معنى حديث “إن الماء لا يجنب”
Makna Hadits “Sesungguhnya Air Itu Tidak Menjadi Junub”
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Makna Hadits “Sesungguhnya Air Itu Tidak Menjadi Junub” ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Thaharah
السؤال:
Pertanyaan:
إن الماء لا يجنب أريد شرحاً لهذا الحديث
“Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub”, saya menginginkan penjelasan (syarah) untuk hadits ini.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فهذا الحديث رواه أحمد وأبو داود والنسائي والترمذي وابن ماجه عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: “اغتسل بعض أزواج النبي صلى الله عليه وسلم في جفنة، فجاء النبي صلى الله عليه وسلم ليتوضأ منها أو يغتسل، فقالت له: يا رسول الله إني كنت جنباً، فقال: “إن الماء لا يُجنب”
Maka hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi di dalam sebuah bejana besar (jafnah), kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk berwudhu atau mandi dari bejana tersebut. Maka istri beliau berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi dalam keadaan junub.’ Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub.'”
والمراد من الحديث: أن استعمال الجنب للماء لا يفقد الماء حكم الطهورية، وهو حجة لمن أجاز الطهارة بالماء المستعمل، وبفضل طهور المرأة. وقد روى أحمد ومسلم عن ابن عباس رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يغتسل بفضل ميمونة.
Dan yang dimaksud dari hadits ini adalah: Bahwasanya penggunaan air oleh orang yang junub tidaklah menghilangkan hukum sifat menyucikan (tahuriyah) pada air tersebut. Hadits ini merupakan hujah (dalil) bagi orang yang membolehkan bersuci dengan air musta’mal, serta dengan air sisa bersucinya seorang wanita. Dan sungguh Ahmad serta Muslim telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah mandi dengan air sisa Maimunah.
وما استفيد من هذين الحديثين معارض بما رواه أبو داود والنسائي عن رجل صحب النبي صلى الله عليه وسلم قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تغتسل المرأة بفضل الرجل، أو الرجل بفضل المرأة، وليغترفا جميعاً.
Dan apa yang diambil sebagai faedah dari kedua hadits ini secara lahiriah bertentangan (mu’aridh) dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan An-Nasa’i dari seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang wanita mandi dengan air sisa laki-laki, atau seorang laki-laki dengan air sisa wanita, dan hendaklah keduanya menciduk bersama-sama.”
وقد جمع الحافظ ابن حجر في الفتح بين الأحاديث، فحمل النهي هنا على التنزيه بقرينة أحاديث الجواز السابقة.
Dan sungguh Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Fath (Fathul Bari) telah mengompromikan (jama’) di antara hadits-hadits tersebut, maka beliau membawa makna larangan di sini kepada hukum makruh tanzih, dikarenakan adanya qarinah (indikasi) dari hadits-hadits yang membolehkan yang telah disebutkan sebelumnya.
والحاصل أن للرجل وامرأته أن يغتسلا من إناء ماء واحد، يغترفا منه جميعاً، فإن خلا أحدهما بالماء، فالأولى ترك الاغتسال مما فضل منه، مع جواز ذلك، لما تقدم من فعل النبي صلى الله عليه وسلم مع ميمونة وبعض أزواجه.
Walhasil, bahwasanya bagi seorang suami dan istrinya diperbolehkan untuk mandi dari satu wadah air yang sama, di mana keduanya menciduk dari wadah tersebut secara bersama-sama. Namun jika salah satu dari keduanya menyendiri dengan air tersebut (menggunakannya sendirian), maka yang lebih utama (aula) adalah meninggalkan mandi dari air yang tersisa darinya, di samping hukum hal tersebut tetap boleh, dikarenakan adanya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berlalu bersama Maimunah dan sebagian istri beliau.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : Islamweb
Leave a Reply