Perlakuan Istri terhadap Suaminya Jika Ia Meninggalkan Shalat



معاملة الزوجة لزوجها إن كان تاركاً للصلاة

Perlakuan Istri terhadap Suaminya Jika Ia Meninggalkan Shalat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Perlakuan Istri terhadap Suaminya Jika Ia Meninggalkan Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

كيف تعامل الزوجة زوجها الذى لا يصلى وقد حثته كثيرا على الصلاة دون جدوى ؟ هل معاشرة ذلك الزوج حرام ؟ أرجو الافادة. 26-7-1999

Bagaimana seorang istri memperlakukan suaminya yang tidak melakukan sholat, padahal ia telah sering mendorongnya untuk sholat namun tidak ada hasilnya? Apakah menyantuni (berhubungan suami istri dengan) suami tersebut hukumnya haram? Mohon penjelasannya. 26-7-1999

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن تارك الصلاة على قسمين : إما جاحد لها ولا يقر بفرضيتها فهذا كافر مرتد عن دينه يجب على زوجته أن تفارقه ولا يجوز لها أن تبقى في عصمته لأنه غير مسلم ولا يجوز للمرأة المسلمة أن يعاشرها رجل مرتد أو كافر بحال من الأحوال، قال تعالى في كتابه الكريم:

Sesungguhnya orang yang meninggalkan sholat terbagi menjadi dua kelompok: Adakalanya ia membangkang (juhud) terhadapnya dan tidak mengakui kefardhuannya, maka orang ini telah kafir lagi مرتد (murtad) dari agamanya, wajib atas istrinya untuk memisahkannya dan tidak boleh baginya tetap berada dalam ikatan pernikahan (‘ishmah) dengannya karena ia bukan seorang muslim. Dan tidak boleh bagi seorang wanita muslimah digauli oleh laki-laki yang murtad atau kafir dalam kondisi bagaimana pun. Allah Ta‘ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang Mulia:

وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا [النساء: ١٤١]

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” [An-Nisa: 141]

وإما أن يكون هذا التارك مقرا بوجوب الصلاة وفرضيتها ولكنه يتكاسل عن أدائها وإقامتها كما أمره الله تعالى و يعترف بالقصور والذنب والخطيئة ولكنه يسوِّف. فهذا عند الجمهور مسلم آثم مرتكب لجريمة كبيرة وعظيمة يقتل عليها بقطع رقبته إن لم يرجع إلى الصلاة وأدائها وإقامتها.

Dan adakalanya orang yang meninggalkan ini mengakui kewajiban sholat dan kefardhuannya, akan tetapi ia malas untuk menunaikan dan mendirikannya sebagaimana yang telah Allah Ta‘ala perintahkan kepadanya, serta ia mengakui kelalaian, dosa, dan kesalahannya namun ia menunda-nunda. Maka orang ini menurut mayoritas ulama (jumhur) adalah seorang muslim yang berdosa, pelaku kejahatan besar lagi agung, yang dihukum mati dengan dipenggal lehernya jika ia tidak kembali melakukan sholat, menunaikan, serta mendirikannya.

وفي هذه الحالة وهي حالة معترف بوجوب الصلاة ولكنه تارك لها كسلا وجهلا فإن الزوجة لا تبين منه، بل تبقى معه ولكنها تحاول إرجاعه إلى الحق وتبذل كل ما في وسعها لتنبيهه على عظمة الصلاة ومكانتها في الإسلام . وجعل العلماء ذنب تارك الصلاة دون الشرك، وفوق جميع الذنوب وعلى المرأة أن تبقى متمسكة بدينها وعقيدتها حفاظاً على أولادها حتى لا يقعوا في شباك هذا الزوج الأثيم البعيد عن الله تعالى،

Dan dalam kondisi ini —yaitu kondisi di mana ia mengakui kewajiban sholat namun meninggalkannya karena malas dan bodoh— sesungguhnya sang istri tidaklah terpisah darinya, melainkan tetap tinggal bersamanya akan tetapi ia harus berusaha untuk mengembalikannya kepada kebenaran, dan mengerahkan segala kemampuannya untuk mengingatkannya tentang keagungan sholat serta kedudukannya di dalam Islam. Dan para ulama menjadikan dosa orang yang meninggalkan sholat berada di bawah kesyirikan, namun di atas seluruh dosa lainnya. Dan wajib atas wanita tersebut untuk tetap berpegang teguh pada agama dan akidahnya demi menjaga anak-anaknya agar mereka tidak jatuh ke dalam jaring-jaring suami yang berdosa ini, yang jauh dari Allah Ta‘ala.

وقد ذهب بعض الأئمة إلى كفر تارك الصلاة مطلقاً ما دام ترك الصلاة ، سواء كان جاحداً أو متكاسلاً ولهذا القول أدلة قوية تؤيد ه ، ومنها قوله صلى الله عليه وسلم ” فمن تركها فقد كفر” وفي حديث آخر” إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة” رواه مسلم . وعلى كل حال فإن لم يُجْدِ معه النصح والتذكير وأصر على ترك الصلاة فعليك أن تسعي في سبيل الحصول على الطلاق منه.

Dan sungguh sebagian Imam telah berpendapat akan kekafiran orang yang meninggalkan sholat secara mutlak selama ia meninggalkan sholat, baik karena membangkang maupun karena malas. Dan bagi pendapat ini terdapat dalil-dalil kuat yang mendukungnya, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Maka barangsiapa yang meninggalkannya sungguh ia telah kafir,” dan di dalam hadits yang lain: “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” Diriwayatkan oleh Muslim. Dan bagaimanapun juga, jika nasihat serta peringatan tidak membuahkan hasil bersamanya dan ia tetap bersikeras untuk meninggalkan sholat, maka wajib atasmu untuk berusaha dalam jalan mendapatkan perceraian darinya.

والله أعلم

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.