Tadlis: Definisi, Pembagian, dan Bantahan Terhadap Pihak yang Dituduh Melakukan Tadlis



التدليس: تعريفه…وأقسامه…والرد على من اتهموا بالتدليس

Tadlis: Definisi, Pembagian, dan Bantahan Terhadap Pihak yang Dituduh Melakukan Tadlis

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tadlis: Definisi, Pembagian, dan Bantahan Terhadap Pihak yang Dituduh Melakukan Tadlis ini masuk dalam Kategori Ilmu Hadits

السؤال:

Pertanyaan:

1- علماءنا الأفاضل, سلام من الله عليكم ورحمته وبركاته, لقد كُنت أقرأ كتاب ( طبقات المدلسين ) للحافظ ابن حجر العسقلاني, وقد ذكر من بين المدلسين الحافظ الدارقطني ص:16, وذكر الإمام البخاري والإمام مالك بن أنس في نفس الصفحة, والإمام مسلم في ص:17, وسفيان بن عيينة ص:22, فما هو تفسيركم لذلك؟! كما أنيّ لم أجد شرح شاف ومبسط لمعنى ” المدلس ” ؟!

1- Para ulama kami yang mulia, keselamatan dari Allah atas kalian beserta rahmat dan berkah-Nya. Saya tadi sedang membaca kitab (Thabaqat al-Mudallisin) karya Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani, dan beliau menyebutkan di antara para pelaku tadlis (mudallis) yaitu Al-Hafiz Ad-Daud قطني hal. 16, serta menyebutkan Imam Al-Bukhari dan Imam Malik bin Anas di halaman yang sama, lalu Imam Muslim di hal. 17, serta Sufyan bin ‘Uyainah hal. 22. Maka apakah penjelasan Anda mengenai hal tersebut?! Di samping itu, saya juga belum menemukan penjelasan yang memuaskan dan sederhana mengenai makna dari “Al-Mudallis” (pelaku tadlis)?!

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: ‏

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فالمدلس: هو من يحدث عمن سمع منه ما لم يسمع منه بصيغة توهم أنه سمعه منه، مثل ‏قوله: عن فلان، أو قال فلان.‏

Maka Al-Mudallis adalah: Orang yang menyampaikan hadits dari seseorang yang pernah ia dengar darinya, mengenai suatu hadits yang sebenarnya tidak ia dengar langsung darinya, dengan menggunakan redaksi yang memberikan kesan seolah-olah ia mendengarnya langsung dari orang tersebut, seperti ucapannya: “Dari si fulan” (‘an fulan), atau “Si fulan telah berkata” (qala fulan).

قال الإمام ابن حجر: والقسم الثاني: وهو الخفي المدلس -بفتح اللام- سمي بذلك لكون ‏الراوي لم يسم من حدثه، وأوهم سماعه للحديث ممن لم يحدثه به… وحكم من ثبت عنه ‏التدليس إذا كان عدلاً ألا يقبل منه إلا ما صرح فيه بالتحديث على الأصح. انظر نزهة ‏النظر في توضيح نخبة الفكر لابن حجر صـ85

Imam Ibnu Hajar berkata: “Dan bagian yang kedua: Yaitu al-khafi al-mudallas —dengan fathah pada huruf lam— dinamakan demikian dikarenakan periwayat tidak menyebutkan nama orang yang menyampaikan hadits kepadanya, dan memberikan kesan kesamaran seolah-olah ia mendengar hadits tersebut dari orang yang sebenarnya tidak menyampaikan hadits itu kepadanya… Dan hukum orang yang telah terbukti melakukan tadlis apabila ia merupakan seorang yang adil adalah tidak diterima haditsnya kecuali apa yang ia pertegas di dalamnya dengan redaksi mendengar langsung (at-tahdits) menurut pendapat yang paling shahih.” Lihat kitab Nuzhatun Nazhar fi Taudhihi Nukhbatil Fikar karya Ibnu Hajar hal. 85.

وللتدليس أقسام عدة تندرج تحت قسمين ‏رئيسين: ‏1- تدليس الإسناد 2-تدليس الشيوخ. أما تدليس الإسناد فهو: أن يروي عمن لقيه أو ‏عاصره ما لم يسمع منه، موهماً أنه سمعه منه ولا يقول في ذلك: ( حدثنا ولا أخبرنا) وما ‏أشبهها، بل يقول: ( قال فلان) أو ( عن فلان) ثم قد يكون بينهما واحد، وقد يكون ‏أكثر.‏

Dan tadlis memiliki beberapa pembagian yang bernaung di bawah dua bagian utama: 1- Tadlis al-Isnad 2- Tadlis as-Syuyukh. Adapun Tadlis al-Isnad yaitu: Seorang periwayat meriwayatkan dari orang yang pernah ia jumpai (laqiya) atau seangkatan zaman dengannya (‘ashara), mengenai sesuatu yang tidak ia dengar langsung darinya, seraya memberikan kesan samar seolah-olah ia mendengarnya dari orang tersebut, dan ia tidak mengucapkan dalam riwayat tersebut kalimat: “Telah menceritakan kepada kami” (haddatsana) tidak pula “Telah mengabarkan kepada kami” (akhbarana) dan yang sejenis dengannya, melainkan ia berkata: “Si fulan berkata” atau “Dari si fulan”, kemudian terkadang di antara keduanya ada satu perantara, dan terkadang bisa lebih banyak.

مثاله: الحديث الذي رواه أبو عوانة الوضاح عن الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه عن ‏أبي ذر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” فلان في النار ينادي: يا حنان يا منان ” ‏فالأعمش مدلس. وقد قال أبو عوانة: قلت للأعمش: سمعت هذا من إبراهيم؟ فقال: لا، ‏حدثني به حكيم بن جبير عنه، فقد دلس الأعمش الحديث عن إبراهيم، فلما استفسر بين ‏الواسطة بينه وبينه.‏

Contohnya: Hadits yang diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah al-Wadhah dari Al-A’masy dari Ibrahim al-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Si fulan di dalam neraka menyeru: Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Pemberi Karunia.” Maka Al-A’masy di sini adalah seorang mudallis. Dan sungguh Abu ‘Awanah telah berkata: Aku bertanya kepada Al-A’masy: “Apakah engkau mendengar hadits ini dari Ibrahim?” Maka ia menjawab: “Tidak, telah menceritakannya kepadaku Hakim bin Jubair darinya.” Maka sungguh Al-A’masy telah melakukan tadlis terhadap hadits tersebut dari Ibrahim, lalu ketika dimintai klarifikasi, ia pun menjelaskan perantara (wasilah) yang ada di antara dirinya dan Ibrahim.

وتدليس الشيوخ هو: أن يصف شيخه بأوصاف لا يعرف بها، ليوهم أنه آخر، فيكثر ‏بذلك شيوخه. وعرفه البعض بأن يروي عن شيخ حديثاً سمعه منه فيسمي الشيخ أو يكنيه ‏أو ينسبه أو يصفه بما لا يعرف به كيلا يعرف.

Dan Tadlis as-Syuyukh yaitu: Seseorang menyifati gurunya dengan sifat-sifat yang tidak populer disematkan pada gurunya tersebut, dengan maksud memberikan kesan samar seolah-olah sang guru adalah orang lain, sehingga dengan cara itu ia kelihatan memiliki guru yang banyak. Dan sebagian ulama mendefinisikannya dengan tindakan meriwayatkan suatu hadits dari seorang guru yang telah ia dengar langsung darinya, namun ia menyebut nama sang guru atau nama kunyahnya atau nasabnya atau menyifatinya dengan sesuatu yang tidak ia kenali dengannya agar sang guru tidak diketahui identitasnya.

يضاف إلى ما ذكرنا قسم ثالث وهو ‏تدليس التسوية، وقد جعله ابن الصلاح داخلاً ضمن تدليس الشيوخ، وجعله آخرون نوعاً ‏من أنواع تدليس الإسناد، وقالوا هو شر أنواع التدليس، وتعريفه: هو أن يروي المدلس ‏حديثاً عن ضعيف بين ثقتين لقي أحدهما الآخر، فيسقط الضعيف، ويجعل بين الثقتين ‏عبارة موهمة للاتصال، فيستوي الإسناد كله ثقات لمن لم يخبر هذا الشأن. وقد سماه ‏القدماء تجويداً.

Ditambahkan pada apa yang telah kami sebutkan, bagian yang ketiga yaitu Tadlis at-Taswiyah. Sungguh Ibnu ash-Shalah menjadikannya masuk ke dalam cakupan Tadlis as-Syuyukh, sedangkan ulama lainnya menjadikannya sebagai salah satu jenis dari jenis-jenis Tadlis al-Isnad, dan mereka berkata bahwa ia merupakan seburuk-buruk jenis tadlis. Definisinya adalah: Seorang mudallis meriwayatkan suatu hadits dari perantara perawi yang lemah (dha’if) yang berada di antara dua orang perawi yang terpercaya (tsiqah), di mana salah satu dari perawi tsiqah tersebut pernah berjumpa dengan perawi tsiqah lainnya; lalu si mudallis menggugurkan perawi yang lemah tersebut, dan menjadikan di antara kedua perawi tsiqah tadi redaksi yang mengesankan adanya ketersambungan (ittishal), sehingga sanad tersebut menjadi rata (sama-sama tsiqah) keseluruhannya bagi orang yang tidak menguji urusan ini. Dan ulama terdahulu menamakannya dengan istilah Tajwid.

وقد مثل له البعض بقولهم: ما كان يفعله الإمام مالك عن ثور بن زيد ‏عن ابن عباس مسقطا ما بينهما وهو عكرمة لأنه عنده ليس بحجة، وثور وابن عباس لم ‏يتلاقيا أصلاً. تدريب الراوي ( 1/256) ولكن هذا ليس بصحيح كما قال ابن القطان، ‏فإن الإمام مالك لم يقع في التدليس أصلاً فقال: ( التحقيق أن يقال: متى قيل تدليس ‏التسوية، فلا بد أن يكون كل من الثقات الذين حذفت بينهم الوسائط في ذلك الإسناد، ‏قد اجتمع الشخص منهم بشيخ شيخه في ذلك الحديث، وإن قيل: تسوية بدون لفظ ‏التدليس لم يحتج إلى اجتماع أحد منهم عن فوقه، كما فعل مالك، فإنه لم يقع في التدليس ‏أصلاً، ووقع في هذا -أي التسوية-فإنه يروي عن: ثور عن ابن عباس، وثور لم يلقه، وإنما ‏روى عن عكرمة عنه، فأسقط عكرمة، لأنه غير حجة عنده، وعلى هذا يفارق المنقطع بأن ‏شروط الساقط أن يكون ضعيفاً، فهو منقطع خاص) تدريب الراوي ( 1/259).‏

Dan sebagian ulama telah memberikan permisalan untuk hal tersebut dengan perkataan mereka: Apa yang dahulu dilakukan oleh Imam Malik dari Tsaur bin Zaid dari Ibnu Abbas dengan menggugurkan perantara di antara keduanya yaitu Ikrimah, karena Ikrimah menurut pandangan beliau bukan merupakan hujah, padahal Tsaur dan Ibnu Abbas tidak pernah bertemu sama sekali. [Tadrib ar-Rawi (1/256)]. Akan tetapi hal ini tidaklah benar sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu al-Qatthan, karena sesungguhnya Imam Malik tidak pernah terjatuh ke dalam perbuatan tadlis sama sekali. Ia berkata: “(Penelitian mendalam menyimpulkan untuk dikatakan: Kapan saja dikatakan Tadlis at-Taswiyah, maka mutlak harus dipenuhi syarat bahwasanya setiap dari para perawi tsiqah yang dihapus perantara di antara mereka di dalam sanad tersebut, salah seorang dari mereka telah nyata berkumpul dengan gurunya guru dia di dalam hadits tersebut. Dan jika dikatakan: Taswiyah tanpa menggunakan lafaz tadlis, maka tidak dibutuhkan adanya perkumpulan salah seorang dari mereka dengan perawi di atasnya, sebagaimana yang dilakukan oleh Malik. Karena sesungguhnya beliau tidak pernah terjatuh ke dalam perbuatan tadlis sama sekali, dan beliau terjatuh ke dalam perkara ini —yaitu taswiyah— di mana beliau meriwayatkan dari: Tsaur dari Ibnu Abbas, sedangkan Tsaur tidak pernah berjumpa dengannya, melainkan ia melulu meriwayatkan dari Ikrimah darinya, lalu beliau menggugurkan Ikrimah karena ia bukan hujah menurut beliau. Dan atas dasar ini, ia berbeda dengan hadits Munqathi’ (terputus) dari sisi bahwa syarat perawi yang gugur haruslah perawi yang lemah, maka ia berstatus munqathi’ yang khusus).” [Tadrib ar-Rawi (1/259)].

وخلاصة ما تقدم أن هناك فرقاً بين تدليس التسوية، وبين التسوية، وأن إسقاط مالك ‏لعكرمة هنا ليس تدليساً ولا يضر، لأن شيخ مالك وهو ثور لم يلق ابن عباس، ‏فالانقطاع ظاهر بين ثور وبن عباس ، وإنما أسقط مالك عكرمة لأنه غير حجة عنده، أما ‏لو كان شيخ مالك وهو ثور لقي ابن عباس فيكون تدليساً.‏

Dan kesimpulan dari apa yang telah berlalu bahwasanya di sana terdapat perbedaan antara Tadlis at-Taswiyah dengan At-Taswiyah biasa, dan bahwasanya pengguguran yang dilakukan Malik terhadap Ikrimah di sini bukanlah tindakan tadlis serta tidak mendatangkan bahaya; karena gurunya Malik yaitu Tsaur tidak pernah berjumpa dengan Ibnu Abbas, sehingga keterputusan sanadnya terlihat jelas di antara Tsaur dan Ibnu Abbas. Dan hanyalah Malik menggugurkan Ikrimah karena ia bukan hujah di sisi beliau. Adapun sekiranya gurunya Malik yaitu Tsaur pernah berjumpa dengan Ibnu Abbas, barulah hal tersebut menjadi sebuah tadlis.

أما الدار قطني فقد وصفه ابن طاهر بالتدليس قائلاً: ( كان له مذهب خفي في التدليس ‏يقول: قرىء على أبي القاسم البغوي حدثكم فلان) يريد محمد بن طاهر أن تلك العبارة ‏وهم أنه سمع منه. لكن الصحيح أن لا يوصف بالتدليس لمثل ذلك.‏

Adapun Ad-Daraquthni, maka sungguh Ibnu Thahir telah menyifatinya dengan perbuatan tadlis seraya berkata: “(Beliau memiliki mazhab yang samar dalam hal tadlis, di mana beliau berkata: Telah dibacakan di hadapan Abu al-Qasim al-Baghawi bahwa telah menceritakan kepada kalian si fulan)”, Muhammad bin Thahir menginginkan makna bahwa redaksi tersebut memberikan kesan samar seolah-olah beliau mendengar langsung darinya. Akan tetapi pendapat yang benar adalah tidak menyifati beliau dengan perbuatan tadlis hanya karena perkara semisal itu.

وأما البخاري، فقد وصفه ابن منده بالتدليس لأنه كان يقول: “قال فلان، وقال لنا فلان” ‏لكن لم يوافق على هذا الرأي فكان شاذاً. كما وصف الإمام مسلم بذلك أيضاً. وقد رد ‏العلماء ذلك وقالوا: هذه الروايات التي لم يصرح فيها أصحابها بالسماع منزلة منزلة ‏السماع، وذلك لمجيئها من طريق آخر مصرح فيه بالسماع، غير أنهما يؤثران الطريق التي ‏لم يصرح بالسماع لكون الأولى جاءت على شرط صاحب الكتاب دون الثانية، قال ابن ‏الصلاح: ( كل هذا محمول على ثبات السماع عندهم من جهة أخرى)

Dan adapun Al-Bukhari, maka sungguh Ibnu Mandah telah menyifatinya dengan perbuatan tadlis karena beliau dahulu kerap mengucapkan: “Si fulan berkata,” dan “Telah berkata kepada kami si fulan.” Akan tetapi pendapat ini tidak disetujui oleh para ulama sehingga ia berstatus syadz (nyleneh/menyendiri). Sebagaimana Imam Muslim disifati dengan perkara itu pula. Dan para ulama telah membantah hal tersebut serta mereka berkata: Riwayat-riwayat ini yang para penulisnya tidak menegaskan di dalamnya dengan redaksi mendengar langsung (as-sama’), kedudukannya diturunkan setingkat dengan kedudukan mendengar langsung. Hal itu dikarenakan ia datang dari jalur lain yang telah ditegaskan di dalamnya dengan redaksi mendengar langsung, hanya saja keduanya (Al-Bukhari dan Muslim) lebih memilih jalur yang tidak menegaskan redaksi mendengar langsung dikarenakan jalur pertama menepati syarat penulis kitab sedangkan jalur kedua tidak. Ibnu ash-Shalah berkata: “(Semua ini dibawa kepada maknanya ketetapan mendengar langsung di sisi mereka dari sisi jalur yang lain).”

كما ‏أنه يشفع للشيخين ( البخاري ومسلم) ما جاء في المستخرجات على صحيحيهما من الطرق ‏الكثيرة، التي صرح فيها بالتحديث والسماع. كما يشفع لمسلم خاصة كثرة طرق ‏الحديث الواحد في صحيحه، فهو يأتي بالمتصلة أولاً وما صرح فيها بلفظ السماع، ثم ‏يعقبها بما ليس فيه تصريح بالسماع، وهو بهذا إذا احتج إنما يحتج بالمتصلة منها لا بغيرها.‏

Sebagaimana pula pembelaan bagi As-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim) didukung oleh apa yang datang di dalam kitab-kitab Al-Mustakhrajat atas kedua kitab Shahih mereka berupa jalur-jalur yang sangat banyak, yang di dalamnya telah ditegaskan dengan kalimat penyampaian hadits (at-tahdits) dan mendengar langsung (as-sama’). Sebagaimana pembelaan bagi Muslim secara khusus didukung oleh banyaknya jalur bagi satu hadits yang sama di dalam kitab Shahih-nya; di mana beliau mendatangkan jalur yang tersambung (muttashilah) terlebih dahulu serta apa yang ditegaskan di dalamnya dengan lafaz mendengar langsung, kemudian beliau mengiringinya setelah itu dengan jalur yang tidak ada penegasan mendengar langsung di dalamnya. Dan beliau dengan metode ini apabila berhujah, melulu berhujah dengan jalur yang tersambung dari hadits tersebut dan bukan dengan jalur yang selainnya.

وأما سفيان بن عيينة: فقد قال عنه ابن حجر: ( ثقة حافظ فقيه إمام حجة، إلا أنه تغير ‏حفظه بآخره، وكان ربما دلس لكن عن الثقات) وتدليسه هذا نادر، ولا يضر، لأنه لا ‏يدلس إلا عن الثقات. وإذا وقف أحال عن ابن جريح ومعمر وأمثالهما. قال ابن حبان ( ‏هذا شيء ليس في الدنيا إلا لسفيان بن عيينة، فإنه كان يدلس، ولا يدلس إلا عن ثقة ‏متقن. ولا يكاد يوجد له خبر دلس فيه، إلا وقد بين سماعه عن ثقة مثل ثقته). انظر ‏تقريب التهذيب لابن حجر صـ591، وأسباب رد الحديث للدكتور محمد محمود بكار ‏صـ109

Dan adapun Sufyan bin ‘Uyainah: Maka sungguh Ibnu Hajar telah berkata tentangnya: “(Seorang yang tsiqah, hafiz, faqih, imam, lagi hujah, hanya saja hafalannya berubah di akhir umurnya, dan beliau terkadang melakukan tadlis namun melulu dari orang-orang yang tsiqah).” Dan perbuatan tadlis beliau ini termasuk langka (nadir), serta tidak mendatangkan bahaya karena beliau tidak melakukan tadlis kecuali dari orang-orang yang tsiqah. Dan apabila beliau berhenti, beliau mengalihkannya dari Ibnu Juraij, Ma’mar, dan yang selevel dengan keduanya. Ibnu Hibban berkata: “(Ini adalah suatu perkara yang tidak ada di dunia melainkan melulu milik Sufyan bin ‘Uyainah, karena sesungguhnya beliau dahulu melakukan tadlis namun tidaklah melakukan tadlis kecuali dari perawi yang tsiqah lagi mutqin. Dan hampir tidak ditemukan bagi beliau suatu berita hadits yang beliau lakukan tadlis di dalamnya, melainkan sungguh telah dijelaskan pendengarannya dari perawi tsiqah yang semisalnya).” Lihat kitab Taqrib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar hal. 591, dan kitab Asbabu Raddil Hadits karya Dr. Muhammad Mahmud Bakkar hal. 109.

وإذا أردت التوسع في ذلك فيمكنك الرجوع إلى تدريب الراوي للسيوطي، ‏وعلوم الحديث لابن الصلاح إلخ. والله أعلم.

Dan apabila Anda ingin memperluas wawasan dalam perkara tersebut, maka Anda dapat merujuk ke kitab Tadrib ar-Rawi karya As-Suyuthi, dan kitab Ulumul Hadits karya Ibnu ash-Shalah, dan seterusnya. Wallahu a’lam.

وإليك أحوال المدلسين باختصار: 1- منهم من تسامح الأئمة في قبوله لكونه ثقة، ولكون ‏تدليسه نادراً 2- من احتمله الأئمة لكونه لا يدلس إلا عن ثقة مثل سفيان بن عيينة 3- ‏أئمة ثقات، لكن كثر تدليسهم عن الضعفاء والمجهولين مثل: بقية بن الوليد. فهذا لا يحتج ‏به إلا إذا صرح بأنه سمع الحديث من الراوي.‏
ضعفاء لا يحتج بهم ولو صرحوا بالسماع ممن يروون عنه لأنه ازداد ضعفهم بالتدليس.‏
وذكر ابن حجر مرتبة خامسة في طبقات المدلسين ، وهي: من ضعف بأمر آخر سوى ‏التدليس، وانضم إليه ضعف آخر كابن لهيعة.‏

Dan berikut adalah kondisi para pelaku tadlis (mudallisin) secara ringkas:
1- Di antara mereka ada yang para imam bersikap toleran dalam menerimanya dikarenakan ia seorang yang tsiqah, serta dikarenakan perbuatan tadlis-nya sangat langka.
2- Orang yang para imam menoleransinya dikarenakan ia tidak melakukan tadlis kecuali dari perawi yang tsiqah saja seperti Sufyan bin ‘Uyainah.
3- Para imam yang tsiqah, akan tetapi mereka banyak melakukan tadlis dari perawi-perawi yang lemah (dha’if) dan tidak dikenal (majhul) seperti: Baqiyyah bin al-Walid. Maka orang ini tidak dapat dijadikan hujah kecuali apabila ia menegaskan bahwasanya ia mendengar hadits tersebut dari periwayatnya.
4- Perawi-perawi lemah yang tidak dapat dijadikan hujah walaupun mereka menegaskan telah mendengar langsung dari orang yang mereka riwayatkan darinya, karena kelemahan mereka bertambah buruk dengan sebab perbuatan tadlis tersebut.
5- Dan Ibnu Hajar menyebutkan tingkatan kelima dalam tingkatan para pelaku tadlis, yaitu: Orang yang dilemahkan disebabkan perkara lain selain tadlis, lalu bergabung kepadanya kelemahan lain seperti Ibnu Lahi’ah.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : Islamweb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.