Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat pada Sebagian Waktu dengan Sengaja



حكم من يترك الصلاة بعض الأحيان متعمداً

Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat pada Sebagian Waktu dengan Sengaja

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat pada Sebagian Waktu dengan Sengaja ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

هل إذا مات الإنسان وهو متهاون في الصلاة أي أنه لا يصلي بعض الفروض ويستمر ثلاثة أيام بدون صلاه ولا يذهب إلى المسجد يخلد في النار أبد الآبدين؟

Apakah jika seseorang wafat dalam keadaan meremehkan sholat, yaitu ia tidak melakukan sebagian sholat fardhu dan terus-menerus selama tiga hari tanpa sholat serta tidak pergi ke masjid, ia akan kekal di dalam neraka selama-lamanya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فقد رجحنا في فتوانا بالفتوى الأخرى هنا، وفتوانا بالفتوى الأخرى هنا، كفر من ترك الصلاة متعمداً مع علمه بوجوبها، وبينا أن هذا هو المنقول عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، وعليه فحكمه في الآخرة كحكم الكافرين من حيث الخلود في النار، وامتناع الشفاعة في حقه.

Maka sungguh kami telah menguatkan (merajihkan) di dalam fatwa kami pada fatwa lainnya di sini

 

tentang kekafiran orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja padahal ia mengetahui kewajibannya. Dan kami telah menjelaskan bahwasanya inilah pendapat yang dinukil dari para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan atas dasar hal tersebut, maka hukumnya di akhirat adalah seperti hukum orang-orang kafir dari segi kekekalan di dalam neraka serta terhalanginya syafaat bagi dirinya.

وقد اختلف القائلون بكفر تارك الصلاة فيمن يصلي أياماً، ويترك أياماً، فنقل عن بعضهم أنه لا يكفر إلا بالترك المطلق، والمشهور عن أكثرهم أنه يكفر بترك صلاة واحدة، إذا خرج وقتها، وضاق وقت الصلاة التي بعدها عن فعلها.

Dan para ulama yang berpendapat akan kekafiran orang yang meninggalkan sholat telah berselisih pendapat mengenai orang yang sholat di sebagian hari dan meninggalkannya di sebagian hari yang lain. Dinukil dari sebagian mereka bahwasanya ia tidaklah dihukumi kafir kecuali jika meninggalkannya secara total (mutlak). Sedangkan pendapat yang masyhur dari mayoritas mereka adalah bahwasanya ia telah kafir hanya dengan meninggalkan satu sholat saja, apabila telah keluar waktunya dan waktu sholat berikutnya telah sempit untuk mengerjakannya.

قال الإمام إسحاق بن راهويه: (قد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تارك الصلاة عمداً كافر، وكذلك كان رأي أهل العلم من لدن النبي صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا أن تارك الصلاة عمداً من غير عذر حتى يذهب وقتها كافر(. قال:( وذهاب الوقت أن يؤخر الظهر إلى غروب الشمس، والمغرب إلى طلوع الفجر).

Imam Ishaq bin Rahuyah berkata: “(Sungguh telah sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja adalah kafir. Demikian pula pandangan para ahli ilmu sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai hari kita ini, bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja tanpa adanya ‘udzur hingga habis waktunya adalah kafir.)” Beliau berkata: “(Dan habisnya waktu itu adalah dengan mengakhirkan sholat Zhuhur sampai matahari terbenam, dan sholat Maghrib sampai terbitnya fajar.)”

وقال الإمام محمد بن نصر المروزي:( ذكرنا الأخبار المروية عن النبي صلى الله عليه وسلم في إكفار تاركها، وإخراجه إياه من الملة، وإباحة قتل من امتنع من إقامتها، ثم جاءنا عن الصحابة رضي الله عنهم مثل ذلك، ولم يجئنا عن أحد منهم خلاف ذلك).

Dan Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi berkata: “(Kami telah menyebutkan riwayat-riwayat yang dinukil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pengafiran orang yang meninggalkannya, pengeluarannya dari millah (agama), serta dibolehkannya membunuh orang yang menolak untuk mendirikannya. Kemudian telah datang kepada kami dari para shahabat radhiyallahu ‘anhum perkara yang semisal itu, and tidak datang kepada kami dari seorang pun di antara mereka pendapat yang menyelisihi hal tersebut.)”

وقد حكى ابن حزم هذا القول عن سبعة عشر صحابياً، ولا شك أن الصحابة هم أعلم الناس بالأدلة ومقاصدها، ومراد النبي صلى الله عليه وسلم منها، فلزوم فهمهم وإجماعهم متعين.

Dan sungguh Ibnu Hazm telah menceritakan pendapat ini dari tujuh belas orang shahabat. Dan tidak ada keraguan bahwasanya para shahabat adalah manusia yang paling mengetahui tentang dalil-dalil beserta maksud-maksudnya, serta apa yang diinginkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam darinya. Maka mengikuti pemahaman serta ijma‘ mereka adalah suatu ketetapan yang pasti.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.