Hukuman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat di Dunia dan Akhirat



عقوبة تارك الصلاة في الدنيا والآخرة

Hukuman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat di Dunia dan Akhirat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukuman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat di Dunia dan Akhirat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

أنا لا أصلي، فما العقوبة؟

Saya tidak melakukan sholat, maka apakah hukumannya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فلا شك أن الصـلاة عماد الدين، وهي الفارقة بين الكفر والإيمان، كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن بين الرجل وبين الكفر ـ أو الشرك ـ ترك الصلاة. أخرجه مسلم.

Maka tidak ada keraguan bahwa sholat adalah tiang agama, dan ia merupakan pemisah antara kekufuran dan keimanan, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kekufuran —atau kesyirikan— adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim).

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمن تركها، فقد كفر. رواه أحمد، وأبو داود، والنسائي، والترمذي -وقال: حسن صحيح-، وابن ماجه، وابن حبان في صحيحه، والحاكم.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian yang ada di antara kita dengan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi —dan ia berkata: hasan shahih—, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan Al-Hakim).

وقال عمر بن الخطاب -رضي الله عنه-: لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة. وقال عبد الله بن شقيق: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يرون من الأعمال شيئًا تركه كفر، إلا الصلاة. وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- قال: من ترك الصلاة، فقد كفر. رواه المروزي في تعظيم قدر الصلاة، والمنذري في الترغيب والترهيب. وعن جابر بن عبد الله -رضي الله عنهما- قال: من لم يصلِّ، فهو كافر. رواه ابن عبد البر في التمهيد، والمنذري في الترغيب والترهيب. ولا يخفى أن هذه العقوبة لمن ترك الصلاة بالكلية.

Dan Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat.” Dan Abdullah bin Syaqiq berkata: “Dahulu para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang sesuatu dari amal perbuatan yang jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran kecuali sholat.” Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka sungguh ia telah kafir.” Diriwayatkan oleh Al-Marwazi dalam Ta‘zhim Qadr ash-Shalah dan Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib. Dan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Barangsiapa yang tidak shalat, maka ia adalah kafir.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid dan Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib. Dan tidaklah samar bahwasanya hukuman ini berlaku bagi orang yang meninggalkan sholat secara keseluruhan (total).

أما من يصليها، لكنه يتكاسل في أدائها، ويؤخرها عن وقتها، فقد توعده الله بالويل فقال:

Adapun orang yang mengerjakannya, namun ia malas dalam menunaikannya dan mengakhirkannya dari waktunya, maka sungguh Allah telah mengancamnya dengan wail, Dia berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ * الَّذينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ [الماعون: ٤-٥]

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya.” [Al-Ma’un: 4-5]

والويل هو: واد في جهنم ـ نسأل الله العافية ـ. وكيف لا يحافظ المسلم على أداء الصلاة، وقد أمرنا الله بذلك، فقال:

Dan wail itu adalah: sebuah lembah di neraka Jahannam —kita memohon keselamatan kepada Allah—. Dan bagaimana bisa seorang muslim tidak menjaga penunaian sholat, padahal Allah telah memerintahkan kita untuk hal tersebut, Dia berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ [البقرة: ٢٣٨]

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) sholat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu’.” [Al-Baqarah: 238]

فأي مصيبة أعظم من عدم المحافظة على الصلاة!!. ونقول للسائل: لم لا تصلي؟ ألا تخاف من الله؟ ألا تخشى الموت؟.

Maka musibah manakah yang lebih besar daripada tidak menjaga sholat!! Dan kami katakan kepada penanya: Mengapa engkau tidak shalat? Apakah engkau tidak takut kepada Allah? Apakah engkau tidak khawatir akan kematian?

أما تعلم أن أول ما يحاسب عليه العبد يوم القيامة الصلاة، كما قال الرسول صلى الله عليه وسلم: أول ما يحاسب عليه العبد الصلاة، فإن صلحت، فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت، فقد خاب وخسر. رواه الترمذي، وحسنه، وأبو داود، والنسائي. وماذا يكون جوابك لربك حين يسألك عن الصلاة؟

Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika sholatnya rusak, maka sungguh ia telah merugi dan celaka.” (HR. At-Tirmidzi dan ia menghasankannya, Abu Dawud, dan An-Nasa’i). Dan apakah yang akan menjadi jawabanmu di hadapan Tuhanmu kelak ketika Dia bertanya kepadamu tentang sholat?

ألا تعرف أن النبي صلى الله عليه وسلم يعرف أمته يوم القيامة بالغرة والتحجيل من أثر الوضوء، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Tidakkah engkau tahu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenali umatnya pada hari kiamat dengan cahaya putih di dahi dan di tangan serta kaki (ghurran muhajjilin) dari bekas wudhu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjilin dari bekas wudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

و(الغرة): بياض الوجه، و(التحجيل): بياض في اليدين والرجلين. كيف بالمرء حينما يأتي يوم القيامة، وليس عنده هذه العلامة، وهي من خصائص الأمة المحمدية، بل لقد وصف الله أتباع الرسول صلى الله عليه وسلم بأنهم:

Dan yang dimaksud dengan al-Ghurrah adalah: putih pada wajah, sedangkan at-Tahjil adalah: putih pada kedua tangan dan kedua kaki. Bagaimanakah keadaan seseorang ketika ia datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki tanda ini, padahal ia termasuk kekhususan dari umat Muhammad? Bahkan sungguh Allah telah menyematkan sifat bagi para pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya mereka:

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ [الفتح: ٢٩]

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” [Al-Fatsh: 29]

وقد تكلم العلماء باستفاضة عن عقوبة تارك الصلاة، كما في كتاب الزواجر عن اقتراف الكبائر لابن حجر الهيتمي. كما أن ترك الصلاة من المعاصي العظيمة، ومن عقوبات المعاصي: أنها تنسي العبد نفسه، كما قال الإمام ابن القيم: فإذا نسي نفسه، أهملها، وأفسدها.

Dan sungguh para ulama telah berbicara secara luas mengenai hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Azh-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kaba’ir karya Ibnu Hajar al-Haitami. Demikian pula bahwasanya meninggalkan sholat termasuk kemaksiatan yang besar. Dan di antara hukuman dari perbuatan maksiat adalah: ia dapat membuat seorang hamba melupakan dirinya sendiri, sebagaimana Imam Ibnu al-Qayyim berkata: “Maka apabila ia melupakan dirinya, ia akan menelantarkannya dan merusaknya.”

وقال أيضًا: ومن عقوباتها: أنها تزيل النعم الحاضرة، وتقطع النعم الواصلة، فتزيل الحاصل، وتمنع الواصل، فإن نعم الله ما حفظ موجودها بمثل طاعته، ولا استجلب مفقودها بمثل طاعته، فإن ما عند الله لا ينال إلا بطاعته.. ومن عقوبة المعاصي أيضًا: سقوط الجاه، والمنزلة، والكرامة عند الله، وعند خلقه، فإن أكرم الخلق عند الله أتقاهم، وأقربهم منه منزلة، أطوعهم له، وعلى قدر طاعة العبد، تكون له منزلة عنده، فإذا عصاه، وخالف أمره، سقط من عينه، فأسقطه من قلوب عباده.

Dan beliau juga berkata: “Dan di antara hukumannya adalah: ia melenyapkan nikmat yang ada dan memutuskan nikmat yang akan datang; maka ia menghilangkan apa yang telah berhasil didapatkan dan menghalangi apa yang akan sampai. Karena sesungguhnya nikmat-nikmat Allah tidaklah dijaga apa yang ada padanya dengan perkara yang semisal ketaatan kepada-Nya, dan tidak pula didatangkan apa yang hilang darinya dengan perkara yang semisal ketaatan kepada-Nya; karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” Dan di antara hukuman kemaksiatan juga adalah: jatuhnya kedudukan, martabat, dan kemuliaan di sisi Allah serta di hadapan makhluk-Nya. Karena sesungguhnya makhluk yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka, dan yang paling dekat kedudukannya dari-Nya adalah yang paling taat kepada-Nya. Dan sesuai dengan kadar ketaatan seorang hamba, maka seperti itulah kedudukannya di sisi-Nya. Maka apabila ia bermaksiat kepada-Nya dan menyelisihi perintah-Nya, jatuhlah ia dari pandangan-Nya, lalu Allah menjatuhkannya pula dari hati hamba-hamba-Nya.

ومن العقوبات التي تلحق تارك الصلاة: سوء الخاتمة، والمعيشة الضنك؛ لعموم قوله تعالى:

Dan di antara hukuman yang akan menimpa orang yang meninggalkan sholat adalah: akhir kehidupan yang buruk (su’ul khatimah) serta kehidupan yang sempit; berdasarkan keumuman firman Allah Ta‘ala:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [طه: ١٢٤]

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” [Thaha: 124]

وينظر كلامه -رحمه الله- في كتابه: الداء والدواء. ولا ريب أن الفقهاء قد اتفقوا على أن من ترك الصلاة جحودًا بها، وإنكارًا لها، فهو كافر، خارج عن الملة بالإجماع.

Dan dapat dilihat perkataan beliau rahimahullah di dalam kitabnya: Ad-Da’ wad Dawa’. Dan tidak ada keraguan bahwasanya para fukaha telah sepakat (ijma‘) bahwa barangsiapa yang meninggalkan sholat karena membangkang (juhud) terhadapnya dan mengingkarinya, maka ia adalah kafir yang keluar dari agama berdasarkan ijma‘.

أما من تركها مع إيمانه بها، واعتقاده بفرضيتها، ولكنه تركها تكاسلًا، أو تشاغلًا عنها، فقد صرحت الأحاديث بكفره، ومن العلماء من أخذ بظاهر هذه الأحاديث، فكفَّر تارك الصلاة، كما هو مذهب الإمام أحمد، وهذا هو المنقول عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم، وحكى عليه إسحاق بن راهويه إجماع أهل العلم، وقال محمد بن نصر المروزي -كما في جامع العلوم والحكم-: هو قول جمهور أهل الحديث. وهو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية.

Adapun orang yang meninggalkannya bersamaan dengan keimanannya terhadapnya serta keyakinannya akan kefardhuannya, akan tetapi ia meninggalkannya karena malas atau karena sibuk darinya, maka sungguh hadits-hadits telah tegas menyatakan kekafirannya. Dan di antara ulama ada yang mengambil makna lahiriyah dari hadits-hadits ini, sehingga ia mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat, sebagaimana hal itu merupakan Mazhab Imam Ahmad, dan inilah yang dinukil dari para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Ishaq bin Rahuyah telah menceritakan adanya ijma‘ ahli ilmu atas perkara tersebut. Dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi berkata —sebagaimana di dalam kitab Jami‘ al-‘Ulum wal Hikam—: “Ia merupakan pendapat mayoritas (jumhur) ahli hadits.” Dan pendapat ini pula yang menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

ومن العلماء من رأى أن تارك الصلاة يقتل حدًّا، لا كفرًا، وبذلك قال الإمامان: مالك، والشافعي -رحمهما الله-. ويرى الإمام أبو حنيفة ـرحمه الله- أنه يحبس حتى يصلي.

Dan di antara ulama ada yang memandang bahwasanya orang yang meninggalkan sholat dihukum mati sebagai hadd, bukan karena kekafiran. Dan dengan pendapat itulah dua Imam, yaitu Malik dan Asy-Syafi‘i rahimahumullah berpendapat. Sedangkan Imam Abu Hanifah rahimahullah berpandangan bahwasanya ia dipenjara sampai ia mau sholat.

والراجح أن تارك الصلاة يستتاب، فإن تاب، وإلا قتل. وهو عند المالكية والشافعية يقتل حدا على اعتبار أنه مرتكب كبيرة من أعظم الكبائر إلا أنها لا تخرجه من الملة. وأما الحنابلة فيقتل عندهم ردة، على اعتبار أنه بتركه الصلاة كفر كفرا أكبر مخرجا من الملة، لما تقدم من الأحاديث، ولقوله صلى الله عليه وسلم:

Dan pendapat yang kuat (rajih) adalah bahwasanya orang yang meninggalkan sholat diminta untuk bertaubat. Jika ia bertaubat (maka diterima), namun jika tidak maka ia dihukum mati. Dan ia menurut kalangan Malikiyah dan Syafi‘iyah dihukum mati sebagai hadd atas dasar pertimbangan bahwasanya ia telah melakukan dosa besar dari dosa-dosa besar yang paling agung, akan tetapi hal itu tidak mengeluarkannya dari agama. Adapun menurut kalangan Hanabilah (Hambali), ia dihukum mati karena riddah (murtad) atas dasar pertimbangan bahwasanya dengan perbuatannya meninggalkan sholat ia telah kafir dengan kekafiran yang besar (kufr akbar) yang mengeluarkan dari agama, karena dalil-dalil hadits yang telah berlalu jalannya, serta berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah sholat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” (HR. At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya)

قال ابن تيمية: ومتى وقع عمود الفسطاط، وقع جميعـه، ولم ينتفع به؛ ولأن هذا إجماع الصحابة -رضي الله عنهم-. انتهى من شرح العمدة. وختامًا: ننصح السائل بالرجوع إلى الله، والحرص على الصلاة -نسأل الله له التوفيق-.

Ibnu Taimiyah berkata: “Dan kapan pun tiang kemah itu roboh, maka roboh pulalah seluruhnya dan tidak dapat diambil manfaat darinya; dan juga karena hal ini merupakan ijma‘ para shahabat radhiyallahu ‘anhum.” Selesai kutipan dari kitab Syarh al-‘Umdah. Dan sebagai penutup: Kami menasihati penanya untuk kembali kepada Allah serta bersungguh-sungguh atas sholat —kami memohon taufik kepada Allah baginya—.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.