Tidak Boleh Sama Sekali Meremehkan Perkara Shalat



لا يجوز أبدًا التهاون في أمر الصلاة

Tidak Boleh Sama Sekali Meremehkan Perkara Shalat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tidak Boleh Sama Sekali Meremehkan Perkara Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Shalat

السؤال:

Pertanyaan:

أنا شاب مسلم، أعاني من عدم انتظام الصلاة، ولكني أود وأحب أن أواظب عليها، فأصلي أسبوعًا أو أكثر، ثم أنقطع عن الصلاة، ولا أعلم لماذا؟ مع العلم أني أؤدي الفرائض الأخرى، وأنا حريص عليها، وأعتقد أن سبب عدم انتظامي في الصلاة، هو أنني أتكاسل عن الوضوء، فما رأيكم؟ وما السبيل للمواظبة على الصلاة “عماد الدين”؟ وجزاكم الله خيرًا.

Saya adalah seorang pemuda muslim, saya menderita ketidakteraturan dalam melakukan sholat, padahal saya ingin dan suka untuk menjaganya secara konsisten. Saya sholat selama seminggu atau lebih, kemudian saya terputus (berhenti) dari sholat, and saya tidak tahu mengapa? Perlu diketahui bahwasanya saya menunaikan kewajiban-kewajiban fardhu yang lainnya dan saya sangat bersungguh-sungguh atasnya. Dan saya berkeyakinan bahwa penyebab ketidakteraturan saya dalam sholat adalah karena saya malas untuk berwudhu. Maka bagaimanakah pendapat kalian? Dan apakah jalan untuk bisa konsisten dalam melakukan sholat sebagai “tiang agama”? Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

أخي السائل -وفقك الله لكل خير-: اعلم أن الأمر الذي سألت عنه أمر عظيم، يتعلق بركن من أركان الإسلام، ألا وهو الصلاة. والذي يظهر من سؤالك: أنك تداوم عليها أحيانًا، وتقطعها أحيانًا أخرى، وأمر الصلاة عظيم، فلا يجوز لمسلم أن يتهاون في مثل هذا الركن العظيم.

Saudaraku penanya —semoga Allah memberikan taufik kepadamu menuju setiap kebaikan—: Ketahuilah bahwasanya perkara yang engkau tanyakan merupakan perkara yang agung, berkaitan dengan salah satu rukun dari rukun-rukun Islam, tidak lain ia adalah sholat. Dan apa yang tampak dari pertanyaanmu: Bahwasanya engkau merutinkannya di sebagian waktu dan memutuskannya di sebagian waktu yang lain. Dan perkara sholat itu agung, maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk meremehkan dalam perkara rukun yang agung seperti ini.

ولتعلم -بارك الله فيك- أن الصلاة هي العهد الذي بيننا وبين المشركين، من تركها، فقد كفر. وقد أمر بها الأنبياء والرسل قبلنا، على اختلاف قد يكون في الهيئة، وكذلك الملائكة أمرت بها، فأمر مثل هذا، يؤمر به الرسل، وتؤمر به الملائكة، وتؤمر به أمة سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم، أمر عظيم جدًّا.

Dan ketahuilah —semoga Allah memberkahimu— bahwasanya sholat adalah perjanjian yang ada di antara kita dengan kaum musyrikin, barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir. Dan sungguh para Nabi serta Rasul sebelum kita telah diperintahkan dengannya, meskipun ada perbedaan yang mungkin terjadi pada tata caranya. Demikian pula para Malaikat diperintahkan dengannya. Maka perkara yang semisal ini, di mana para Rasul diperintahkan dengannya, para Malaikat diperintahkan dengannya, serta umat Junjungan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diperintahkan dengannya, merupakan perkara yang sangat agung sekali.

ويأتي الوعيد الشديد في كتاب الله لمن تهاون فيها، أنه من المنافقين، وفي السنة أن الصحابة يقولون: ولقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة “العشاء، والفجر” إلا منافق معلوم النفاق.

Dan telah datang ancaman yang keras di dalam Kitab Allah bagi orang yang meremehkan di dalamnya, bahwasanya ia termasuk dari golongan orang-orang munafik. Dan di dalam As-Sunnah disebutkan bahwasanya para shahabat berkata: “Dan sungguh aku telah melihat keadaan kami, di mana tidak ada yang tertinggal dari sholat —‘Isya dan Shubuh— melainkan ia seorang munafik yang telah jelas kemunafikannya.”

وقد كان السلف يحافظون على هذه الشعيرة العظيمة، حتى إنهم كانوا يتواصون بالمحافظة على تكبيرة الإحرام، ويعزّي بعضهم بعضًا، إذا فاتت أحدهم الصلاة. ولم يكن الترك الكلي للصلاة موجودًا عندهم؛ لأهمية، وعظم الصلاة في نفوسهم. وإذا نزلت بأحدهم حاجة، توضأ، ودخل محرابه يناجي ربه؛ ليقضي له حاجته، فلم يكونوا ليقطعوا هذا أمر الذي بينهم وبين الله.

Dan sungguh para ulama Salaf dahulu selalu menjaga syiar yang agung ini, bahkan mereka saling berwasiat untuk menjaga takbiratul ihram (takbirotul ihrom), and sebagian mereka saling mengucapkan takziah (belasungkawa) satu sama lain apabila terlewat dari salah seorang mereka kewajiban sholat. Dan tidaklah perbuatan meninggalkan sholat secara total itu ada di lingkungan mereka; dikarenakan penting dan agungnya kedudukan sholat di dalam jiwa mereka. Dan apabila menimpa kepada salah seorang mereka suatu keperluan, ia pun berwudhu lalu masuk ke mihrabnya untuk bermunajat kepada Tuhannya agar Dia menunaikan kebutuhannya. Maka mereka tidaklah memutuskan perkara yang ada di antara mereka dengan Allah ini.

ولكن -للأسف- لما ضعف الإيمان في قلوبنا، وذهب خوف الله من نفوسنا، وتمنينا أماني، ولم نعمل، كانت هذه حالنا، وأصابنا الضيق، والنكد في الدنيا، وعدم التوفيق للخير -نسأل الله العافية-.

Akan tetapi —sangat disayangkan— ketika iman telah melemah di dalam hati kita, rasa takut kepada Allah telah hilang dari jiwa kita, serta kita hanya berangan-angan dengan angan-angan kosong namun tidak beramal, maka beginilah keadaan kita. Kita ditimpa kesempitan, kesusahan di dunia, serta tidak adanya taufik menuju kebaikan —kita memohon keselamatan kepada Allah—.

فوصيتنا لك -أخانا الكريم-: تقوى الله، ومراقبته، ولتعلم أن الله هو الذي أمرك بالمحافظة على الصلاة، وأن تركك لها ترك لأوامر الله، فلتحاسب نفسك، ولتتب إلى الله، ولتستغفر لما مضى، لعل الله أن يغفر لك، ويعينك، قال تعالى:

Maka wasiat kami kepadamu —wahai saudara kami yang mulia—: Bertakwalah kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya (muraqabah), serta ketahuilah bahwasanya Allah dialah yang memerintahkanmu untuk menjaga sholat, dan bahwasanya perbuatanmu meninggalkannya berarti meninggalkan perintah-perintah Allah. Maka hendaklah engkau menghisab dirimu sendiri, bertaubatlah kepada Allah, serta memohon ampunlah atas apa yang telah lalu, semoga Allah mengampunimu dan membantumu. Allah Ta‘ala berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا * إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا [مريم: ٥٩-٦٠]

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan sholat dan menuruti hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” [Maryam: 59-60]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.