كيف يحتاط المسلم لدينه في بلاد الكفر
Bagaimana Seorang Muslim Menjaga Agamanya di Negeri Kafir
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Bagaimana Seorang Muslim Menjaga Agamanya di Negeri Kafir ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Sosial Kemasyarakatan
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. جزاكم الله خيراً أما بعد: ما حكم الشرع في طالب جامعي يدرس في أوروبا يسكن في حي جامعي مختلط بصفة مؤقته ولكنه لا يختلط معهم ويتحرى في أكله الحلال يأكل(الفواكه – الأرز- السمك والخضروات) علما أن هذه المأكولات تحضر في مطاعم كافرة ومن طرف كفار فهل عليّ من حرج؟ وما يجب عليّ فعله؟
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Amma ba’du: Apakah hukum syariat bagi seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di Eropa, tinggal di lingkungan asrama kampus yang bercampur (ikhtilath) untuk sementara waktu, namun ia tidak berinteraksi bebas dengan mereka, dan ia sangat selektif mencari makanan yang halal dengan hanya memakan (buah-buahan, nasi, ikan, dan sayur-sayuran). Perlu diketahui bahwasanya makanan-makanan ini disiapkan di restoran orang kafir dan oleh pihak kafir, maka apakah saya berdosa? Dan apa yang wajib saya lakukan?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فليعلم الأخ أن إقامة المسلم في دار الكفر لا تجوز، إلا لضرورة اقتضتها كتحصيل علم نافع لا يوجد في بلاد المسلمين أو علاج أو مصلحة تعود بالنفع على الإسلام والمسلمين، أو غير ذلك من الحاجات المعتبرة في الشرع.
Maka hendaknya saudara penanya mengetahui bahwasanya menetapnya seorang muslim di negeri kafir (darul kufr) hukumnya tidak boleh, kecuali karena kondisi darurat yang menuntut hal tersebut, seperti menuntut ilmu bermanfaat yang tidak ditemukan di negeri kaum muslimin, pengobatan, atau kemaslahatan yang membawa manfaat bagi Islam dan kaum muslimin, atau kebutuhan-kebutuhan lain yang diakui di dalam syariat.
ومن المعلوم أن الضرورات تقدر بقدرها، فيجب على كل مسلم يقيم في بلاد الكفار أن يحتاط لدينه وخلقه، فلا يسكن في مكان يختلط فيه الرجال والنساء، لأن في سكنه في مثل هذه الأمكنة خطر عظيم على دينه وخلقه، وكذلك لا يجوز الاختلاط بالرجال منهم إلا لحاجة وبقدرها، وعليه أن يبحث عن سكن فيه مسلمون يسكن معهم، ويتعاون معهم على طاعة الله، ويشد بعضهم أزر بعضٍ.
Dan sudah maklum bahwasanya perkara darurat itu diukur sesuai kadar keperluannya saja; maka wajib bagi setiap muslim yang tinggal di negeri orang-orang kafir untuk berhati-hati (ihtiyat) demi menjaga agama serta akhlaknya. Janganlah ia tinggal di tempat yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, karena tinggal di tempat-tempat semacam ini mengandung bahaya yang besar bagi agama dan akhlaknya. Demikian pula tidak boleh berbaur dengan kaum laki-laki dari kalangan mereka kecuali karena ada kebutuhan dan sesuai kadarnya saja, dan hendaknya ia mencari tempat tinggal yang dihuni oleh kaum muslimin agar ia bisa tinggal bersama mereka, saling tolong-menolong dalam ketaatan kepada Allah, serta saling menguatkan satu sama lain.
وفي الحديث الصحيح: “أنا بريء من كل مسلم يقيم بين أظهر المشركين، لا تتراءى نارهما”. قال العلماء معناه: لا يحل للمسلم أن يساكن المشركين ويقيم بينهم حتى إذا أوقدوا ناراً كان منهم بحيث يراهم، وهذا فيه حث للمسلم على التباعد عنهم.
Dan di dalam hadits yang shahih disebutkan: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrik, jangan sampai api keduanya saling terlihat.” Para ulama berkata bahwa maknanya adalah: Tidak halal bagi seorang muslim bertempat tinggal bersama kaum musyrik dan menetap di antara mereka sekira apabila mereka menyalakan api, ia berada pada posisi yang melihat mereka. Di dalam hadits ini terkandung dorongan bagi seorang muslim untuk menjauh dari mereka.
أما طعام أهل الكتاب وذبائحهم فلا حرج على المسلم أن يأكل منها إذا كانت حلالاً في نفسها أو جَهِل حالها، لأن ذبائح وطعام الكتابيين حلال لنا، لقول الله تعالى: (وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ) [المائدة:5]. وإذا جَهل المسلم شيئاً من طعامهم أحلال هو أم حرام؟ فالأصل الجواز حتى يدل دليل على المنع.
Adapun makanan Ahli Kitab dan sembelihan mereka, maka tidak ada dosa bagi seorang muslim untuk memakannya apabila makanan tersebut pada zatnya adalah halal atau tidak diketahui (jahil) kondisinya; karena hewan sembelihan dan makanan orang-orang Ahli Kitab adalah halal bagi kita. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal (pula) bagi mereka.” [Al-Ma’idah: 5]. Dan apabila seorang muslim tidak mengetahui status sesuatu dari makanan mereka, apakah ia halal atau haram? Maka hukum asalnya adalah boleh sampai tegak dalil yang menunjukkan pelarangan.
وهذا في غير ما يحتاج إلى ذكاة، فإما ما يحتاج إلى الذكاة فلا يجوز له أن يأكله إذا كان غالب أهل البلد أنهم لا يذكون، وراجع الفتوى بالفتوى الأخرى هنا.
Dan ketentuan ini berlaku pada makanan yang tidak membutuhkan proses penyembelihan secara syar’i (dzakah). Adapun makanan yang membutuhkan proses penyembelihan, maka tidak boleh baginya untuk memakannya apabila mayoritas penduduk negeri tersebut tidak menyembelih secara syar’i, dan silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : Islamweb
Leave a Reply