معنى ” طلب العلم فريضة على كل مسلم”
Makna “Menuntut Ilmu Adalah Kewajiban Bagi Setiap Muslim”
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Makna “Menuntut Ilmu Adalah Kewajiban Bagi Setiap Muslim” ini masuk dalam Kategori Ilmu Hadits
السؤال:
Pertanyaan:
ما لمقصود بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم” طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة” هل هو العلم الشرعي أم العلم الدنيوى أم كلاهما؟
Apakah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah”? Apakah yang dimaksud adalah ilmu syariat, ilmu duniawi, ataukah kedua-duanya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد اختلف علماء الحديث في صحة هذا الحديث -كما في فيض القدير للمناوي- والراجح من أقوالهم أنه صحيح لغيره، كما قال السيوطي رحمه الله تعالى ولفظه: ” طلب العلم فريضة على كل مسلم” بدون لفظة ” ومسلمة” ولا يعني هذا أن المسلمة لا يجب عليها التعلم، بل هي داخلة في لفظ مسلم، لأنه إذا أطلق شمل الذكر والأنثى.
Maka sungguh para ulama hadits telah berselisih pendapat mengenai kesahihan hadits ini —sebagaimana keterangan di dalam kitab Faidhul Qadir karya Al-Munawi— dan pendapat yang kuat (rajih) dari perkataan mereka bahwasanya status hadits ini adalah shahih karena faktor eksternal (shahih li ghairihi), sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi rahimahullah Ta‘ala. Dan redaksi teksnya berbunyi: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”, tanpa adanya tambahan kata “dan muslimah”. Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang wanita muslimah tidak wajib belajar, melainkan ia sudah masuk ke dalam cakupan kata “muslim”; karena kata tersebut apabila diucapkan secara mutlak maka maknanya mencakup laki-laki dan perempuan.
وقد اختلف العلماء في المقصود بهذا العلم المفروض، فقال المناوي رحمة الله عليه: ( قد تباينت الأقوال وتناقضت الآراء في هذا المفروض في نحو عشرين قولاً، وكل فرقة تقيم الأدلة على علمها، وكل لكلٍ معارض، وبعض لبعض مناقض، وأجود ما قيل قول القاضي: ما لا مندوحة عن تعلمه كمعرفة الصانع (الله عز وجل) ونبوة رسله، وكيفية الصلاة ونحوها، فإن تعلمه فرض عين أهـ.
Dan para ulama telah berselisih pendapat tentang apa yang dimaksud dengan ilmu yang diwajibkan ini. Al-Munawi —rahmatullah ‘alaihi— berkata: “(Sungguh pendapat-pendapat telah beragam dan pandangan-pandangan telah kontradiktif mengenai perkara yang diwajibkan ini hingga sekitar dua puluh pendapat. Setiap kelompok menegakkan dalil-dalil atas ilmu yang mereka maksudkan, di mana masing-masing saling menentang satu sama lain, dan sebagian membatalkan sebagian yang lain. Dan pendapat yang paling bagus yang dikatakan adalah perkataan Al-Qadhi: Yaitu apa saja yang tidak ada pilihan lain (mutlak) untuk mempelajarinya, seperti mengenal Sang Pencipta [Allah ‘Azza wa Jalla], kenabian para rasul-Nya, tata cara sholat, dan yang semisalnya, maka sesungguhnya mempelajarinya adalah fardhu ‘ain).” Selesai penuturan beliau.
وهناك أقوال أخرى كثيرة قريبة من هذا، وحاصل الأقوال الصحيحة في معنى الحديث هي أن العلم المفروض تعلمه على كل مسلم هو علم فروض الأعيان، كمعرفة الله وحده لا شريك له في ربوبيته وألوهيته وأسمائه وصفاته إجمالاً، ومعرفة نبيه محمد صلى الله عليه وسلم، ووجوب اتباعه في كل ما أمر واجتناب ما نهى عنه وزجر، وأن شريعته ناسخة لغيرها، وتعلم الوضوء والغسل والصلاة وغير ذلك.
Dan di sana terdapat banyak pendapat lain yang senada dengan ini. Dan kesimpulan dari pendapat-pendapat yang shahih dalam memaknai hadits ini adalah bahwasanya ilmu yang diwajibkan untuk dipelajari oleh setiap muslim adalah ilmu tentang fardhu ‘ain; seperti mengenal Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara garis besar (ijmal), mengenal Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kewajiban mengikutinya dalam setiap apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang serta peringatkan, serta mengetahui bahwasanya syariat beliau menghapus (nasikh) syariat yang selainnya, juga mempelajari wudhu, mandi janabah, sholat, dan perkara selain dari itu.
وأما فروض الكفايات كتغسيل الميت والصلاة عليه وغير ذلك فلا يجب على كل مسلم. وكذا من استقل بشيء كالتجارة فرض عليه دون غيره تعلم أحكام البيع، لئلا يبيع الحرام، أو يتعامل بالربا. وكذا علوم الطب والاقتصاد والهندسة لا يجب تعلمها على كل مسلم، بل يكفي تعلم البعض لها.
Adapun fardhu kifayah seperti memandikan mayit, mensholatkannya, dan yang selain itu, maka tidak diwajibkan atas setiap individu muslim. Dan demikian pula bagi orang yang menekuni bidang tertentu seperti perniagaan (dagang), maka diwajibkan atas dirinya saja dan bukan untuk yang lain untuk mempelajari hukum-hukum jual beli, agar ia tidak menjual perkara yang haram atau bertransaksi dengan riba. Begitu pula dengan ilmu kedokteran, ekonomi, dan teknik, tidak wajib dipelajari oleh setiap muslim, melainkan cukup dipelajari oleh sebagian kalangan saja.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : Islamweb
Leave a Reply