السؤال عن طهارة الماء تكلف
Bertanya Mengenai Kesucian Air Adalah Sikap Membebani Diri (Takalluf)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Bertanya Mengenai Kesucian Air Adalah Sikap Membebani Diri (Takalluf) ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Thaharah
السؤال:
Pertanyaan:
س : قيل : يجب السؤال عن نجاسة الماء إن شك في نجاسته .ودليلهم هو : بالقياس على السؤال عن القبلة بجامع أن كليهما شرط للعبادة .هل هذا القول راجح أم مرجوح وإن كان مرجوحا فما هو الجواب على دليلهم ؟
Pertanyaan: Dikatakan: Wajib bertanya tentang kenajisan air apabila ragu terhadap kenajisannya. Dan dalil mereka adalah: Dengan meng-qiyas-kan (analogi) atas kewajiban bertanya tentang arah kiblat, dengan kesamaan illat (titik temu) bahwasanya keduanya merupakan syarat ibadah. Apakah pendapat ini rajih (kuat) atau marjuh (lemah)? Dan jika pendapat tersebut marjuh, lalu apakah jawaban untuk membantah dalil mereka?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فمن شك في نجاسة ماء فله التطهر به لأن الأصل المتيقن الطهارة، واليقين لا يزول بالشك؛ كما هي القاعدة الفقهية التي دلت عليها النصوص الشرعية. وقد قرر العلماء أيضا قاعدة أخرى وهي (الأصل بقاء ما كان على ما كان) ولا يجب على من شك في الماء أن يسأل عن طهارته، ولكن لو سأل فله ذلك، ويعتبر هذا تكلفا منه لما هو غير مكلف به،
Maka barangsiapa yang ragu terhadap kenajisan suatu air, diperbolehkan baginya untuk bersuci dengannya. Karena hukum asal yang diyakini adalah suci, dan keyakinan itu tidak dapat dihilangkan oleh keraguan (al-yaqinu laa yazalu bis-syak); sebagaimana kaidah fiqih ini telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syariat. Para ulama juga telah menetapkan kaidah lainnya yaitu: (Hukum asal adalah menetapkan apa yang ada seperti keadaan semula). Dan tidak wajib bagi orang yang ragu terhadap air untuk bertanya tentang kesuciannya, akan tetapi jikalau ia bertanya maka hal itu baginya diperbolehkan, namun tindakan ini dianggap sebagai sikap membebani diri (takalluf) atas apa yang tidak dibebankan kepadanya.
وقد روى مالك في الموطأ أن عمر بن الخطاب: خرج في ركب فيهم عمرو بن العاص حتى وردوا حوضا، فقال عمرو بن العاص لصاحب الحوض: يا صاحب الحوض هل ترد حوضك السباع؟ فقال عمر بن الخطاب: يا صاحب الحوض لا تخبرنا، فإنا نرد على السباع وترد علينا.
Dan sungguh Malik telah meriwayatkan di dalam Al-Muwatta bahwasanya Umar bin al-Khattab keluar bersama rombongan yang di antaranya terdapat ‘Amr bin al-‘Ash, hingga mereka mendatangi sebuah kolam air. Maka ‘Amr bin al-‘Ash berkata kepada pemilik kolam: “Wahai pemilik kolam, apakah kolammu ini biasa didatangi oleh binatang buas?” Maka Umar bin al-Khattab berkata: “Wahai pemilik kolam, jangan kabarkan kepada kami! Karena sesungguhnya kami mendatangi binatang buas dan mereka pun mendatangi kami.”
وأما قياس هذا على القبلة فقياس فاسد لأنه قياس مع الفارق؛ لأن الإنسان الذي يجهل اتجاه القبلة ليس عنده أصل يبني عليه، ولا قدرة له على الاجتهاد وتحديد القبلة بنفسه، فلا سبيل له إذن إلا سؤال من يعلم اتجاه القبلة ليصلي إليها، بخلاف الماء فالأصل طهارته -كما سبق- فلا يعارض بالشك، وبهذا يكون قد اتضح الفرق وبطل القياس المزعوم.
Adapun meng-qiyas-kan perkara ini dengan arah kiblat merupakan qiyas yang rusak (qiyas fasid) karena ia termasuk analogi yang tidak setara (qiyas ma’al fariq). Hal itu dikarenakan manusia yang tidak mengetahui arah kiblat tidak memiliki hukum asal (pondasi awal) untuk ia bangun di atasnya, serta ia tidak memiliki kemampuan untuk berijtihad dan menentukan arah kiblat sendirian; maka tidak ada jalan baginya saat itu melainkan bertanya kepada orang yang mengetahui arah kiblat agar ia dapat sholat menghadap ke sana. Berbeda halnya dengan air, hukum asalnya adalah suci —sebagaimana penjelasan yang lalu— sehingga hukum asal ini tidak dapat ditentang oleh keraguan. Dan dengan ini, perbedaan tersebut menjadi jelas dan batallah qiyas yang diklaim tersebut.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : Islamweb
Leave a Reply