Menaruh Kafur ke Dalam Air Tidak Selalu Menghilangkan Sifat Menyucikannya



لا يلزم من وضع الكافور في الماء أن يسلبه الطهورية

Menaruh Kafur ke Dalam Air Tidak Selalu Menghilangkan Sifat Menyucikannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Menaruh Kafur ke Dalam Air Tidak Konsekuen Menghilangkan Sifat Menyucikannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Thaharah

السؤال:

Pertanyaan:

الحمد لله.. وبعد: يا شيخ كيف اتفق العلماء على أن الماء إذا لم يتغير أحد أوصافه الثلاثة فهو طاهر.. واستدلوا بحديث أم هانئ لما كانت تغسل زينب وفيه واجعلا شيئا من كافور.. والسؤال: الكافور قلب الماء من لونه الشفاف إلى اللون البني بل وغير أوصافه الثلاثه فكيف نتوضأ به، أم يقصد السادة العلماء أنه طاهر وليس طهوراً؟

Alhamdulillah.. wa ba‘du: Wahai Syaikh, bagaimana para ulama bisa sepakat bahwasanya air apabila tidak berubah salah satu dari tiga sifatnya maka ia adalah suci (tahir).. dan mereka berdalil dengan hadits Ummu Hani ketika ia memandikan Zainab yang di dalamnya terdapat redaksi: “dan jadikanlah padanya sedikit kafur (kapur barus)”.. Pertanyaannya: Kafur telah mengubah air dari warna beningnya menjadi warna cokelat bahkan mengubah tiga sifatnya, lalu bagaimana kita bisa berwudhu dengannya? Atau apakah yang dimaksud oleh para ulama yang mulia bahwasanya air tersebut suci (tahir) namun tidak menyucikan (tahur)?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فوضع الكافور في الماء على قسمين الأول: أن يوضع فيه ويغير لونه أو طعمه أو ريحه تغييراً يمنع إطلاق اسم الماء عليه، فإنه يسلبه الطهورية في هذه الحالة. الثاني: أن يوضع فيه شيء من كافور فيغيره تغييراً يسيراً لا يمنع إطلاق اسم الماء عليه، فإنه لا يسلبه الطهورية،

Maka menaruh kafur ke dalam air terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Ditaruh ke dalamnya dan mengubah warnanya, rasanya, atau aromanya dengan perubahan yang mencegah mutlaknya penamaan air pada benda tersebut, maka sesungguhnya hal itu menghilangkan sifat menyucikannya (tahuriyah) dalam kondisi ini. Kedua: Ditaruh ke dalamnya sedikit kafur lalu mengubahnya dengan perubahan yang sedikit yang tidak mencegah mutlaknya penamaan air pada benda tersebut, maka sesungguhnya hal itu tidak menghilangkan sifat menyucikannya.

وعلى هذا حمل حديث أم عطية الأنصارية التي غسلت زينب بنت النبي صلى الله عليه وسلم وكان مما قاله لها رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولمن معها: اغسلنها ثلاثاً أو خمساً أو أكثر إن رأيتن ذلك بماء وسدر، واجعلن في الآخرة كافوراً أو شيئاً من كافور. متفق عليه.

Dan atas dasar inilah dipahami hadits Ummu ‘Athiyyah al-Anshariyyah yang memandikan Zainab putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana di antara apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya dan kepada orang yang bersamanya adalah: “Mandikanlah ia tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang demikian, dengan air dan bidara, dan jadikanlah pada basuhan yang terakhir kafur atau sedikit dari kafur.” (Muttafaqun ‘alaih).

قال في تحفة الأحوذي في شرح قوله عليه الصلاة والسلام: كافوراً أو شيئاً من كافور: شك من الراوي أي اللفظين قال، والأول محمول على الثاني لأنه نكرة فيصدق بكل شيء منه.

Penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi berkata dalam syarah sabda beliau ‘alaihi ash-shalatu was salam: “(Kafur atau sedikit dari kafur): Adalah keraguan dari periwayat tentang lafaz mana yang beliau sabdakan, dan lafaz yang pertama dibawa maknanya kepada lafaz yang kedua karena ia berbentuk nakirah (indefinit) sehingga mencakup bagian apa saja darinya.”

وعليه فليست في الحديث دلالة على أن وضع الكافور في الماء لا يسلبه الطهورية مطلقاً، ولا أن مجرد وضع شيء منه فيه يسلبه الطهورية، ولذلك صرح النووي وابن حجر الهيتمي وغيرهما بقولهم: شيء من كافور -أي يوضع في الماء الذي يغسل به الميت حتى لا يخرجه عن اسم الماء المأمور بغسل الميت به، وبعضهم صرح بأن تغير الماء بالكافور لا يضر مطلقاً، والأول أرجح.

Oleh karena itu, tidak ada di dalam hadits tersebut dalil yang menunjukkan bahwa menaruh kafur ke dalam air tidak menghilangkan sifat menyucikannya secara mutlak, tidak pula menunjukkan bahwa semata-mata menaruh sedikit darinya ke dalam air langsung menghilangkan sifat menyucikannya. Karena itulah An-Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, dan selain keduanya mempertegas dengan perkataan mereka: “(Sedikit dari kafur) —yaitu ditaruh di dalam air yang digunakan untuk memandikan mayit agar tidak mengeluarkannya dari penamaan air yang diperintahkan untuk memandikan mayit dengannya.” Dan sebagian ulama mempertegas bahwasanya perubahan air karena kafur tidaklah membahayakan secara mutlak, namun pendapat yang pertama adalah yang lebih kuat (rajih).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : Islamweb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.