ترك الصلاة سنة .. ثم تاب .. هل يجب عليه القضاء ؟
Meninggalkan Shalat Selama Setahun Kemudian Bertaubat, Apakah Wajib Baginya Meng-qadha?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Meninggalkan Shalat Selama Setahun Kemudian Bertaubat, Apakah Wajib Baginya Meng-qadha? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
رجل مسلم ترك الصلاه أكثر من سنة ثم تاب فهل عليه القضاء؟
Seorang laki-laki muslim meninggalkan sholat lebih dari setahun kemudian ia bertaubat, maka apakah wajib atasnya meng-qadha?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد اتفق أهل الإسلام على أن الصلاة واجبة على كل مسلم بالغ عاقل ، لم يمنعه من أدائها مانع شرعي ، كالحيض والنفاس عند المرأة ، وكالجنون والإغماء ونحوها من الموانع الشرعية المعتبرة . وهي عبادة بدنية محضة ،لا تقبل النيابة. وهي أعظم أركان الإسلام بعد الشهادتين ، لحديث جابر رضي الله عنه: “بين الرجل وبين الكفر ترك الصلاة” رواه مسلم .
Maka sungguh kaum muslimin telah sepakat (ijma‘) bahwasanya sholat itu wajib atas setiap muslim yang baligh lagi berakal, selama tidak ada penghalang syar‘i yang mencegahnya dari menunaikan sholat tersebut, seperti haid dan nifas pada wanita, serta gila, pingsan, dan yang semisalnya dari penghalang-penghalang syar‘i yang dianggap. Dan sholat merupakan ibadah badaniyah murni yang tidak menerima perwakilan (tidak bisa digantikan orang lain). Ia adalah rukun Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat, berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu: “Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” Diriwayatkan oleh Muslim.
وأجمع كل من يعتد به من أهل الإسلام على أن من جحد وجوبها فهو كافر مرتد ، لثبوت ذلك بالأدلة القطعية من القرآن والسنة والإجماع .
Dan telah sepakat setiap orang yang pendapatnya dianggap dari pemeluk Islam bahwasanya barangsiapa yang mengingkari kewajibannya maka ia adalah kafir lagi مرتد (murtad); karena telah tetapnya perkara tersebut dengan dalil-dalil yang pasti (qath‘i) dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma‘.
وأما من تركها تكاسلاً ، بحيث لايصليها مطلقا ، فجمهور الأئمة ومنهم الشافعية والحنابلة على أنه يستتاب ثلاثة أيام كالمرتد ، فإن تاب وإلا قتل . ويقتل عند المالكية والشافعية حدا لا كفراً ، وفيه نظر ، لأن هذا ليس من المواضع المنصوص عليها في القتل حدا ، في مثل قوله صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح : ( لايحل دم امرىء مسلم إلا بإحدى ثلاث : الثيب الزاني ، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة ) ، فآل أمره إلى الكفر ومفارقة الجماعة ، أو القتل تعزيراً ، ويكفي ذ لك زاجرا .
Adapun orang yang meninggalkannya karena malas, sekira ia tidak melakukannya sama sekali, maka mayoritas para Imam termasuk di antaranya Syafi‘iyah dan Hanabilah berpendapat bahwasanya ia diminta untuk bertaubat selama tiga hari seperti halnya orang murtad. Jika ia bertaubat (maka diterima), namun jika tidak maka ia dihukum mati. Dan menurut kalangan Malikiyah dan Syafi‘iyah ia dihukum mati sebagai hadd bukan karena kekafiran. Namun pendapat ini perlu ditinjau kembali (fiihi nazhar), karena perkara ini tidak termasuk ke dalam tempat-tempat yang ditegaskan dalilnya dalam hukuman mati sebagai hadd, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih: “Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga perkara: orang tua yang berzina, jiwa dengan jiwa (qishash), dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah.” Maka kembalilah urusannya kepada kekafiran dan memisahkan diri dari jamaah, atau dihukum mati sebagai hukuman edukasi (ta‘zir), dan hal tersebut sudah cukup sebagai pemberi efek jera.
أما عند الحنابلة فإنه يقتل كفراً ، وهو الأظهر ، لمعاضدة الأدلة الصحيحة له ، مثل قوله صلى الله عليه وسلم : “بين الرجل والكفر ترك الصلاة” رواه مسلم ومثل حديث بريدة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة ، فمن تركها فقد كفر”رواه الترمذي والنسائي وابن ماجه. بل إذا كان ترك صلاة واحدة حتى يخرج وقتها من غير عذر محبطا للعمل ، كما في الحديث المخرج في صحيح البخاري أنه صلى الله عليه وسلم قال : ( من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله ) فكيف بمن ترك صلوات كثيرة ؟!
Adapun menurut kalangan Hanabilah (Hambali) bahwasanya ia dihukum mati karena kekafiran, dan inilah pendapat yang paling kuat (azhhar) karena didukung oleh dalil-dalil yang shahih, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan sholat,” diriwayatkan oleh Muslim. Serta seperti hadits Buraidah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian yang ada di antara kita dengan mereka adalah sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya sungguh ia telah kafir,” diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Bahkan, jika meninggalkan satu sholat saja hingga keluar waktunya tanpa adanya ‘udzur dapat menghapuskan amalan, sebagaimana dalam hadits yang dikeluarkan dalam Shahih Al-Bukhari bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meninggalkan sholat Ashar maka sungguh telah gugur amalannya,” maka bagaimana lagi dengan orang yang meninggalkan sholat yang banyak?!
وقال عبد الله بن شقيق البجلي، وهو من فضلاء التابعين : ( لم يكن أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم يرون شيئا من الأعمال تركه كفر إلا الصلاة ) .
Dan Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili (dalam teks tertulis Al-Bajali), dan beliau termasuk dari kalangan tabi‘in yang utama, berkata: “Dahulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memandang sesuatu dari amal perbuatan yang jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran kecuali sholat.”
وحيث قلنا بهذا ـ أي بكفر تارك الصلاة تهاونا وإن لم يجحد وجوبها ـ فإن من كانت حاله مثل ما ذكرت فعليه أن يجدد إيمانه ، وأن يتوب إلى الله توبة صادقة ، وأن يكثر من فعل النوافل والطاعات ، ولا يجب عليه قضاء ماترك من صلاة أو صيام ، ولا كفارة سوى التوبة النصوح والندم ، والاستقامة مابقي .
Dan sekira kami mengatakan dengan pendapat ini —yaitu kafirnya orang yang meninggalkan sholat karena meremehkan walaupun ia tidak mengingkari kewajibannya— maka barangsiapa yang kondisinya seperti apa yang Anda sebutkan, wajib atasnya untuk memperbarui keimanannya, bertaubat kepada Allah dengan taubat yang jujur, serta memperbanyak melakukan amalan sunnah (nawafil) dan ketaatan. Dan tidak wajib atasnya meng-qadha apa yang telah ia tinggalkan berupa sholat maupun puasa, serta tidak ada tebusan (kafarat) baginya selain taubat yang nasuha, penyesalan, dan istiqomah pada sisa umurnya.
على أنه إن كانت الصلوات وأشهر الصوم المتروكات ، مما يطيق قضاءها ، ولو في زمن متطاول فقضاها ـ احتياطا وخروجا من خلاف من لم ير كفره ـ كان أسلم لعاقبته .
Akan tetapi, jika sholat-sholat dan bulan-bulan puasa yang ditinggalkan tersebut termasuk perkara yang mampu ia qadha, walaupun dalam jangka waktu yang panjang lalu ia meng-qadha-nya —sebagai bentuk kehati-hatian (ikhthiyat) dan keluar dari perselisihan ulama yang memandang ia tidak kafir— maka hal itu lebih selamat bagi kesudahannya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply