Macam-Macam Hadits dan Makna: Mutawatir, Hasan… serta Perbedaan Antara Sanad dan Matan



أنواع الحديث ومعنى: المتواتر والحسن… والفرق بين السند والمتن

Macam-Macam Hadits dan Makna: Mutawatir, Hasan… serta Perbedaan Antara Sanad dan Matan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Macam-Macam Hadits dan Makna: Mutawatir, Hasan… serta Perbedaan Antara Sanad dan Matan ini masuk dalam Kategori Ilmu Hadits

السؤال:

Pertanyaan:

العلماء الأفاضل ما الفرق بين درجة الحديث وأنواع الحديث وما المقصود بالحديث الصحيح والضعيف والحسن والحسن الصحيح والمتواتر والمرسل والآحاد والمشهور والموضوع والمرفوع والمدلس وإسناده صحيح وما الفرق بين المتن والسند وشكراً؟

Para ulama yang mulia, apakah perbedaan antara derajat hadits dan macam-macam hadits? Dan apa yang dimaksud dengan hadits Shahih, Dha’if, Hasan, Hasan Shahih, Mutawatir, Mursal, Ahad, Masyhur, Maudhu’, Marfu’, Mudallas, dan “isnaduhu shahih” (sanadnya shahih)? Serta apakah perbedaan antara matan dan sanad? Terima kasih.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فاعلم أخي السائل أن الحديث باعتبار وصوله إلينا ينقسم إلى قسمين: متواتر، وآحاد.

Ketahuilah wahai saudaraku penanya, bahwasanya hadits berdasarkan jalur sampainya kepada kita terbagi menjadi dua bagian: Mutawatir dan Ahad.

أما المتواتر فهو: ما رواه عدد كثير تحيل العادة تواطؤهم على الكذب، ولابد من وجود هذه الكثرة في جميع الطبقات، وهذا النوع من الخبر مقبول كله، ولا حاجة إلى البحث عن رواته.

Adapun Mutawatir yaitu: Hadits yang diriwayatkan oleh jumlah orang yang banyak, yang secara adat mustahil bagi mereka untuk bersepakat melakukan kebohongan, dan jumlah yang banyak ini harus selalu ada pada setiap tingkatan generasi (thabaqat) sanad. Jenis khabar (berita) ini seluruhnya berstatus makbul (diterima), dan tidak ada keperluan lagi untuk meneliti kondisi para periwayatnya.

أما القسم الثاني وهو حديث الآحاد فهو: ما لم يجمع شروط المتواتر، وهو ينقسم من حيث عدد رواته إلى ثلاثة أقسام: مشهور، عزيز، غريب.

Adapun bagian kedua yaitu hadits Ahad, yaitu: Hadits yang tidak menghimpun syarat-syarat mutawatir. Ia terbagi berdasarkan jumlah periwayatnya menjadi tiga bagian: Masyhur, ‘Aziz, dan Gharib.

أما المشهور فهو: ما رواه ثلاثة فأكثر في كل طبقة، ما لم يبلغ حد التواتر. والعزيز: ما لا يقل رواته عن اثنين في جميع طبقات السند. والقسم الثالث: – وهو الغريب – هو ما ينفرد بروايته راو واحدٌ.

Adapun Masyhur yaitu: Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih pada setiap tingkatan generasi sanad, selama belum mencapai batasan mutawatir. Dan ‘Aziz yaitu: Hadits yang jumlah periwayatnya tidak kurang dari dua orang pada seluruh tingkatan generasi sanad. Dan bagian ketiga —yaitu Gharib— adalah hadits yang periwayatannya hanya menyendiri pada satu orang periwayat saja.

هذه الأقسام الثلاثة هي المسماة بحديث الآحاد، وهو بأقسامه الثلاثة من مشهور، وعزيز، وغريب ينقسم بالنسبة إلى قوته، وضعفه إلى قسمين، وهما مقبول ومردود.

Tiga macam ini adalah yang dinamakan dengan hadits Ahad. Dan ia dengan tiga macam pembagiannya tersebut —baik Masyhur, ‘Aziz, maupun Gharib— terbagi lagi bersandarkan pada sisi kekuatan dan kelemahannya menjadi dua bagian, yaitu: Makbul (diterima) dan Mardud (ditolak).

أما المقبول فهو: ما ترجح صدق المخبر به، وأنواعه أربعة: صحيح لذاته، حسن لذاته، صحيح لغيره، حسن لغيره.

Adapun Makbul yaitu: Hadits yang telah kuat dugaan akan kejujuran orang yang mengabarkannya. Macamnya ada empat: Shahih li dzatihi, Hasan li dzatihi, Shahih li ghairihi, dan Hasan li ghairihi.

أما الصحيح لذاته فهو: ما اتصل سنده بنقل العدل الضابط عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة.

Adapun Shahih li dzatihi yaitu: Hadits yang bersambung sanadnya melalui penukilan periwayat yang adil lagi dhabit (kuat hafalannya/akurat catatannya) dari periwayat yang semisalnya sampai akhir jalurnya, tanpa mengandung syudzudz (kejanggalan) dan tidak pula ‘illat (cacat tersembunyi).

والحسن لذاته هو: ما اتصل سنده بنقل العدل الذي خف ضبطه عن مثله إلى منتهاه من غير شذوذ ولا علة.

Dan Hasan li dzatihi yaitu: Hadits yang bersambung sanadnya melalui penukilan periwayat yang adil namun tingkat kedhabitannya lebih ringan (ringan hafalannya) dari periwayat yang semisalnya sampai akhir jalurnya, tanpa mengandung syudzudz dan tidak pula ‘illat.

والصحيح لغيره هو: الحسن لذاته إذا روي من طريق آخر مثله، أو أقوى منه، وسمي صحيحاً لغيره، لأن الصحة لم تأت من ذات السند، وإنما جاءت بانضمام غيره إليه.

Dan Shahih li ghairihi yaitu: Hadits Hasan li dzatihi apabila diriwayatkan dari jalur lain yang selevel dengannya atau lebih kuat darinya. Ia dinamakan shahih karena faktor eksternal (li ghairihi) disebabkan sifat kesahihan tersebut tidak lahir dari zat sanad itu sendiri, melainkan lahir dengan sebab bergabungnya jalur lain kepadanya.

والحسن لغيره هو: الحديث الضعيف إذا تعددت طرقه، ولم يكن سبب ضعفه فسق الراوي ولا كذبه،

Dan Hasan li ghairihi yaitu: Hadits Dha’if apabila jalurnya berbilang (banyak), serta penyebab kelemahannya bukan dikarenakan kefasikan periwayat dan bukan pula karena kedustaannya.

هذه هي الأقسام الأربعة كلها داخلة في الحديث المقبول الذي يحتج به، وإذا وصف الحديث في آن واحد بأنه حسن وصحيح كما يقول الترمذي غالباً، فمعنى ذلك – كما قال ابن حجر وارتضاه السيوطي – أنه إن كان للحديث إسنادان فأكثر، فالمعنى أنه حسن باعتبار إسنادٍ وصحيح باعتبار إسناد آخر، وإن كان له إسناد واحدٌ، فالمعنى حسن عند قوم صحيح عند قوم آخرين.

Empat macam ini seluruhnya masuk ke dalam kategori hadits Makbul yang dapat dijadikan sebagai hujah. Dan apabila suatu hadits disifati dalam satu waktu sekaligus dengan sebutan “Hasan Shahih” sebagaimana yang sering diucapkan oleh At-Tirmidzi, maka makna hal tersebut —sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dan disetujui oleh As-Suyuthi— adalah: Jika hadits tersebut memiliki dua sanad atau lebih, maka maknanya ia berstatus hasan ditinjau dari satu sanad dan berstatus shahih ditinjau dari sanad yang lain. Namun jika ia hanya memiliki satu sanad saja, maka maknanya ia berstatus hasan menurut sekelompok ulama dan berstatus shahih menurut sekelompok ulama yang lain.

أما القسم الثاني من قسمي حديث الآحاد وهو المردود فهو: ما لم يترجح صدق المخبر به، لفقد شرط أو أكثر من شروط القبول التي مرت بنا في الكلام على الحديث المقبول بأنواعه الأربعة، وقد جمع العلماء المردود إلى أقسام كثيرة، وأطلقوا على كثير من تلك الأقسام أسماء خاصة بها، ومنها ما لم يطلقوا عليها اسما خاصاً بها، بل سموها باسم عام، وهو الضعيف، وهذا الاسم يعتبر هو الاسم العام لنوع الحديث المردود، وهو ما لم تتوفر فيه صفة الحسن التي هي أدنى درجات القبول.

Adapun bagian kedua dari dua jenis hadits Ahad yaitu Mardud (ditolak), yaitu: Hadits yang belum kuat dugaan akan kejujuran orang yang mengabarkannya, disebabkan hilangnya satu syarat atau lebih dari syarat-syarat penerimaan (makbul) yang telah berlalu pada pembicaraan kita mengenai hadits makbul dengan empat macamnya tadi. Para ulama telah membagi hadits mardud menjadi banyak bagian; mereka menyematkan nama-nama khusus pada banyak bagian tersebut, dan di antaranya ada yang tidak disematkan nama khusus melainkan dinamakan dengan nama yang umum, yaitu Dha’if. Nama ini dianggap sebagai nama umum untuk jenis hadits mardud, yaitu hadits yang tidak terpenuhi di dalamnya kriteria hasan yang merupakan derajat penerimaan paling rendah.

قال البيقوني في منظومته: وكل ما عن رتبة الحسن قصر * فهو الضعيف وهو أقسام كثر.

Al-Baiquni berkata dalam bait manzhumah-nya: “Dan setiap hadits yang tingkatannya berada di bawah derajat hasan * maka ia adalah Dha’if, dan ia memiliki banyak pembagian.”

أما الحديث الموضوع فهو المختلق المصنوع المنسوب إلى النبي صلى الله عليه وسلم، وهو أقبح أنواع الضعيف، بل من العلماء من يعتبره قسماً مستقلاً وليس نوعاً من أنواع الحديث الضعيف. وبهذه العجالة نرجو أن يتضح للسائل الفرق بين المتواتر والآحاد بأنواعه الثلاثة، وبين الصحيح بأنواعه الأربعة، وأن يعرف الضعيف والموضوع.

Adapun hadits Maudhu’ yaitu hadits yang dipalsukan lagi dibuat-buat yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia merupakan jenis hadits dha’if yang paling buruk, bahkan di antara ulama ada yang menganggapnya sebagai bagian yang berdiri sendiri (independen) dan bukan termasuk salah satu jenis dari jenis-jenis hadits dha’if. Dan melalui penjelasan singkat ini, kami berharap dapat jelas bagi penanya perbedaan antara Mutawatir dan Ahad dengan tiga macamnya, serta antara Shahih dengan empat macamnya, serta dapat mengetahui Dha’if dan Maudhu’.

أما الحديث المرسل فهو ما سقط من آخر إسناده من بعد التابعي، وصورته أن يقول التابعي صغيراً كان أو كبيراً: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، أو فعل أو نحو ذلك.

Adapun hadits Mursal yaitu hadits yang gugur (hilang) bagian akhir sanadnya setelah generasi Tabi’in. Bentuk gambarannya adalah seorang Tabi’in —baik tabi’in muda maupun senior— berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” atau “beliau melakukan,” atau yang semisalnya.

والمرفوع هو: ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول وفعل وتقرير وصفة، سواء أضافه الصحابي، أو من دونه، فهو أعم من المرسل.

Dan Marfu’ yaitu: Apa saja yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan (taqrir), maupun sifat; baik yang menyandarkannya adalah seorang Shahabat atau generasi di bawahnya. Maka ia maknanya lebih umum daripada Mursal.

أما المدلس فقد سبقت الإجابة عنه في الفتوى بالفتوى الأخرى هنا.

Adapun Mudallas, maka sungguh telah berlalu jawaban mengenainya pada fatwa lainnya di sini :

وقول المحدث هذا حديث صحيح الإسناد، أو حسن الإسناد، ومثلهما إسناده صحيح كما في عبارة السائل دون مرتبة قوله حديث صحيح أو حسن، لأن الحديث قد يصح أو يحسن إسناده ولا يسلم متنه من الشذوذ أو العلة.

Dan perkataan seorang ahli hadits “Hadits ini shahih isnad-nya” atau “hasan isnad-nya”, dan yang semisalnya seperti kalimat “sanadnya shahih” sebagaimana dalam redaksi penanya, kedudukannya berada di bawah tingkatan perkataan “Hadits Shahih” atau “Hadits Hasan”. Hal itu dikarenakan suatu hadits terkadang shahih atau hasan jalur sanadnya, namun matan (teks)-nya tidak selamat dari syudzudz (kejanggalan) atau ‘illat (cacat).

فكأن المحدث إذا قال إحدى الجمل الثلاث الأول قد تكفل بثلاثة من شروط الصحة، وهي: اتصال السند، وعدالة الرواة، وضبطهم. بخلاف ما إذا قال: حديث صحيح أو حسن، فإنه قد حكم بتوافر شروط الصحة الخمسة التي هي الثلاثة المتقدمة والسلامة من الشذوذ والعلة، هذا هو الأصل، لكن لو اقتصر حافظ معتمد على قوله حديث صحيح الإسناد أو حسنه، ولم يذكر علة ولا شذوذاً، فالظاهر صحة المتن، لأن الأصل عدم العلة والشذوذ.

Maka seolah-olah ahli hadits tersebut apabila mengucapkan salah satu dari tiga kalimat pertama, ia baru menjamin tiga syarat dari syarat-syarat kesahihan, yaitu: Bersambungnya sanad, keadilan para periwayat, dan kedhabitan mereka. Berbeda halnya apabila ia mengatakan: “Hadits Shahih” atau “Hadits Hasan”, karena sesungguhnya ia telah menghukumi terpenuhinya lima syarat kesahihan, yaitu tiga syarat yang telah disebutkan di atas ditambah keselamatan dari syudzudz dan ‘illat. Ini adalah hukum asalnya. Akan tetapi, jikalau seorang Al-Hafiz yang menjadi sandaran mencukupkan diri pada ucapannya “hadits shahih sanadnya” atau “hasan sanadnya” dan ia tidak menyebutkan adanya cacat maupun kejanggalan, maka secara lahiriah matannya juga shahih; karena hukum asalnya adalah ketiadaan ‘illat dan syudzudz.

أما السند فهو: سلسلة الرجال الموصلة للمتن إلى قائله. والمتن هو: ما ينتهي إليه السند من الكلام.

Adapun Sanad yaitu: Silsilah (rangkaian) para periwayat yang menghubungkan matan sampai kepada orang yang mengucapkannya. Dan Matan yaitu: Redaksi perkataan yang menjadi ujung akhir dari sanad.

هذا وننبه السائل الكريم إلى أن أغلب هذه الأقسام متشعب إلى شعب أكثر مما ذكرنا، ومختلف في بعض الأحيان في تعريفه، فإذا أراد الاطلاع أكثر، والمزيد من الفائدة، فليرجع إلى كتب المصطلح المخصصة لهذا الباب.

Demikian, dan kami mengingatkan penanya yang mulia bahwasanya sebagian besar dari pembagian ini bercabang lagi kepada cabang-cabang yang lebih banyak daripada apa yang telah kami sebutkan, serta terkadang terdapat perbedaan pendapat dalam definisinya. Maka apabila Anda ingin menelusuri lebih dalam dan mendapatkan tambahan faedah, hendaklah merujuk ke kitab-kitab Musthalahul Hadits yang dikhususkan untuk bab ini.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : Islamweb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.