلك من أعظم الجرائم وأشد الذنوب، وقد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال:
Maka meninggalkan sholat merupakan dosa besar dari dosa-dosa besar, baik hal itu dilakukan selama bulan madu maupun di waktu-waktu lainnya; karena tindakan tersebut termasuk kejahatan yang paling besar dan dosa yang paling berat. Dan sungguh telah sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan selain mereka)
وشأن المؤمن أن يكون دائماً على صلة بالله، فإذا أنعم الله عليه بالزواج فينبغي أن تزداد طاعته وعبادته لله شكراً لهذه النعمة والصلاة لا يرخص بتركها أبداً حتى في حالة جهاد العدو، قال تعالى:
Dan sudah selayaknya keadaan seorang mukmin itu selalu terhubung dengan Allah. Apabila Allah memberikan nikmat kepadanya berupa pernikahan, maka seyogyanya ketaatan dan ibadahnya kepada Allah semakin meningkat sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat ini. Dan sholat tidaklah diberi keringanan (rukhshah) untuk ditinggalkan sama sekali, bahkan dalam kondisi berjihad melawan musuh sekalipun, Allah Ta‘ala berfirman:
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ……مَيْلَةً وَاحِدَةً [النساء: 102]
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka…… (lalu mereka menyerbu kamu) dengan sekaligus.” [An-Nisa: 102]
واعلم أن تارك الصلاة يجب قتله عند جمهور العلماء، واختلفوا في كفره على قولين، فكيف يرضى عاقل لنفسه هذا المصير.
Dan ketahuilah bahwasanya orang yang meninggalkan sholat wajib dihukum mati menurut mayoritas ulama (jumhur), dan mereka berselisih tentang status kufur-nya ke dalam dua pendapat. Maka bagaimana mungkin orang yang berakal rida bagi dirinya menghadapi akhir kesudahan yang seperti ini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply