صلاة ضعيف الذاكرة
Shalat Orang yang Lemah Ingatannya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Shalat Orang yang Lemah Ingatannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
والدي كبير في السن، ولا يستطيع أن يصلي إلا على كرسي، ولكنه في غالب الوقت عند السجود لا يسجد الا سجدة واحدة، وعندما نحاول أن نذكره، أو نقول له: إنه بقي عليك سجدة، فإنه لا يصدقنا، وقد ضعفت ذاكرته، وهو -والحمد لله- من المحافظين على الصلاة. فما الحكم؟ جزاكم الله خيرًا.
Ayah saya sudah lanjut usia, dan beliau tidak mampu melakukan sholat kecuali di atas kursi. Akan tetapi, sering kali ketika sujud beliau tidak sujud melainkan hanya satu kali sujud saja. Dan ketika kami mencoba untuk mengingatkannya atau kami katakan kepadanya: “Sesungguhnya masih tersisa satu sujud lagi atasmu,” beliau tidak memercayai kami. Ingatan beliau telah melemah, padahal beliau —walhamdulillah— termasuk orang yang menjaga sholat. Maka apakah hukumnya? Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإذا طعن المرء في السن، وقد بقي معه إدراكه وعقله، فهو مأمور بالصلاة ولا تسقط عنه، ويصلي على الهيئة التي يمكنه بها أداء الفرض: قائماً، أو قاعداً، أو على جنب، لقوله صلى الله عليه وسلم:
Maka apabila seseorang telah lanjut usia, sedangkan kesadaran dan akalnya masih tetap bersamanya, ia tetap diperintahkan untuk melakukan sholat dan kewajiban tersebut tidak gugur darinya. Beliau shalat sesuai dengan tata cara yang memungkinkannya untuk menunaikan perkara fardhu tersebut: baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring menyamping, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
“Sholatlah dalam keadaan berdiri, jika engkau tidak mampu maka dalam keadaan duduk, dan jika engkau tidak mampu maka dalam keadaan berbaring menyamping.” (HR. Jamaah ahli hadits kecuali Muslim)
وإنما لم تسقط الصلاة عن الشخص ما دام عنده عقله، لأن العقل هو مناط التكليف، ومن كان من أهل التكليف وصلى منفرداً ، كحال أبيك، فالعبرة بيقينه هو لا بيقين غيره، ولو كان في حقيقة الأمر مخطئاً، فإن الله يتجاوز عنه، لاستفراغه الوسع في أداء المطلوب.
Dan sesungguhnya sholat tidaklah gugur dari seseorang selama ia masih memiliki akalnya, karena akal merupakan landasan beban syariat (manathut taklif). Dan barangsiapa yang termasuk ahli taklif lalu ia melakukan sholat sendirian (munfarid) —seperti kondisi ayahmu— maka yang menjadi patokan adalah keyakinan dirinya sendiri, bukan keyakinan orang lain. Walaupun pada kenyataannya ia keliru, sesungguhnya Allah mengampuninya karena ia telah mengerahkan segala kemampuannya dalam menunaikan apa yang diminta.
والأولى لكم أن تعينوه على أداء المطلوب ما دمتم على يقين من هذا الأمر، بأن يحُمل والداكم إلى المسجد لأداء الصلاة جماعة إذا كان لا يشق عليه ذلك، فبصلاته جماعة يتقيد بالإمام.
Dan yang lebih utama bagi kalian adalah membantunya untuk menunaikan apa yang diminta selama kalian berada di atas keyakinan dalam perkara ini, yaitu dengan cara mengantarkan orang tua kalian ke masjid untuk menunaikan sholat secara berjamaah, apabila hal tersebut tidak memberatkannya. Karena dengan melakukan sholat berjamaah, ia akan terikat dengan gerakan imam.
وإن كان والداكم قد اعتراه ما يعتري بعض الناس في كبرهم، فأصبح لا يدرك، فلا صلاة عليه، ويُترك يصلي على حاله، فإنه غير مؤاخذ على ذلك، وإذا كان يدرك أحياناً ولا يدرك أخرى، فهو مطالب بالأداء حال إدراكه دون الحال الذي لا يدرك فيه.
Namun jika orang tua kalian telah tertimpa apa yang biasa menimpa sebagian manusia di masa tua mereka, sehingga ia menjadi tidak sadar (hilang ingatan/pikun), maka tidak ada kewajiban sholat atasnya, dan ia dibiarkan melakukan sholat sesuai kondisinya karena sesungguhnya ia tidak dihukum atas hal tersebut. Dan apabila ia terkadang sadar dan di waktu lain tidak sadar, maka ia dituntut untuk menunaikannya pada saat ia sadar, bukan pada kondisi di saat ia tidak sadar.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply