Hukum Berhijrah ke Negeri Kafir



حكم الهجرة إلى بلاد الكفر

Hukum Berhijrah ke Negeri Kafir

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Berhijrah ke Negeri Kafir ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Sosial Kemasyarakatan

السؤال:

Pertanyaan:

أنا مولود في السعودية، من أصل عربي. بعد ما ترعرعت في هذا البلد الإسلامي، اصطدمت بالحرمان من الحقوق كمنعي من الأعمال الحرة، والاستثمار، وامتلاك عقار، وأخيرا أظل تحت رحمة الكفيل مدى الحياة، وللعلم هذا لا يحدث في بلدان العالم العظمى. هل يجوز شرعا أن أهاجر لبلد الكفر حيث العدالة والإنسانية؟ أرجو نصح ولي الأمر. جزاكم الله خيرا.

Saya lahir di Arab Saudi, dari keturunan Arab. Setelah tumbuh besar di negeri Islam ini, saya terbentur oleh hilangnya hak-hak seperti dilarang membuka usaha mandiri (wiraswasta), berinvestasi, dan memiliki properti, serta akhirnya saya terus berada di bawah kendali sistem penjamin (kafil) seumur hidup. Perlu diketahui bahwa hal seperti ini tidak terjadi di negara-negara besar dunia. Apakah boleh secara syariat jika saya berhijrah ke negeri kafir demi mendapatkan keadilan dan kemanusiaan? Saya memohon nasihat Anda untuk pemimpin. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فالإقامة ببلاد الكفار من الأسباب الموجبة لفساد الدين، وضياع الخلق، ومعلومٌ ما في هذه البلاد من انحلال، وفساد، وضياع إلى أبعد الحدود، وأقصى الغايات، وضرر الإقامة بهذه البلاد أكبر من نفعها؛ وذلك لما فيها من مجاورة الكافرين، وما قد يقتضيه من التعامل معهم بالحرام، والتأثر بأخلاقهم، ومعاملاتهم، وكثرة مشاهدة المنكرات العظيمة.

Maka menetap di negeri orang-orang kafir termasuk di antara sebab-sebab yang mendatangkan kerusakan agama serta hilangnya akhlak. Sudah maklum apa yang ada di negeri-negeri tersebut berupa dekadensi moral, kerusakan, dan kesia-siaan hingga batas yang paling jauh serta tujuan yang paling ekstrem. Dan bahaya (dharar) menetap di negeri-negeri tersebut jauh lebih besar daripada manfaatnya; yang demikian itu dikarenakan adanya faktor bertetangga dengan kaum kafir, serta apa saja konsekuensi yang ditimbulkannya berupa interaksi dengan mereka dalam perkara haram, terpengaruh oleh akhlak serta muamalah mereka, hingga seringnya menyaksikan kemungkaran-kemungkaran yang besar.

وقد توعد الشرع من أقام بها، وهو لا يتمكن من التمسك بدينه، كما في قوله تعالى:

Dan sungguh syariat telah mengancam siapa saja yang menetap di sana dalam keadaan ia tidak mampu memegang teguh agamanya, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

إِنَّ الَّذينَ تَوَفّاهُمُ المَلائِكَةُ ظالِمي أَنفُسِهِم قالوا فيمَ كُنتُم قالوا كُنّا مُستَضعَفينَ فِي الأَرضِ قالوا أَلَم تَكُن أَرضُ اللَّهِ واسِعَةً فَتُهاجِروا فيها فَأُولئِكَ مَأواهُم جَهَنَّمُ وَساءَت مَصيرًا [النساء: ٩٧]

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi.’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisa: 97]

قال ابن كثير في تفسيره لهذه الآية: هذه الآية عامة في كل من أقام بين ظهراني المشركين، وهو قادر على الهجرة، وليس متمكناً من إقامة الدين، فهو ظالم لنفسه، مرتكب حراماً بالإجماع، وبنص الآية. اهـ.

Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya mengenai ayat ini: “Ayat ini bersifat umum berlaku bagi setiap orang yang menetap di tengah-tengah kaum musyrik padahal ia mampu untuk berhijrah, dan ia tidak memiliki kebebasan penuh untuk menegakkan agamanya; maka ia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri, serta terhitung melakukan perbuatan haram berdasarkan konsensus (ijma‘) dan berdasarkan teks nash ayat tersebut.” Selesai kutipan.

وقال الشيخ ابن باز: السفر إلى بلادهم مع قلة العلم، وقلة البصيرة فيه ضرر كبير، وخطر عظيم، فإن الشرك بالله بينهم ظاهر، والمعاصي بينهم ظاهرة من الزنا، وشرب الخمور وغير ذلك، فالسفر إلى بلادهم ولا سيما مع قلة العلم، وقلة الرقيب، من أعظم الأسباب في الوقوع في الباطل، واتباع ما يدعو إليه الشيطان من الشبهات الباطلة، والشهوات المحرمة، وقد سافر كثير إليهم من أجل الدراسة، أو السياحة، أو العمل أو غير ذلك فرجعوا بشر عظيم، وانحراف شديد، وربما رجع بعضهم بغير دينه إلا من سلمه الله ورحمه، وهم القليل، فالواجب على المسلمين أن يكون عندهم نفور من أعداء الله، وحذر من مكائدهم أينما كانوا، وأن لا يقربوهم إلا دعاة إلى الحق، وموجهين إلى الخير، وناصحين حتى يتميز هؤلاء عن هؤلاء. اهـ.

Syaikh Ibnu Baz berkata: “Bepergian ke negeri mereka disertai minimnya ilmu dan minimnya bashirah (pemahaman agama) di dalamnya terkandung bahaya yang besar serta ancaman yang agung. Karena sesungguhnya perbuatan syirik kepada Allah di antara mereka tampak nyata, dan kemaksiatan di antara mereka tampak nyata mulai dari zina, meminum khamr, dan selain dari itu. Maka bepergian ke negeri mereka —terutama disertai minimnya ilmu dan tidak adanya pengawas— termasuk di antara sebab terbesar terjatuh ke dalam kebatilan, serta mengikuti apa yang diserukan oleh setan berupa syubhat-syubhat yang batil dan syahwat yang diharamkan. Sungguh banyak orang telah bepergian ke tempat mereka demi menuntut ilmu, berwisata, bekerja, atau tujuan selainnya, lalu mereka kembali dengan membawa keburukan yang besar serta penyimpangan yang parah; bahkan boleh jadi sebagian mereka kembali dalam keadaan telah kehilangan agamanya, kecuali orang yang diselamatkan dan dirahmati oleh Allah, dan jumlah mereka amatlah sedikit. Maka kewajiban atas kaum muslimin adalah hendaknya di dalam diri mereka ada rasa enggan terhadap musuh-musuh Allah, bersikap waspada terhadap makar mereka di mana pun berada, serta jangan mendekati mereka kecuali dalam kapasitas sebagai dai yang menyeru kepada kebenaran, membimbing kepada kebaikan, dan pemberi nasihat, hingga jelas perbedaan antara golongan ini dengan golongan itu.” Selesai kutipan.

وسئل الشيخ ابن عثيمين عن حكم السفر إلى بلاد الكفار؟ فقال: السفر إلى بلاد الكفار لا يجوز إلا بثلاثة شروط:
الشرط الأول: أن يكون عند الإنسان علم يدفع به الشبهات.
الشرط الثاني: أن يكون عنده دين يمنعه من الشهوات.
الشرط الثالث: أن يكون محتاجا إلى ذلك. اهـ.

Dan Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum bepergian ke negeri orang-orang kafir? Maka beliau menjawab: “Bepergian ke negeri orang-orang kafir hukumnya tidak boleh kecuali dengan memenuhi tiga syarat:
Syarat pertama: Hendaknya pada diri manusia tersebut ada modal ilmu yang dapat menolak syubhat.
Syarat kedua: Hendaknya pada dirinya ada benteng agama yang dapat mencegahnya dari syahwat.
Syarat ketiga: Hendaknya ia memang dalam kondisi membutuhkan hal tersebut.” Selesai kutipan.

ولمزيد الفائدة يمكنك مراجعة الفتوى بالفتوى الأخرى هنا.

Dan untuk tambahan faedah, Anda dapat merujuk pada fatwa-fatwa lainnya di sini.

وما ذكرته من ظروفك، لا نرى فيه مسوغاً للإقامة بتلك البلاد، فالذي ننصحك به ترك السفر للإقامة ببلاد الكفر. وبإمكان المسلم أن يطلب الرزق في أي مكان يأمن فيه على دينه، ونفسه. قال تعالى:

Dan apa yang engkau sebutkan dari kondisi keadaanmu, kami tidak melihat adanya pembenaran (musawwigh) di dalamnya untuk menetap di negeri-negeri tersebut. Maka perkara yang kami nasihatkan kepadamu adalah meninggalkan safar untuk menetap di negeri kafir. Dan seorang muslim dimungkinkan untuk mencari rezeki di belahan bumi mana saja sekira ia merasa aman atas agama serta jiwanya. Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ [الطلاق: ٢-٣]

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi mereka jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” [At-Thalaq: 2-3]

وإن كان يمكنك السكن بالمدينة النبوية، والصبر على المقام بها، ففيه خير كثير لا ينبغي لك التفريط فيه، ففي حديث الصحيحين:

Dan jika engkau memungkinkan untuk tinggal di Kota Madinah Nabawiyah serta bersabar atas kehidupan menetap di sana, maka di dalam hal tersebut terkandung kebaikan yang sangat banyak yang tidak sepatutnya engkau sia-siakan. Maka di dalam hadits Ash-Shahihain disebutkan:

تُفْتَحُ اليَمَنُ فَيَأْتي قَوْمٌ يَبِسُّونَ فَيَتَّحِمَلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَتُفْتَحُ الشَّأْمُ فَيَأْتي قَوْمٌ يَبِسُّونَ فَيَتَّحِمَلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَتُفْتَحُ العِرَاقُ فَيَأْتي قَوْمٌ يَبِسُّونَ فَيَتَّحِمَلُونَ بِأَهْلِيهِمْ وَمَنْ أَطَاعَهُمْ وَالمَدِينَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Kelak Yaman akan ditaklukkan, lalu datanglah suatu kaum yang menggiring unta-unta mereka (yabussun), kemudian mereka membawa pergi keluarga mereka beserta orang-orang yang menaati mereka, padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka sekiranya mereka mengetahui. Dan kelak Syam akan ditaklukkan, lalu datanglah suatu kaum yang menggiring unta-unta mereka, kemudian mereka membawa pergi keluarga mereka beserta orang-orang yang menaati mereka, padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka sekiranya mereka mengetahui. Dan kelak Irak akan ditaklukkan, lalu datanglah suatu kaum yang menggiring unta-unta mereka, kemudian mereka membawa pergi keluarga mereka beserta orang-orang yang menaati mereka, padahal Madinah itu lebih baik bagi mereka sekiranya mereka mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وقوله (يبسون) من: يبسّ الناقة، أي يسوقها، ويزجرها.

Dan ucapan beliau (yabussun) berasal dari kalimat: Menggiring unta betina, yaitu menuntunnya dan memacunya.

وفي الحديث:

Dan di dalam hadits disebutkan:

صَلَاةٌ في مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا المَسْجِدَ الحَرَامَ

“Sholat di masjidku ini lebih utama daripada seribu sholat di masjid yang selainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وعن ابن عمر -رضي الله عنهما- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

“Barangsiapa yang mampu untuk meninggal di Madinah, maka hendaklah ia meninggal di sana; karena sesungguhnya aku akan memberikan syafaat bagi orang yang meninggal di sana.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

وعن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ المَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا

“Tidaklah seseorang dari umatku bersabar atas kesusahan (la‘wa’) Kota Madinah serta kesempitannya, melainkan aku pasti akan menjadi pemberi syafaat baginya pada hari kiamat atau menjadi saksi.” (HR. Muslim)

وقال الحافظ في الفتح في شرح حديث: والمدينة خير لهم: والحال أن الإقامة في المدينة خير لهم؛ لأنها حرم الرسول، وجواره، ومهبط الوحي، ومنزل البركات. لو كانوا يعلمون ما في الإقامة بها من الفوائد الدينية، بالعوائد الأخروية التي يستحقر دونها ما يجدونه من الحظوظ الفانية العاجلة بسبب الإقامة في غيرها. اهـ.

Dan Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Al-Fath ketika menjelaskan hadits: “Dan Madinah itu lebih baik bagi mereka”: “Padahal kenyataannya menetap di Madinah itu lebih baik bagi mereka; karena ia merupakan tanah haram Rasul, tempat bertetangga dengan beliau, tempat turunnya wahyu, serta rumah bagi keberkahan-keberkahan. Sekiranya mereka mengetahui apa saja yang ada di dalam tindakan menetap di sana berupa faedah-faedah keagamaan, disertai keuntungan-keuntungan akhirat yang dengannya akan terasa kerdil segala apa yang mereka dapatkan berupa keberuntungan fana yang bersegera lenyap disebabkan menetap di tempat selainnya.” Selesai kutipan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.