حكم تأخير الصلاة عن وقتها لأجل العمل
Hukum Menunda Shalat dari Waktunya demi Pekerjaan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Menunda Shalat dari Waktunya demi Pekerjaan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم ورحمة الله ما حكم الصلاة في غير وقتها للعمال المشتغلين في مصنع حفاظا على عدم التزاحم على السلعة وهل يجوز الجمع في الصلاة في هذه الحالة؟ وجزاكم الله خيرا.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi. Apakah hukum melakukan sholat di luar waktunya bagi para pekerja yang sibuk di sebuah pabrik demi menjaga agar tidak terjadi penumpukan (kekacauan) pada barang produksi, dan apakah boleh menjamak sholat dalam kondisi seperti ini? Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن تأخير الصلاة عن وقتها يعد من كبائر الذنوب ، قال الله تعالى:
Sesungguhnya menunda sholat hingga keluar dari waktunya termasuk dari dosa-dosa besar. Allah Ta‘ala berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [الماعون: ٤-٥]
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” [Al-Ma’un: 4-5]
قال ابن عباس وسعد بن أبي وقاص ومسروق وغيرهم من السلف: يؤخرونها عن وقتها. قال الله تعالى:
Ibnu Abbas, Sa‘d bin Abi Waqqash, Masruq, dan selain mereka dari kalangan ulama Salaf berkata: “Yaitu mereka mengakhirkannya (menundanya) dari waktunya.” Allah Ta‘ala berfirman:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [مريم: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan sholat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” [Maryam: 59]
قال ابن مسعود ومجاهد وجماعة: إضاعتها: تأخيرها عن وقتها. والانشغال بالعمل في المصنع وغيره ليس عذراً مبيحاً لتأخير الصلاة عن وقتها ، ولا للجمع بين الصلاتين ، لأن للجمع بين الصلاتين أسباباً محددة ، نص عليها أهل العلم وهي: السفر ، والخوف ، والمطر ، والمرض.
Ibnu Mas‘ud, Mujahid, dan sekelompok ulama berkata: “Maksud menyia-nyiakannya adalah menundanya dari waktunya.” Dan kesibukan dengan pekerjaan di pabrik maupun tempat lainnya bukanlah sebuah uzur (‘udzur) yang membolehkan untuk menunda sholat dari waktunya, tidak pula membolehkan untuk menjamak antara dua sholat. Karena menjamak antara dua sholat memiliki sebab-sebab tertentu yang telah ditetapkan oleh ahli ilmu, yaitu: safar, ketakutan (khauf), hujan, dan sakit.
والواجب على المسلم أن يكون كمن قال الله تعالى فيهم:
Dan wajib atas seorang muslim untuk menjadi seperti orang-orang yang Allah Ta‘ala berfirman tentang mereka:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهُ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ [النور: ٣٦-٣٧]
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” [An-Nur: 36-37]
وليعلم المرء أن الرزق بيد الله ، وأن من اتقى الله عز وجل رزقه من حيث لا يحتسب ، وهيأ له السبل المعينة له على ذلك ، واسمع إلى قول الله تعالى :
Dan hendaklah seseorang mengetahui bahwasanya rezeki itu berada di tangan Allah, dan bahwasanya barangsiapa yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla niscaya Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya, serta menyiapkan baginya jalan-jalan yang membantunya atas hal tersebut. Dan dengarkanlah firman Allah Ta‘ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ * وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ [الجمعة: ٩-١١]
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: ‘Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” [Al-Jumu’ah: 9-11]
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply